29 C
Padang
Senin, Juli 26, 2021
Beritasumbar.com

Pulang ke Rantau, Balik ke Kampung
P

Kategori -

Minggu terakhir bulan puasa hingga pekan pertama hari raya, kegiatan kita yang tinggal di kampung meningkat. Sebagian keluarga membersihkan rumahnya. Cat lama diganti. Pagar dan sofa dipugari. Demikian pula dengan aneka aksesoris ruang tamu. Sembari itu, aktivitas berbelanja pun meninggi dari hari-hari biasa. Hari raya akan tiba. Keluarga yang berada di rantau akan pulang. Tamu akan banyak. Makanya, perlengkapan kue demi kue dan aneka masakan khas hari raya mesti disiapkan.

Sebagian dari keluarga kita yang lain, yang tengah berada di rantau, sepanjang bulan puasa, dari pagi hingga petang memeras keringat, membanting tulang, menyiapkan sejumlah finansial untuk keperluan pulang kampung. Nah, Pulang kampung inilah yang ingin dibicarakan dalam tulisan ini. Mengapa pulang kampung itu penting? Untuk apa kita pulang kampung? Dan di mana kampung kita sebenarnya?

Ada dua ruang yang saling terkait ketika membicarakan pulang kampung ini. Ruang pertama bernama kampung asal; ranah kelahiran. Ruang kedua dikenal dengan rantau; tanah pencarian; tempat yang jauh dari kampung asal, di sana peruntungan diadu. Jadi, musabab pulang kampung ialah saat di mana seorang yang sudah lama berada di perantauan disergap kerinduan kembali menginjakkan kaki di kampung asal. Dalam lirik sejumlah lagu Minang, ranah tapian, kampuang mandeh, sering menjadi pemantiktaragak, rindu yang alang-kepalang mengusik jiwa. Merantau bukanlah untuk pergi dan hilang. Merantau mengandung tekad untuk suatu ketika akan pulang dengan warna hidup yang baru. Ayah dan ibu, adik dan kakak serta seluruh dunsanak dan orang sekampung akan dibuat bangga dengan keberhasilan si perantau. Jika peruntungan belum membaik, badan sedang melarat di rantau orang, kemungkinan besar, si perantau tidak akan pulang. Pulang tanpa warna keberhasilan dalam situasi ini menjadi aib, sesuatu yang memalukan. Jika keadaan badan sama saja dengan orang yang tinggal di kampung, apa artinya merantau?

Di sinilah letak pentingnya pulang kampung. Puncak pembuktian diri perantau terjadi ketika pulang kampung. Secara tidak langsung, akan terjadi ajang penguatan eksistensi antarperantau yang pulang. Akan ada tabiat berlomba-lomba menampakkan keberhasilan di perantauan. Orang di kampung diposisikan sebagai penyaksi yang menonton dengan bangga. Ota di lapau secara massif akan mengulas model-model keberhasilan sejumlah perantau yang dikategorikan “mandapek di rantau urang”. Pun tidak disisakan, siapa saja perantau yang masih tauncang, sedang jatuh tapai dan tidak bisa pulang di hari raya.

Untuk memuaskan hasrat eksistensi inilah pulang kampung menjadi kegiatan yang memiliki nilai tersendiri. Di ranah kebudayaan Minangkabau, tidak terdeteksi lagi, kapan tradisi merantau ini bermula. Gejala yang selalu tampak, setiap hari raya tiba, hanyalah keramaian yang gempita. Dapat disimpulkan, inilah saat-saat paling bahagia bagi seorang perantau sekaligus momen berharga bagi orang di kampung yang menanti.

Keramaian yang menggembirakan itu; kebersamaan yang dirindukan itu, biasanya tidak berlangsung lama. Standar waktu bagi perantau untuk betah di kampung paling lama satu pekan. Setelah sepekan berlalu, sanak saudara di kampung sudah mulai bertanya: kapan akan kembali ke rantau? Pada konteks inilah, sebuah pertanyaan muncul: di mana kampung si perantau sesungguhnya?

Bisa jadi, dengan sadar atau tidak, kita sesungguhnya tengah membalikkan makna pulang. Pulang hari ini bukan lagi ke kampung kelahiran, melainkan ke rantau. Ke kampung kita hanya untuk balik sejenak. Memutar ingatan masa lalu atau memberi penghargaan kepada ranah kelahiran. Setelah sanak saudara bertanya: kapan kembali ke rantau, tersirat pesan, bahwa kampung kita tidak patut kita huni bersama. Maka bersiap-siaplah kembali ke perantauan. Yang tahan tinggal di kampung hanya orang-orang yang kebal dengan “hujan batu”. Sementara, bagi anak-anak nagari yang tidak tahan dengan hujan batu itu, sebaiknya memang pergilah merantau. Di rantau orang, ada hujan emas yang menggiurkan.

Pertanyaan yang lain, yang juga sering muncul dalam lirik dendang saluang dan rabab, jika memang kampung itu penting, mengapa ditinggalkan? Benarkah dengan meninggalkan kampung itu artinya menampakkan sayang pada kampung, sayang jo kampuang ditinggakan? Inilah di antara cara berpikir di kebudayaan minang yang unik. Secara praktis, semestinya, jika memang sayang dengan kampung, berdiri dan tinggallah di kampung itu dengan kepala yang tegak. Bangunlah apa yang mungkin dan patut dibangun. Kembangkanlah segala potensi kampung yang ada. Gunakanlah pula segenap sumber daya untuk kemajuan kehidupan di kampung. Tagak kampuang paga kampuang.

Menghayati kampung perlu dibuktikan dengan eksistensi diri di realitas kampung. Bukan dengan pergi meninggalkan kampung itu. Merantau dalam pengertian ini sesungguhnya menutup kesempatan untuk terus-menerus menghayati kehidupan di kampung. Menyumbat pemahaman terhadap kehidupan seperti apa yang dicita-cita masyarakat di kampung. Merantau dalam pengertian mengisolasi diri dari kampung ini sepertinya harus dihentikan.

Apalagi bila muncul indikasi bahwa dengan keberhasilan di rantau lantas seseorang menjadi elit sosial yang dengan keberadaannya bisa saja membeli kampung asalnya? Status dan stratanya lebih tinggi dari orang yang tinggal di kampung. Setiap kali pulang kampung lebih banyak mencibir dengan sudut bibir yang miring. Mengumbar klaim demi klaim yang merendahkan kualitas kehidupan di kampung. Tidak sampai di situ, ketika klaim terhadap keadaan kampung yang buruk itu menguat, perantau elit itu menyatakan ketertarikannya untuk membantu. Dirinya dibutuhkan untuk memperbaiki keadaan. Setelah ia membantu, secara tersirat, orang kampung diminta mengelu-elukan tentang Si Anu yang telah pulang membawa keberhasilan.

Pada akhirnya, apapun yang terjadi di seputar konteks merantau dan pulang kampung ini, suasana kemenangan di hari raya tidak patut pula di rusak. Mari bergembira. Selanjutnya, kita tetap saja akan berhadapan dengan jutaan kepala yang sepanjang kehidupannya akan bersilang-pintang dari kampung ke rantau dan dari rantau ke kampung. Ini akan selalu menandai pergerakan kebudayaan Minangkabau. Tinggal menyuling inti dari pemaknaan kampung halaman dan tanah perantauan. Bagaimana potensi keduanya di padu-padankan dengan budaya kekinian di Minangkabau.

Jika tidak demikian, makna pulang kampung akan jadi dangkal. Potensi merantau pun hannya akan menjadi keramaian sesaat. Setelah interaksi terjadi, terutama ketika berkumpul di hari raya, setiap kepala itu kembali lagi ke kesunyiannya masing-masing. Tidak akan pernah ditemukan kearifan budaya, untuk apa kampung ditinggalkan? Merantau tidak lagi menampakkan visi membangun kampung. Lebih sumbang maknanya ketika pulang itu tidak lagi ke kampung kelahiran, melainkan ke tanah perantauan. Padahal, jika dibongkar sebongkah lagi, kita di bumi Tuhan ini sesungguhnya sedang sama-sama merantau. Kampung halaman kita sama, sehamparan surga di kampung akhirat. Kiranya, berhari raya menyentuh pemaknaan yang satu ini. Paling tidak, pikiran kita sama- sama tertuju pada kepulangan yang sesungghnya itu. Selamat Berhari Raya. Mari berbagi maaf lahir dan batin. (*)

oleh: @zelfeniwimra

8yldGif2

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

HUT Adhyaksa, Ini Capaian Kinerja Kejari Sijunjung

Sijunjung, beritasumbar.com - Kejaksaan Negeri (Kejari) Sijunjung, Sumatera Barat meraih beberapa keberhasilan dalam menggungkap berbagai kasus dan penyelamatan uang negara, sedikitnya ada Rp.4,5 miliar...
- Advertisement -

Khutbah Arafah Di Masjid Namirah

Khutbah Arafah dari Masjid Namirah tanggal 9 Dzulhijjah 1442 Hijriyyah/19 Juli 2021 Masehi disampaikan oleh Fadhilatu Syaikh Dr. Bandar bin Abdul Aziz Balilah Hafizhahullah (semoga Allah menjaganya).

Seluruh Jajaran ASN Kankemenag Kota Padang Panjang Ikuti Takbiran Virtual

Padang Panjang, BeritaSumbar.com,_Kakankemenag Kota Padang Panjang H. Gusman Piliang, beserta seluruh jajaran ASN Kankemenag Kota Padang Panjang mengikuti Semarak Malam Takbiran Idhul Adha Virtual bersama Presiden Republik Indonesia, Senin (19/07/2021) Pukul 19.30 Wib secara Virtual via Zoom Meeting, Channel You Tube, Tv Nasional, dan Medsos Kementerian Agama Republik Indonesia
- Advertisement -

Kakankemenag Padang Panjang Pimpin Sosialisasi Pemutakhiran Data Mandiri Melalui Aplikasi MySAPK BKN

Padang Panjang,BeritaSumbar.com,_Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang Gelar Kegiatan Sosialisasi Tetang Pemutakhiran Data Mandiri Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui Aplikasi MySAPK BKN di Aula Kankemenag Kota Padang Panjang, Senin (26/07/2021)

Paket Tender Solok Selatan Rp299,2 juta Tanpa Ada Penawar

Padang Aro, beritasumbar.com - Satu paket tender di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dengan Pagu dan Rp299,2 juta dinyatakan gagal karena tidak ada penawaran...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Mengenal Politik Praktis & Pragmatisme

Dalam praktik perebutan maupun mempertahankan sebuah kekuasaan Politik Praktis dan Pragmatisme seolah menjadi dua hal yang sulit dipisahkan, khususnya di negara Demokrasi seperti Indonesia.

Filosofi Lidi

Dari filosofi pohon kelapa yang sangat banyak manfaatnya, bahkan hampir seluruh bagian tanaman kelapa tersebut memberi manfaat untuk kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna tentu seharusnya juga memberi manfaat dan berperan menjaga bumi dan lingkungan setelah mengambil manfaat untuk kehidupan. Sesuai juga dengan perintah Tuhan dalam ajaran agama bahwa tujuan Tuhan menurun-kan manusia ke muka bumi ini adalah untuk beribadah dan berbuat yang bermanfaat.

Raih Keridhaan Allah melalui Etos Kerja

Dalam Manajemen Pendidikan Islam, etos kerja (semangat/motivasi kerja) dilandasi oleh semangat beribadah kepada Allah Swt. Maksudnya, bekerja tidak sekedar memenuhi kebutuhan duniawi melainkan juga sebagai pengabdian kepada Allah Swt,

Rugi Rasa Untung

Apakah beberapa fenomena terbalik yang terjadi ditengah masyarakat bangsa ini atau mungkin juga ditengah masyarakat dunia adalah pertanda bahwa kiamat sudah dekat ? Wallahu a’lam bishawab hanya Allah pencipta langit dan bumi yang tahu persis.

Mengatur Konflik dengan Teknik Mind Mapping

Konflik. Ketika kita mendengar kata itu, kebanyakan orang akan membayangkan seperti perang, rusuh, gontok-gontokan, atau orang yang berkelahi antarkampung. Tidak, sebenarnya konflik bisa dimulai dari sesuatu yang kecil. Kalau menurut psikologi, konflik itu bisa dimulai dari ketika kita merasa ada perbedaan, entah perbedaan pendapat atau perasaan tentang sesuatu hal.

DPW PTPI Sumbar Buka Bimbel & Bimtes CPNS 2021 Online

Dewan Pimpinan Wilayah Perkumpulan Trainer Profesional Indonesia Wilayah Sumatera Barat (DPW PTPI Sumbar) resmi membuka kegiatan Bimbingan Belajar (BIMBEL) dan Bimbingan Test CPNS 2021...

BUMN Berburu di Kebun Binatang

Sangat menarik menyimak perjalanan PT POS Indonesia sebuah perusahaan BUMN yang pionir dalam bidang jasa pengiriman barang dan serta pengiriman uang dalam bentuk wesel.

Kita Pancasila

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki komitmen dan memahami buah pemikiran dan cara pandang hidup yang disarikan para pendiri bangsa. Mereka telah membuat rumusan atau intisari yang digali dari jiwa bangsa ini, dari ruh bangsa ini, dari sikap hidup bangsa ini, yang berbhineka dan penuh nilai-nilai luhur.

Menanamkan Pendidikan Karakter Kepada Anak Sejak Dini

Pendidikan karakter memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan dan sangat menarik untuk diteliti, terutama karena pendidikan karakter berorientasi pada pembentukan karakter siswa.

Pentingnya Penggunaan Dan Pemanfaatan Teknologi Ditengah Pandemi

Pandemi covid 19 merupakan tantangan bagi kita sampai saat ini bagaimana kita menyikapinya dalam melaksanakan berbagai kegiatan. Mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, politik, sosial dan lainnya. Seluruhnya merasakan dampaknya.
- Advertisement -