Padang Pariaman, BeritaSumbar.com, – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Departemen Keperawatan Fakultas Psikologi dan Kesehatan Universitas Negeri Padang bersama pemerintah Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, melaksanakan kegiatan Penguatan Program SMART Lansia yang merupakan program lanjutan dari tahun sebelumnya. Pelaksanaannya pada 04 September – 09 Oktober 2026. Kegiatan yang diikuti oleh 35 orang, terdiri atas lansia, keluarga lansia, kader Bina Keluarga Lansia (BKL), serta unsur terkait, diarahkan untuk memperkuat pencegahan penyakit kronik, dukungan kesehatan mental, dan kesiapsiagaan lansia menghadapi bencana hidrometeorologi.
PKM diketuai oleh Ns. Yanti Nopita, S.Pd, S.Kep., M.Kep, dengan anggota Ns. Ridhyalla Afnuhazi, M.Kep., Delsy Arma Putri, M. Pd dan Esy Solvera, M.Hum serta melibatkan partisipasi mahasiswa Putri Herikhlas dan Arya Satya Upangga. Program ini mengusung tema “Penguatan Program SMART Lansia melalui Optimalisasi Organisasi dan Kegiatan Bina Keluarga Lansia (BKL) dalam Pencegahan Penyakit Kronik, Dukungan Kesehatan Mental, dan Mitigasi Pascabencana Hidrometeorologi di Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.”
Wali Nagari Aie Tajun, Bapak Syamsurizal, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Program SMART Lansia yang dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Program ini diharapkan dapat memperkuat peran BKL dan keluarga dalam mencegah penyakit kronik, mendukung kesehatan mental, serta meningkatkan kesiapsiagaan nagari menghadapi bencana, khususnya untuk kelompok berisiko: lansia. Ia berharap SMART Lansia dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi pemerintah nagari, kader, tenaga kesehatan, masyarakat, dan perguruan tinggi.
Melalui kegiatan ini, BKL diperkuat sebagai wadah pemberdayaan keluarga dalam meningkatkan kualitas hidup lanjut usia. Program tidak hanya menitikberatkan pada kesehatan fisik lansia, tetapi juga mencakup kesehatan mental, penguatan peran keluarga dan kader, serta kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat dan bencana.
BKL Jadi Ujung Tombak Pendampingan Lansia
Program SMART Lansia menempatkan keluarga dan kader BKL sebagai ujung tombak dalam mendampingi lansia. Penguatan dilakukan tidak hanya pada kegiatan BKL, tetapi juga pada kemampuan kader dalam merencanakan dan menjalankan program yang sesuai dengan kebutuhan lansia di lingkungan masyarakat.

Melalui penguatan organisasi BKL, para kader diberikan pelatihan manajemen BKL untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola program secara terencana dan berkelanjutan. Pelatihan meliputi pembagian tugas dan fungsi kader, penyusunan rencana kegiatan, administrasi dan pencatatan, koordinasi antaranggota, serta monitoring dan evaluasi kegiatan.
Kader, keluarga, dan lansia mendapatkan penguatan pengetahuan mengenai pencegahan serta pengendalian penyakit kronik. Materi yang diberikan mencakup penerapan pola hidup sehat, pemenuhan kebutuhan gizi, aktivitas fisik sesuai kemampuan, kepatuhan dalam menjalani pengobatan, dan pentingnya melakukan pemantauan kesehatan secara berkala.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong keluarga untuk tidak hanya memberikan perhatian ketika lansia mengalami sakit, tetapi juga melakukan langkah pencegahan sedini mungkin.
Melalui keterlibatan aktif keluarga, berbagai faktor risiko kesehatan pada lansia dapat dikenali lebih awal sehingga upaya menjaga kemandirian dan kualitas hidup dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Kesehatan Mental Lansia Tak Boleh Diabaikan
Selain penyakit fisik, kesehatan mental menjadi bagian penting dalam SMART Lansia. Memasuki usia lanjut dapat disertai berbagai perubahan, seperti menurunnya kemampuan fisik, berkurangnya aktivitas, perubahan peran dalam keluarga, kehilangan pasangan, hingga berkurangnya interaksi sosial.
Program SMART Lansia mendorong anggota keluarga untuk lebih aktif berkomunikasi, memberikan perhatian, dan tetap melibatkan lansia dalam kegiatan keluarga maupun masyarakat sesuai dengan kondisi dan kemampuannya.
Kegiatan BKL juga dioptimalkan sebagai wadah interaksi sosial bagi para lansia. Melalui aktivitas bersama, lansia memiliki kesempatan untuk bertemu, berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan saling memberikan dukungan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat rasa percaya diri dan kesejahteraan psikologis lansia sekaligus mengurangi risiko mereka merasa kesepian atau terisolasi dari lingkungan sosial.
Perkuat Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana
Salah satu karakteristik Program SMART Lansia di Nagari Aie Tajun adalah pengintegrasian aspek kesehatan dengan kesiapsiagaan dan mitigasi pascabencana hidrometeorologi.
Lansia menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam situasi bencana, terlebih bagi mereka yang memiliki penyakit kronis, keterbatasan mobilitas, ketergantungan terhadap obat-obatan, ataupun membutuhkan pendampingan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, kader dan keluarga didorong untuk mengenali lansia yang membutuhkan prioritas pendampingan apabila terjadi kondisi darurat.
Keluarga juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya mempersiapkan kebutuhan dasar lansia, termasuk obat-obatan yang dikonsumsi secara rutin, informasi mengenai kondisi kesehatan, serta kebutuhan khusus lain yang diperlukan apabila terjadi bencana dan proses evakuasi.
Dengan demikian, kesiapsiagaan bencana tidak hanya berorientasi pada penyelamatan saat kejadian, tetapi juga memastikan kebutuhan kesehatan dan psikologis lansia tetap memperoleh perhatian selama kondisi darurat maupun pascabencana.
Dorong Kemandirian dan Keberlanjutan Program
Program SMART Lansia diharapkan tidak berhenti setelah pelaksanaan kegiatan PKM selesai. Penguatan organisasi dan kegiatan BKL menjadi salah satu langkah untuk memastikan program dapat dilanjutkan secara mandiri oleh kader bersama keluarga dan masyarakat.
Kader BKL diharapkan mampu menjadi penggerak berbagai kegiatan bagi lansia, mulai dari edukasi dan pemantauan kesehatan, peningkatan aktivitas sosial, dukungan kesehatan mental, hingga peningkatan kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi bencana.
Keberlanjutan program membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Pemerintah nagari, kader BKL, keluarga, lansia, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan perguruan tinggi serta Koordinasi Lintas Stakeholders, yakni Dinas PPKB Kabupaten Pariaman, memiliki peran masing-masing dalam mewujudkan lansia SMART.
Program ini sekaligus membawa pesan bahwa lansia bukan sekadar kelompok yang membutuhkan bantuan. Lansia tetap memiliki pengalaman, pengetahuan, kemampuan, dan peran penting dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
Menuju Nagari Ramah Lansia
Melalui penguatan Program SMART Lansia, Nagari Aie Tajun diharapkan mampu mengembangkan lingkungan yang semakin peduli terhadap kebutuhan lanjut usia.
Keberadaan BKL yang aktif dan didukung keluarga diharapkan dapat menjadi kekuatan masyarakat dalam menjaga kesehatan fisik dan psikologis lansia sekaligus meningkatkan ketangguhan mereka dalam menghadapi berbagai kondisi darurat.
“SMART Lansia bukan hanya berorientasi pada pencegahan penyakit kronik, tetapi juga memperkuat kesehatan mental, peran keluarga, kemandirian lansia, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi bencana.”
Pada akhirnya, SMART Lansia diharapkan berkembang bukan sekadar sebagai kegiatan PKM, tetapi menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, aktif, tangguh, dan bahagia di tengah keluarga dan masyarakat.
