SAWAHLUNTO, Beritasumbar.com —Wajah baru pusat kebudayaan Sawahlunto mulai terbentuk. Revitalisasi Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) dan penataan taman kota Lapangan Segitiga Ombilin kini mencapai 70 persen.
Dengan anggaran Rp 22,5 miliar, PT Guna Cipta Kreasi (GCK) berpacu dengan waktu untuk menuntaskan proyek itu pada akhir November 2026, tepat sebelum Sawahlunto merayakan hari jadinya pada 1 Desember mendatang.
Manajer Pelaksana PT GCK Erwanto mengatakan, pekerjaan GPK kini memasuki tahap penyelesaian akhir. Pengecatan, pemasangan plafon, serta sejumlah pekerjaan detail masih dikerjakan dengan memperhatikan ketelitian dan karakter bangunan lama. Sementara itu, pekerjaan taman kota berfokus pada penataan kawasan dan penanaman bunga.
“Secara keseluruhan, baik GPK maupun taman progresnya sudah mencapai 70 persen. Insyaallah, seluruh pekerjaan selesai saat Hari Jadi Kota Sawahlunto ke-138. Kendala utama hanya cuaca hujan, tetapi masih bisa dikondisikan,” kata Erwanto, Senin, 12 Oktober 2026.
Menurut dia, hujan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran pekerjaan di lapangan. Meski begitu, perusahaan tetap mengejar target penyelesaian sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Revitalisasi GPK tidak sekadar memulihkan bangunan yang terbakar pada November 2022. Pekerjaan ini juga menuntut penyesuaian konstruksi baru dengan karakter arsitektur lama karena gedung tersebut merupakan bagian dari kawasan cagar budaya Sawahlunto.
Erwanto mengatakan, setiap bagian konstruksi harus diperiksa secara cermat agar pembaruan bangunan tidak menghilangkan karakter aslinya. Struktur baja, misalnya, dirancang dengan mempertimbangkan bentuk dan kondisi konstruksi sebelumnya.
“Pekerjaannya harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena ini bangunan cagar budaya. Bagian-bagian konstruksinya harus diperhatikan dan disesuaikan dengan struktur lama,” ujar Erwanto dalam wawancara pada Agustus lalu.
Genteng Kodok Didatangkan Khusus dari Jawa Tengah
Salah satu tantangan dalam revitalisasi GPK adalah pengadaan genteng kodok, jenis penutup atap yang digunakan pada bangunan lama. Material tersebut tidak mudah ditemukan karena sebagian besar pabrik yang memproduksinya sudah berhenti beroperasi.
PT GCK akhirnya memperoleh pasokan dari sebuah pabrik di Jawa Tengah yang masih memproduksi genteng jenis tersebut. Menurut Erwanto, genteng itu dibuat melalui proses pembakaran menggunakan gas sehingga menghasilkan warna yang relatif merata.
Namun, kenaikan harga bahan bakar ketika pemesanan dilakukan turut meningkatkan biaya pengadaan material.
“Genteng kodok ini diproses melalui pembakaran menggunakan bahan bakar gas, bukan sekam atau kayu. Warnanya jadi merata dan hidup, tetapi biayanya tentu bertambah,” kata Erwanto.
Ia menyebutkan, genteng kodok tersebut telah terpasang utuh sebagai atap GPK. Pengadaan material yang sesuai dengan karakter bangunan lama menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mempertahankan tampilan historis gedung itu.
Revitalisasi GPK dikerjakan dalam satu paket dengan penataan ruang hijau Lapangan Segitiga Ombilin, yang berada di depan Saka Ombilin Heritage Hotel. Kawasan taman tersebut dirancang tanpa pagar, sesuai arahan Pemerintah Kota Sawahlunto, sehingga ruang publik tetap terbuka bagi masyarakat.
Dari Societeit Gluck Auf hingga Pusat Kebudayaan
GPK merupakan salah satu bangunan berarsitektur Eropa yang merekam sejarah pertambangan batu bara Ombilin. Gedung ini didirikan pada 1910, pada masa pemerintahan Hindia Belanda, dengan nama Societeit Gluck Auf.
Istilah Gluck Auf dikenal sebagai salam di kalangan penambang Jerman yang mengandung harapan akan keselamatan dan keberhasilan para penambang. Pada masa pertambangan Ombilin berkembang, gedung tersebut menjadi tempat pertemuan dan berkumpulnya pejabat pertambangan serta kalangan elite Eropa di Sawahlunto.
Setelah Indonesia merdeka, fungsi bangunan berubah mengikuti perkembangan kota. Gedung itu pernah digunakan untuk kegiatan hiburan, rumah biliar, kantor Koperasi Ombilin, kantor Bank BDN, hingga pusat kegiatan kebudayaan. Bangunan tersebut juga sempat disewakan untuk pesta pernikahan, seminar, dan berbagai pertemuan.
Riwayat panjang itu terancam ketika kebakaran melanda GPK pada 3 November 2022. Api yang diduga berasal dari korsleting listrik di bagian loteng menghanguskan kerangka atap dan sejumlah ruangan gedung. Peristiwa tersebut terjadi ketika kegiatan kontes durian tingkat Provinsi Sumatera Barat sedang berlangsung.
Revitalisasi yang kini dikerjakan menjadi upaya memulihkan kembali bangunan bersejarah tersebut. Dengan progres mencapai 70 persen pada pertengahan Oktober, penyelesaian proyek masih bergantung pada kelancaran pekerjaan tahap akhir dan kondisi cuaca hingga akhir November 2026.***
Beritasumbar.com
Revitalisasi GPK dan Taman Lapsek Sawahlunto Capai 70 Persen, Rampung Akhir November 2026R
Kategori -
Nasional
- Advertisement -
- Advertisement -
