spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Kolaborasi BUMDes, KDMP, Koperasi ALKO, dan Perusahaan Pakistan Buka Kepastian Pasar bagi 800 Petani Kopi Kerinci
K

Kategori -
- Advertisement -

KERINCI, – Hubungan diplomatik Indonesia dan Pakistan kembali melahirkan kerja sama konkret di sektor pertanian. Disaksikan langsung oleh Duta Besar Republik Islam Pakistan untuk Indonesia, H.E. Mr. Zahid Hafeez Chaudhri, penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Capulus Bean (Private) Limited Pakistan, Koperasi Produsen Petani Alam Korintji Internasional (ALKO), BUMDes Batang Sangir, dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Batang Sangir menjadi tonggak baru pengembangan perdagangan kopi berbasis desa menuju pasar internasional.

Penandatanganan yang berlangsung di Kerinci pada 18 Juli 2026 bukan sekadar kesepakatan bisnis, tetapi menjadi bagian dari penguatan diplomasi ekonomi kedua negara melalui pengembangan rantai pasok kopi yang transparan, berkelanjutan, dan berpihak kepada petani.

Melalui kerja sama ini, sekitar 800 petani kopi yang tergabung dalam 40 kelompok tani di Desa Batang Sangir memperoleh kepastian akses pasar ekspor melalui ekosistem bisnis yang dibangun ALKO bersama mitra internasional.

Kepala Desa Batang Sangir, Basuki Rahmat, mengatakan MoU tersebut merupakan kelanjutan dari program pengembangan kopi yang telah dijalankan pemerintah daerah bersama Koperasi ALKO.

“Setelah dukungan penanaman sekitar 250 ribu bibit kopi pada tahun 2024, kini memasuki masa produksi kami memastikan pasar telah tersedia. Kerja sama dengan ALKO dan perusahaan Pakistan memberikan optimisme baru bagi petani karena hasil panen mereka telah memiliki kepastian pembeli,” ujarnya.

Dalam skema tersebut, KDMP Batang Sangir berperan sebagai pemasok kopi dari tingkat desa, BUMDes mendukung penguatan ekonomi lokal, sementara Koperasi ALKO bertindak sebagai agregator, pengendali mutu, serta pengelola ekspor menuju pasar Pakistan.

Seluruh petani telah terintegrasi dalam sistem Qthink-X, platform digital berbasis blockchain traceability yang memungkinkan setiap produk kopi ditelusuri mulai dari kebun, identitas petani, proses pascapanen, hingga negara tujuan ekspor. Sistem tersebut menjadi bagian penting dalam memenuhi tuntutan pasar internasional yang semakin mengedepankan transparansi dan keberlanjutan.

Ketua Koperasi ALKO menegaskan bahwa model yang dibangun tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekspor, tetapi juga memperkuat kelembagaan ekonomi desa.

“Kami ingin membuktikan bahwa desa mampu menjadi pelaku utama perdagangan global. Melalui kolaborasi antara petani, kelompok tani, BUMDes, KDMP, koperasi, dan buyer internasional, nilai tambah komoditas dapat kembali kepada masyarakat desa,” katanya.

Dalam sambutannya, Duta Besar Pakistan menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan yang dikembangkan ALKO.

Ia mengaku semula datang dengan fokus melihat potensi kopi Kerinci. Namun setelah mengunjungi langsung kawasan produksi dan melihat ekosistem yang dibangun ALKO, pandangannya berubah.

“Awalnya kami datang untuk melihat kopi. Namun setelah berada di Kerinci, kami melihat bahwa ALKO membangun lebih dari sekadar perdagangan green bean. Yang dibangun adalah sebuah ekosistem yang menggabungkan keberlanjutan, traceability, pemberdayaan petani, dan inovasi. Karena itu kami melihat peluang kerja sama tidak hanya untuk kopi, tetapi juga berbagai komoditas unggulan Kerinci,” ujar Dubes Pakistan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan dagang kedua pihak berpotensi berkembang melampaui perdagangan kopi menuju kerja sama komoditas pertanian lainnya.

Sementara itu, Ameer Khurram Rathore, Chief Operating Officer Capulus Bean (Private) Limited, menyatakan perusahaan siap membangun hubungan bisnis jangka panjang dengan ALKO sebagai mitra strategis di Indonesia.

Kerja sama ini mencakup pengembangan perdagangan multi-komoditas, penyediaan akses pasar Pakistan, hingga pembangunan hub distribusi yang akan memperkuat jalur perdagangan Indonesia–Pakistan di masa mendatang.

Direktur International Relations PT ALKO Sumatra Kopi, Pebriyansah, mengatakan kerja sama tersebut merupakan hasil dari proses diplomasi bisnis yang telah dibangun dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, tantangan perdagangan global saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan kualitas produk, tetapi juga menyangkut transparansi rantai pasok, keberlanjutan, dan kemampuan membangun kepercayaan pasar.

“Kerja sama ini menunjukkan bahwa pasar internasional kini mencari lebih dari sekadar kopi berkualitas. Mereka membutuhkan produk yang memiliki asal-usul jelas, diproduksi secara berkelanjutan, dan didukung sistem traceability yang dapat diverifikasi. ALKO membangun seluruh ekosistem itu bersama petani sehingga kepercayaan buyer dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Pebriyansah.

Ia menambahkan bahwa kehadiran Duta Besar Pakistan dalam proses tersebut menjadi simbol kuat bahwa diplomasi antarnegara dapat diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat desa.

“Ketika hubungan bilateral bertemu dengan inovasi dan kelembagaan petani yang kuat, maka peluang ekspor akan semakin terbuka. Yang paling penting adalah nilai tambahnya kembali kepada petani sebagai pelaku utama,” katanya.

Pemerintah daerah menyambut positif kerja sama tersebut. Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Kerinci menilai MoU ini memberikan kepastian pasar yang selama ini menjadi kebutuhan utama petani.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Ariansyah, menyebut kolaborasi tersebut sebagai model baru yang layak direplikasi di berbagai daerah.

“Ini merupakan salah satu model pertama di Provinsi Jambi, bahkan berpotensi menjadi pionir di Indonesia. Sinergi antara BUMDes, KDMP, koperasi produsen, dan buyer internasional menunjukkan bahwa kelembagaan desa mampu mengambil peran strategis dalam perdagangan global,” ujarnya.

Melalui penandatanganan MoU ini, Kerinci tidak hanya memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra kopi premium Indonesia, tetapi juga memperlihatkan bahwa pembangunan pertanian modern dapat dimulai dari desa dengan menggabungkan inovasi, kelembagaan, teknologi digital, dan diplomasi ekonomi internasional. Hubungan Indonesia–Pakistan pun memasuki babak baru, di mana kerja sama tidak lagi berhenti pada hubungan antarpemerintah, melainkan terwujud dalam kemitraan nyata yang memberikan manfaat langsung bagi petani dan masyarakat.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img