24 C
Padang
Minggu, Januari 17, 2021
Beritasumbar.com

Demokrasi (Seremonial)?
D

Kategori -

Oleh : Galant Victory (Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Padang)

[dropcap color=”#000000″ font=”0″]T[/dropcap]inggal menghitung hari genderang Pilkada serentak 2015 di seluruh Indonesia akan segera ditabuh. Berbagai wilayah di Indonesia ikut larut dalam euforia menyongsong pemimpin-pemimpin baru yang diharapkan mampu membawa perubahan bagi daerahnya masing-masing.

Memang negeri ini bukan sekali ini saja melaksanakan pemilu atau pilkada. Namun yang menjadi istimewa pada kali ini ialah pemilihan kepala daerah yang akan dilakukan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia. Tentu ini menjadi daya tarik tersendiri karena baru pertama kali diadakan di Indonesia.

Sumatera Barat juga tak mau ketinggalan, berbagai persiapan dilakukan guna menyambut alek gadang yang sebentar lagi akan digelar. Mulai dari iklan baliho sampai media massa, para bakal calon bak selebriti saling berlomba untuk eksis dengan berbagai macam gaya guna menampilkan citra yang positif kepada masyarakat. Belum lagi upaya saling klaim dukungan dari berbagai tokoh untuk mempengaruhi masyarakat.

Tradisi yang sepertinya belum akan hilang dari setiap pergelaran pemilihan umum maupun kepala daerah ialah tradisi obral janji para calon pemimpin. Rakyat dibuai oleh kata-kata yang memikat, dibawa bermimpi setinggi langit sebelum kemudian dihempaskan oleh kenyataan ketika realisasi janji tak sesuai harapan. Ada juga praktek money politic yang hampir selalu mewarnai setiap agenda pemilihan di negeri ini. Mereka yang “mengemis” kekuasaan, seakan membodohi rakyatnya sendiri ketika serangkaian agenda demokrasi dinodai oleh perilaku yang justru hanya akan menjatuhkan martabatnya sendiri di mata masyarakat.

Setiap momen pergantian kepemimpinan memang menjadi proses yang penting dan harus dilalui. Namun, yang menjadi persoalan ialah apakah momentum pergantian kepemimpinan kali ini benar-benar akan mampu membawa perbaikan dan perubahan yang besar bagi masyarakat atau hanya sekedar menjadi seremonial belaka ketika rakyat kembali dijadikan objek para peminta amanah untuk sekedar meraih kedudukan tinggi dan kekuasaan yang besar.

Refleksi Demokrasi

Tujuh belas tahun sudah berlalu sejak reformasi digulirkan dan Indonesia telah memasuki masa 70 tahun kemerdekaan. Namun, serangkaian pencapaian agenda reformasi dan cita-cita kemerdekaan masih jauh dari harapan. Demokrasi saat ini dihadapkan pada tantangan egoisentris yang tinggi. Perebutan kekuasaan sudah menjadi tradisi, partai-partai politik tumbuh subur bak jamur di musim hujan, ribuan orang saling “sikut” berlomba-lomba menunjukkan bahwa dirinyalah yang paling layak menjadi pemimpin. Tak terhitung lagi jumlah poster yang memasang foto-foto orang-orang yang seakan haus kekuasaan. Padahal pertanggungjawaban di dunia dan di akhirat sudah siap menanti bagi mereka yang tidak mampu menyelesaikan amanah dengan baik.

Kali ini, demokrasi di Indonesia memasuki episode baru ketika Pilkada Serentak 2015 akan segera dilaksanakan. Dengan sosialisasi pilkada yang memakan dana yang tidak sedikit, bahkan terbesar sepanjang sejarah karena semua atribut sosialisasi calon dibiayai oleh negara, publik dihadapkan pada ekspektasi tinggi berharap konsolidasi demokrasi yang dicita-citakan akan segera terwujud.

Jangan Hanya Seremonial

Dengan berbagai pemberitaan terlebih baru-baru ini publik juga dibuat kecewa oleh kasus korupsi yang menjerat beberapa pimpinan daerah, demokrasi sebagai sistem yang diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang akan membawa bangsa ini menuju cita-cita kemerdekaan sepertinya belum akan menunjukkan keberhasilannya. Yang terjadi justru sebaliknya, distrust kepemimpinan semakin menjadi-jadi disebabkan perilaku para pemimpin negeri yang jauh dari harapan. Hampir setiap hari selalu saja ada pejabat yang silih berganti menghiasi pemberitaan karena tersandung berbagai kasus dan lain sebagainya.

Data dari KPU menunjukkan sebagian besar tingkat partisipasi dalam berbagai pemilihan umum maupun kepala daerah di Indonesia mengalami tren yang negatif. Menurunnya tingkat partisipasi masyarakat dalam setiap proses demokrasi menandakan bahwa sebagian publik sudah mulai merasa jenuh dengan serangkaian agenda demokrasi yang tak kunjung banyak membawa perbaikan. Publik merasa demokrasi hanya sebatas sistem seremonial belaka yang kemeriahannya hanya dirasakan saat serangkaian agenda pemilihan digelar. Sekali lagi rakyat akan dijadikan alat untuk memperoleh kekuasaan dan setelah itu dilupakan.

Para pemimpin di negeri ini harus segera melakukan evaluasi kenapa semakin hari partisipasi politik masyarakat terus berkurang. Tak bisa dipungkiri meski banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, citra kepemimpinan mengambil peranan yang cukup besar dalam menentukan partisipasi masyarakat dalam politik. Para pemangku kekuasaan harus fokus kepada kerja-kerja nyata dalam menghasilkan kebijakan yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Dibutuhkan pemimpin yang tulus berkerja dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Seluruh elit partai politik juga harus melakukan evaluasi karena bisa jadi ini akibat partai politik yang sering sembarangan dalam menempatkan kader-kadernya untuk mengisi berbagai posisi di pemerintahan. Jangan hanya karena bermodal besar atau terkenal tanpa jelas kapasitasnya, secara instant kemudian partai politik menjadikan seseorang untuk maju dalam pemilihan. Revitalisasi partai politik harus segera dilakukan untuk mengembalikan fungsi partai sebagai pencetak kader-kader pemimpin yang betul-betul membawa perbaikan.

Yang paling penting publik harus mampu bergerak aktif untuk terus mengevaluasi dan mempelajari siapapun calon yang maju sebelum menentukan pilihan. Jangan hanya karena kaos gratis, uang beberapa puluh ribu atau sekedar ikut-ikutan publik kemudian memilih. Siapapun pemimpin yang terbukti tidak membawa perbaikan dan berperilaku tidak sesuai harapan, maka hukum mereka dengan bersama-sama tidak memilihnya kembali dalam pemilihan.

Momentum Pilkada serentak kali ini harus dijadikan agenda besar bersama untuk mengganti para pemimpin yang tidak bertanggungjawab dengan mereka yang memang tulus sepenuh hati memperbaiki negeri. Semoga agenda pergantian pemimpin di tahun ini tidak berakhir sebatas euforia seremonial belaka tanpa ada kinerja maksimal dan tulus dalam mengisi kepemimpinan tersebut. Sehingga rakyat tidak kembali menjadi korban ketika semua harapan pupus seiring perilaku mengecewakan para pemimpin di negeri ini.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Melalui Disperkim, Pemko Payakumbuh Lanjutkan Program peningkatan Kualitas RTLH

Pemerintah Kota (Pemko) Payakumbuh melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (Perkim) Kota Payakumbuh kembali lanjutkan program kegiatan bantuan swadaya peningkatan kualitas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Payakumbuh untuk tahun 2021.
- Advertisement -

Nofrijal Hidupkan Wisata Kuliner Lewat Gowes Wes Wes

Suasana pagi di Kota Padang dihidupkan oleh olahraga bersepeda yang dikenal dengan gowes. Saat ini komunitas bersepeda tumbuh bagaikan jamur di musim penghujan, dipicu pandemi Covid-19 yang tengah melanda Sumatera Barat dan Indonesia pada umumnya sejak Maret 2020 lalu.

Polri Ambil Langkah Cepat Antisipasi Peningkatan Kasus Covid-19

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) segera mengambil langkah cepat sebagai antisipasi melonjaknya jumlah kasus terkonfirmasi dan kematian akibat COVID-19 periode 1-14 Januari 2021.
- Advertisement -

Polri Ambil Langkah Cepat Antisipasi Peningkatan Kasus Covid-19

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) segera mengambil langkah cepat sebagai antisipasi melonjaknya jumlah kasus terkonfirmasi dan kematian akibat COVID-19 periode 1-14 Januari 2021.

Bupati Limapuluh Kota Serahkan Bantuan Kepada Korban Kebakaran Di Simalanggang

Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi memberikan bantuan korban kebakaran rumah semi permanen, Selasa(12/1) di Nagari Koto Baru Simalanggang Kecamatan Payakumbuh.
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Waspadai ! Perbudakan Intelektual dibalik Akreditasi Perguruan Tiggi

Perguruan Tinggi / Kampus adalah salah satu wadah pendidikan yang sangat berperan penting untuk kemajuan peradaban bangsa dengan mencetak para intelektual yang berkualitas. Melalui keilmuan yang dimilikinya mereka akan terjun kemasyarakat untuk menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi.

Menkes: Bantu para Tenaga Medis dengan Patuhi Protokol Kesehatan

Upaya keras pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid-19 di sisi hilir tidak akan lengkap bila tanpa dibarengi dengan upaya di sisi hulu atau pencegahan. Maka itu, kesadaran seluruh pihak untuk melakukan upaya proaktif mencegah penyebaran Covid-19 amat diharapkan.

Keuntungan Berbisnis Kotoran

Mungkin agak tekesan jorok istilah keuntungan berbisnis kotoran ini kita dengar. Tapi hal ini sangat membantu meningkatkan ekonomi para petani. Kotoran disini yang dimaksud adalah kotoran binatang ternak seperti sapi, kambing, kerbau atau lainnya yang banyak di pelihara masyarakat.

Universitas Bung Hatta Padang Tekan MoU dengan Yayasan Madani

Kamis 17 Desember 2020, bertempat di ruang Rektorat Universitas Bung Hatta Padang telah ditanda tangani kesepakatan atau MOU antara universitas Bung Hatta Padang dengan Yayasan Madani yang mempelopori gerakan Kembalikan Marwah Minangkabau.

Politik Dinasti dan Gerbang Meritokrasi

Bagi banyak individual, tata aturan kekerabatan tidaklah secara teoritis mengesampingkan aturan politik. Menurut definisi morgan terdahulu, kekerabatan megatur keadaan socitas dan yang kedua mengatur civitas. Atau menggunakan terminologi yang sering digunakan sekarang ini yang pertama merujuk pada struktur-struktur respositas dan kedua merujuk pada dikotomi yang jelas.

Simalakama Pandemi: Liburan atau Stay at Home?

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih - Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Corona sudah menjadi beban dunia sejak pertama kalinya China melaporkan adanya penyakit...

Budidaya Sri Rejeki, Pilihan Bisnis Santai Namun Menjanjikan Saat Pandemi

Oleh: Iga Permata Hany & Jelita Putri Adisti Mari mengenal salah satu jenis tumbuhan yang sedang marak dibudidayakan dikalangan ibu-ibu saat ini, siapa lagi kalau...

Indikasi Bunuh Diri Relawan Covid-19 China di Brasil, Ada apa dengan Pengujian Klinis Vaksin Covid-19?

Oleh : Ramadhila Sari - Penulis adalah Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Kasus infeksi Covid-19 meningkat di 80 negara sebagian orang di belahan bumi utara menghabiskan...

Pandemi Covid-19 Dapat Mengancam Penurunan Populasi Hiu?

Oleh: Nada Julista. S - Mahasiswa Biologi FMIPA Unand Selama pandemi Covid-19 ini, tentunya kita dihadapkan dengan pencarian solusi terkait masalah ini dengan berbagai upaya...

Urgensi Vaksin Covid-19

Oleh: Ayu Resti Andrea Suri - Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Baru-baru ini masyarakat telah digencarkan oleh banyaknya vaksin yang beredar untuk mengatasi Covid-19, akan tetapi...
- Advertisement -