spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Menyusuri Pasar Seni Kuala Lumpur : Membaca Sejarah dari Batik hingga Rempah
M

Kategori -
- Advertisement -

KUALA LUMPUR,Beritasumbar.com — Langkah kaki baru beberapa menit meninggalkan stasiun LRT Pasar Seni ketika sebuah bangunan putih-biru menyembul di antara lalu lintas kota Kuala Lumpur. Beritasumbar.com berjalan menyusuri sebuah kawasan heritage, pasar rakyat, jejak sejarah masa lampau.

Bentuknya tidak seperti pusat perbelanjaan modern yang memenuhi pusat kota. Garis-garis geometris pada fasadnya justru membawa ingatan ke masa ketika kota belum dipenuhi gedung pencakar langit.

Itulah Pasar Seni atau Central Market, salah satu bangunan bersejarah yang menjadi penanda perjalanan Kuala Lumpur dari sebuah kota perdagangan menjadi metropolitan multikultural.

Pintu masuknya berada di Jalan Hang Kasturi. Dari sini, wisatawan dapat menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi kain batik, songket, kebaya, ukiran kayu, perhiasan, kerajinan perak, hingga berbagai cendera mata. Di sisi lain, aroma rempah dan warna-warni tekstil membawa pengunjung memasuki suasana budaya India.

Alih Fungsi Adaptif Pasar Basah ke Pasar Seni

Pasar Seni memang bukan lagi pasar basah. Namun jejak masa lalunya masih menjadi bagian penting dari cerita bangunan ini. Pasar ini berdiri sejak 1888. Pada masa awal Kuala Lumpur, tempat tersebut dikenal sebagai Pasar Besar dan berfungsi sebagai pasar basah utama kota.

Menurut cerita warga setempat, pendirian pasar itu dikaitkan dengan Yap Ah Loy, Kapitan Cina ketiga Kuala Lumpur, tokoh yang memiliki peran besar dalam perkembangan awal kota tersebut.

Hampir setengah abad kemudian, wajah Pasar Seni berubah. Pada 1937, bangunan yang kini dikenal sebagai Central Market selesai dibangun setelah mengalami renovasi besar.

Gaya Art Deco yang melekat pada bangunan itu menjadi salah satu daya tarik arsitekturalnya. Bentuk geometris, garis tegas dan tampilan khas zamannya membuat bangunan tersebut berbeda dari pusat perdagangan modern di sekitarnya.

Tetapi perjalanan Pasar Seni nyaris berakhir pada dekade 1980-an. Pasar basah dipindahkan. Bangunan lama itu menghadapi ancaman pembongkaran. Upaya pelestarian kemudian mengubah arah sejarahnya.

Pada 1986, Pasar Seni dibuka kembali, bukan lagi sebagai pasar basah, melainkan sebagai pusat kebudayaan yang menampung seni, kerajinan dan tradisi Malaysia.

Di sinilah konsep adaptive reuse ( alih fungsi adaptif) menemukan bentuknya. Sebuah bangunan lama tidak harus menjadi benda mati yang hanya dilihat dari luar. Ia dapat diberi fungsi baru tanpa kehilangan cerita masa lalunya.

Pasar Seni menjadi salah satu contoh menarik bagaimana warisan arsitektur dipertahankan sekaligus dihidupkan kembali melalui kegiatan ekonomi dan kebudayaan.

Lorong Melayu ke Lorong India

Dari Lorong Melayu ke Lorong India
Berjalan lebih jauh ke dalam, suasana Pasar Seni berubah menjadi semacam perjalanan singkat melintasi keberagaman Malaysia.

Di Lorong Melayu, kain batik menjadi salah satu benda yang paling mudah menarik perhatian. Motif dan warnanya tampil dalam bentuk kain, baju kurung, kemeja hingga gaun.
Songket juga hadir dengan kemewahannya.

Kain tenun tradisional Melayu yang menggunakan benang emas atau perak itu tidak hanya menjadi barang dagangan, tetapi membawa cerita mengenai tradisi busana dan upacara masyarakat Melayu.

Ada pula kebaya, sarung, miniatur wau atau layang-layang tradisional, congkak, ukiran kayu, kerajinan perak hingga berbagai makanan dan minuman khas.

Pewter atau kerajinan timah juga menjadi bagian dari pengalaman berbelanja di kawasan ini. Produk seperti vas, piala dan aksesori rumah tangga menunjukkan bahwa tradisi kerajinan dapat berkembang menjadi produk modern tanpa sepenuhnya meninggalkan identitasnya.

Ke Lorong India, atmosfernya kembali berubah.

Sari dengan warna-warna mencolok menggantung di sejumlah gerai. Kain tradisional India, kurta, salwar kameez, lehenga, perhiasan, gelang dan aksesori memenuhi ruang perdagangan.

Rempah-rempah menjadi bagian lain yang mencuri perhatian. Bubuk kari, kunyit, jintan dan campuran rempah khas India menghadirkan aroma yang berbeda dibandingkan lorong sebelumnya. Ada pula kerajinan Kashmir, tas, dompet, tekstil, barang keagamaan Hindu serta produk herbal dan pengobatan tradisional.

Straits Chinese (Lorong Pecinaan)

Selain budaya Melayu dan India, Pasar Seni juga menampilkan unsur Straits Chinese yang merepresentasikan kebudayaan peranakan. Keberagaman itu membuat Pasar Seni terasa lebih dari sekadar tempat membeli oleh-oleh. Tempat ini seperti sebuah panggung kecil berbagai identitas budaya Malaysia dipertemukan.

Belanja Sambil Membaca Sejarah
Bagi wisatawan, pengalaman di Pasar Seni tidak berhenti pada aktivitas melihat-lihat barang. Ada aktivitas interaktif yang dapat dilakukan pengunjung.

Nama dapat ditulis menggunakan kaligrafi Tiongkok, membuat cap nama khusus, menyaksikan pertunjukan budaya atau sekadar duduk menikmati suasana bangunan tua yang terus bergerak mengikuti zaman.

Di sini, sejarah tidak disimpan di balik kaca museum. Ia dijual, dipakai, disentuh dan dibawa pulang dalam bentuk kain, ukiran, perhiasan atau cendera mata.

Itulah yang membuat Pasar Seni menarik bagi wisatawan yang ingin memahami Malaysia melalui benda-benda keseharian.

Bangunan ini juga berada di lokasi yang strategis. Dari Pasar Seni, wisatawan dapat berjalan kaki menuju kawasan Chinatown dan Jalan Petaling.

Sejumlah destinasi heritage lain seperti Kuil Sri Mahamariamman dan kawasan Masjid Jamek juga relatif mudah dijangkau.

Dalam satu perjalanan kaki, wisatawan bisa berpindah dari lorong kerajinan ke jalan tua, dari pasar budaya ke kawasan perdagangan Tionghoa, lalu menuju bangunan-bangunan bersejarah yang membentuk wajah lama Kuala Lumpur.

Jalan Kaki Tak Perlu Kendaraan

Pasar Seni juga menjadi salah satu destinasi yang mudah dikunjungi wisatawan pengguna transportasi umum. Stasiun LRT Pasar Seni merupakan salah satu titik akses terdekat. Dari stasiun, perjalanan menuju bangunan Pasar Seni hanya membutuhkan beberapa menit berjalan kaki.

Wisatawan yang datang dari KL Sentral dapat menggunakan LRT Kelana Jaya Line menuju Stasiun Pasar Seni. Jaraknya hanya satu pemberhentian. Begitu turun, ikuti petunjuk menuju kawasan Pasar Seni.

Bagi pelancong yang menyukai perjalanan dengan berjalan kaki, kawasan ini justru menawarkan pengalaman yang lebih menarik. Pasar Seni dapat menjadi titik awal untuk menyusuri kawasan heritage Kuala Lumpur sebelum meneruskan perjalanan menuju Chinatown dan sejumlah landmark kota lainnya.

Buka Setiap Hari pukul 10.00

Pasar Seni buka setiap hari. Jam operasional umumnya mulai pukul 10.00 hingga 21.30, meski beberapa gerai dapat tutup lebih awal.
Yang menarik, pengunjung tidak dikenai biaya masuk untuk menjelajahi kawasan utama Pasar Seni.

Menjelang sore, arus pengunjung semakin ramai. Wisatawan datang dan pergi membawa tas belanja. Sebagian sibuk memilih kain. Yang lain berhenti di depan kerajinan untuk mengambil gambar.

Bangunan tua yang tidak menjadi tua

Di luar, Kuala Lumpur terus bergerak dengan ritme metropolitan. Di dalam Pasar Seni, waktu terasa berjalan lebih lambat. Hampir 140 tahun sejak pasar ini berdiri, bangunan tersebut telah menyaksikan perubahan besar Kuala Lumpur. Dari pasar basah, ancaman pembongkaran, hingga menjadi pusat kebudayaan dan kerajinan.

Perjalanan itu memperlihatkan bahwa pelestarian heritage bukan semata mempertahankan tembok lama.
Warisan akan lebih panjang umur ketika ia tetap memiliki fungsi, didatangi manusia dan memberi ruang bagi kebudayaan untuk terus bergerak.

Pasar Seni barangkali tidak lagi menjual ikan, daging atau sayuran seperti pada masa awalnya. Namun di lorong-lorongnya, pengunjung masih dapat menemukan sesuatu yang lebih sulit dicari, ingatan tentang bagaimana Kuala Lumpur tumbuh.
Dan mungkin, cara terbaik membaca sejarah kota ini bukan selalu melalui buku.

Kadang-kadang cukup dengan berjalan kaki, menyusuri satu lorong, berhenti di depan sehelai batik, menyentuh kain songket, mencium aroma rempah dan menatap bangunan Art Deco yang telah bertahan melewati pergantian zaman.

Di Pasar Seni, sejarah tidak sedang dipajang. Sejarah sedang berjalan bersama para pengunjung dan  menutup perjalanan saya selama 8 hari di Malaysia untuk kembali ke Indonesia.***

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img