spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Di Balik Keramahan Terengganu, Ada Semangat Para Pensiunan yang Tak Pernah Pudar
D

Kategori -
- Advertisement -

FAM Trip Teluk Ketapang bukan sekadar perjalanan mengenal destinasi wisata. Empat hari di Terengganu mempertemukan pelaku pariwisata empat negara dalam suasana persaudaraan. Di balik suksesnya acara itu, ada sekelompok orang yang bekerja tanpa pamrih, bahkan setelah masa pensiun.

TELUK KETAPANG, Beritasumbar.com – Usia rupanya bukan alasan untuk berhenti berkarya. Di Terengganu Darul Iman, Malaysia, sekelompok pensiunan justru memperlihatkan bagaimana semangat melayani dapat menjadi daya tarik wisata yang tak kalah memikat dibandingkan pantai, bangunan bersejarah, ataupun kekayaan budaya.

Mereka adalah orang-orang di balik penyelenggaraan Familiarization Trip (FAM Trip) yang digelar Koperasi Homestay Teluk Ketapang (KHTK), 26–29 Oktober 2026. Selama empat hari, para pelaku perjalanan wisata, asosiasi homestay, pemandu wisata, dan kalangan perguruan tinggi dari Indonesia, Thailand, Singapura, serta Malaysia diajak menjelajahi sejumlah destinasi unggulan Terengganu.

Namun, sepekan setelah kegiatan itu berakhir, cerita yang tertinggal ternyata bukan hanya tentang tempat-tempat yang dikunjungi. Ada pengalaman tentang keramahan, persahabatan, dan kerja kolektif yang justru menjadi kenangan paling kuat bagi para peserta.

Dewi Sartika, Marketing Executive Asia Tour Padang, Indonesia, menyebut pelayanan tuan rumah sebagai sesuatu yang the best. Baginya, keistimewaan FAM Trip ini terletak pada kesungguhan seluruh tim KHTK dalam menyambut dan melayani tamu dari berbagai negara.

Ia mengaku terkesan melihat para pengurus yang sebagian besar telah memasuki masa pensiun, tetapi masih bekerja penuh waktu untuk memastikan setiap peserta mendapatkan pelayanan terbaik. Mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga kunjungan ke berbagai destinasi wisata, semuanya dipersiapkan oleh tuan rumah.

“Meski beliau-beliau itu para pensiunan, tapi tak pernah berdiam diri. Mereka bekerja penuh waktu memberikan pelayanan baik bagi tamunya dari berbagai negara ASEAN. Ini yang patut kita contoh,” kata Dewi.

Ada hal lain yang membuatnya semakin menghargai inisiatif KHTK. Para peserta hanya perlu menanggung biaya tiket perjalanan masing-masing. Sementara kebutuhan penginapan dan makan selama kegiatan ditanggung tuan rumah.

“Kami hanya cukup beli tiket bagi masing-masing peserta. Insyaallah, jika diundang lagi kami siap datang kembali,” ujarnya.

Bagi Dewi, langkah yang dirancang pendiri KHTK, Cik Gu Mohd Azmi bin Abdul Azis, memiliki makna lebih luas daripada sekadar mempromosikan pariwisata. FAM Trip itu menjadi ruang mempertemukan orang-orang yang memiliki kepentingan sama dalam mengembangkan industri perjalanan wisata di kawasan Asia Tenggara.

Promosi Visit Truly Terengganu Darul Iman 2027 memang menjadi salah satu sasaran kegiatan tersebut. Namun, di balik agenda promosi itu, tersimpan tujuan lain: memperkuat hubungan persaudaraan masyarakat serumpun.

Dua Pria di Balik Kamera, Aminuddin dan Marzuki

Di antara banyak orang yang bekerja di belakang layar, dua sosok menarik perhatian Dewi. Mereka adalah Aminuddin bin Arifin dan Mohd Marzuki.

Aminuddin bertugas mengabadikan kegiatan melalui rekaman video dan dokumentasi kanal YouTube. Sementara Marzuki menjadi fotografer yang merekam berbagai momen sepanjang perjalanan.

Keduanya nyaris selalu hadir dalam setiap rangkaian kegiatan. Kamera menjadi teman perjalanan, sementara semangat mendokumentasikan setiap peristiwa seolah tidak mengenal batas usia.

“Saya salut dengan kedua bapak ini. Meski sudah tua-tua, tapi semangatnya tak pernah kendor untuk mendokumentasikan seluruh momen,” ujar Dewi.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah perjalanan wisata tidak selalu ditentukan oleh sosok yang tampil di depan. Ada pula mereka yang bekerja di belakang kamera, memastikan setiap pengalaman tersimpan dan dapat diceritakan kembali kepada orang lain.

Dokumentasi itu kelak menjadi bagian penting dari promosi pariwisata. Foto dan video bukan hanya rekaman kegiatan, melainkan juga media untuk memperkenalkan wajah Terengganu kepada calon wisatawan yang belum pernah datang.

Merajut Kembali Persahabatan Serumpun

Kesan serupa disampaikan Desmi Irianti, Ketua Persatuan Homestay Sumatera Barat (PHSB). Ia menilai penyelenggaraan FAM Trip Terengganu 2026 berlangsung dengan sambutan luar biasa. Keramahtamahan dan suasana persahabatan yang dibangun tuan rumah menjadi pengalaman yang ingin terus dipertahankan.

Bagi Desmi, pertemuan tersebut tidak semestinya berhenti setelah rombongan kembali ke negara masing-masing. Hubungan antara pengelola homestay di Terengganu dan Sumatera Barat memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kerja sama yang lebih konkret.

PHSB, kata dia, siap memperkuat kembali kemitraan dengan KHTK serta pihak pemerintah Terengganu. Kerja sama itu diharapkan dapat membuka ruang pertukaran pengalaman, promosi bersama, dan pengembangan jaringan perjalanan wisata antara kedua wilayah.

“Kami dari PHSB sangat berkeinginan untuk menjalin dan memperkokoh kerja sama secara berkelanjutan yang lebih baik untuk mendukung program pariwisata antar kedua institusi,” kata Desmi.

Kedekatan geografis dan sejarah budaya menjadi salah satu modal penting. Sumatera Barat dan Terengganu sama-sama memiliki tradisi Melayu yang kuat. Kesamaan akar budaya itu dapat menjadi jembatan untuk memperluas hubungan pariwisata sekaligus memperkenalkan kekayaan masing-masing daerah.

Budaya Melayu yang Terasa Dekat

Bagi Along, seorang Vlog Guide dari Thailand, perjalanan ke Terengganu memberikan pengalaman yang lebih personal. Ia tidak hanya menemukan destinasi wisata baru, tetapi juga merasakan kedekatan budaya yang selama ini hidup dalam masyarakat Melayu di selatan Thailand.

Menurut Along, banyak tradisi dan kebiasaan masyarakat Terengganu yang mengingatkannya pada kehidupan masyarakat Melayu di wilayah asalnya.

“Yang paling berkesan bagi saya ialah budaya, tradisi dan keramahan masyarakat Terengganu. Ada banyak perkara yang terasa dekat dengan budaya Melayu di selatan Thailand, seolah-olah kita berkongsi akar dan warisan yang sama,” tuturnya.

Pengalaman itu membuatnya semakin menghargai hubungan budaya antara kedua wilayah. Baginya, perjalanan wisata tidak selalu harus berakhir pada daftar tempat yang dikunjungi atau foto yang dibawa pulang. Ada pengalaman tentang sejarah, identitas, dan persaudaraan yang justru lebih lama melekat dalam ingatan.

FAM Trip yang digagas KHTK akhirnya memperlihatkan wajah lain pariwisata Terengganu. Daya tarik sebuah destinasi tidak semata-mata terletak pada keindahan alam dan kelengkapan fasilitasnya. Keramahan manusia, kesediaan berbagi, serta kemampuan membangun hubungan lintas negara juga menjadi kekuatan yang tak mudah dilupakan.

Di Teluk Ketapang, para peserta telah pulang membawa cerita masing-masing. Tetapi bagi mereka yang menjadi tuan rumah, pekerjaan belum benar-benar selesai. Sebab, promosi pariwisata yang paling berkesan barangkali bukanlah yang paling ramai meneriakkan keindahan destinasi, melainkan yang membuat tamunya ingin kembali.***

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img