spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Tim Pengabdian kepada masyarakatan Dari UNP Gelar Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Pasca Bencana di Nagari Pasie Laweh
T

Kategori -
- Advertisement -

Padang Pariaman, BeritaSumbar.com,- Universitas Negeri Padang (UNP) melalui tim Pengabdian kepada Masyarakat melaksanakan Program Pengabdian Kepada masyarakat di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Kegiatan yang mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Nagari Pasie Laweh melalui Terapi Kelompok Suportif Berbasis Keperawatan Jiwa pada Remaja untuk Menurunkan Stres dan Kecemasan Pasca Bencana Banjir Bandang” dan telah selesai dilaksanakan selama kurang lebih 3 bulan dari bulan Juni sampai dengan agustus 2026 dengan seluruh program berjalan sesuai dengan rencana dan target luaran yang telah ditetapkan.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim Universitas Negeri Padang yang diketuai oleh Ns. Ramaita, M.Kep, bersama anggota Ns. Reska Handayani, M.Kep dari bidang keperawatan serta Rahmah Rezki Elvika dari bidang psikologi. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan PSDKU Pariaman, yaitu Afdhal Muzakky, Ameliza, Suci  Hanifa herman, dan Khairunnisa Lubna serta didukung oleh mitra, perangkat Nagari Pasie Laweh, Karang Taruna, dan masyarakat setempat. Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sesuai dengan kontrak Pelaksanaan Program Pengabdian kepada masyarakat Tahun Anggaran 2026 Nomor: 170/C3/DT.05.00/PM/2026, 

Nagari Pasie Laweh merupakan salah satu wilayah yang terdampak banjir bandang. Bencana tersebut tidak hanya menimbulkan dampak terhadap kondisi fisik dan sosial masyarakat, tetapi juga memberikan dampak psikologis, khususnya bagi kelompok remaja. Sebagian remaja mengalami stres, kecemasan, gangguan tidur, rasa takut berlebihan ketika hujan turun, hingga gangguan konsentrasi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim pengabdian UNP menghadirkan pendekatan berbasis keperawatan jiwa komunitas melalui pelaksanaan Terapi Kelompok Suportif. Kegiatan ini menjadi wadah bagi remaja untuk saling berbagi pengalaman, mengekspresikan perasaan, memperoleh dukungan dari teman sebaya, serta belajar membangun strategi koping yang lebih adaptif dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana.

Ketua tim pengabdian, Ns. Ramaita, M.Kep, mengatakan bahwa program ini dirancang tidak hanya untuk memberikan intervensi sesaat, tetapi juga membangun kemampuan dan kemandirian remaja dalam menjaga kesehatan mental mereka.

“Bencana dapat meninggalkan dampak psikologis yang cukup lama, terutama bagi remaja. Oleh karena itu, melalui terapi kelompok suportif, edukasi kesehatan mental, pembentukan konselor teman sebaya, hingga penyediaan Pojok Tenang Remaja dan alat-alat untuk pengrajin batu bata, kami berupaya membangun sistem dukungan yang dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Pelaksanaan terapi kelompok suportif dilakukan secara terstruktur dalam beberapa kelompok kecil. Dalam setiap sesi, peserta diberikan kesempatan untuk mengenali dan mengungkapkan pengalaman emosional yang dialami pascabencana. Remaja juga mendapatkan pendampingan dalam memahami stres dan kecemasan, melakukan pengelolaan emosi, latihan relaksasi, serta mengembangkan strategi koping adaptif.

Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan melalui pengukuran sebelum dan setelah intervensi, pelaksanaan terapi kelompok suportif menunjukkan hasil yang sesuai dengan target program. Remaja mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dan terjadi perubahan positif pada kondisi stres dan kecemasan peserta setelah pelaksanaan intervensi.

Selain terapi kelompok suportif, tim pengabdian juga memberikan edukasi kesehatan mental kepada para remaja yang dilakukan. Materi yang diberikan meliputi pengenalan stres dan kecemasan, tanda dan gejala masalah psikologis pascabencana, pentingnya menjaga kesehatan mental, serta berbagai strategi koping yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan edukasi dilaksanakan secara interaktif melalui diskusi, tanya jawab, berbagi pengalaman, dan latihan sederhana. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman remaja mengenai kesehatan mental dan kemampuan mereka dalam mengenali serta menghadapi masalah psikologis secara lebih adaptif.

Program berikutnya adalah pembentukan kelompok konselor teman sebaya di tingkat nagari. Kelompok ini dibentuk sebagai salah satu strategi keberlanjutan program agar dukungan psikososial bagi remaja dapat terus berjalan setelah kegiatan pengabdian selesai.

Para calon konselor teman sebaya kemudian mendapatkan pelatihan mengenai dasar-dasar kesehatan mental remaja, pengenalan tanda awal stres dan kecemasan, keterampilan komunikasi dan dukungan emosional, serta pemahaman mengenai mekanisme rujukan apabila ditemukan remaja yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Melalui pelaksanaan program tersebut, kelompok konselor teman sebaya berhasil terbentuk dan menunjukkan peningkatan pengetahuan serta kesiapan untuk menjadi bagian dari sistem dukungan psikososial bagi remaja di lingkungan Nagari Pasia Laweh.

Tidak hanya berfokus pada aspek terapi dan edukasi, tim pengabdian juga membentuk Pojok Tenang Remaja. Ruang ini dirancang sebagai tempat yang dapat dimanfaatkan remaja untuk menenangkan diri, mengelola emosi, melakukan aktivitas positif, berbagi cerita, dan memperoleh dukungan dari teman sebaya maupun pihak terkait.

Pojok Tenang Remaja dilengkapi dengan berbagai media dan sarana pendukung yang dapat membantu proses relaksasi dan pengelolaan emosi. Keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu bentuk luaran nyata program yang diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh remaja dan masyarakat Nagari Pasia Laweh.

Dalam kegiatan tersebut, tim UNP juga memberikan dukungan terhadap potensi produktif remaja melalui penguatan kelompok remaja pengrajin batu bata. Pemberian fasilitas dan teknologi pendukung dilakukan untuk membantu mempermudah proses kerja serta meningkatkan aktivitas produktif kelompok remaja.

Kegiatan produktif tersebut tidak hanya diharapkan memberikan manfaat dari sisi ekonomi, tetapi juga menjadi sarana bagi remaja untuk melakukan aktivitas positif, membangun interaksi sosial, dan memperkuat rasa percaya diri setelah mengalami dampak bencana.

Seluruh rangkaian program, mulai dari terapi kelompok suportif, edukasi kesehatan mental, pembentukan konselor teman sebaya, pelatihan konselor, pembentukan Pojok Tenang Remaja, hingga penguatan kelompok remaja pengrajin batu bata, telah dilaksanakan.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa capaian kegiatan sesuai dengan luaran yang telah direncanakan dalam proposal pengabdian. Terjadi peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan mental, peningkatan pemahaman tentang strategi koping adaptif, terbentuknya kelompok konselor teman sebaya, tersedianya Pojok Tenang Remaja, serta penguatan aktivitas kelompok remaja pengrajin batu bata.

Anggota tim pengabdian, Ns. Reska Handayani, M.Kep, menambahkan bahwa keberhasilan program tidak terlepas dari partisipasi aktif remaja dan dukungan berbagai pihak di Nagari Pasia Laweh.

“Antusiasme remaja selama kegiatan sangat baik. Mereka aktif mengikuti terapi, edukasi, diskusi, dan berbagai pelatihan. Hal ini menjadi modal penting untuk keberlanjutan program kesehatan mental berbasis masyarakat,” katanya.

Sementara itu, keterlibatan konselor teman sebaya diharapkan menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan program. Dengan adanya kelompok tersebut, remaja memiliki ruang untuk saling mendukung dan membantu mengenali permasalahan kesehatan mental sejak dini.

Tim pengabdian juga melakukan pendampingan dan evaluasi bersama mitra untuk memastikan seluruh program dapat terus dikembangkan secara mandiri. Peran perangkat nagari, Karang Taruna, tenaga kesehatan, dan kelompok remaja menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan.

Program ini sekaligus menjadi wujud penerapan keilmuan dosen dan mahasiswa UNP dalam membantu menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Pendekatan keperawatan jiwa berbasis komunitas yang diterapkan diharapkan dapat menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat dalam memperkuat kesehatan mental remaja, khususnya di wilayah yang terdampak bencana.

“Kami berharap program yang telah dilaksanakan tidak berhenti sampai di sini. Konselor teman sebaya, Pojok Tenang Remaja, serta berbagai kegiatan positif yang telah dibangun dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Nagari Pasia Laweh,” ujar Ramaita.

Dengan terlaksananya seluruh rangkaian kegiatan dan tercapainya target luaran, program pengabdian masyarakat UNP ini diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi remaja dan masyarakat Nagari Pasia Laweh. Program tersebut juga menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan psikososial masyarakat pascabencana melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah nagari, tenaga kesehatan, Karang Taruna, dan generasi muda.

“Pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan kesehatan mental masyarakat. Ketika remaja memiliki kemampuan untuk mengenali emosi, mengelola stres, saling mendukung, dan bangkit melalui aktivitas positif, maka ketangguhan masyarakat pascabencana dapat tumbuh secara berkelanjutan.”

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img