Ketika musik menjadi jembatan budaya, Said Azmi membawa kisah Aceh Barat ke panggung pariwisata Terengganu. Lewat “Sekejap di Terengganu”, seorang seniman mencoba merangkai perjalanan, persahabatan, dan promosi wisata dalam sebuah lagu.
MEULABOH, Beritasumbar.com — Sebuah lagu kadang lahir dari perjalanan yang singkat, tetapi bisa membawa cerita jauh lebih panjang. Said Azmi mengalaminya. Dari Meulaboh, Aceh Barat, ia menyeberangkan sebuah cerita musikal ke Terengganu, Malaysia.
Lagu itu berjudul “Sekejap di Terengganu”. Judulnya sederhana, tetapi menyimpan pengalaman perjalanan seorang seniman Aceh ketika pertama kali menjejakkan kaki di negeri yang dikenal dengan julukan Darul Iman tersebut.
Kini lagu itu mendapat panggung yang lebih besar. Said Azmi dijadwalkan tampil dalam FAM Trip Tour Darul Iman Terengganu 2026, sebuah agenda promosi pariwisata yang akan berlangsung pada 26–29 Oktober 2026. Kegiatan itu mempertemukan pegiat industri pariwisata dari sejumlah negara ASEAN.
Bagi Said, undangan tersebut bukan semata kesempatan tampil di atas panggung. Ada cerita tentang bagaimana musik Aceh dan budaya Melayu dapat menemukan ruang perjumpaan di seberang Selat Malaka.
“Insyaallah, saya siap hadir dan tampil bersama peserta lainnya dari beberapa negara ASEAN setelah mendapat restu dari Pak Bupati Tarmizi,” kata Said Azmi kepada Beritasumbar.com, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Ia mengatakan, kehadirannya di Terengganu juga akan dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya serta potensi wisata Kabupaten Aceh Barat.
Lagu yang lahir dari perjalanan
Said bukan nama baru dalam dunia seni Aceh. Ia telah berkarya sejak 1993. Puluhan lagu ciptaannya pernah mengisi ruang dengar masyarakat Aceh.
Beberapa di antaranya cukup dikenal, seperti “Teuku Umar Johan Pahlawan”, “Nasehat Ayahanda”, “Gaseh si Uroe”, dan “Dinda Lon Sayang”. Namun, “Sekejap di Terengganu” memiliki cerita berbeda.
Lagu itu bermula ketika Said berkunjung ke Terengganu untuk menghadiri South East Asia Olympiad Championship (SAOC) and Sustainable Workshop pada Oktober 2025.
Kesan perjalanan dituangkan ke dalam lagu
Saat kembali ke Terengganu pada 7–10 September 2026 untuk mendampingi pelajar Meulaboh, Said menyempurnakan lagu itu. Sejumlah lirik disesuaikan dengan karakter lokal Terengganu yang lebih bernuansa lirikan mengajak wisatawan berkunjung ke berbagai destinasi menarik di Terengganu.
Musik menjadi semacam catatan perjalanan. Ia merekam perjumpaan dua wilayah yang dipisahkan laut, tetapi memiliki banyak irisan budaya Melayu, jadilah lagu itu menjadi lagu spesial untuk Homestay Telok Ketapang.
Dari Panggung Seni ke Promosi Wisata
Undangan tampil dalam FAM Trip Tour Darul Iman 2026 datang dari Koperasi Homestay Telok Ketapang Terengganu Berhad. Bagi Said, undangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa seni dapat ditempatkan dalam strategi promosi pariwisata.
Destinasi tidak selalu harus diperkenalkan melalui brosur, video promosi, atau pameran. Sebuah lagu pun dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sebuah tempat.
Terlebih, peserta FAM Trip berasal dari kalangan yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan industri pariwisata, media, agen perjalanan, influencer, YouTuber, TikToker, pelaku usaha wisata hingga pengelola homestay.
Di tengah forum semacam itu, Said akan membawa cerita dari Aceh Barat. Bukan hanya tentang destinasi, melainkan juga tentang kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Jejak panjang Said di dunia kesenian membuat peran tersebut bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia pernah menjadi Anggota Dewan Kesenian Aceh Barat periode 2008–2018, kemudian dipercaya sebagai Ketua Dewan Kesenian Aceh Barat pada 2018–2023. Saat ini ia juga menjabat Wakil Ketua DPD PAMMI Aceh periode 2022–2027.
Di luar perjalanan organisasinya, sejumlah penghargaan pernah diterimanya, antara lain Anugerah Budaya Teuku Chik Lila Perkasa 2014, Anugerah Wali Nanggroe 2019, dan Anugerah Music Award Persatuan Musisi Aceh 2022.
Kini ia juga mengemban tugas sebagai Kepala Dinas Pariwisata di Aceh Barat. Dua dunia yang selama ini dijalaninya kesenian dan pariwisata bertemu dalam perjalanan menuju Terengganu.
“Sekejap di Terengganu” Lagu Homestay Telok Ketapang Resmi Diluncurkan
Sebelum tampil dalam FAM Trip, “Sekejap di Terengganu” lebih dulu diperkenalkan kepada publik. Presiden Koperasi Homestay Telok Ketapang Terengganu, H. Muhammad Azmi bin Abdul Aziz, mengatakan lagu ciptaan Said Azmi tersebut resmi diluncurkan sebagai bagian dari promosi pariwisata Terengganu dan Malaysia.
Peluncuran berlangsung pada malam penutupan SAOC, Rabu, 30 September 2026, di Resor Quinara Al Safir, Kuala Nerus.
“Alhamdulillah, lagu ‘Sekejap di Terengganu’ ciptaan Said Azmi dari Aceh Barat resmi kami luncurkan untuk mendukung gebyar promosi Visit Truly Terengganu dan Visit Malaysia 2027,” ujar Azmi melalui saluran daring.
Malam itu menjadi penanda lain bahwa lagu tersebut bukan lagi sekadar karya personal seorang musisi. Ia mulai ditempatkan sebagai bagian dari cerita promosi sebuah destinasi.
Acara penutupan SAOC dihadiri HB Hj. Khazan Che Mat, Wakil Ketua Dewan Legislatif Negeri Terengganu, bersama sekitar 120 tamu.
Sejumlah unsur pendidikan, pariwisata, organisasi, dan lembaga terkait juga hadir, di antaranya pimpinan dan pengurus HTK Cooperative, Real Edu Indonesia Consultants, Education Malaysia Global Services (EMGS), mitra strategis Dinas Pendidikan Negeri Terengganu, Pusat Yayasan STEM (PASTEM) Universitas Malaysia Terengganu (UMT), Pusat Sains & Pengobatan (PUSPA) Universitas Sultan Zainal Abidin (UniSZA), lembaga swadaya masyarakat, serta instansi pemerintah.
Dengan penutupan itu, rangkaian SAOC 2026 resmi berakhir. Namun, perjalanan lagu Said Azmi justru baru dimulai.
Ketika Destinasi Diperkenalkan Lewat Cerita
H. Muhammad Azmi bin Abdul Aziz mengatakan persiapan FAM Trip Terengganu Darul Iman 2026 terus dimatangkan. Pihak penyelenggara melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan di Terengganu untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana.
Sekitar 40 peserta dari empat negara ASEAN dijadwalkan ambil bagian. Mereka berasal dari kalangan media, agen perjalanan, influencer, YouTuber, TikToker, pelaku industri wisata, serta pegiat dan pengelola homestay.
Bagi industri pariwisata, kehadiran mereka berarti satu hal, cerita tentang Terengganu akan dibawa pulang dan diceritakan kembali melalui berbagai saluran.
Di tengah arus cerita itu, Said Azmi akan membawa cerita lain tentang Aceh Barat. Ia datang bukan sekadar sebagai musisi, tetapi sebagai seseorang yang membawa identitas budaya dari ujung barat Indonesia. Lagu “Sekejap di Terengganu” / Homestay Telok Ketapang menjadi penghubungnya.
Sebuah lagu tentang kunjungan singkat yang justru melahirkan perjalanan panjang. Dari Meulaboh menuju Terengganu, musik bekerja seperti jembatan. Ia tidak membutuhkan paspor untuk menyeberangkan rasa, kenangan, dan kebudayaan.***
