26 C
Padang
Sabtu, September 18, 2021
Beritasumbar.com

Zainuddin Labay El Yunusi, Tokoh Pendidikan Islam
Z

Kategori -

ZAINUDDIN LABY EL YUNUSI

Oleh : Syaiful Anwar

Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh

A. Riwayat Hidup

Zainuddin Labay El-Yunusi adalah seorang ulama yang berasal dari Padang Panjang. Ia mengembangkan ajaran Islam dan  mengabdikan dirinya sebagai guru di kota ini. Untuk lebih mengetahui keadaan beliau maka penulis di bawah ini mengemukakan asal-usul pendidikan dan lingkungan keluarganya.

Hj. Zuraidah menjelaskan bahwa Negeri asal nenek moyang Zainuddin Labay dari pihak ibu adalah negeri IV Angkat Bukittinggi Kabapaten Agam dan pindah ke Padang Panjang di negeri Bukit Surungan pada abad XVIII M yang lalu. Ibu beliau bernama Rafi‘ah dan anaka keempat dari lima bersaudara satu ibu lain ayah. Sukunya Sikumbang dengan kepala suku bergelar Datuk Bagindo Maharajo (Yulidesni, 1995: 66).

Setelah suami pertama beliau meninggal, ia hidup menjanda dengan dua orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki.Ia tidak ada niat untuk kawin lagi disebabkan ketiga anaknya sudah dewasa dan sudah berkeluarga

(Yulidesni, 1995: 66).

Putri pertama janda ini bernama Kudi Urai sudah lama menikah tetapi tidak dikaruniai seorang anak pun oleh Allah SWT. Pada suatu hari ia bermufakat dengan suaminya untuk mencarikan jodoh buat ibunya yang janda itu. Alasan Kudi Urai menyuruh ibunya kawin adalah dengan harapan ibunya akan mendapat keturunan dan adiknya yang baru lahir itu akan diasuhnya. Kudi Urai itu tinggal di Payakumbuh (Yulidesni, 1995: 66).

Dari Payakumbuh ia berangkat menemui ibunya di jalan Lubuk Mata Kucing Padang Panjang untuk menyatakan niatnya agar ibunya kawin lagi. Mula-mula ibunya menolak dengan alasan sudah tua. Tetapi berkat bujukannya, akhirnya ibu ini menyetujui juga perkawinan yang direncanakan oleh anaknya itu (Yulidesni, 1995: 66).

Saat yang menggembirakan itu akhirnya datang juga dengan lahirnya seorang bayi perempuan dan diberi nama Rafi‘ah. Ketika Rfi;ah berumur ebeberapa bulan dan tidak menyusu lagi dengan ibunya, maka Kudi Urai mewujudkan niatnya untuk mengasuh adiknya (Yulidesni, 1995: 67).

Rafi‘ah memanggil kakaknya (Kudi Urai) dengan sebutan ande‖ yang berarti ibu. Pada masa itu umumnya anak-anak di Payakumbuh memanggil ibunya dengan sebutan Ande. Rafi‘ah tumbuh menjadi gadis remaja berumur 16 tahun, yang pada masa itu dipandang sudah pantas untuk berumah tangga. Maka jatuhlah pilihan Kudi Urai kepada seorang alim yang berasal dari Pandai Sikat bernama Syekh Muhammad Yunus. Syekh ini masih ada berhubungan darah dengan Haji Miskin yaitu salah seorang anggota Harimau Nan Salapan pada masa Perang Paderi. (Asnan, 2003: 89) Pada awalnya Rafi‘ah menolak pernikahan ini dengan alasan Muhammad Yunus berumur 42 tahun sedangkan Rafi‘ah baru berumur 16 tahun, dan lagi Muhammad Yunus sudah enam kali menikah. Namun demikian karena hormat dan patuh kepada ibunya dan kakaknya yang telah membesarkannya, akhirnya ia menerima juga Muhammad Yunus menjadi suaminya (Asnan, 2003: 89)

Berkat bimbingan dan kebijaksanaan Muhammad Yunus sebagai suami yang arif, maka Rafi‘ah menjadi seorang istri yang setia dan ibu yang baik. Anak-anaknya memanggil ayah mereka dengan panggilan buya dan kepada ibunya mereka dengan sebutan ummi‖ (Asnan, 2003: 89)

Setelah hidup bersama selama 18 tahun, Muhammad Yunus mulai sakit-sakitan dan akhirnya beliau meninggal dunia. Atas permintaannya ia dimakamkan di Padang Panjang (Asnan, 2003: 89)

Sepeninggal Muhammad Yunus, Rafi‘ah membesarkan anak-anaknya dengan bantuan kakaknya Kudi Urai bersama suami. Menurut catatan sejarah Rafi‘ah dilahirkan di Padang Panjang sekitar tahun 1872 M dan di asuh oleh kakanya sampai ia dikawinkan. Selanjutnya Rafi‘ah ini disebut Ummi Rafi‘ah  karena dalam sejarah keluarganya ia dipanggol Ummi yang sangat dicintai dan dihormati. Dari pribadi beliau banyak dipetik pelajaran diantaranya budi pekerti sebagai seorang ibu yang solehah. Menurut penuturan cucu-cucu beliau, beliau dijadikan suri tauladan dan beliau sangat dermawan apalagi untuk membiayai sekolah anak-anaknya (Asnan, 2003: 89).

Ummi Rafi‘ah selain penyayang kepada sesama manusia juga penyayang kepada binatang. Sebagai contoh ketika kota ini diduduki Jepang tahun 1942, beliau tidak mau mengungsi keluar kota karena tidak sampai hati meninggalkan binatang kesayangannya yaitu beberapa ekor kucing, bebek manila, simpai, siamang, dan burung nuri. Beliau mau mengungsi kalau semua hewan peliharaannya boleh dibawa serta bersama beliau (Asnan, 2003: 89).

Selama hidupnya Ummi Rafi‘ah tidak pernah sakit parah kecuali demam dan batuk yang segera sembuh dengan pengobatan seadanya. Pada 1 Juli 1948 M beliau meninggal dunia dalam usia 67 tahun (Asnan, 2003: 89)

Zainuddin Labay El-Yunusi lahir di Bukit SurunganPadang Panjang pada hari Kamis, tanggal 12 Rajab 1308 H/1890 M. Ia meninggal pada tahun 1924 dalam usia 34 tahun (Ramayulis dan Samsul Nizar, 2005: 249). Ia adalah anak tertua dari Ummi Rafi‘ah dan lima bersaudara. Adiknya yang paling bungsu bernama Rahmah El-Yunusiyah pendiri Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang yang terkenal itu. Nama-nama saudara Zainuddin Labay lainnya yang dikutip dari buku Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia ialah:

  1. Zainuddin Labay El-Yunusiy (1308-1342 H/ 1890-1924 M)
  2. Mariah (1313-1375 H/ 1895-1972 M)
  3. Muhammad Rasad (1313-1376 H/ 1895-1956 M)
  4. Rihanah (1316-1388 H/ 1898-1968 M)
  5. Rahmah (1318-1388 H/ 1900-1969 M) (Rasyad, 1991: 339)

Gelar Labay yang melekat pada namanya bukanlah nama kehormatan tertinggi dalam agama Islam yang ia peroleh dari orang lain atau diberikan ulama kepadanya. Tetapi gelar yang ia buat sendiri sejak ia berusia delapan tahun, seperti yang dikemukakan oleh Dr. H. Aminuddin Rasyad sebagai berikut: 

Gelar Labay yang ada dibelakang namanya itu bukanlah gelar pemberian ninik mamak atau ulama kepadanya tetapi gelar itu dia sendiri yang meletakkan pada dirinya dan semua orang disuruhnya memanggilnya dengan Labay bukan Zainuddin. Oleh karena itu lekatlah panggilan namanya dengan tambahan di depannya Labay Zainuddin‖ (Rasyad, 1991: 340) 

Sampai akhir hayatnya, panggilan Labay itu tidak terlepas dari dirinya dan semua muridnya memanggil dengan panggilan demikian. (Rasyad, 1991: 339)

Pada usia 22 tahun ia menikah dengan gadis pilihan orang tuanya bernama Sawiyah yang berasal dari Bukit Surungan Padang Panjang dari suku Panyalai. Dari pernikahan ini beliau dikarunia oleh Allah SWT, dua orang anak. Satu orang anak perempuan yang bernama Zuraidah dan seorang laki-laki bernama Tanius Mathran Hibatullah (Yulidesni, 1995: 70)

Pernikahan ini tidak berlangsung lama kemudian bercerai. Kemudian beliua menikah lagi dengan seorang gadis yang bernama Djaliah yang berasal dari desa Jambu Gunung Padang Panjang. Pernikahan kedua ini tidak berlangsung lama karena istri kedua ini meninggal dunia dan tidak dikarunia anak (Yulidesni, 1995: 70).

Zainuddin Labay El-Yunusi masuk sekolah ketika berumur delapan tahun di sekolah Governement Padang Panjang sampai kelas IV, karena tidak merasa puas dengan metode mengajar pada waktu itu. Walaupun demikian, semangatnya untuk menuntut ilmu tidak pudar. Secara autodidak, ia banyak membaca buku-buku, baik agama maupun umum (Ramayulis dan Samsul Nizar, 2005: 249). 

Tampaknya Zainuddin ini sangat cerdas dan terampil berbicara. Kecerdasan dan kemampuannya berbicara atau berkomunikasi ini sangat membantunya dalam pergaulan. Sehingga pergaulannya sangat luas dan disenangi oleh kalangan tua dan kalangan muda. Mengenai keterampilan berbicara ini dikatakan bahwa:

Dimana ada orang ramai, beliau datang kesana. Lalu berbicara. Bahasanya yang baik, serta penyampaiannya yang menarik membuat orang tidak mau meninggalkan tempat itu. Bahkan orang yang lewat pun akan tertarik pula untuk turut mendengarkannya. Bila beliau mendengar suara azan dari masjid maka beliau akan segera menghentikan ceramahnya dan mengajak semua orang untuk pergi ke masjid menunaikan perintah Allah. Semua orang yang mendengarkan ceramahnya tidak mampu untuk menolak ajakan tersebut. Lalu mereka bersama-sama menuju ke masjid (Edwar, 1981: 188).

Ia dikenal sebagai orang berkemauan keras dan etos kerja yang tinggi. Ia dapat memainkan bermacam-macam instrumen musik tradisional Minangkabau, seperti rabab, pupuik batang padi, saluang dan lain-lain. Kepandaiannya di bidang teknik diperoleh melalui pengalaman sendiri yaitu dengan bongkar pasang benda-benda mesin yang dibelinya seperti jam dinding, mesin cetak, dan mesin jahit. Sehingga beliau mengenal baik setiap bagian dari alat-alat mesin itu. Bongkar pasang itu dilakukan secara berulang-ulang oleh Zainuddin Labay, sehingga kenal baik dengan benda-benda tersebut (Yulidesni, 1995: 72).

Banyak orang yang heran melihat tingkahnya lakunya. Beliau termasuk anak yang keras hati dan keras kepala. Setiap yang dicita-citakannya harus tercapai sampai ia memperolehnya (Yulidesni, 1995: 70)

Melihat tingkah lakunya Zainuddin Labay yang demikian apalagi sejak ayahnya meninggal, Ummi sangat sedih. Ummi mencoba membujuknya agar mau sekolah kembali. Permintaan umminya dikabulkan dengan syarat Zainuddin Labay sendiri yang memilih tempat belajar yang disukai. Pada awalnya Zainuddin Labay memilih belajar di Maninjau dengan seorang gurunya bernama Syekh Abdul Karim Amarullah. Akan tetapi karena letak daerah itu jauh dan perhubungan amat sulit ketika itu, maka Umminya keberatan untuk melepas (Yulidesni, 1995: 72-73)

Karena Zainuddin Labay tidak jadi belajar ke Maninjau, atas keinginan Zainuddin Labay sendiri, ummi mengizinkan berangkat ke Padang untuk belajar kepada Dr. H. Abdullah Ahmad, pendiri sekolah Adabiyah.Akan tetapi disini Zainuddin Labay belajar hanya delapan hari saja karena merasa tidak puas (Yulidesni, 1995: 73)  Dr. Aminuddin Rasyad menulis tentang Zainuddin Labay ini demikian :

Keinginan Zainuddin Labay ini diperkenankan oleh ibunya dan beliau di beri uang sebanyak f. 20,- sebagai bekal belajar. Tetapi beliau hanya delapan hari belajar dan tinggal di Padang. Kemudian kembali pulang ke rumah orang tuanya. Uang yang diberikan ibunya habis dibelikannya buku-buku, majalah-majalah berbahasa Inggris dan koran-koran berbahasa asing (Rasyad, (Rasyad, 1991: 341). 

Akhirnya beliau belajar ke Padang Japang Payakumbuh dengan gurunya bernama Syekh H. Abbas Abdullah. Ketika itu Syekh Abbas masih mengajar di surau  yang didirikan oleh ayahnya. Beliau belajar dengan Syekh ini hanya dua tahun (1911-1913 M). Kemudian mencari guru yang dianggap dapat memuaskan dirinya (Yulidesni, 73-74).

Ia mendengar nama seorang Syekh bernama Abdul Karim Amrullah dan terkenal dipanggil Haji Rasul Maninjau yang pindah mengajar ke Padang Panjang dan di Surau Jembatan Besi.Beliau menghentikan pelajarannya di Padang Japang lalu kembali ke Padang Panjang dan menuntut ilmu di Surau Jembatan Besi. Disini Beliau mendapat kepercayaan menjadi guru bantu dari Syekh Abdul Karim Amarullah (Yulidesni, 74).

Edwar menulis antara lain mengenai Zainuddin ini dalam buku Riwayat Hidup dan perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat bahwa : Semua kejadian tersebut di atas menunjukkan betapa kerasnya watak dan kemuauan Zainuddin. Ia sangat tekun membaca, dan rajin membongkar pasang alat-alat mesin. Beliau bertualang ke mana-mana untuk berguru. Beliau pernah bentrok karena tidak puas dengan cara guru itu memberikan pelajaran. Beliau pernah mempunyai pengalaman singkat menjadi guru bantu. Semuanya itu telah menjadi landasan kuat baginya di kemudian hari untuk melahirkan gagasan-gagasan baru, serta melahirkan karya-karya yang gemilang (Edwar, 1981: 189).

Zainuddin Labay El-Yunusi boleh dikatakan lebih banyak belajar sendiri dalam memperoleh ilmu. Namun demikian banyak juga berguru kepada ulama ternama, yaitu Syekh H. Abbas Abdullah, dan Haji Abdul Karim Amrullah. 

Zainuddin Labay El-Yunusi kurang suka bergaul dengan orang banyak, karena waktunya banyak dipergunakan untuk belajar dan mengarang, sebagaimana ditegaskan oleh Aminuddin Rasyad sebagai berikut : Ia penyanyi, pelagu, suka gramofon dan jika beliau sedang makan jangan didekati. Kitabnya bertimbun di atas mejanya bekas menthala‘ah dan mengarang malam. Beliau tidak begitu suka bergaul dengan orang banyak, tetapi jika sekali-sekali beliau datang kepada orang banyak, beliau menimbulkan kegembiraan (Rasyad, 1991: 352).

Mengenai salah satu sikap keagamaan Zainuddin Labay ini, dikemukakan oleh Zuraidah salah seorang anak dari Zainuddin Labay sebagai berikut: Pada suatu hari Zainuddin duduk di kedai minuman yang ramai dikunjungi orang, ia minum sambil mengobrol. Ia menceritakan suatu cerita, sedang orang mendengarkannya. Kemudian beduk shalar Ashar ke masjid Jembatan Besi, dan kemudian cerita tersebut disambungnya lagi. Karena orang  banyak itu sangat simpati kepadanya, semuanya pergi ke masjid melaksanakan shalat Ashar dan kemudian kembali ke kedai itu mendengarkan ceritanya. Demikianlah ciri khas beliau menyuruh shalat (Yulidesni, 1995: 78).

Dari keterangan di atas jelas bahwa Zainuddin Labay ElYunusi adalah seorang alim berwibawa, tapi suka juga berkelakar. Oleh murid-muridnya, ia sangat ditakuti dan disegani. Kalau bertemu dengan murid-muridnya di jalan raya, mukanya seperti orang marah, tapi apabila duduk dikelilingi oleh murid-muridnya, ia sangat ramah dan senang bertukar pikiran.

B. Konsep Zainuddin Labay El Yunusi Tentang Pendidikan Islam

1.      Mempelopori Pembaharuan Pendididikan Islam (Metode dan Sistem)

Perhatian Zainuddin terhadap pembaharuan pendidikan Islam sangat kuat. Hal ini terbukti dengan aktivitas kependidikan yang dilakukannya, dimana pada tahun 1914 M ia ikut membantu dalam penulisan artikel-artikel pada majalah Al-Munir yang diterbitkan di Padang di bawah pimpinan Dr.Abdullah Ahmad. Di dalam majalah Al-Munir, isi artikelnya adalah mempertahankan pendirian kaum muda dan aliran baru dalam Islam. Artikel-artikel ini banyak mendapat tantangan dari kaum tua, untuk itu diterbitkan majalah alAkbar yang dipimpin oleh Zainuddin Labay bertujuan untuk membela al-Munir (Yulidesni, 1995: 83) 

Dari pemaparan di atas tampak jelas bahwa Zainuddin itu orangnya keras hati. Ia tidak akan berhenti sebelum citacitanya tercapai. Ia belum merasa puas hanya pembantu dari majalah Al-Munir, maka pada tahun 1918 M ia menerbitkan kembali majalah Al-Munir yang ditambah di belakangnya dengan Al-Manar. Sebagai pimpinan dari majalah itu adalah beliau sendiri yang disebut „Rais al-Tahrir‟ (Yulidesni, 1995: 83)

Perbedaan yang nyata antara Al-Munir dengan Al-Manar adalah dalam menjawab masalah agama. Al-Munir menjawab masalah agama dengan memakai mazhab Imam Syafi‘i, sedangkan Al-Manar menjawabnya selain memakai mazhab Imam Syafi‘i  juga memakai mazhab imam-imam yang lain (Yulidesni, 1995: 84)

Di samping itu kejadian-kejadian dan pengalamanpengalaman yang dialaminya sewaktu kecil, sewaktu mengaji dan belajar kepada beberapa orang gurunya serta ketekunannya belajar sendiri yang telah dikemukakan pada pembahasan terdahulu, menjadi landasan yang kuat baginya untuk melahirkan ide-ide dan gagasan pembaharuan sebagaimana yang diungkapkan oleh Edwar, bahwa: Semua kejadian-kejadian tersebut di atas menunjukkan betapa kerasnya watak dan kemauan Zainuddin. Ia sangat tekun membaca, dan rajin membongkar pasang ala-alat mesin. Ia bertualang ke mana-mana untuk berguru, ia pernah bentrok dengan gurunya karena tak puas dengan cara guru tersebut memberikan pelajaran. Ia pernah mempunyai pengalaman singkat menjadi guru bantu. Semuanya itu telah menjadi landasan yang kuat baginya di kemudian hari untuk melahirkan gagasan-gagasan baru, serta melahirkan karya-karya yang gemilang (Edwar, 1981: 189)

Hj.Hasniah Saleh, sebagaimana dikutip Yulidesni menjelaskan, bahwa cita-cita atau gagasan-gagasan Zainuddin Labay El-Yunusi dalam melakukan pembaharuan pendidikan adalah sebagai berikut:

  • Merubah pola berpikir masyarakat tentang pentingnya belajar bagi semua orang baik laki-laki maupun perempuan.
  • Merubah sistem belajar dari sistem halaqah kepada sistem klasikal dan ko-edukatis
  • Membuat kurikulum yang jelas, sebagai pedoman bagi para guru.
  • Membuat silabus materi pelajaran serta mengarang bukubuku yang akan diajarkan kepada murid-murid
  • Mengadakan evaluasi belajar per-empat bulan satu kali dan evaluasi akhir tahun untuk kenaikan kelas, dan mencantumkan nilai-nilai hasil evaluasi pada buku raport.
  • Menanamkan jiwa kritis serta ingin tahu pada setiap murid
  • Memperkenalkan kepada murid-murid tokoh-tokoh ulama muda dari Mesir seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha
  • (Yulidesni, 19995: 85).

Untuk dapat mewujudkan semua ide dan cita-citanya, pada tanggal 10 Oktober 1925 ia mendirikan sekolah yang diberinya nama Diniyah School. Lembaga pendidikan Diniyah School memperkenalkan sistem pendidikan modern, yaitu dengan menggunakan sistem klasikal dan kurikulum yang teratur. Materi pendidikan yang ditawarkan bukan hanya ilmu agama, akan tetapi juga ilmu umum sebagaimana diajarkan di lembaga pendidikan government, seperti bahasa asing, ilmu bumi, sejarah, dan matematika. Selain itu, murid-murid Diniyah School pada umumnya diseleksi dengan cermat dan memenuhi syarat yang ditetapkan, seperti murid-murid dalam kelas satu rata-rata memiliki umur dan kesangggupan yang sama (Nizar, 2002: 110-111). Suatu pendekatan yang masih baru bagi lembaga pendidikan waktu itu. Hal ini disebabkan karena kebanyakan lembaga pendidikan Islam tradisional menyelenggarakan pendidikan dengan sistem halaqah, berorientasi pada ilmu agama, tidak menggunakan sistem klasikal, dan bentuk kurikulum yang tidak sistematis. (Nizar, 2002: 110-111)

Melalui lembaga pendidikan yang didirikannya, ia berharap dapat menciptakan output yang berkualitas, tidak hanya ilmu agama akan tetapi juga ilmu-ilmu umum lainnya. Output seperti ini sangat dibutuhkan umat dan bangsa ini untuk membangun peradaban dan mengejar ketertinggalannya selama ini. Dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama, Zainuddin lebih banyak mengambil metode Mesir. Akan tetapi dalam mengajarkan ilmu-ilmu umum, ia cenderung mengambil gagasan pembaharuan pendidikan yang dikembangkan Musthafa Kamal Pasya, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha (Nizar, 2002: 110-111). Kedua pendekatan ini terlihat jelas dari kitab yang digunakan lembaga ini. Di samping kitab yang dikarangnya, ia juga menggunakan kitab Arab sebagaimana pendidikan Mesir untuk ilmu agama dan ilmu umum dengan menggunakan literatur Barat (Yunus, 1966: 165-166).

Sebelum pengajaran membaca Al-Quran dan ilmu-ilmu lainnya, susunan pelajaran Diniyah School dimulai dengan mengajarkan pengetahuan bahasa Arab. Penekanan Zainuddin pada bahasa Arab dilatar-belakangi karena materi tersebut merupakan alat utama yang perlu dikuasai peserta didik agar mudah mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Metode yang diterapkan Zainuddin untuk memperkenalkan bahasa Arab dimulai dengan memperkenalkan tulisan Arab dan menyusun kalimat dalam bahasa Arab Melayu, baru kemudian bahasa Arab yang sesungguhnya. Untuk kelas rendah, dia menyusun sendiri buku pelajaran muridnya dalam bahasa Arab Melayu. Kemudian untuk kelas menengah, bahasa Arab yang digunakan adalah bahasa Arab sederhana, sementara untuk kelas tertinggi ia menggunakan terbitan Kairo dan Beirut (Steenbrik, 1974: 45).

Selain melalui lembaga pendidikan formal yang didirikannya, ia juga memanfaatkan majalah al-Munir sebagai media pendidikan umat Islam. Melalui berbagai tulisannya, ia mencoba membuka wawasan umat Islam tentang universalitas ajaran Islam. Ia bahkan tidak segan-segan mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan fatwa ulama terdahulu, jika memang ia pandang pendapat tersebut telah tidak lagi sesuai dengan ruh universal ajaran Islam. Dalam upayanya ini, ia seringkali mendapat kritikan dan tantangan dari ulama tradisional. Ia bahkan dituduh sebagai ulama sesat dan ulama Wahabi yang telah keluar dari mazhab Ahlussunnah wal jamaah (Yunus, 1966: 166). Namun demikian, hal tersebut tidak membuatnya ―patah semangat‖, bahkan semakin mendorongnya untuk tetap kritis dan konsisten dengan ide pembaharuannya. Oleh karena itu, tak heran jika Steenbrink menilai ketokohannya sebagai sosok ulama yang memiliki kepribadian kokoh (Steenbrik, 1974: 43).

2.      Mempelopori Cara Berpakaian Modern

Disamping pembaharuan sistem pendidikan Islam yang dilakukan oleh Zainuddin Labay El-Yunusu adalah pembaharuan cara berpakaian secara modern. Zainuddin memerintahkan kepada para guru, agar dalam mengajar harus berpakaian dengan rapi, tidak boleh memakai sarung , melainkan memakai pantalon, jas, kemeja panjang, berdasi dan tanpa peci. Murid-murid pun demikian harus memakai pantalon, kemeja dan tanpa peci (Yulidesni, 1995: 95).

Zainuddin labay disamping menerapkan sistem baru di bidang pendidikan, ia ingin mengadakan perubahan cara berpakaian masyarakat ketika itu. Ia menginginkan kemajuan umat Islam hendaknya sejajar dengan apa yang telah dicapai oleh orang Erofa dan Barat, ia ingin menerapkan cara berpakaian orang Barat pada masyarakat Minangkabau terutama di kalangan intelektual, para ulama dan guru-guru yang mengajar pada sekolah Diniyah School, begitu juga di kalangan murid-muridnya, agar penampilan para intelektual muslim, para ulama dan pendidik pada perguruan Islam tidak ketinggalan oleh para intelektual Barat dan para pendidik pada sekolah-sekolah kolonialis Belanda pada waktu itu. Sebab penampilan seseorang akan membawa pengaruh yang besar dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat, kerapian seseorang dalam mengatur cara berpakaiannya akan menimbulkan penilaian yang baik atas dirinya, sebaliknya kesemberonoan dalam cara berpakaian seseorang akan menimbulkan penilaian yang tidak baik atas diri orang tersebut (Yulidesni, 1995: 95).

Zainuddin Labay sebagai seorang tokoh pembaharuan dalam Islam ingin menunjukkan kepada pemerintah kolonial Belanda, bahwa agama Islam selalu mendorong pemeluknya untuk melaksanakan perbaikan dalam segala aspek kehidupan di dunia ini, agar tercapai keseimbangan, keselarasan dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat. Islam sebagai agama mengajarkan supaya penganutnya selalu berusaha ke arah kebaikan dan keindahan agar tercapai hidup bahagia dunia dan akhrirat sesuai dengan firman Allah SWT yang tertera dalam surat Al-Baqarah ayat 201:

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”

Untuk tercapainya keseimbangan yang dimaksud ayat di atas, para ulama dan para guru sebagai kaum intelektual Islam harus mau mengadakan perubahan dan menerimanya. Sebab Allah dalam Al-Quran surat Ar-Ra‘d ayat 11 mengisyaratkan, bahwa orang yang tidak mau mengadakan perubahan dan menerimanya tidak akan maju. Allah SWT tidak akan merubah nasib sesuatu kaum tanpa ada usaha untuk merubah keadaannya sendiri (Yulidesni, 1995: 96).

Zainuddin Labay sebagai seorang ulama dan guru agama menerapkan gagasan pembaharuannya tentang cara berpakaian. Ia seorang tokoh intelektual Islam cara berpakaiannya berbeda dengan para ulama yang lain ketika itu, ia berpakaian seperti intelektual kolonial Belanda, ia memakai pantalon yang terdiri dari celana panjang, baju, jas dan dasi tidak memakai kopiah atau peci, rambutnya disisir rapi, seperti cara berpakaian orang Erofa atau Belanda. Zainuddin dengan cara berpakaiannya seperti disebutkan di atas memberikan contoh kepada saudaranya sesama guru atau ulama, agar penampilan kaum intelektual Islam tidak jauh berbeda dengan kaum intelek di kalangan kolonialis, dalam cara berpakaian dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat, di mana para ulama ketika itu memakai sarung, baju bulat leher dan pakai kopiah atau peci, sebagaimana yang dijelaskan Edwar dalam bukunya, bahwa: Zainuddin sendiri sebagai guru memakai pakaian seorang layaknya seorang intelek di masa itu. Pantalon, jas, kemeja, dasi dan sepatu. Rambut disisir rappi. Atau memakai tasbusy. Padahal guru-guru agama di masa itu lazim memakai sarung, baju dengan leher bulat, kopiah dan sandal (Edwar, 1981: 191).

Gagasan pembaharuan yang dilaksanakan Zainuddin Labay itu benar-benar menggemparkan kalangan pendidikan agama, tidak mengherankan timbulnya bermacam-macam reaksi dan tantangan dari masyarakat terutama kaum tua, sebagian mengatakan bahwa Zainuddin sudah gila, atau kebelanda-belandaan, atau kafir atau ulama Belanda dan sebagainya. Namun Zainuddin tidak memperdulikan semuanya itu. Kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat yang sedang haus kepada cara-cara modern sangat tertarik kepada apa yang dilakukannya (Yulidesni, 1995: 98).

Zainuddin memang seorang pemuda yang mempunyai pendirian maju. Ia menginginkan kemajuan umat Islam sejajar dengan apa yang telah dicapai oleh orang Barat. Tapi semua hal yang baru bagi masyarakat Minangkabau di masa itu, mereka belum siap menerima ide dan gagasan pembaharuan yang dicanangkan oleh Zainuddin Labay El-Yunusi. Kebiasaan masyarakat dan ulama waktu itu memakai sarung, baju bulat leher, pakai kopiah dan sandal, tiba-tiba seorang pemuda yang baru berumur 26 tahun merubah kebiasaan mereka secara drastis, sudah barang tentu mendapat tantangan dari sebagian masyarakat dan para ulama dengan bermacammacam reaksi (Yulidesni, 1995: 98).

3.      Mempelopori Berdirinya Koperasi Pendidikan

Koperasi lahir di Indonesia pada awal abad ke-19. Arifinal Chaniago (1976: 1) menulis dalam bukunya sebagai berikut: Koperasi lahir pada permulaan abad ke-19, sebagai reaksi terhadap sistem liberalisme ekonomi, yang pada waktu itu golongan kecil pemilik-pemilik modal mengauasai kehidupan masyarakat

Indonesia penghasil bahan dasar (agraris) sebagian besar dijual di pasar dunia dan sebagian kecil dari hasil yang diolah di luar negeri diimpor kembali ke Indonesia. Politik penjajah menyebabkan perekonomian Indonesia terbelakang. Penjajahan Belanda menyebabkan kemiskinan rakyat atau masyarakat Indonesia dengan segala akibatnya. Buruh, petani, pegawai bangsa Indonesia menjadi hisapan lintah darat Belanda dan bangsa asing lainnya (Chaniago, 1976: 1). 

Susunan masyarakat kapitalis sebagai kelanjutan dari liberalisme ekonomi, membiarkan setiap individu bebas bersaing untuk mengejar keuntungan sebesar-besarnya bagi individu, dan bebas pula mengadakan segala macam kontrak tanpa intervensi pemerintah. Akibat dari sistem ekonomi tersebut, segolongan kecil pemilik modal menguasai kehidupan masyarakat. Mereka hidup berlebih-lebihan, sedangkan segolongan besar dari masyarakat hidup dalam kekurangan, kedudukan sosial ekonominya makin lemah dan makin terdesak. Pada saat itulah tumbuh gerakan koperasi yang menentang aliran individualisme dengan asas kerjasama dan bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Bentuk kerjasama melahirkan koperasi (Chaniago, 1976: 1).

Koperasi berasal dari kata perkataan co dan opration, yang mengandung arti bekerjasama untuk mencapai tujuan. Oleh sebab itu menurut Arifinal Chaniago koperasi berarti suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang atau badan-badan, yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota: dengan bekerjasama secara kekeluargaan menjalankan usaha, untuk mempertinggi kesejahteraan jasmani dan para anggotanya (Chaniago, 1976: 1).

Beberapa perkumpulan saat itu mencoba memajukan koperasi di antaranya: Raden Soetomo mendirikan Budi Utama tahun 1908, mencoba memajukan koperasi Rumah Tangga, akan tetapi hasil tidak memuaskan, karena kurang sekali pengertian masyarakat terhadap asas dan tujuan koperasi.

Serikat Dagang Islam yang menjadi Serikat Islam mempropagandakan cita-cita toko koperasi. Usaha tersebut kurang berhasil, sebab pimpinan dan penerangan bagi masyarakat masih kurang. Koperasi yang didalam waktu pendek terpaksa dibubarkan. (Chaniago, 1976: 1).

Di Padang Panjang Minangkabau, Zainuddin Labay ElYunusi seorang tokoh pencetus pembaharuan pendidikan Islam mencoba memelopori berdirinya Koperasi Pendidikan dengan mendirikan sebuah bofet (warung minuman) yang dikelola menurut sistem koperasi yaitu dengan mengumpulkan modal bersama teman-temannya, bofet tersebut diberinya nama Merah dengan kepanjangan mencari emas rami-ramai ada hasilnya‖ (Yulisdesni, 1995: 100).

Edwar menulis dalam bukunya bahwa: Disamping kegiatannya dalam bidang pendidikan dan perjuangan politik, Zainuddin juga mempunyai perhatian terhadap dunia usaha dan koperasi. Ia mendirikan sebuah bofet (warung minuman) di Padang Panjang dengan sistem koperasi‖, yaitu dengan mengumpulkan modal bersama teman-temannya. Lalu mendirikan bofet bernama Merah‖dengan kepanjangan Mencari Emas Ramai-ramai Ada Hasilnya‖. Disamping itu dia juga mempunyai usaha percetakan, hasil kongsinya dengan Engku Bagindo Sinaro di Padang Panjang (Edwar, 1981: 1983).

Menurut Yulidesni menjelaskan bahwa bofet yang didirikan oleh Zainuddin Labay pada lahirnya adalah merupakan warung minuman, pada hakikatnya adalah wadah untuk tempat berkumpul bagi murid-muridnya dan pemudapemuda, tempat berdiskusi, bertukar pikiran, berkomunikasi langsung dengan para pengusaha Diniyah School dan tempat belajar atau berlatih bekerjasama dan bertanggung jawab dengan mengelola bofet tersebut secara bersama-sama (Yulidesni, 1995: 101).

Apabila kita tinjau dari segi nama bofet yang didirikan oleh Zainuddin Labay yaitu Merah‖, dengan kepanjangan Mencari Emas Ramai-ramai Ada Hasilnya‖, hal itu menunjukkan suatu kiasan untuk mengajak teman-temannya bekerjasama mengelola suatu usaha, kata-kata Mencari Emas Ramai-ramai‖mengandung arti bahwa emas merupakan perhiasan yang berharga dapat diartikan keuntungan. Ramairamai‖ yaitu bekerjasama dalam mengelola usaha tersebut. Ada hasilnya‖, yaitu memperoleh sesuatu. Jadi maksudnya dengan mendirikan sebuah bofet tempat berusaha, dikelola bersama akan mendatangkan hasil, hasil tersebut dimanfaatkan bersama. Gagasan Zainuddin Labay mendirikan sebuah bofet tersebut, bukan mencari keuntungan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan para anggotanya yang merupakan tujuan dari wujud pendirian sebuah koperasi, tetapi lebih jauh dari itu yaitu untuk memberikan contoh tauladan dan pendidikan kepada murid-muridnya, para pemuda bagaimana hidup bermasyarakat, bekerjasama dan bertanggung jawab bersama. Sebab dalam pengelolaan suatu usaha dengan sistem koperasi semua anggota bertanggung jawab dan harus memikirkan kelangsungan koperasi tersebut, bukan tanggung jawab para pengurus yang telah ditunjuk saja (Yulidesni, 1995: 101).

Di samping itu, pendirian bofet tersebut bukan sematamata untuk tempat berusaha, tapi yang lebih penting sebagai wadah untuk tempat berkumpul, tempat belajar bagi muridmuridnya dan para pemuda waktu itu. Gagasan ini  sejalan dengan arti umum dari pengertian koperasi, sebagaimana yang diuraikan oleh Kaslan A.Toher dalam bukunya sebagai berikut:

  1. Koperasi adalah lembaga pendidikan demokrasi dalam: a. demokrasi politik dan berpikir karena hak suara yang sama dan bebas bicara. b. demokrasi koperatif karena tiap-tiap anggota bertanggung jawab atas jalannya koperasi. c. demokrasi ekonomi karena keuntungan koperasi tidak dibagi menurut besarnya iuran atau saham, akan tetapi atas dasar besarnya jasa.
  2. Koperasi adalah benteng demokrasi. Koperasi tidak dapat menerima sistem diktatorship maupun sistem liberalindividualitis-kapitalisme
  3. Koperasi adalah lembaga pendidikan kemasyarakatan. Koperasi adalah tempat, dimana orang mendapat pendidikan atau latihan dalam: a. perasaan dan kemauan bersatu dan berorganisasi. b. berdisiplin dan ketaatan. c. perasaan dan tindakan yang adil. d. mempertinggi kecerdasan pikiran dan bertindak, dan e. self-helf (mempercayai dan menghargai atas diri sendiri (Toher, 1964).

Dari sekian banyak usaha yang telah dilakukan oleh Zainuddin Labay, ia sudah pantas disebut dengan pembaharu yang sejajar dengan pembaharu lainnya seperti Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amarullah (Haji Rasul) dan lain-lain.

Namun sayang sekali belum lama Zainuddin menikmati hasil usaha dan cita-citanya, ia pun dipanggil Allah SWT pada tahun 1924 M dalam usia 34 tahun. Beliau meninggal setelah menderita sakit beberapa hari saja, dimakamkan di tanah keluarganya sebelah barat Asrama Diniyah Puteri. Ribuan masyarakat kota Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Batusangkar serta kota Padang datang untuk mengucapkan berduka cita atas kepergiannya. 

Walaupun Zainuddin telah pergi untuk selama-lamanya, namun beliau masih sempat membina murid-murid yang tidak kalah pula besar jasanya di tengah-tengah masyarakat di antaranya Buya Hamka, Ar.Sutan Mansur, Zainal Abidin Ahmad, Duski Samad dan adik kandungnya Rahmah ElYunusiyah. Rahmah El-Yunusiyah melanjutkan cita-cita abangnya dengan mendirikan sekolah agama khusus puteri yang diberi nama Diniyah Puteri.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Bukittinggi Dukung Pemprov Sumbar Melakukan Perluasan TPA Regional Payakumbuh

Bukittinggi, beritasumbar.com -- Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi mendukung penuh rencana Pemerintah Provinsi (Pemrov) Sumatera Barat untuk melakukan perluasan "Sell Landfill" Tempat Pembuangan Akhir (TPA)...
- Advertisement -

Hadiri Pisah Sambut Dandim 0306/50 Kota, Ketua DPRD Hamdi Agus : Selamat Jalan Letkol Ferry, Selamat Datang Letkol Denny

Payakumbuh,Beritasumbar.com,- Ketua DPRD Kota Payakumbuh Hamdi Agus hadir dalam malam pisah sambut Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 0306/50 Kota yang baru dengan yang lama yang diselenggarakan di Balaikota Payakumbuh, Senin (14/9) malam.

Komitmen Raih Zona Integritas, Kalapas Padang Tekankan Ini kepada Seluruh Petugas !!!

Padang,BeritaSumbar.com, - Seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Padang ikuti Monitoring dan Evaluasi Tugas dan Fungsi bersama Kepala Lapas (Kalapas) Era Wiharto di aula Lapas Kelas IIA Padang. Tampak hadir dalam kegiatan ini seluruh pejabat struktural eselon IV, eselon V, staf administrasi dan regu pengamanan.
- Advertisement -

Matangkan Persiapan MTQ, Panitia Gelar Rapat Koordinasi dan Evaluasi

Padang Panjang,BeritaSumbar.com,_Kakankemenag Kota Padang Panjang Buya H. Alizar Datuak Sindo Nan Tongga pimpin Rapat Koordinasi dan Evaluasi Persiapan MTQ Nasional XXXIX Tingkat Provinsi Sumatera Barat Tahun 2021 di Hall Lantai III Balaikota Padang Panjang, Rabu (15/09/2021)

Gerindra Bukittinggi Beri Bantuan Rp10 Juta kepada Pelajar yang Kuliah di Mesir

Bukittinggi, beritasumbar.com -- Kepedulian terhadap dunia pendidikan ditunjukkan Partai Gerindra Kota Bukittinggi, dengan memberi bantuan uang tunai Rp10 juta kepada mahasiswa yang melanjutkan pendidikan...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Jabatan Itu Amanah, Jangan Kau Minta Apalagi Beli

Rasulullah Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis melarang umatnya untuk meminta jabatan. Rasulullah juga enggan memberikan jabatan kepada orang yang meminta jabatan dan rakus.

Khutbah Arafah Di Masjid Namirah

Khutbah Arafah dari Masjid Namirah tanggal 9 Dzulhijjah 1442 Hijriyyah/19 Juli 2021 Masehi disampaikan oleh Fadhilatu Syaikh Dr. Bandar bin Abdul Aziz Balilah Hafizhahullah (semoga Allah menjaganya).

Guna Jauhkan Generasi Muda dari Kecanduan Game Online, Rumah Tahfidz Ahlul Quran Batubara Buka Cabang Baru

Untuk menjauhkan kalangan muda dari kecanduan game online dengan menjadikan mereka generasi penghafal Al-Qur’an, Yayasan Rumah Tahfidz Ahlul Qur'an membuka Rumah Tahfidz cabang baru khusus untuk santri ikhwan (putra) di Jalan Pendidikan, Belakang Kantor Balai Desa Mesjid Lama, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.

Padang Panjang Siap Laksanakan Belajar Tatap Muka

Padang Panjang, beritasumbar.com- Wakil Walikota Padang Panjang  Asrul menyatakan daerah tersebut siap menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang akan dimulai Senin, 11 Januari. "Kami meninjau...

Militer Ottoman Mulai Memakai Meriam pada 1420-an

Perkembangan militer yang paling penting selama periode bangkitnya Kerajaan Ottoman adalah pengenalan meriam dan senjata api lainnya. Senjata-senjata ini digunakan di Eropa Barat selama abad ke-14...

Bacaan Niat Puasa Senin Kamis

Puasa Senin Kamis dianjurkan oleh Rasulullah, bagi umat muslim baik laki-laki maupun perempuan.Sesuai dengan namanya, puasa sunnah ini dikerjakan setiap hari Senin dan Kamis. Puasa...

Doa Sebelum Tidur dan Filosofi Maknanya

Tidur adalah salah satu aktivitas semua orang. Tidur selain merupakan bentuk istirahat seseorang setelah beraktivitas, bisa bernilai ibadah, jika memang diniatkan untuk beribadah. Umat Islam...

Niat Mandi Sunah Sebelum Sholat Jumat

Hari Jumat adalah hari yang penuh dengan keberkahan. Di hari itu umat Islam dianjurkan banyak membaca zikir, doa, dan membaca surah-surah pilihan, seperti surah...

M.Natsir, Tokoh Pendidikan Islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup M.Natsir Muhammad Natsir gelar Datuk Sinaro Panjang, dilahirkan di Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Solok,...

Buya Hamka, Tokoh Pendidikan Islam

Oleh : Syaiful Anwar Dosen FE Unand Kampus II Payakumbuh A. Riwayat Hidup Hamka Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah atau Hamka,  lahir  di Sungai Batang,...
- Advertisement -