Oleh: M. Raffi Ujang Maya
Kehadiran sebuah perusahaan asing di Kecamatan Pariangan belakangan ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat. Rencana mereka terdengar mulia: membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) alias kincir angin raksasa penghasil listrik. Namun, bagi warga yang hidup dan bernapas di lereng Gunung Marapi, rencana ini justru memunculkan kecurigaan yang masuk akal. Benarkah murni mencari angin, atau ada “harta karun” lain yang sedang diincar?
Untuk mengurai benang kusut ini, kita bisa membedahnya melalui kacamata akal sehat dan ilmu pengetahuan alam yang paling sederhana.
Mengapa Pariangan? Sebuah Pertanyaan Logis
Kecurigaan warga bukan tanpa dasar. Jika perusahaan asing tersebut benar-benar murni ingin memanen angin saat ini di Pariangan, alasan topografinya terasa janggal.
Mari kita gunakan logika sederhana. Jika alasan utamanya adalah mencari dataran tinggi, bentang alam Sumatera Barat memiliki banyak daerah lain yang jauh lebih tinggi dan lebih aman. Sebaliknya, jika yang dicari murni hembusan angin yang kuat dan stabil untuk memutar turbin komersial, pesisir pantai adalah lokasi yang jauh lebih ideal. Di wilayah pesisir, tidak ada penghalang seperti bukit atau tebing, sehingga angin bertiup konsisten tanpa turbulensi.
Membangun kincir angin raksasa di lereng gunung berapi justru sangat berisiko. Angin pegunungan sifatnya berputar dan tidak stabil (turbulen), yang justru bisa merusak baling-baling. Selain itu, Marapi adalah gunung api aktif. Membangun infrastruktur bernilai triliunan rupiah di zona bahaya erupsi—di mana abu vulkanik yang tajam dapat dengan mudah merusak mesin dan generator turbin—adalah keputusan bisnis yang sangat tidak masuk akal jika tujuannya hanya mencari listrik.
Rahasia di Balik Gunung Berapi Aktif
Lalu, apa yang membuat kawasan lereng gunung api aktif begitu menarik bagi pemodal raksasa? Ilmu geologi punya jawabannya: Logam Mulia.
Gunung berapi aktif seperti Marapi ibarat “pabrik emas” alami yang sedang bekerja. Di bawah permukaan gunung, terdapat dapur magma yang sangat panas. Panas ini memanaskan air tanah yang ada di sekitarnya (para ilmuwan menyebutnya sistem hidrotermal).
Air tanah yang mendidih ini kemudian bergerak naik melewati celah-celah bebatuan. Saat mengalir, air panas bersuhu ekstrem ini bersifat seperti asam yang melarutkan mineral-mineral berharga di dalam batu, termasuk emas, perak, dan tembaga. Ketika air tersebut perlahan naik mendekati permukaan bumi dan mulai mendingin, mineral-mineral yang larut tadi kembali memadat dan tertinggal di celah-celah batuan (dikenal sebagai urat emas epithermal).
Proses alamiah inilah yang membuat hampir semua kawasan vulkanik purba atau aktif di dunia identik dengan kandungan emas yang melimpah.
Bagaimana Kita Menyikapi Ini?
Di sinilah letak kewaspadaan warga bermula. Kecurigaan bahwa proyek PLTB ini hanyalah “kedok” untuk melakukan eksplorasi mineral di bawah tanah tidak bisa diabaikan begitu saja. Infrastruktur jalan yang dibangun untuk alat berat PLTB bisa dengan mudah beralih fungsi menjadi akses pertambangan jika suatu saat izinnya “disesuaikan”.
Warga Pariangan sama sekali tidak anti terhadap investasi asing. Namun, investasi tersebut harus transparan, masuk akal secara ilmiah, dan tidak membahayakan ekologi lingkungan serta masa depan ruang hidup masyarakat adat.
Pemerintah daerah dan instansi terkait harus membuka dokumen analisis kelayakan proyek ini secara terang benderang. Jangan sampai, angin yang dijanjikan sekadar menjadi hembusan janji manis, sementara perut bumi Pariangan yang mengandung emas diam-diam dikeruk habis. Kita tidak boleh menjadi penonton di tanah sendiri ketika kekayaan alam kita dibawa pergi oleh tamu yang datang dengan alasan mencari angin.