KERINCI — Persoalan sampah di kawasan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak. Semangat gotong royong menjadi pesan utama dalam kegiatan Petani dan Pendaki Peduli Gunung Kerinci, yang mengajak masyarakat, pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, pelaku usaha, hingga jejaring internasional bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan wisata.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan kepedulian lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan. Aksi ini melibatkan sejumlah pihak, antara lain ALKO, Universitas Andalas, Universitas Jambi, Universitas Merangin, SDN 175 Batang Sangir, Komunitas CB, PSHT, Prima Agro, dan GPLBP.
Kegiatan juga dihadiri jejaring dari Jepang, di antaranya Mizuwa, Unicom Coffee Jepang, dan Rasa Nobang, serta mendapat dukungan dari Rabobank Jepang.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah memiliki dimensi yang lebih luas. Sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan, kenyamanan masyarakat, citra daerah, serta keberlanjutan pariwisata.
Kawasan Kayu Aro memiliki lanskap yang menjadi salah satu daya tarik Kerinci, mulai dari perkebunan teh hingga panorama Gunung Kerinci. Keindahan tersebut, menurut para penggiat lingkungan, harus dijaga bersama.
Anggota Gerakan Peduli Lingkungan Bersih (GPLBP), Edwin Steven, mengatakan komunitasnya secara rutin melakukan kegiatan lingkungan, termasuk penanaman pohon dan aksi bersih-bersih.
“Kalau buang sampah itu pada tempatnya. Jangan di tempat sembarangan, di pinggir jalan, karena menyusahkan banyak orang,” ujar Edwin.
Menurutnya, GPLBP telah melakukan penanaman pohon di sepanjang kawasan Kebun Teh hingga arah Batang Sangir dan Sungai Jambu. Pohon-pohon yang ditanam komunitas tersebut kini telah berusia sekitar lima hingga enam tahun.
Bagi Edwin, penghijauan dan kebersihan harus berjalan beriringan. Tidak cukup hanya menanam pohon apabila masyarakat masih membuang sampah sembarangan.
Ia pun mendorong pemerintah daerah dan dinas terkait agar lebih aktif menangani persoalan sampah.
“Pemerintah harus lebih tegas lagi, lebih bergerak lagi untuk mengurus sampah bersama ini,” katanya.
Edwin menegaskan, persoalan sampah bukan tanggung jawab komunitas semata. Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, lembaga pendidikan, wisatawan, serta seluruh pihak yang beraktivitas di kawasan tersebut memiliki peran masing-masing.
Edukasi Dimulai dari Generasi Muda
Semangat menjaga lingkungan juga ditanamkan kepada anak-anak yang ikut dalam kegiatan tersebut.
Syafiq Reska Aditya, siswa SDN 175 Batang Sangir berusia 10 tahun, mengaku senang mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan.
“Seru,” ujar Syafiq ketika ditanya mengenai kegiatan tersebut.
Ia kemudian menyampaikan pesan sederhana kepada teman-temannya agar tidak membuang sampah sembarangan.
“Ayo kawan-kawan, jangan buang sampah. Buang sampah pada tempatnya, supaya Kayu Aro bersih dan sehat,” katanya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan. Edukasi lingkungan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga dengan mengajak anak-anak terlibat langsung dalam aksi kebersihan.
Dengan cara itu, kepedulian terhadap lingkungan diharapkan tumbuh sebagai kebiasaan sejak usia dini.
Menjaga Sampah, Menjaga Wisata
Gerakan kebersihan di Kayu Aro juga memiliki kaitan erat dengan sektor pariwisata.
Kerinci dikenal memiliki kekayaan alam dan lanskap yang menjadi daya tarik wisata. Namun, daya tarik tersebut dapat terganggu apabila kawasan wisata dipenuhi sampah.
Karena itu, kebersihan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pariwisata.
Masyarakat tidak hanya diajak untuk membersihkan sampah yang sudah ada, tetapi juga mencegah munculnya sampah baru dengan mengubah perilaku.
Pesannya sederhana: jangan membuang sampah sembarangan, bawa kembali sampah yang dihasilkan, dan manfaatkan fasilitas pengelolaan sampah yang tersedia.
Kegiatan gotong royong ini juga memperlihatkan bahwa pelestarian lingkungan dapat mempertemukan berbagai kelompok dengan kepentingan berbeda.
Petani memiliki kepentingan menjaga lingkungan produksi. Komunitas memiliki kepedulian terhadap kawasan. Dunia pendidikan berperan memberikan edukasi. Pelaku usaha berkepentingan terhadap keberlanjutan ekonomi. Sementara pemerintah memiliki tanggung jawab dalam kebijakan dan pengelolaan fasilitas publik.
Semua kepentingan tersebut dapat bertemu dalam satu agenda: menjaga Kerinci tetap bersih, sehat, dan indah.
Kehadiran jejaring dari Jepang dan dukungan Rabobank Jepang juga memperlihatkan bahwa isu kebersihan dan keberlanjutan semakin mendapat perhatian dalam jejaring yang lebih luas.
Pada akhirnya, gerakan Petani dan Pendaki Peduli Gunung Kerinci membawa pesan bahwa menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan secara parsial.
Satu pihak membersihkan, sementara pihak lain terus membuang sampah, tidak akan menyelesaikan masalah. Karena itu, semangat gotong royong harus menjadi gerakan bersama—dari masyarakat, komunitas, pemerintah, dunia usaha, sekolah, perguruan tinggi, hingga wisatawan.
Sebab, Gunung Kerinci dan keindahan Kayu Aro bukan milik satu kelompok. Keduanya merupakan aset bersama yang harus dijaga bersama pula.
