Dari Rumah Sakit hingga Homestay, PHSB Perluas Kerja Sama Pariwisata dengan Melaka
MELAKA — Perhimpunan Homestay Sumatera Barat (PHSB) memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai pihak di Negeri Melaka, Malaysia. Dalam kunjungan sehari penuh pada Kamis, 27 Agustus 2026, rombongan menyambangi rumah sakit, kawasan homestay, hingga surau di tengah perkampungan Melaka.
Kunjungan pertama dilakukan ke Mahkota Medical Centre. Rombongan PHSB diterima Senior Executive International Marketing Mahkota Medical Centre, Norhayati Ahmad, bersama Executive International Marketing, Fairuz Binti Redhuan Chew.
Pertemuan itu menjadi ajang silaturahmi sekaligus penjajakan kerja sama antara rumah sakit di Melaka dan PHSB, terutama dalam bidang promosi. Kerja sama tersebut diharapkan membuka ruang bagi kedua pihak untuk saling memperkenalkan layanan dan potensi yang dimiliki.
Dari sektor kesehatan, rombongan kemudian bergerak ke Kampung stay di Kampung Alai, Melaka. Di tempat ini, peserta melakukan studi komparatif terhadap pengelolaan sejumlah homestay yang berada di kawasan perkampungan di tengah kota Melaka.
Rombongan dipimpin Hj.Kamsri Benti,S.E dan koordinator kegiatan Bayu itu bertemu dengan General Manager Homestay Melaka, Datuk Akramuddin B. Hj. Ab. Aziz. Direncanakan rombongan akan kembali ketanah air, Ahad, 30 Agustus 2026.
Pengalaman pengelolaan homestay di Melaka menjadi bahan pembelajaran bagi para pemilik homestay Sumatera Barat, terutama dalam mengembangkan kampung sebagai bagian dari produk wisata.
Kunjungan dilanjutkan ke Surau Kampung Lapan. Di sana, rombongan bersilaturahmi dengan jamaah serta Ketua Surau Kampung Lapan, Cik Gani.
Selain mempererat hubungan antar komunitas, kunjungan tersebut dimanfaatkan PHSB untuk memperkenalkan sejumlah destinasi dan atraksi wisata Sumatera Barat kepada masyarakat Melaka. Salah satunya tradisi Tabuik di Pariaman.
PHSB juga kembali membuka pembicaraan mengenai kerja sama pertukaran pelajar antara Sumatera Barat dan Melaka. Program tersebut dinilai dapat memperkuat hubungan kedua daerah melalui pertukaran pengalaman, budaya, dan pendidikan.
Selama kunjungan di tiga lokasi itu, rombongan didampingi pihak Jabatan Tourism Negeri Melaka, Cik Zaini.
Sebanyak 19 orang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 17 pemilik homestay dari Sumatera Barat dan dua perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Bagi PHSB, Melaka dipilih sebagai lokasi studi komparatif bukan tanpa alasan. Sebelumnya, cukup banyak wisatawan asal Melaka yang berkunjung ke Sumatera Barat dan memilih homestay sebagai tempat menginap.
Hubungan tersebut kemudian ingin dikembangkan dari sekadar kunjungan wisata menjadi kerja sama yang lebih luas. Model serupa sebelumnya juga telah dilakukan PHSB dengan komunitas homestay di Negeri Terengganu.
Melalui kunjungan ini, PHSB berharap hubungan Sumatera Barat dan Melaka semakin erat. Homestay tidak hanya diposisikan sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai pintu masuk pertukaran budaya, promosi destinasi, pendidikan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.
Bagi Sumatera Barat, pengalaman Melaka menjadi cermin untuk mengembangkan potensi kampung wisata. Sebaliknya, hubungan yang telah terbangun dapat menjadi jalur baru untuk membawa lebih banyak wisatawan Malaysia mengenal ragam destinasi di Ranah Minang.***
MELAKA — Perhimpunan Homestay Sumatera Barat (PHSB) memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai pihak di Negeri Melaka, Malaysia. Dalam kunjungan sehari penuh pada Kamis, 27 Agustus 2026, rombongan menyambangi rumah sakit, kawasan homestay, hingga surau di tengah perkampungan Melaka.
Kunjungan pertama dilakukan ke Mahkota Medical Centre. Rombongan PHSB diterima Senior Executive International Marketing Mahkota Medical Centre, Norhayati Ahmad, bersama Executive International Marketing, Fairuz Binti Redhuan Chew.
Pertemuan itu menjadi ajang silaturahmi sekaligus penjajakan kerja sama antara rumah sakit di Melaka dan PHSB, terutama dalam bidang promosi. Kerja sama tersebut diharapkan membuka ruang bagi kedua pihak untuk saling memperkenalkan layanan dan potensi yang dimiliki.
Dari sektor kesehatan, rombongan kemudian bergerak ke Kampung stay di Kampung Alai, Melaka. Di tempat ini, peserta melakukan studi komparatif terhadap pengelolaan sejumlah homestay yang berada di kawasan perkampungan di tengah kota Melaka.
Rombongan dipimpin Hj.Kamsri Benti,S.E dan koordinator kegiatan Bayu itu bertemu dengan General Manager Homestay Melaka, Datuk Akramuddin B. Hj. Ab. Aziz. Direncanakan rombongan akan kembali ketanah air, Ahad, 30 Agustus 2026.
Pengalaman pengelolaan homestay di Melaka menjadi bahan pembelajaran bagi para pemilik homestay Sumatera Barat, terutama dalam mengembangkan kampung sebagai bagian dari produk wisata.
Kunjungan dilanjutkan ke Surau Kampung Lapan. Di sana, rombongan bersilaturahmi dengan jamaah serta Ketua Surau Kampung Lapan, Cik Gani.
Selain mempererat hubungan antar komunitas, kunjungan tersebut dimanfaatkan PHSB untuk memperkenalkan sejumlah destinasi dan atraksi wisata Sumatera Barat kepada masyarakat Melaka. Salah satunya tradisi Tabuik di Pariaman.
PHSB juga kembali membuka pembicaraan mengenai kerja sama pertukaran pelajar antara Sumatera Barat dan Melaka. Program tersebut dinilai dapat memperkuat hubungan kedua daerah melalui pertukaran pengalaman, budaya, dan pendidikan.
Selama kunjungan di tiga lokasi itu, rombongan didampingi pihak Jabatan Tourism Negeri Melaka, Cik Zaini.
Sebanyak 19 orang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 17 pemilik homestay dari Sumatera Barat dan dua perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Bagi PHSB, Melaka dipilih sebagai lokasi studi komparatif bukan tanpa alasan. Sebelumnya, cukup banyak wisatawan asal Melaka yang berkunjung ke Sumatera Barat dan memilih homestay sebagai tempat menginap.
Hubungan tersebut kemudian ingin dikembangkan dari sekadar kunjungan wisata menjadi kerja sama yang lebih luas. Model serupa sebelumnya juga telah dilakukan PHSB dengan komunitas homestay di Negeri Terengganu.
Melalui kunjungan ini, PHSB berharap hubungan Sumatera Barat dan Melaka semakin erat. Homestay tidak hanya diposisikan sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai pintu masuk pertukaran budaya, promosi destinasi, pendidikan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.
Bagi Sumatera Barat, pengalaman Melaka menjadi cermin untuk mengembangkan potensi kampung wisata. Sebaliknya, hubungan yang telah terbangun dapat menjadi jalur baru untuk membawa lebih banyak wisatawan Malaysia mengenal ragam destinasi di Ranah Minang.***
