Oleh: Febrianelly Amanda, Zifriyanthi Minanda Putri, Esthika Ariany Maisa
Mahasiswa Program Studi Profesi Ners, Fakultas Keperawatan Universitas Andalas
Dosen Fakultas Keperawatan, Universitas Andalas
Setiap orang berharap proses pemulihan setelah operasi berlangsung nyaman. Namun, bagi pasien yang menjalani operasi akibat fraktur, nyeri sering menjadi tantangan terbesar selama masa perawatan. Nyeri tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga mengganggu tidur, membatasi mobilitas, meningkatkan kecemasan, dan berpotensi memperlambat proses penyembuhan apabila tidak dikelola secara optimal.
Selama ini, pengelolaan nyeri di rumah sakit lebih banyak mengandalkan pemberian analgesik. Padahal, pendekatan farmakologis akan memberikan hasil yang lebih optimal apabila dipadukan dengan terapi nonfarmakologis. Salah satu intervensi yang sederhana, aman, dan mudah diterapkan adalah guided imagery atau imajinasi terbimbing.
Guided imagery merupakan teknik relaksasi yang mengajak pasien membayangkan suasana atau pengalaman yang menyenangkan sambil mengatur napas secara perlahan. Ketika pikiran terfokus pada gambaran positif, tubuh menjadi lebih rileks, ketegangan otot berkurang, kecemasan menurun, dan produksi endorfin sebagai pengurang nyeri alami tubuh meningkat. Teknik ini dapat dilakukan tanpa alat khusus, tidak memerlukan biaya tambahan, serta dapat diajarkan oleh perawat kepada pasien sebagai bagian dari asuhan keperawatan.
Penerapan guided imagery pada pasien pasca operasi fraktur di Ruang Trauma Center RSUP Dr. M. Djamil Padang menunjukkan hasil yang menggembirakan. Terapi diberikan selama 15–20 menit sebanyak dua kali sehari, yaitu sekitar 2–4 jam setelah pemberian analgesik dan 30 menit sebelum jadwal analgesik berikutnya. Hasil evaluasi menunjukkan penurunan intensitas nyeri dari skala 6 menjadi skala 3. Temuan ini menunjukkan bahwa guided imagery bukanlah pengganti obat, melainkan terapi pendamping yang membantu meningkatkan efektivitas pengelolaan nyeri.
Perawat memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Selain memberikan asuhan sesuai terapi medis, perawat juga dapat mengajarkan teknik relaksasi yang mudah dipraktikkan secara mandiri oleh pasien. Sayangnya, edukasi mengenai terapi nonfarmakologis masih belum banyak diaplikasikan di layanan kesehatan, sehingga kesempatan untuk meningkatkan kenyamanan pasien belum dimanfaatkan secara maksimal.
Pendekatan manajemen nyeri yang komprehensif merupakan bagian penting dari pelayanan keperawatan modern. Kombinasi analgesik dan guided imagery dapat menjadi pilihan yang saling melengkapi untuk membantu mengendalikan nyeri sekaligus meningkatkan kenyamanan pasien selama proses pemulihan. Sudah saatnya intervensi keperawatan berbasis bukti seperti guided imagery menjadi bagian dari praktik pelayanan rutin sehingga pasien memperoleh pengalaman perawatan yang lebih humanis, nyaman, dan berpusat pada kebutuhan pasien.