Selain sepak bola dan hari raya kontestasi politik adalah hal yang “prestius” di negeri ini. Tentunya kita masih ingat bagaimana pemilihan Presiden dan wakil Presiden memecah suara rakyat Indonesia menjadi cebong dan kampret. Namun Euforia tersebut belum diiringi dengan kualitas politik yang serupa. Politik kita masih diwarnai dengan hujatan dan caci maki bukan argumentasi yang memiliki bobot tinggi, kemelekan rakyat yang masih rendah akan politik. Terlihat dari ketidak tahuan rakyat dengan orang yang akan dipilihnya. Sehingga penggiringan opini merupakan senjata ampuh untuk mendulang suara. Walaupun berujung perpecahan.

Indonesia akan melaksanakan Pilkada serentak yang sejatinya diadakan pada 23 September 2020. Namun akibat pandemi Covid 19 diundur menjadi tanggal 9 Desember 2020. Tercatat ada 270 Pilkada yang akan dilaksanakan pada 9 Desember 2020 nanti. Dengan rincian 9 Provinsi (Pemilihan Gubernur), 224 kabupaten (Pemilihan Bupati), dan 37 kota (Pemilihan Wali Kota). Salah satunya adalah Sumatera Barat. Sumatera Barat akan melaksanakan Pemilihan Gubernur dan wakil gubernur. Hawa persaingan menuju kursi nomor satu di Sumatera Barat telah mulai menggeliat. Spanduk dan baliho telah mulai menjejali setiap sudut ataupun tepi jalan raya. Beberapa kandidat pun telah dimunculkan. Mulai dari Wali Kota dua periode Kota Padang, Mahyeldi hingga Mantan Kapolda Sumatera Barat, Fakhrizal yang maju dengan jalan independen.

Rakyat Sumatera Barat tentunya menginginkan pemimpin yang dapat membawa Sumatera Barat ke arah yang lebih baik. Rakyat tentunya tidak hanya membutuhkan janji dan omong kosong politik. Melainkan perubahan nyata untuk kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat. Namun, hal ini juga tidak bisa terlepas dari rakyat sendiri. Seberapa kenal rakyat dengan calon pemimpin mereka.

Lebih dari itu untuk menyukseskan penyelenggaraan Pilkada harus melibatkan partisipasi dari seluruh elemen. Mulai dari masyarakat, akademisi, dan tentunya politisi itu sendiri.

Dalam Pilkada kali ini terdapat beberapa kandidat kuat. Mereka adalah Mahyeldi (Wali Kota Kota Padang), Riza Pahlevi (Wali Kota Kota Payakumbuh), Fakhrizal (Mantan Kapolda Sumbar), Mulyadi (Ketua DPRD Sumbar). Kalau dilihat dari nama-nama tersebut yang akan menjadi menjadi kandidat adalah putra-putra terbaik Minangkabau. Tentunya ini menumbuhkan harapan bagi masyarakat Sumatera Barat. Namun, bukan politik namanya kalau tidak diwarnai intrik. Seringkali loyalitas dikalahkan oleh kepentingan di lingkaran kekuasaan.

Mahyeldi Ansharullah adalah wali kota padang dua periode. Pria kelahiran bukittinggi ini telah lama malang melintang dalam dunia politik. Sempat menjadi wakil ketua DPRD Sumatera Barat periode 2004-2009 dan menjadi wakil wali kota padang periode 2009-2014. Mahyeldi terpilih sebagai wali kota kota Padang pertama kali pada 2014 silam dan kembali terpilih pada pemilihan wali kota kota Padang 2019 lalu. Ini menandakan dalam kurun 15 tahun terakhir mahyeldi berada di puncak kkekuasaan. Baik legislatif maupun ekaekutif. Selama menjabat sebagi wali kota padang pemerintahan Kota Padang menyabet kurang lebih 30 penghargaan dari instansi pemerintah dan non-pemerintah. Mengingat rekam jejak mahyeldi tidak heran kalau dia di dapuk sebagai salah satu kandidat terkuat. Namun hal ini tetap bukan sdbuah jaminan. Tentunya memerintah satu kota berbeda dengan memerintah satu provinsi.

Riza pahlevi, sama dengan mahyeldi. Riza saat ini sedang menjabat sebagai wali kota Payakumbuh periode ke dua setelah kembali terpilih pada pemilihan wali kota kota Payakumbuh 2017 lalu. Riza pun merupakan kader dari Partai Keadilan Sehahtera (PKS).

Selanjutnya adalah Fakhrizal. Beda dari kandidat lainnya, Fakhrizal tidak memiliki rekam jejak pada dunia politik sama sekali. Terakhir Fakhrizal menjabat sebagai Kepala Polisi Daerah (KAPOLDA) Sumatera Barat. Fakhrizal mengundurkan diri dari jabatannya pada 6 Desember 2019 lalu. Kemudian digantikan oleh Irjen. Pol. Toni Harmanto. Menjelang Pilkada serentak 2020, Fakhrizal mendeklarasikan diri untuk maju pada pemilihan Gubernur Sumatera Barat nanti.  Dikabarkan Fakhrizal akan maju dari jalur Independen.

Ir. H. Mulyadi merupakan anggotaDPR RI yerpilih dalam 3 periode terakhir. Pada periode 2019-2024 ia oleh partainya Demokrat , ditempatkan pada kpmosi V DPR RI. Pada tahun 2018 silam Mulyadi sempat diperiksa oleh Komisi Pemeberantas Korupsi (KPK) berkaitan dengan kasus korupsi pengadaan KTP Elektonik (e-KTP). Mengutip wikipedia Mulyadi pada Pemilu 2019, tercatat sebagai caleg DPR RI dengan perolehan suara terbanyak di Sumatera Barat, yakni 144.954 suara.

Juga segelintir kandidat lainnya turut mencuat. Selain mempunyai kandidat-kandidat yang memiliki potensial yang tinggi dalam Pilgub kali ini; Sumatera Barat juga tercatat sebagai Provinsi yang memiliki partisipasi yang tinggi dalam pemilu 2019 lalu. Angkanya menyentuh 79,6 %. Dengan semua ini tentunya diharapkan kesuksesan dalam penyelenggaraan Pilgub pada 23 September mendatang. Kesuksesan Pilkada adalah kesuksesan rakyat. Maka dari itu, tolak ukur dari kesuksesan dalam penyelenggaraan Pilkada tidak bisa berhenti pada terpilihnya Gubernur baru semata. Tapi juga diukur dari seberapa berdaulat rakyat Sumatera Barat dengan terselenggaranya Pilgub tersebut.

Nama: Daniel Osckardo

Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Imam Bonjol Padang

 

loading...