Padang,BeritaSumbar.com. Warisan budaya tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama. Ia dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk ditafsirkan kembali, tanpa kehilangan akar dan makna yang membentuknya.
Gagasan itulah yang menjadi dasar sebuah program inovasi seni yang mempertemukan tradisi Tabuik di Kota Pariaman dengan seni tenun songket Minangkabau. Melalui program tersebut, narasi budaya Tabuik diolah menjadi sumber penciptaan motif baru untuk songket Minangkabau.

Program ini dilaksanakan oleh tim yang dipimpin Dr. Ilham Zamil, S.Pd., M.Pd dari Fakultas Pariwisata dan Perhotelan, bersama Dr. Ns. Aulia Asman,S.Kep.,M.Kep.,M.Biomed dari Fakultas Psikologi dan Kesehatan; Dr. Yulia Aryati, M.Pd dari Fakultas Pariwisata dan Perhotelan; serta Hari Setia Putra, S.E., M.Si dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Kegiatan tersebut merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai pada tahun 2026 melalui skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN). Program ini berada di bawah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Gagasan pengembangan motif ini berangkat dari persoalan yang dihadapi perajin songket. Dalam praktiknya, pengembangan songket Minangkabau masih banyak bertumpu pada motif-motif klasik yang diproduksi berulang. Sementara itu, kekayaan narasi budaya lokal sebenarnya menyediakan sumber inspirasi yang luas untuk melahirkan desain baru.

Salah satu kekayaan budaya tersebut adalah Tabuik Pariaman. Tradisi yang memiliki identitas kuat dalam kehidupan masyarakat Pariaman itu belum banyak direkontekstualisasi menjadi bagian dari pengembangan seni tekstil. Kondisi tersebut membuka peluang untuk mempertemukan dua warisan budaya dalam medium yang berbeda: Tabuik sebagai sumber narasi dan songket sebagai medium visual.
Eksplorasi budaya Tabuik dilakukan di Kota Pariaman pada 16–28 Juni 2026. Tim menggali berbagai informasi mengenai bentuk, tahapan prosesi, serta unsur visual dan simbolik yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa motif songket.
Hasil eksplorasi kemudian dibawa ke dalam forum diskusi kelompok terarah atau FGD. Forum ini melibatkan pakar, budayawan, praktisi budaya, serta pelaku usaha songket untuk membahas dan menentukan unsur Tabuik yang relevan dikembangkan sebagai motif.
Pendekatan tersebut penting karena proses penciptaan tidak berhenti pada mengambil bentuk Tabuik secara visual. Narasi dan tahapan tradisi terlebih dahulu dipahami, kemudian diterjemahkan menjadi elemen desain yang sesuai dengan karakter tenun songket.
Pengembangan motif dilakukan bersama Sanggar Tenun Padi Sarumpun di Nagari Sungai Jambur, Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sanggar yang berdiri sejak 2010 itu selama ini aktif mengembangkan tenun songket Minangkabau secara manual dengan alat tenun tradisional.
Bagi kelompok penenun, tantangan utamanya bukan kemampuan menenun. Keterampilan teknis telah menjadi bagian dari praktik mereka. Persoalannya adalah bagaimana mengembangkan gagasan dan merancang motif baru secara lebih sistematis. Keterbatasan referensi, pendampingan desain, dan waktu menjadi beberapa faktor yang membuat produksi cenderung berulang dan mengikuti motif yang telah dikenal pasar.
Dalam proses inovasi ini, bentuk Tabuik secara utuh ditempatkan sebagai motif kepala atau motif utama. Sementara itu, tahapan prosesi Tabuik diterjemahkan menjadi motif tabur, antara lain maambiak tanah, batang pisang, jari-jari, dan daraga.
Pilihan tersebut membuat motif tidak sekadar menampilkan objek Tabuik, tetapi juga membawa cerita tentang tradisi yang menyertainya.
Dari sisi warna, rancangan dikembangkan menggunakan benang dasar hitam dengan perpaduan marun, merah, dan tembaga. Warna emas dan perak digunakan sebagai aksen pada motif sehingga memberikan karakter visual yang kuat sekaligus tetap berada dalam konteks estetika songket.
Hasil inovasi kemudian diwujudkan dalam produk kodek dan selendang. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah hasil eksplorasi budaya menjadi karya tekstil yang dapat dikenali, diproduksi, dan dikembangkan lebih lanjut oleh perajin.

Bagi Sanggar Tenun Padi Sarumpun, proses ini juga menjadi ruang belajar untuk memperluas cara melihat sumber inspirasi. Pengembangan motif tidak lagi hanya berangkat dari bentuk-bentuk yang telah dikenal, tetapi dapat dimulai dari riset terhadap cerita, tradisi, dan lingkungan budaya di Sumatera Barat.
Pendekatan yang digunakan dalam program ini bersifat partisipatif. Perajin tidak ditempatkan sekadar sebagai penerima desain, melainkan terlibat dalam proses eksplorasi, perancangan, produksi, hingga evaluasi prototipe. Dengan cara tersebut, pengetahuan budaya dan keterampilan menenun dapat bertemu dalam proses penciptaan yang lebih terbuka.
Program ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang menghasilkan motif baru. Lebih jauh, ia memperlihatkan kemungkinan bagaimana sebuah tradisi dapat berpindah medium tanpa kehilangan konteks budayanya.
Tabuik tetap menjadi cerita tentang tradisi masyarakat Pariaman. Songket tetap menjadi bagian dari warisan tekstil Minangkabau. Pertemuan keduanya menghasilkan ruang baru bagi kreativitas, sekaligus membuka kemungkinan agar cerita budaya lokal hadir dalam bentuk yang lebih mudah dikenali oleh masyarakat luas.
Program yang selesai dilaksanakan pada September 2026 tersebut diharapkan dapat memperkaya keragaman seni tekstil Indonesia, khususnya songket Minangkabau, sekaligus memperluas pengenalan budaya Tabuik kepada masyarakat di tingkat nasional dan internasional.
Pada akhirnya, kain yang dihasilkan bukan sekadar benda pakai atau produk kerajinan. Ia menjadi media untuk membawa cerita tentang Pariaman, tentang Tabuik, tentang keterampilan perempuan penenun di Sungai Jambur, dan tentang bagaimana warisan budaya dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk bertransformasi.
