Dunia pendidikan di Indonesia semakin berkembang. Kemajuan teknologi saat ini memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi dunia pendidikan itu sendiri. Namun, tanpa didasari budi pekerti yang baik, bisa menjadi bumerang sebagai penghancur generasi bangsa.
Mengantisipasi hal ini, SMAN 1 Payakumbuh menggelar acara Seminar Sehari tentang Implementasi Kurikulum 2013 dalam Budaya Minangkabau Untuk Menciptakan Generasi Emas, di aula sekolah itu di Kelurahan Balai Batimah, Kecamatan Payakumbuh Timur, Sabtu (25/1).
Wakil Walikota Payakumbuh Suwandel Mukhtar, saat membuka seminar itu, mengajak semua peserta untuk memahami kearifan lokal. Apa yang dilakukan SMAN 1, mengangkat seminar, bertemakan Implementasi Kurikulum 2013 dalam Budaya Minangkabau, sebuah kebijakan yang harus diapresiasi.
Menurut Wawako Suwandel, sebuah kesuksesan 20% diperoleh dari kecerdasan dan 80 % dari kepribadian yang melingkupi sikap, akhlak dan budi pekerti yang baik. Lewat seminar ini, mudah-mudahan pemahaman para peserta bisa membuka pola pikir baru dalam menciptakan generasi emas khususnya dikota Payakumbuh
Kepala Sekolah SMAN 1 Payakumbuh Resnulius, penggagas acara bersama LKAAM dan PGRI Payakumbuh, mengatakan ajaran adat Minang, sangan cocok sekali diterapkan dunia pendidikan di Payakumbuh. ilmu akademis dilengkapi dengan adat istiadat, akan menciptakan pelajar yang berkarakter dan berkepribadian.
Nada yang sama juga didukung oleh Kadisdik H. Hasan Basri Sy, S.Pd, Ketua LKAAM Indra Zahur Dt. Rajo Simarajo, SE dan Ketua PGRI Dalius, S.Pd, yang memberi sambutan saat pembukaan seminar. Ketiganya, mengatakan, budaya sangat berpengaruh terhadap pendidikan. Pasalnya, di era sekarang ini banyak sekali pelajar atau kaum intelek yang punya keahlian membanggakan, akan tetapi minim akhlak dan budi pekerti.
Seminar tersebut diikuti, pengurus KAN dari 10 nagari di Payakumbuh, Bundo Kanduang, kepala sekolah SD, SMP, SMA/SMK, madrasah swasta dan negeri, serta unsur dewan pendidikan dan undangan lainnya.
Sementara, pembicara tunggal dalam seminar ini, Zulfikri Anas, M.Ed dari Pusat Kurikulum Nasional. Putera asli ranah Minang ini, menyampaikan kesediannya melatih secara khusus 15 orang kepala sekolah selama 3 hari, agar nantinya bisa membantu mensukseskan dan mengimplementasikan kurikulum 2013. Diakhir acara nara sumber membagikan secara gratis buku karangannya yang berjudul Sekolah Untuk Kehidupan kepada seluruh peserta.




0 Komentar
Jika kota Payakumbuh “mau” merintis pelaksanaan pendidikan berbasis “kearifanlokal”, kita yakin akan terjadi perubahan nuansa pembelajaran di kelas. Kita kaya dengan “budaya lokal” yang mdnjadi sendi (bukan pilar) budaya nasional. Akan tetapi budaya lokal kita belum tergali secara implementatif. Budaya itu baru terbaca pada kulit-kulit luar untuk pemanis kata dan mempercantik citra, belum terkuak secara nyata untuk diimplementasikan. Hal itu akan jadi nyata, konkret, dan implementatif jika dimulai ari pembelajaran berbasis kearifan lokal.
Acungan jempol untuk SMA 1 Payakumbuh yang berani dan mau menggelitik berbagai kalangan menuju ke arah implementasi kearifan lokal dalam pembelajaran. Mudah-mudahan menjadi kenyataan.
Acungan jempol juga untuk salah seorang alumni terbaik SMA 1 Payakumbuh, Zulfikri Anas yang berkontribus “luas biasa” untuk mewujudkan itu. Terbukti dengan bukunya “Sekolah untuk Kehidupan, gagasan Awal untuk Berpikir Ulang tentang Sistem Pendidikan Kita dan Memahami Poisis Kurikulum”.
Selamat untuk Kota Payakumbuh, SMA 1 Payakumbuh, Zulfikri Anas, dan segenap elemen masyarakat yang berkontribus untuk mewujudkan impian hahahebat ini.
Zulkarnaini Diran
(praktisi, pemerhati, dan trainer pendidikan tinggal di Padang)