Catatan perjalanan sahabat saya, veteran pendaki gunung dari Malaysia saat mengejar matahari terbit, menembus dingin dan jalur vulkanik Gunung Fuji hingga ketinggian 3.776 meter.
HONSHU JEPANG, Beritasumbar.com – Gunung Fuji belum sepenuhnya bangun ketika telepon saya berdering pukul 04.00 waktu Jepang, atau 02.00 dinihari Waktu Indonesia Barat, Imam Zaini menelepon dari perjalanan menuju puncak gunung Fuji. Ia mohon kisah pendakian bersama rekan-rekannya dari Shah Alam, Kuala Lumpur, Malaysia di publikasikan.
Dari balik sambungan telepon itu, seolah-olah saya ikut ditarik ke lereng gunung, ke dalam dingin yang menusuk, jalur vulkanik yang terjal, langkah-langkah yang berat, hingga matahari yang perlahan muncul dari balik lautan awan.
“Indra, kami sedang menuju puncak matahari terbit Gunung Fuji. Bisa diberitakan di media Indonesia ? ” Ucap Imam Zaini, dalam jaringan telepon seluler dan percakapan WhatsApp.
Imam Zaini, tidak sendirian. Ia menyebutkan ikut bersama Fuad, Hussain, Mohd Fauzi, Hakim Amir, Dr. Hussain bin Ahmad, Dr Md.Mahit bin Abdullah, Dato Mohammad Kamarudin bin Hasan, Aiman bin Hussain, dan beberapa istri mereka ikut dalam rombongan
Mereka semuanya adalah veteran pecinta alam dan pendaki gunung. Walau diusia tak lagi muda, mereka masih nekat menantang beratnya medan meraih puncak berbagai gunung di belahan dunia.
Kirim Pesan Mencapai Matahari Terbit
Subuh itu, ucap Imam Zaini, Lampu-lampu kepala bergerak seperti kunang-kunang di lereng Gunung Fuji. Di bawah mereka lautan awan mulai berubah warna. Untuk mencapai matahari terbit, para pendaki harus membayar dengan napas yang pendek, kaki yang berat, dan dingin yang menusuk.
Mula-mula hanya gelap. Di lereng Gunung Fuji, sekitar pukul empat pagi, dunia seakan kehilangan bentuk. Yang tampak hanya lingkaran cahaya dari lampu kepala para pendaki. Titik-titik kecil itu bergerak perlahan menanjak, seperti rombongan kunang-kunang yang tersesat di gunung.
Kami baru saja meninggalkan Hinode-kan, pondok pendakian di Pos 7, sekitar 3.020 meter di atas permukaan laut. Beberapa jam sebelumnya kami masih terlelap dalam kantong tidur, berdesakan bersama sekitar tiga puluh pendaki lain dalam ruangan berukuran kira-kira 30 kali 20 kaki.
Kini kami kembali berjalan. Tujuan kami bukan lagi sekadar naik. Kami mengejar puncak dan matahari.
Sebelum berangkat, kami menunaikan salat Subuh dan memanjatkan doa.
Ada kesadaran sederhana yang terasa semakin kuat ketika berada di gunung, manusia boleh menyusun rencana, tetapi keselamatan tetap bukan sepenuhnya berada di tangannya.
Kami melangkah. Gunung Fuji segera menunjukkan wajahnya yang sebenarnya. Dari Pos 7 menuju Pos 9, jalurnya semakin curam. Kerikil vulkanik berserakan. Bongkahan batu harus dipanjat dengan tangan dan kaki. Angin menerpa lereng terbuka tanpa aba-aba.
Suhu berada di bawah 10 derajat Celsius. Angin membuatnya terasa lebih dingin. Napas menjadi pendek. Langkah menjadi lambat. Setiap tikungan memberikan ilusi bahwa tanjakan akan segera berakhir. Tetapi setelah tikungan, muncul tanjakan berikutnya.
Begitu seterusnya. Gunung Fuji seperti tidak pernah kehabisan cara untuk menguji kesabaran. Namun kemudian kami menoleh ke belakang. Di bawah sana, kegelapan perlahan memudar.
Lautan awan mulai terlihat. Mula-mula kelabu, lalu keemasan, kemudian merah tua.
Matahari muncul dari ufuk timur. Kami berhenti di sekitar Pos 8. Sarung tangan dilepas meski udara menggigit. Kamera dikeluarkan. Beberapa orang berdiri diam. Tak ada yang perlu dikatakan. Di bawah kami, awan terbentang seperti samudra.
Di atasnya, matahari perlahan naik.
Untuk beberapa menit, rasa lelah seperti menghilang.
Kawaguchiko ke Lereng Vulkanik
Ada pemandangan yang memang tidak bisa disaksikan sambil terburu-buru. Dari Kawaguchiko ke Lereng Vulkanik Perjalanan menuju pemandangan itu sebenarnya telah dimulai sehari sebelumnya.
Pukul 08.30 pagi, kami check-out dari Toyoko Inn dan naik bus menuju Stasiun Kawaguchiko. Pagi itu tenang. Tetapi ketenangan tersebut menyimpan kegembiraan. Kami tahu, beberapa jam lagi perjalanan ini tidak akan lagi terasa seperti wisata biasa.
Pukul 09.40 berganti bus ke Stasiun Gunung Fuji
Bus menempuh perjalanan sekitar satu jam. Jalannya berkelok lembut di tengah hutan beriklim sedang. Pohon-pohon pinus berdiri tinggi di kedua sisi jalan. Udara semakin dingin ketika kendaraan terus menanjak.
Ketika tiba, suhu menunjukkan 15 derajat Celsius.
Udara seperti itu terasa mewah bagi kami yang sehari-hari akrab dengan panas dan kelembapan Malaysia.
Stasiun Kelima berada sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut. Ia menjadi titik tertinggi yang dapat dicapai kendaraan darat dan salah satu pintu utama bagi pendaki menuju puncak Fuji.
Tetapi tempat itu bukan sekadar terminal pendakian. Ada toko suvenir, kafe, restoran, dan kantor pos. Pengunjung bahkan dapat mengirim kartu pos dengan cap khusus Gunung Fuji.
Orang-orang dari berbagai negara memenuhi kawasan itu. Sebagian datang dengan sepatu dan perlengkapan lengkap. Sebagian lain datang untuk berfoto. Ada yang menyeruput kopi. Ada pula yang menunggang kuda. Kami pun mengambil waktu sebelum pendakian.
Tidak semua orang dalam kelompok mempunyai cara yang sama untuk menikmati gunung. Ada yang mencari kopi. Ada yang mencari foto. Ada yang hanya duduk menikmati udara. Dan ada yang langsung ingin menguji kaki.
Pukul 11.40, kami akhirnya mulai mendaki.
Gunung yang menggeser Langkah medan segera berubah. Jalur yang dari kejauhan tampak sederhana ternyata tersusun dari kerikil vulkanik hitam, pasir kasar, batu-batu kecil yang labil dan bongkahan batu. Kami melangkah maju. Tanah bergeser. Kaki seperti ditarik kembali.
Debu beterbangan ketika pendaki di depan menginjak permukaan vulkanik. Gunung Fuji bukan tempat yang memberikan kemudahan kepada pendaki. Ia meminta setiap meter dibayar dengan tenaga.
Sekitar tiga puluh menit berjalan, pemandangan di sisi kiri terbuka. Danau Kawaguchi dan Danau Yamanaka terlihat jauh di bawah. Kota-kota di tepian danau tampak mengecil.
Dari Ketinggian Dunia Seperti Miniatur
Kami terus naik. Di sepanjang jalur, pendaki dari berbagai negara bergerak dengan ritme masing-masing. Ada yang sendiri, ada yang bersama kelompok. Salah satu kelompok menarik perhatian. Mereka mengenakan helm merah terang.
Dari jauh mereka tampak seperti pekerja konstruksi. Sempat terlintas pikiran nakal jangan-jangan mereka datang untuk memperbaiki Gunung Fuji. Gunung, ternyata, juga bisa membuat orang bercanda ketika napas mulai berat.
Lebih dari dua jam kemudian kami tiba di Hinode-kan. Ketinggian sudah mencapai sekitar 3.020 meter. Udara jauh lebih tipis. Angin lebih keras. Dan tubuh mulai memahami bahwa perjalanan ini belum selesai.
Kemewahan Bernama Kantong Tidur
Sekitar tiga puluh pendaki berbagi satu ruangan. Platform tidur tersusun bertingkat. Kami diberi kantong tidur dan bantal. Lalu berbaring berdampingan. Desak-desakan. Seperti ikan sarden.
Tetapi di gunung, definisi kenyamanan berubah. Atap sudah cukup. Tempat untuk berbaring sudah cukup. Kantong tidur yang hangat menjadi kemewahan.
Di ruang bersama, para pendaki berkumpul di sekitar pemanas. Mereka berbicara dan tertawa. Sebagian baru saling mengenal beberapa jam, tetapi suasana terasa seperti pertemuan lama.
Gunung punya cara sendiri untuk membuat orang asing menjadi kawan. Pukul 16.30, makan malam disajikan. Nasi dengan kari sayuran. Teh hijau. Tidak ada kemewahan. Tetapi setelah berjam-jam mendaki, rasa lapar membuat makanan sederhana terasa istimewa.
Malam Perlahan Mulai Turun
Kami menunaikan salat Magrib. Setelah itu, satu per satu masuk ke kantong tidur. Lampu dipadamkan. Suara percakapan hilang. Yang tersisa adalah angin gunung dan sesekali dengkuran.
Alarm dipasang pukul 03.00, tetapi seperti yang kemudian kami sadari, alarm hampir tidak diperlukan. Menuju 3.776 Meter. Pukul 04.00 kami sudah berada di luar. Lampu kepala kembali menyala. Aiman, putra bungsu Dr. Husin, segera meninggalkan kelompok.
Ia menjadi pendaki tercepat kami. Lampunya perlahan menghilang di kegelapan. Safrina menyusul, tetapi kemudian memperlambat langkah. Ia memilih menikmati perjalanan bersama suaminya, Deeno. Ayub dan saya berusaha mempertahankan Aiman dalam jangkauan pandangan. Tetapi energi masa muda sulit dilawan.
Pukul 08.00, Aiman mencapai puncak
Sekitar dua puluh menit kemudian, saya dan Ayub tiba. Bibir kawah terbentang di depan kami. Rasa lega datang hampir bersamaan dengan kesadaran bahwa kami telah melewati salah satu pendakian paling berat yang pernah kami alami.
Kengamine Titik Tertinggi Gunung Fuji
Yang disebut puncak itu sebenarnya adalah tepian kawah. Titik tertinggi Gunung Fuji adalah Kengamine, 3.776 meter di atas permukaan laut. Untuk sampai ke sana, pendaki masih harus menyusuri sebagian bibir kawah.
Ayub ingin segera turun. Kami memilih tidak melanjutkan. Bagi saya, berdiri di bibir kawah sudah cukup. Mimpi itu telah tercapai. Kengamine bisa menjadi bonus. Atau alasan untuk kembali suatu hari nanti.
Setiap Orang Memiliki Puncaknya
Pukul 09.20 kami mulai turun.
Di sinilah Gunung Fuji kembali mengubah aturan. Jika perjalanan naik menguji paru-paru, perjalanan turun menguji lutut.
Jalur turun dipenuhi abu vulkanik, pasir dan kerikil lepas. Rasanya seperti berjalan di atas kelereng.
Beberapa kali kami tergelincir. Untung tidak ada cedera serius. Pukul 12.00 kami tiba di Stasiun Kelima.
Suhu yang sejuk telah berganti panas matahari. Lutut terasa seperti mengajukan protes. Tetapi cerita kelompok kami belum selesai. Anggota lain masih bergerak menuju puncak. Sekitar pukul 10.00, Dr. Mahir dan Safrina mencapai puncak. Disusul Deeno, Dr. Husin, Fauzi dan putrinya, Farah.
Farah memiliki peran istimewa
Karena pernah bersekolah di Jepang, ia fasih berbahasa Jepang dan menjadi penerjemah tidak resmi kelompok kami. Fuad dan istrinya kemudian mencapai puncak.
Hakim dan istrinya menyusul setelah pukul 14.00. Tok Din, meski sudah lanjut usia, akhirnya menuntaskan pendakian. Lima anggota kelompok bahkan melanjutkan perjalanan menuju Kengamine.
Tidak ada satu pun dari mereka yang memperoleh puncak secara cuma-cuma. Setiap meter dibayar dengan tenaga. Setiap tanjakan dengan napas. Setiap keberhasilan dengan ketekunan.
Ujian Ditinggal Bus Terakhir
Ada satu ujian kecil yang menunggu setelah gunung ditinggalkan bus.
Perjalanan turun lebih lambat dari perkiraan. Sebagian anggota kelompok berhasil mengejar bus terakhir dari Stasiun Kelima.
Dr. Mahir, Fuad dan istrinya, serta Fauzi dan putrinya berhasil naik dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan shuttle menuju Toyoko Inn.
Tujuh orang datang terlambat. Dr. Husin dan putranya, Deeno dan Safrina, Tok Din, serta Hakim dan istrinya tiba setelah bus terakhir berangkat.
Stasiun yang beberapa jam sebelumnya penuh manusia kini sunyi. Mereka menunggu taksi. Kaki lelah. Lutut nyeri.Tetapi tidak ada kepanikan.
Mereka pendaki berpengalaman.
Situasi tak terduga adalah bagian dari perjalanan. Pada akhirnya, semuanya kembali ke hotel dengan selamat. Gunung tidak pernah benar-Benar ditaklukkan.
Malam itu, kelelahan terasa sampai ke tulang. Saya bertemu Dr. Mahir di lobi hotel. Ia tersenyum lebar. Wajahnya menunjukkan kelelahan, tetapi juga kepuasan seseorang yang baru saja menyelesaikan sesuatu yang telah lama diimpikannya.
Saya juga bertemu Fuad dan istrinya. Mereka tampak benar-benar kehabisan tenaga. Saya memilih tidak banyak bertanya. Ada saat ketika keheningan lebih bermakna daripada percakapan.
Kami telah berdiri di atas awan. Kami menyaksikan matahari terbit dari ketinggian. Kami berjalan bersama. Kami saling menunggu. Kami saling menyemangati. Dan, yang paling penting, kami kembali dengan selamat.
Mungkin karena itu, mengatakan bahwa kami telah menaklukkan Gunung Fuji terasa kurang tepat.
Gunung itu sudah berdiri jauh sebel kami datang. Ia akan tetap berdiri setelah kami pergi. Yang berubah justru kami.
Gunung Fuji membuat kami memahami bahwa puncak bukan semata titik tertinggi. Puncak adalah perjalanan menuju ke sana. Tentang kaki yang tetap melangkah ketika tubuh meminta berhenti. Tentang teman seperjalanan yang menunggu ketika langkah mulai tertinggal. Tentang matahari yang muncul setelah kegelapan.
Dan tentang rasa syukur ketika akhirnya kembali turun. Apakah kami akan mendaki Gunung Fuji lagi?
Mungkin. Tetapi jangan tanyakan sehari setelah turun. Tunggu beberapa bulan. Biarkan lutut memaafkan kami lebih dulu.
Itulah sebuah catatan perjalanan para veteran pendaki gunung yang kini sebagiannya merupakan pensiunan berbagai instansi dan profesi di Malaysia yang telah menaklukkan berbagai puncak gunung di dunia termasuk Indonesia.
Sebut saja Gunung Kerinci, Gunung Rinjani, dan gunung-gunung tertinggi lainnya di Indonesia termasuk Gunung Marapi, Singgalang, Gunung Talang, dan mereka berencana naik Gunung Talamau di Pasaman Barat.***
