spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Festival Minangkabau 2026: Ramai di Dalam, Sepi di Luar. Ada Apa dengan Pagaruyung?
F

- Advertisement -

Oleh : Delmansyah
(Pengamat sosial, Wartawan)

Halo, saya anak Pagaruyung tumbuh dan besar di Pagaruyung. Melihat Festival Minangkabau 2026 yang baru saja berlangsung di Istano Basa, hati saya rasanya campur aduk. Di dalam area acara, suasananya memang meriah. Tapi kalau kita lihat ke luar pagar atau cek komentar di media sosial, kenyataannya jauh dari kata “sukses”.

Bapak Bupati punya harapan besar agar festival ini jadi tujuan liburan keluarga. Tapi faktanya? Pengunjungnya sedikit sekali. Sebagai orang lokal yang juga baru belajar jurnalistik, saya merasa perlu menyampaikan apa yang dilihat mata kepala saya sendiri, tanpa basa-basi.

Ada tiga hal yang bikin saya dan banyak teman-teman di sini geleng-geleng kepala:

  1. Kok Iklannya Nggak Kedengaran?
    Jujur saja, festival sebesar ini kok terasa seperti “pesta internal” dinas saja? Saya jarang banget melihat promosi gencar di internet. Zaman sekarang, orang tahu tempat wisata itu dari TikTok, Instagram, atau YouTube. Tapi kali ini, sepi sekali kabar tentang festival ini sebelum hari H.

Katanya ada tokoh penting yang datang. Tapi siapa? Kebanyakan adalah pejabat daerah atau kerabat dekat. Jarang ada artis nasional atau selebgram terkenal yang benar-benar datang khusus buat nyemarakkan acara. Akhirnya, acaranya terasa kaku. Rasanya seperti Dinas Pariwisata bikin acara, untuk Dinas Pariwisata, dan dinikmati oleh lingkaran mereka sendiri.

  1. Jalan Rusak, Wisatawan Malas Datang
    Ini masalah klasik yang nggak pernah selesai. Banyak komentar di media sosial yang mengeluh soal jalan menuju Batusangkar dan Pagaruyung. Lubang sana-sini, jembatan kurang nyaman.

Bayangkan, Pak/Bu, kalau kita sudah niat liburan, tapi perjalanan menuju lokasinya bikin pegal dan takut kendaraan rusak, siapa yang mau datang lagi? Pariwisata itu bukan cuma soal panggung yang bagus buat foto-foto pejabat. Tapi soal kenyamanan tamu yang datang. Kalau jalannya masih begini, susah rasanya berharap wisatawan membanjiri Tanah Datar.

  1. Uang Negara Habis Untuk Apa?
    Karena pengunjungnya sepi, pedagang kecil (UMKM) di sekitar lokasi juga ikut lesu. Jualan nggak laku. Ini kontras banget dengan pidato pejabat yang terdengar indah di atas panggung.

Wajar kalau masyarakat bertanya-tanya: Ke mana larinya uang anggaran? Apakah habis untuk sewa tenda mewah, panggung besar, dan makan-makan tamu undangan? Karena tidak ada penjelasan rinci soal penggunaan dana, orang jadi curiga. Seharusnya uang negara itu dipakai untuk hal yang benar-benar mendatangkan rakyat banyak, bukan cuma untuk seru-seruan di kalangan elit.

Saran Sederhana dari Anak Muda Lokal

Saya sayang dengan Pagaruyung. Istano Basa kita ini indah dan bersejarah. Sayang kalau potensinya tertutup karena cara mengurus acara yang kurang tepat. Untuk ke depannya, ada beberapa hal sederhana yang bisa diperbaiki:

  • Perbaiki Jalan Dulu: Sebelum mimpi tinggi soal pariwisata, tolong perbaiki dulu jalan dan jembatan menuju ke sini. Itu dasar utamanya.
  • Gencarkan Promosi di HP: Pakai uang anggaran untuk bayar jurnalis, influencer atau pembuat konten lokal. Ajak mereka datang jauh-jauh hari supaya kontennya viral sebelum acara dimulai.
  • Jujur Soal Uang: Tunjukkan ke publik, uangnya dipakai untuk apa. Buktikan bahwa uang itu membantu pedagang kecil dan promosi, bukan cuma untuk pesta pejabat.

Kami, generasi muda Pagaruyung, ingin melihat kampung halaman kami maju. Kami ingin ekonomi warga bergerak karena banyaknya wisatawan, bukan hanya melihat pejabat bersalaman di atas panggung. Mari benahi bersama, mulai dari hal yang paling dasar.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img