24.8 C
Padang
Thursday, December 3, 2020
Beritasumbar.com

Apa Kabar Nasib Komodo
A

Kategori -

Anda pernah mendengar hewan komodo??? Tentu saja kami rasa sering, Komodo sering pula disebut sebagai hewan biawak komodo. Hewan ini utamanya ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Seluruh hewan komodo dilindungi di sana sebaik mungkin. Penduduk provinsi tersebut menyebut komodo dengan ora. Panjang komodo sekitar 2 sampai 3 meter. Panjang ekor sama dengan panjang tubuh. Beratnya sekitar 70 hingga 100 kg. Ini mengapa, komodo adalah spesies terbesar dari jenis kadal yang ada di dunia. Di dalam struktur rantai makanan, hewan karnivora ini berada di bagian puncak. Artinya, tidak ada lagi spesies besar lain yang menjadikan komodo sebagai makanannya.

Secara fisik, komodo memang terlihat mengerikan dan amat ganas. Lidahnya yang panjang dan bercabang, serta berwarna kecoklatan sering mengeluarkan liur yang sangat beracun. Racun komodo bahkan digadang-gadang menjadi racun yang paling kuat. Ilmuan menyebut, tidak ada obat yang mampu menetralkan racun tersebut. Meski demikian hewan komodo dan habitatnya telah jauh berkurang. Ini mengapa komodo ditetapkan sebagai hewan langka yang dilindungi. Habitat hidupnya di Nusa Tenggara Timur dijadikan taman nasional untuk kelestarian hewan buas ini.

Apakah anda juga mendengar dan mengetahui pulau Rinca??? Pulau Rinca menjadi salah satu pulau di Kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT). TN Komodo, yang merupakan Kawasan Labuan Bajo telah ditetapkan menjadi salah satu destinasi Wisata Super Prioritas seperti ditetapkan dalam surat Sekretariat Kabinet Nomor B652/Seskab/Maritim/2015 tentang arahan Presiden Republik Indonesia mengenai pariwisata. Pulau Rinca akan diarahkan untuk mess tourism, sedangkan Pulau Komodo diarahkan untuk pulau konservasi. Karena sudah dijadikan pulau konservasi tidak sembarang orang yang akan bisa masuk kedalam pulau tersebut. Hanya orang yang memiliki kartu anggota lah yang bisa masuk, harga kartu anggota USD 1.000. Dan jumlah hewan karnivora yang berada di Pulau Rinca itu sebanyak 1300 ekor, dan 66 ekor di antaranya berada di Loh Buaya. Sementara itu, sebanyak 15 ekor hidup di area proyek pembangunan.

Komodo terbiasa hidup dialam liar dan mereka tidak terbiasa dengan sesuatu yang bising. Karena mereka sensitif makanya merekam mendekat. Hal ini sangat berbahaya karena bisa saja jika supir truk kurang hati-hati bisa menyebabkan komodo tersebut terlindas. Menurut kami, boleh saja diadakan Jurassic Park akak tetapi kita juga harus terlebih dahulu menjauhkan atau memindahkan komodo yang berada di pulau Rinca itu terlebih dahulu atau dengan cara diberi pagar  agar jangan sampai komodo tersebut memasuki tempat pembangunan. Jika tidak mereka akan terkena dampak, seperti yang kami katakan diatas tadi bahwasanya komodo merupakan hewan liar yang hidup bebas, ketika ada sesuatu kebisingan (suara) maka mereka yang sensitif itu akan kepo terhadap apa yang terjadi sehingga mereka mendekat dan jika para pekerja disitu tidak hati-hati maka komodo komodo tersebut akan terlindas.

Salah satu alasan mengapa didirikan Jurassic Park yaitu  untuk melihat Komodo dengan cara yang lebih aman, akan tetapi lebih aman lagi jika mereka berada di home mereka sendiri dengan habitat yang alami. Akan tetapi perlu diketahui ada dua macam jenis komodo. Ada komodo yang liar dan yang jinak. misalnya di resort, di Loh Buaya, ada saja Komodo yang selalu lewat di situ, tidak mengganggu kita, kita juga tidak mengganggu Komodo. Jadi seperti hidup berdampingan. Komodo dikatakan bergantung manusia, setelah terdapat atraksi di mana manusia biasa memberikan makanan kepada reptil raksasa tersebut di era 80an. Mungkin keterlanjutan, yang dilakukan ada juga hewan-hewan yang tergantung ke manusia. Membuang sampah sisa makanan. Akhirnya di makan sama Komodo. Itu juga terjadi. Ada juga yang masuk ke rumah penduduk, yang masuk ke dapur juga.

Dan satu hal yang perlu diketahui lagi bahwasanya yang hidup di pulau Rinca bukan hanya komodo tetapi juga ada banyak sekali burung yang hidup di sana. Pasti mereka juga akan terganggu dengan kebisingan karena mereka tidak biasa dengan kebisingan. Lalu mereka akan kemana? Apakah juga masuk kedalam Jurassic Park juga?? Entahlah. Sebaiknya ditinjau ulang lagi dampak yang akan terjadi baik hal positif maupun negatif.

Oleh Aisyah Rafni, Dhea Yuliani (Mahasiswi Biologi, FMIPA, Universitas Andalas)

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Militer Ottoman Mulai Memakai Meriam pada 1420-an

Perkembangan militer yang paling penting selama periode bangkitnya Kerajaan Ottoman adalah pengenalan meriam dan senjata api lainnya. Senjata-senjata ini digunakan di Eropa Barat selama...

Tenaga Pendidik Dari Payakumbuh Raih 5 Besar Penghargaan GTK PAUD

Payakumbuh,BeritaSumbar.com,- Salah satu tenaga pendidik dari Kota Payakumbuh berhasil meraih prestasi membanggakan, menjadi 5 besar dalam nominasi Kepala Sekolah Inovatif dan Inspiratif...

Turun ke Posko Banjir Dua Nagari, Kapolres Pessel serahkan Bantuan.

Pesisir Selatan,BeritaSumbar.com,- Jajaran Kepolisian Resor Pesisir Selaran secara spontan membagikan sejumlah paket sembako kepada warga korban banjir dua nagari, Nagari Binjai Tapan...

Tenaga Pendidik Dari Payakumbuh Raih 5 Besar Penghargaan GTK PAUD

Payakumbuh,BeritaSumbar.com,- Salah satu tenaga pendidik dari Kota Payakumbuh berhasil meraih prestasi membanggakan, menjadi 5 besar dalam nominasi Kepala Sekolah Inovatif dan Inspiratif...

Heboh Beredar Beras Bergambar Kandidat, Bawaslu Tanah Datar Bergerak

Tanah Datar,BeritaSumbar.com,-Santer beredarnya informasi penyebaran diduga " beras politik" dimedia sosial FB Sontak membuat warga kabupaten Tanah Datar heboh.
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Simalakama Pandemi: Liburan atau Stay at Home?

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih - Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Corona sudah menjadi beban dunia sejak...

Budidaya Sri Rejeki, Pilihan Bisnis Santai Namun Menjanjikan Saat Pandemi

Oleh: Iga Permata Hany & Jelita Putri Adisti Mari mengenal salah satu jenis tumbuhan yang sedang marak dibudidayakan dikalangan...

Indikasi Bunuh Diri Relawan Covid-19 China di Brasil, Ada apa dengan Pengujian Klinis Vaksin Covid-19?

Oleh : Ramadhila Sari - Penulis adalah Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Kasus infeksi Covid-19 meningkat di 80 negara sebagian...

Pandemi Covid-19 Dapat Mengancam Penurunan Populasi Hiu?

Oleh: Nada Julista. S - Mahasiswa Biologi FMIPA Unand Selama pandemi Covid-19 ini, tentunya kita dihadapkan dengan pencarian solusi...

Urgensi Vaksin Covid-19

Oleh: Ayu Resti Andrea Suri - Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Baru-baru ini masyarakat telah digencarkan oleh banyaknya vaksin yang...

Nauclea Orientalis, Bunga Yang Mirip Virus Corona.

Oleh: Lidia Gusvita Nasra ~ Mahasiswa Biologi, Universitas Andalas, Padang Tak hanya perkembangan kasus virus corona yang dibicarakan saat...

Kontroversi Taman Nasional Komodo, Urgensi Antara Tempat Wisata atau Konservasi Komodo?

Oleh : Hafshah Mentari Zurisah ~ mahasiswi Program Studi S1 Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Siapa yang tidak tahu Taman...

DIKLATSAR Pecinta Alam Penting Bagi Pendaki Modern Maupun Pendaki Pemula

Oleh : SEPTIANI (Raff 400 Tst) ~ Mahasiswa Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Diklatsar Pecinta Alam, sebuah kata yang...

Waspada, Rumpon Asing Si Pembawa Masalah di Perairan Indonesia

Oleh : Dika Putri Sehati dan Shania Refka Fandesti ~ Mahasiswa Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Laut Natuna merupakan salah...

2021 Tatap Muka, Selamat Tinggal Kuliah Daring

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih ~ Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Sudah hampir 10 bulan semenjak Presiden...
- Advertisement -