Payakumbuh, – Sekretaris Koordinasi Perguruan Tinggi Islam Swasta (Kopertais) Wilayah VI Sumatera Barat, Muhammad Fadli, mendorong para wisudawan Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh Angkatan X untuk tidak hanya mengandalkan kemampuan akademik, tetapi juga mampu membaur, berkomunikasi, dan mengabdikan ilmu di tengah masyarakat. Pesan tersebut disampaikan dalam rangkaian acara wisuda IDAQU Payakumbuh sebagai bekal bagi para lulusan dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
Mewakili Kopertais Wilayah VI Sumatera Barat, Muhammad Fadli menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh jajaran IDAQU Payakumbuh atas dedikasi dan komitmennya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, keberhasilan menyelenggarakan pendidikan tinggi Islam merupakan bagian penting dari upaya melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kekuatan spiritual.
“Atas nama Kopertais Wilayah VI Sumatera Barat, saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada IDAQU Payakumbuh. Institusi ini telah membuktikan komitmennya dalam mencetak anak bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual. Wisuda hari ini adalah bukti nyata dari kerja keras seluruh civitas academica IDAQU,” ujar Muhammad Fadli dalam sambutannya.
Di hadapan para wisudawan, ia kemudian menyampaikan pesan agar ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di IDAQU tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi benar-benar hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pesan kami untuk seluruh wisudawan hari ini adalah: jadilah lulusan yang membaur dengan masyarakat!”tegasnya.
Muhammad Fadli menjelaskan bahwa membaur dengan masyarakat tidak berarti menurunkan kualitas intelektual maupun akademik seorang lulusan. Sebaliknya, kemampuan untuk memahami kondisi sosial dan menghadirkan solusi melalui ilmu yang dimiliki merupakan salah satu bentuk keberhasilan pendidikan tinggi.
“Membaur dengan masyarakat bukan berarti menurun taraf intelektual kalian. Justru sebaliknya, lulusan perguruan tinggi yang hebat adalah mereka yang mampu membumikan ilmunya. Jangan sampai kalian lulus kemudian merasa paling pintar dan akhirnya terasing dari lingkungan sendiri. Kenali masyarakat, dengarkan keluh kesah mereka, dan jadikan ilmu agama dan sains yang kalian miliki sebagai solusi atas problematika mereka sehari-hari,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa para lulusan Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) di bawah naungan Kopertais akan berhadapan dengan masyarakat yang memiliki beragam karakter, latar belakang, pemikiran, dan kebutuhan. Karena itu, kemampuan berkomunikasi, beradaptasi, membangun relasi, serta mengembangkan sikap toleran menjadi bagian penting yang harus dimiliki selain penguasaan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, lulusan perguruan tinggi Islam harus mampu mengambil peran sebagai agen perubahan yang hadir di tengah masyarakat dengan pendekatan yang bijaksana dan solutif. Ilmu agama dan pengetahuan yang diperoleh selama masa perkuliahan diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kontribusi nyata dalam kehidupan sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Fadli juga menyinggung kehadiran Cap. Josrizal Zain dalam acara wisuda. Menurutnya, keberadaan tokoh yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan IDAQU tersebut dapat menjadi pengingat bagi para lulusan bahwa pembangunan lembaga pendidikan tidak terlepas dari semangat pengabdian kepada masyarakat.
“Kehadiran Cap. Josrizal Zain di acara ini juga seharusnya mengingatkan kalian bahwa pendiri IDAQU membangun ini dari dan untuk masyarakat. Lanjutkan estafet perjuangan itu,” tuturnya.
Selain memberikan sambutan dan pesan kepada para wisudawan, dalam rangkaian kegiatan tersebut Kopertais Wilayah VI Sumatera Barat juga menyerahkan bantuan beasiswa melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) secara simbolis kepada mahasiswa IDAQU Payakumbuh.
Bantuan beasiswa tersebut diberikan kepada tujuh orang mahasiswa IDAQU dengan total nilai Rp365 juta. Penyerahan secara simbolis ini menjadi bentuk dukungan terhadap keberlanjutan pendidikan mahasiswa sekaligus upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan pembiayaan.
Dukungan tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi kepada mahasiswa IDAQU untuk terus meningkatkan prestasi akademik, mengembangkan kapasitas diri, serta menyelesaikan pendidikan dengan baik. Pada saat yang sama, para lulusan yang telah diwisuda diharapkan mampu melanjutkan kiprah mereka dengan membawa nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan pengabdian yang telah diperoleh selama berada di IDAQU Payakumbuh.
Dengan demikian, momentum wisuda Angkatan X tidak hanya menjadi penanda berakhirnya proses pendidikan formal di perguruan tinggi, tetapi juga menjadi awal bagi para lulusan untuk memasuki ruang pengabdian yang lebih luas. Mereka diharapkan mampu hadir sebagai insan akademik yang dekat dengan masyarakat, memahami persoalan yang dihadapi, serta memberikan kontribusi nyata melalui ilmu dan nilai-nilai yang telah mereka peroleh selama menempuh pendidikan di IDAQU Payakumbuh. (Di)
