spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Ultra Processed Food: Praktis, Lezat, tetapi Perlu Bijak Mengonsumsinya
U

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Ns. Muthmainnah, M.Kep
Dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Andalas

Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, makanan siap saji dan makanan kemasan semakin menjadi pilihan banyak orang. Selain mudah diperoleh, produk-produk tersebut juga menawarkan cita rasa yang konsisten, masa simpan yang panjang, dan harga yang relatif terjangkau. Namun, di balik kepraktisannya, masyarakat perlu mengenal istilah ultra processed food (UPF) atau pangan ultra-proses yang kini menjadi perhatian para ahli kesehatan di berbagai negara.

Ultra processed food merupakan makanan atau minuman yang mengalami proses pengolahan industri secara intensif dengan menggunakan berbagai bahan tambahan, seperti pemanis buatan, pewarna, perasa, pengawet, pengemulsi, dan penstabil. Produk ini umumnya dibuat dari bahan yang telah dimurnikan atau dimodifikasi, sehingga kandungan pangan utuhnya sangat sedikit. Contohnya meliputi  fast food (fried chicken, burger, kentang, pizza), minuman bersoda, mi instan, sosis, nugget, keripik, biskuit, permen, sereal manis, hingga makanan beku siap saji.

Keberadaan ultra processed food sebenarnya memberikan manfaat tertentu. Produk ini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan makanan yang praktis, mudah disimpan, dan tersedia sepanjang waktu. Dalam kondisi darurat atau bagi masyarakat dengan keterbatasan waktu, makanan jenis ini dapat menjadi solusi yang membantu.

Meski demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi UPF secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Kandungan gula, garam, dan lemak jenuh yang tinggi, disertai rendahnya serat, vitamin, dan mineral, membuat makanan ini kurang ideal jika dikonsumsi setiap hari sebagai menu utama. Konsumsi jangka panjang dikaitkan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga beberapa jenis kanker. Selain itu, sejumlah penelitian juga mulai mengaitkan konsumsi UPF yang tinggi dengan gangguan kesehatan mental dan penurunan kualitas hidup, meskipun hubungan sebab akibatnya masih terus diteliti.

Anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang paling rentan. Paparan iklan yang masif, kemasan yang menarik, serta rasa yang disukai membuat mereka lebih sering memilih makanan ultra-proses dibandingkan makanan segar. Jika kebiasaan ini berlangsung dalam jangka panjang, risiko gangguan gizi dan penyakit kronis saat dewasa dapat meningkat.

Karena itu, pendekatan yang tepat bukanlah menghindari seluruh makanan olahan, melainkan membatasi konsumsi pangan ultra-proses dan menyeimbangkannya dengan makanan yang lebih alami. Masyarakat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, telur, serta makanan yang diolah secara sederhana di rumah. Membiasakan membaca label informasi nilai gizi juga menjadi langkah penting agar konsumen dapat mengetahui kandungan gula, garam, dan lemak dalam setiap produk yang dibeli.

Untuk mengetahui batas aman kadar gula, garam atau lemak di dalam sebuah produk makanan, berikut adalah rekomendasi asupan harian menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Gula: kurang dari 50 gram per hari atau setara dengan 4 sendok makan

Garam: kurang dari 2 gram per hari atau setara dengan 1 sendok teh

Lemak: kurang dari 67 gram per hari atau setara dengan 5 sendok makan

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img