spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Cikgu Azmi dan Jalan Panjang dari Rumah ke Industri Wisata
C

Kategori -
- Advertisement -

Dari sebuah kampung di pesisir timur Malaysia, tepatnya Kuala Terengganu, Mohd Azmi Abdul Aziz mengubah rumah warga menjadi pintu masuk pariwisata. Gagasannya menyeberang ke Indonesia dan ikut menginspirasi pertumbuhan homestay di Sawahlunto dan Sumatera Barat.

TERENGGANU, Beritasumbar.com — Pelancong datang bukan sekadar untuk tidur. Mereka makan di rumah warga. Duduk di ruang keluarga. Menyusuri kampung. Berbincang dengan tuan rumah. Lalu pulang membawa cerita tentang kehidupan masyarakat Teluk Ketapang.

Di balik cara sederhana itu ada seorang guru yang sejak dua dekade lalu memilih jalan yang tidak biasa, menjadikan rumah penduduk sebagai bagian dari industri pariwisata. Namanya Haji Mohd Azmi bin Abdul Aziz. Orang-orang memanggilnya Cikgu Azmi.

Dari Kampung Teluk Ketapang, Kuala Terengganu, ia membangun gagasan bahwa pariwisata tidak harus selalu dimulai dari hotel, mal atau proyek besar. Kadang-kadang cukup dari sebuah rumah.

Ketika Rumah Menjadi Destinasi

Azmi mulai terlibat dalam pendirian Koperasi Homestay Telok Ketapang sejak 2003. Empat tahun kemudian, pada 2007, ia semakin aktif mengembangkan homestay dan industri pelancongan di Terengganu.

Ia tidak sekadar mengurus kamar. Azmi mengajak warga melihat rumah mereka dengan cara berbeda. Dapur, makanan tradisional, pekerjaan sehari-hari, lingkungan kampung dan keramahan tuan rumah dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Gagasannya sederhana, tetapi dampaknya panjang. Homestay Teluk Ketapang berkembang. Jumlah pengusaha bertambah. Wisatawan berdatangan. Aktivitas ekonomi ikut bergerak.

Kawasan itu kemudian menjadi salah satu dari tujuh homestay resmi di Terengganu, dengan 108 pengusaha dan 123 bilik. Pada masa tertentu, jumlah tamu bahkan melampaui kemampuan warga menampungnya.

Kampung yang semula menjadi tempat tinggal berubah menjadi ruang pengalaman bagi wisatawan. Bagi Azmi, mungkin inilah inti homestay: wisatawan tidak hanya melihat kampung, tetapi tinggal di dalam ceritanya.

Gagasannya Menyeberang Selat Malaka

Perjalanan Azmi kemudian menemukan cerita lain di Sawahlunto, Sumatera Barat. Hj. Kamsri Benti mengenal sosok tersebut bukan hanya dari namanya, tetapi dari pengalaman panjang mengembangkan homestay.

Kamsri pernah memimpin Asosiasi Homestay Kota Sawahlunto pada 2010–2021 dan kemudian menjadi Ketua Perhimpunan Homestay Sumatera Barat pada 2021–2023.

Menurut Kamsri, perkembangan homestay di Sawahlunto dan Sumatera Barat tidak terlepas dari motivasi dan inspirasi yang diberikan Azmi. Ada proses belajar di sana.

Pelaku homestay Sawahlunto melihat apa yang dilakukan Teluk Ketapang. Bahwa wisatawan dapat ditempatkan lebih dekat dengan kehidupan warga. Bahwa rumah bukan sekadar bangunan, tetapi bagian dari produk wisata.

Gagasan itu menemukan tempat di Sawahlunto. Kota tua bekas pertambangan Ombilin tersebut memang memiliki modal lain: sejarah, bangunan kolonial, tradisi dan kehidupan masyarakat yang terbentuk dari perjalanan panjang industri tambang.

Homestay kemudian menjadi salah satu cara membawa wisatawan lebih dekat dengan cerita itu.

Penghargaan Datang Belakangan

Kerja Azmi akhirnya menarik perhatian pemerintah dan industri pariwisata Malaysia. Homestay Teluk Ketapang meraih The Best Homestay dalam Malaysia Tourism Awards 2016/2017.

Penghargaan lain datang melalui Millions Potential Award pada World Homestay Organisation Summit for Tourism 2019.

Teluk Ketapang kemudian dipandang sebagai salah satu penanda aras atau benchmark pengembangan homestay Bumiputera.

Tempat itu bahkan dijadikan lokasi program motivasi homestay bagi daerah lain, termasuk ketika PERDA memilihnya sebagai lokasi program motivasi homestay di Pulau Pinang.

Penghargaan tersebut memperlihatkan satu hal: homestay yang dibangun dari tingkat kampung dapat masuk ke panggung industri pariwisata nasional.

Tetapi bagi Azmi, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah memastikan warga tetap menjadi pemain utama.

Dari Kampung Masuk ke Kebijakan

Pemerintah Malaysia kemudian ikut memperkuat gerakan itu. Pada 2009, Kementerian Pelancongan Malaysia memberikan apresiasi terhadap pengembangan homestay. Dalam agenda yang diresmikan Menteri Pelancongan Malaysia ketika itu, YB Dato’ Sri Azalina Dato’ Othman Said, pemerintah juga meluncurkan laman web Homestay Terengganu.

Promosi homestay mulai bergerak ke dunia digital. Produk wisata yang sebelumnya dikenal melalui cerita dari mulut ke mulut mulai dipasarkan lebih luas.

Di tingkat negeri, keberhasilan para penggiat homestay juga mendapat perhatian dalam Persidangan Dewan Undangan Negeri Terengganu. Sebuah usaha yang bermula dari kampung akhirnya masuk ke ruang kebijakan.

Homestay Hanya Pintu Masuk

Azmi rupanya tidak berhenti pada pariwisata. Program pemberdayaan masyarakat ikut menjadi bagian dari kegiatannya. Kelompok ibu tunggal, masyarakat B40 dan komunitas rentan menjadi sasaran program keterampilan yang pernah digerakkannya. Hubungan dengan Indonesia pun semakin luas.

Pada Februari 2026, Azmi terlibat dalam pengiriman bantuan kemanusiaan ke Aceh melalui Fund for Ummah. Pada Juli tahun yang sama, ia menjalin kerja sama dengan Institut Agama Islam Rawa Aopa, Konawe Selatan, untuk pengembangan ekowisata dan ekonomi berbasis komunitas.

Jalur kerja samanya semakin panjang.
Malaysia dan Indonesia tidak lagi hanya bertemu sebagai pasar wisata. Keduanya mulai berbagi pengalaman tentang bagaimana masyarakat lokal dapat menjadi penggerak ekonomi pariwisata.

Dari Teluk Ketapang ke Sawahlunto

Ada satu kesamaan antara Teluk Ketapang dan Sawahlunto. Keduanya tidak menjual sesuatu yang sepenuhnya baru. Teluk Ketapang menjual kehidupan kampungnya. Sawahlunto menjual ingatan tentang kota tambang dan kehidupan masyarakat yang tumbuh bersamanya.

Keduanya memiliki cerita. Tantangannya tinggal bagaimana cerita itu dihidupkan dan dijual tanpa kehilangan pemiliknya. Di sinilah gagasan Azmi menjadi penting.

Ia menunjukkan bahwa masyarakat tidak harus menunggu pembangunan hotel besar untuk masuk ke industri wisata. Mereka dapat memulai dari apa yang sudah dimiliki. Rumah, dapur, makanan, tradisi, ceritadan keramahan.

Guru yang Memilih Mengajar Lewat Pariwisata

Azmi dikenal pula dengan sebutan Cikgu Md. Azmi. Latar belakangnya sebagai guru mungkin ikut menjelaskan cara ia bekerja, mengajak, memotivasi dan memberi contoh. Ia tidak membangun homestay seorang diri. Ia membangun orang-orang di belakangnya.

Itulah sebabnya pengaruhnya terasa lebih panjang daripada umur sebuah program promosi. Dua puluh tahun lebih sejak ia terlibat dalam gerakan homestay Teluk Ketapang, namanya masih muncul dalam berbagai kegiatan pariwisata Terengganu.

Kini perannya bukan hanya sebagai pengerusi koperasi atau penyelaras homestay. Ia telah menjadi penghubung. Antara kampung dan industri pariwisata. Antara Malaysia dan Indonesia. Antara rumah warga dan pasar wisatawan.

Dan mungkin di situlah keberhasilan terbesar Cikgu Azmi. Ia tidak mengubah kampung menjadi hotel.
Ia membuat orang luar mau datang dan tinggal sebentar di dalam kehidupan sebuah kampung. Lalu pulang dengan membawa ceritanya.***

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img