26.1 C
Padang
Jumat, Oktober 22, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

TAN GINDO; DALAM DILEMA KEHIDUPAN
T

Kategori -
- Advertisement -

“Sudah jatuh tertimpa tangga,
dibunuh anak mati induknya, dibunuh induk mati anaknya,
begitulah masalah kehidupan mejadi dilema
maka ambil lah hikamah dan kebijksanaan
karena dia hanya seperti dua sisi mata uang
ketika kita pandai mensyukurinya
dia pasti menjadi sebuah kemuliaan
jadi, tak usah risau karena dilema
karena pasti ada maksud dari sang pencipta”

Salah satu hari yang paling menyenangkan disaat kesibukan bekerja jauh dari keluarga adalah “betapa indahnya bertemu anak, istri, sanak dan saudara di musim cuti” meski kenyataanya Tan Gindo mesti masih harus membawa sebagian pekerjaan dan tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan dilapangan. Ternyata waktu 10 hari yang telah disepakati belum terasa cukup untuk berlibur dikampung halaman “duhai memang jauh terasa Pontianak – Jakarta – Padang, padahal hanya tinggal duduk dan terbang saja” ungkap Tan Gindo dengan ungkapan sendu. Apalagi berbagai tanggung jawab selaku anak, ponakan bahkan sudah dianggap seorang mamak dalam keluarga besar dipesukuan Melayu di Minangkabau jua harus dilakukan. Itulah kenyataan yang tak bisa dihindari dalam hidup Tan Gindo “begitu banyak persoalan kehidupan bak tumpukan sampah yang berserakan ditengah rumah” ungkap Tan Gindo merenung.

Ditengah cuti tiba-tiba dikejutkan oleh pesan WhatsApp Kang Sukma seorang rekan kerja “Tan, mohon maaf kita mungkin tidak bertemu lagi jika ente kembali kelapangan karena saya harus undur diri dari kontrak kerja” begitu bunyi pesan singkat seperti petir disiang bolong. Untungnya saja Tan Gindo sudah siap menutup gendang telinganya dan tak begitu terkejut mendengar dentumannya. “Oke kang, saya sudah mendengar gelagat tak enak kemarin dari info lapangan, hanya saja tidak menyangka secepat itu kenyataanya” ujar Tan Gindo menenangkan hati. Sambil berkelakar Tan Gindo hanya berpesan “Yah, setidaknya saya kehilangan teman untuk ngudut dan ngopi bareng” ujar Tan Gindo dengan icon ketawaan di pesan WhatsAppnya.

Jauh dari lubuk hati Tan Gindo, seperti ada sebuah sesal, meski tanggung jawab adalah di wilayah desa masing-masing namun secara tim kerja bisa memiliki pengaruh yang kuat atas pencapaian target pekerjaan “saya mungkin turut andil atas kondisi ini, meski tidak secara langsung, setidaknya mungkin selama ini si Akang kurang merasa dapat dukungan rekan yang bisa saling mendukung” ujar Tan Gindo membathin. Begitu jualah realitas menjadi seorang mitra yang sama punya atasan yang sama, ada sebuah pilihan dan kewenangan yang diluar kendali meski kadang merasa dalam kondisi tertentu juga mendapatkan keputusan seperti tampa ruang pengadilan. Ibarat “menantang matahari” dalam perusahaan memang jika tidak kuat melawan cahaya harus tunduk pada langit-langit kebijakan.

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 10; Ustadz Guru; Sang Komandan

Seperti biasa jika sebuah semangat sudah mulai terpukul lagi, biasanya akan ada pukulan lain selain dari pada kejadian tersebut. Berturut-turut dalam keluarga inti dan masalah sanak saudara dikampung halaman juga harus hadapi, sampai-sampai bocah kelima dari enam saudara berkata “ayah, janganlah kerja jauh-jauh lagi, sinilah sama kami” ujar Naira, si cewek kecil yang paling cerewet. Betapa terhenyak Tan Gindo mendengar ucapan itu, namun karena sebuah keputusan Tan Gindo hanya berdoa membathin “ya Allah, jangan biarkan anak-anak ku marah dan dendam pada ayahnya yang jarang bersama mereka”. Semoga ini seperti jalan Nabi Ibrahim kepada Ismail yang juga lama meninggalkan anak-istrinya di gurun pasir tanah Arab dulunya.

Musim cuti yang terasa pendek habis sudah, dan sempat tertahan dalam perjalanan 4 hari 3  malam di perjalanan karena urusan prosedur Covid-19 yang mengharuskan persyaratan khusus untuk masuk ke Kota Pontianak “entah sampai kapan kita menjadi tuan dinegeri sendiri wahai Indonesiaku” ujar bathin Tan Gindo menggugat. Ketika sampai di lapangan ternyata benar adanya, dilangit-langit Mempawah terasa mendung dan sudah menunggu setumpuk persoalan membuat Tan Gindo sedikit melamun panjang hingga melahirkan puisi barunya;

….……………………………..

Mendung lagi di Mempawah

kala itu..
dibumi Mempawah, bumi Borneo
sebuah mentari baru saja naik
seberkas cahaya bersinar terang
sayang, sepertinya tak terasa lama
awan gelap itu kembali datang
mendung seolah sebentar lagi hujan
dari arah yang tak terduga
padahal…
aku baru saja hadir
membawa setumpuk gelora
membara, bak penunggang kuda perang
berkilau, tak pernah padam
itu karena aku adalah emas
bukan besi yang berkarat
tak takut hujan bahkan bergaram
aku melebur bukan terlebur
aku mewarnai bukan diwarnai
aku merasakan bukan perasa
aku bekehendak bukan kehendak
semua hanya karena kuasa Allah
aku berada dan ada disini
tak peduli, apapun yang akan terjadi
hingga pada waktunya
pulang, pergi, datang dan kembali..

……………………………….

Akhirnya Tan Gindo kembali teringat massa lalu yang penuh dilema dalam menghadapi masalah massa lalunya, terutama ketika harus menghadapi aksi demonstrasi besar-besaran mengahadapi kebijakan sang Rektornya ditahun 2004 silam. Pada mulanya tak tahu apa sikap apa yang harus diambil ketika dihadapkan pada beberapa persoalan sekaligus dalam hidup. Mungkin itu juga hikmahnya pembelajaran massa lalu yang telah terjadi dan tak boleh dianggap remeh dalam kehidupan berikutnya sehingga selalu siap dalam menghadapi persoalan yang kurang lebih serupa tapi tak sama dalam berbagai tantangan. Saat itu Tan Gindo adalah sebagai pimpinan Unit Kegiatan Kampus WP2SosPol (Wadah Pusat Pengkajian Sosial Politik) yang memiliki fungsi sebagai sebuah lembaga kontrol dan pengawasan sekaligus pemberdayaan bagi berbagai aktivitas kebijakan mahasiswa dan kampus dalam menjalankan “trias politika” dari dalam kampus Universitas Negeri Padang.

Kala itu Prof. Mestika Zed (alm) masih sehat wal-afiat dan energik; disamping beliau sebagai Direktur PKSBE Unversitas Negeri Padang juga merangkap sebagai Pembina WP2SosPol dan salah seorang tokoh senator yang idealis, cerdas, berani dan disegani. Tak heran Tan Gindo selalu konsultasi dengan Pembina ketika banyak persoalan kampus yang ditemui. Sebagai salah satu wadah yang dilahirkan oleh para tokoh Reformasi mahasiswa 1998; advokasi terhadap kebijakan sosial pilitik mahasiswa dan kampus memang selalu menjadi sorotan serta issue seksi WP2SosPol semenjak berdirinya.

Mulai dari statuta perguruan tinggi hingga ruang hukum dalam pemerintahan sudah pasti menjadi rujukan dan acuan dalam berbuat. Ketika masalah aksi mahasiswa “menggugat keputusan rektor” terjadi; Tan Gindo dihadapkan pada posisi dilema, apakah diam atau mesti begerak maju untuk melangkah jauh melawan ketidak-adilan. Sungguh sebuah keputusan yang berat. Tan Gindo harus menjalankan amanah selaku pimpinan atau hanya menjadi seorang pemimpin yang pecundang, penjilat dan “lebay” saja dengan situasi yang terjadi.

Sebenarnya pemicu peristiwa aksi memang karena persoalan politis saja yakni “adanya proses pengangkatan pembantu Rektor 1, 2 dan 3 pasca pelantikan bapak Prof. Z. Mawardi Efendi sebagai Rektor Universitas Negeri Padang yang beberapa bulan terpilih dan dilantik melalui musyawarah di senat perguruan tinggi”. Namun kebijakan tersebut menurut kajian WP2SosPol UNP yang dipimpinan Tan Gindo sudah tidak etis dan mengorbankan nilai-nilai moral selaku insan akademis.

Menurut statuta Perguruan Tinggi yang berlaku pada tahun 2004 itu adalah memang otoritas selaku Rektor untuk mengangkat para pembantunya sehingga dikeluarkanlah 2 paket calon Pembantu Rektor 1, 2 dan 3, kemudian 2 paket tersebut kembali diserahkan kepada Senat Perguruan Tinggi untuk segera diputuskan melalui suara terbanyak. Intinya siapapun yang terpilih pada etiknya tidak menjadi persoalan bagi sang Rektor karena sudah merupakan pilihan beliau sendiri. Paket satu adalah atas nama bapak Dr. Phil. Yanuar Kiram dkk  dari Fakultas Olah Raga (FPOK) dan satu lagi atas  nama bapak Dr. R Candra dkk dari Fakultas Teknik (FKT) Universitas Negeri Padang.

Dalam prosesnya di senat perguruan tinggi akhirnya memenangkan pihak bapak Dr. R Candra dkk, namun kenyataanya yang di angkat oleh Rektor kemudian adalah pihak yang kalah setelah dipilih oleh Senat Perguruan Tinggi yakni an. Bapak Dr. Phil. Yanuar Kiram dkk. Dalam proses tersebut WP2SosPol selaku lembaga mahasiswa dan unsur yang tidak terpisahkan dalam perguruan tinggi jelas adalah dalam posisi dalam mengamati dan mengawasi proses berjalannya pemilihan tersebut hingga akhir membuat dunia kampus geger dan bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi.

Kajian demi kajian kemudian dilakukan dari pintu ke pintu hingga dalam diskusi kecil dan besar serta mendatangi para pihak. Sengketapun mulai terjadi di Senat Perguruan Tinggi sebagai aktor utama, ketegangan terjadi dari setiap jurusan dan fakultas hingga dosen dan mahasiswa. Para senior senator kampus mulai dari paling senior hingga senator baru dibuat terkejut dan bersiteru sampai diruang terbuka dan mulai memperlihatkan cara-cara yang tidak sehat selaku insan pendidikan.

Issue demi issue mulai seleweran tidak menentu, para pemain politik kampus yang berkepentingan tidak mau kalah serta ingin mendapatkan pengaruh dan keuntungan pribadi mulai mencari kekuatan hingga pada tingkat aktivis mahasiswa. Fitnah, ancaman hingga iming-iming jatah Dosen bagi sebagian aktivis penggerak pun mulai menjadi fakta yang tidak terbantahkan ditemukan; bahkan Tan Gindo sendiri mendapatkan tawaran dan kondisi serupa, “Tan, kalau kamu mau jadi dosen berhenti untuk demo saat sekarang juga” ujar seorang Dosen. Info serupa juga diterima Tan Gindo dari beberapa Senator senior dan terbukti beberapa orang aktivis bahkan Ketua BEM-UNP aktif semasa itu akhirnya tak lama pasca kejadian memang menjadi Dosen dan menjilat komitmenya akan menyelesaikan massa jabatannya ternyata mundur ditengah periode kepengengurusan.

Satu-persatu aktivis nasi bungkus dan pragmatis mulai ambil kesempatan dan kesempitan, wajar sebagian ada yang banting stir dalam memperjuangkan kebenaran dan ambil peluang pragmatis serta sebagian lain tetap bertahan dalam idealismenya. Sementara kelompok aktivis “kiri”pun mulai ambil bagian dengan berbagai issue yang menurut mereka harus digoreng dan dimakan dalam setiap kesempatan. Bersyukur Tan Gindo bersama tim ada yang bertahan tetap bergerak secara sistematis dan terukur hingga akhirnya aksi besar-besaran terjadi diakhir Februari 2004.

Lalu, terjadilah tindakan anarkis yang tidak dapat terhelakkan dan memutarbalikkan gerakan yang demikian bermoral, harmonis dan tersusun rapi. Aksi tersebut dinodai dengan tindakan anarkis yang katanya pejuang demokrasi; dalam aksi tersebut menghancurkan seluruh kaca bangunan utama Rektorat UNP dan disenyalir rugi dua ratusan juta lebih. Aksi besar pertamapun di akhir Februari 2004 tersebut berjalan tampa ada korban mahasiswa dan belum ada aktor yang tertuduh, namun jelas Tan Gindo sebagai penggerak utama menjadi sorotan tajam selaku pemimpin aksi dan digiring tertuduh berbuat anarkis.

Beruntung Tan Gindo dan tim yang menamakan barisan Froum Aksi Demokrasi Arus Bawah Universitas Negeri Padang (FDAB-UNP) waktu itu bisa cepat mendapatkan fakta bahkan bukan biang pelaku dan tidak bisa diproses karena semua hanya skenario dari pihak pendukung Rekotrat terutama pihak yang diuntungkan. Dengan cara memancing kemarahan mahasiswa dan ada pihak yang bermain dari dalam rekorat sendiri. Pihak tersebut jelas telah didukung oleh sebagian kecil aktivis Mahasiswa yang dalam posisinya juga memihak koleganya yang mencari keuntungan “ibarat menangguk ikan di air keruh”. Pasca kejadian tersebut malah Tan Gindo dan tim berhasil mendapatkan pengakuan aktivis pembela rektor bahwa mereka diperalat dan diminta untuk melangsungkan niat kotor untuk merusak pergerakan FPDAB-UNP yang awalnya berjalan damai.

Pada mulanya dilema berasal dari tubuh interal WP2SosPol selaku aktor gerakan dikalangan mahasiswa, seorang senior dalam WP2SosPol mulai melakukan maneuver karena kebetulan dia adalah aktivis yang berasal dari FPOK dimana pihak yang dianggap yang menjadi pemicu terjadinya persoalan perebutan kekuasaan di dalam kampus UNP. Dari dalam unit kegiatan kampus sendiri dia mulai mencari pengaruh dan memecah gerakan FPDAB-UNP dengan menebarkan pemahaman yang tidak semestinya dia lakukan selaku senior dan harusnya menjadi contoh bagi para junior.

Gerakan pragmatis dan melemahkan semangat kritis para aktivis mahasiswa mulai dilakukan mereka bahkan setiap gerakan FPAB-UNP dimata-matai dan kemudian disampaikan kepada pihak Senator pendukung kebijakan dan tampa malu-malu mulai melakukan permainan “bermuka dua” dengan pihak penguasa kampus. Tepatnya tanggal 4 Maret 2004 terjadi aksi tandingan dari Mahasiswa pendukung Rektorat yang menamakan diri mereka Mahasiswa Pendukung Rektor; jumlah mereka tidak terlalu banyak seolah menjadi pihak yang mendukung Rektorat dan mendukung kebijakan yang telah dinilai tidak etis dan mempertontonkan kebobrokan perguruan tinggi di depan publik serta memperlihatkan permainan politik kotor.

Aktivis pendukung Rektorat ini adalah mereka yang telah mengaku ditekan dan diminta untuk memainkan peran sebagaimana yang telah di infestigasi tim FPDAB-UNP. Dalam aksi tersebut FPDAB-UNP dan para pendukung rekotorat, mulanya tim FPDAB-UNP tidak begitu mempersoalkan mereka yang bertentangan karena itu adalah juga bagian dari hak teman-teman aktivis mahasiswa untuk berpendapat berbeda meski sangat disesalkan mereka berpihak dalam posisi yang salah dan hanya mencoba menyelamatkan diri disebabkan oleh karena tekanan pihak Rektorat.

Melalui konsolidasi antar aktivis mahasiswa baik dan yang pro dan kontra; Tan Gindo semula berhasil menggiring kesepakatan aksi agar berjalan damai antar para demostran serta tidak ingin bentrok  atau diadu domba oleh pihak Rektorat sehingga sama sekali tidak ada niatan untuk berhadapan dilapangan. Kebetulan aktivis FPDAB-UNP ditanggal yang sama bersepakat juga akan melanjutkan aksi serupa berharap bapak Rektor sadar dan mengakui kesalahannya serta kembali pada jalan yang benar sebagaimana tuntutan aksi yang telah dilayangkan. Kekuatan massa FPDAB-UNP jelas mendapat dukungan yang luas dari pada senator dan para dosen yang menjungjung tinggi nilai-nilai moral dan akademis bukan memihak permainan politik yang tidak etis bahkan terkesan kotor.

Sampailah pada akhirnya ketika itu aksi FPDAB-UNP berhadapan dengan gerakan pendukung Rektor di halaman kantor rekotrat UNP. Namun fakta dilapangan akhirnya berbeda, pendukung Rektor kembali mencoba memancing kerusuhan di depat rektorat UNP serta diketahui ternyata mereka sudah tidak dalam keadaan waras dan normal. Sebagian besar tim pendukung Rektor bau mulut mereka sudah tercium alkhol dan berkemungkinan juga menggunakan obat penenang lainnya serta bertindak diluar kendali.

Sontak Tan Gindo bersama tim aksi FPDAB-UNP juga terpancing emosi dan tidak terima dengan keadaan tersebut. Dibelakangan hari diceritakan oleh para teman-teman mata Tan Gindo berwarna merah padam dan tidak seperti Tan Gindo yang tenang dalam menghadapi aksi-aksi sebelumnya “bak kesetanan dan kehilangan kendali”. Jelas, Tan Gindo seperti sudah digerakan oleh kekuatan lain, namun pada dasarnya kemarahan Tan Gindo bukan pada rekan-rekan mahasiswa tandingan pembela Rektor tapi sudah menghujam pada para Senator dan Dosen pendukung Rektor yang sudah terang-terangan memperalat mahasiswa untuk kepentingan politik mereka.

“Kurang ajar kalian wahai guru bangsa, kalian tidak punya otak dan martabat” ujar Tan Gindo menggila. Mahasiswa seolah hanya dijadikan senjata atau tumbal kekuasaan serta membiarkan aktivis mahasiwa dengan minuman keras dan kerusakan mental lainnya. Seketika terjadilah keributan besar dan tindakan anarkis kembali “traaaang, doaaar…” sebuah benda yang tidak diketahui melayang ke pintu rektorat sebagai pelampiasan kemarahannya, kaca rekotrat yang baru saja diganti tak lama setelah pasca aksi besar-besaran saat itu kembali pecah berderai, belakangan diketahui ada sebuah batu menjadi alat bukti dipengadilan. Padahal entah ya atau tidak, namun ada satpam rekotrat berani jadi saksi yang memberatkan para aktivis. Belakangan ada yang mengaku dibayar dan di ancam paksa untuk menjadi saksi, begitu juga info intel serse Polres Kota Padang sesaat kami diantar ke meja pesakitan.

Dihari naas tersebut akhirnya Tan Gindo dengan 2 orang rekannya “Doni” dan “Eka” yang secara faktual terlihat langsung di amankan oleh pihak yang berwajib dan langsung digiring ke kantor polisi dan ditahan disana selama seminggu dan kemudian akhirnya terpaksa di titipkan di ruang tahanan Muara Padang selama lebih kurang 3 bulan kurang 5 hari karena alasan Pemilu 2004. Kemudian aksi bukannya terhenti oleh karena tertangkapnya 3 orang aktivis tim FPDAB-UNP, tapi semakin menggila dan entah kenapa kembali mengambil jalan yang naif; berturut-turut setelah peristiwa naas tersebut aksi anarkis kembali berulang dan berulang sampai berjumlah 20 orang terpaksa ditahan dipenjara.

Dari dalam sel tahanan Tan Gindo sempat juga mendengar target panglima FPDAB-UNP yang baru adalah 100 aktivis mahasiswa akan siap mengorbankan diri mereka untuk menyusul rekan-rekan mereka yang tertahan di kepolisian. Namun kemudian hanya terhenti dan mereka bertemu kembali di Lapas Muara Padang dalam satu ruangan yang sama pada hari 2 minggu kemudian. Akhirnya satu ruangan khusus di lapas Muara Padang hanya ditempatkan bagi aktivis mahasiswa yang terduga anarkis berada dalam ruang dan waktu yang sama. Belakangan mereka menamakan diri mereka sebagai aktivis lingkar 20 untuk mengenang massa-massa sulit disaat itu sebagai sebuah rasa senasib dan sepenanggungan akibat aksi tersebut.

Begitulah kejadian tersebut membesar dan berlalu hingga akhirnya para Senator FPDAB-UNP ternyata terpaksa mengendorkan dan memilih jalan mundur untuk sebuah kemenangan kelompok Rektorat yang berkuasa. Diketahui karena akibat 20 mahasiswa yang tertahan dan harus di adili diruang persidangan menjadi alat pemukul yang efektif bagi pihak rektorat untuk mempertahankan kekuasaanya hingga kasus tersebut ditetapkan oleh Mentri Pendidikan Abdul Malik Fadjar (10 Agustus 2001 s/d 20 Oktober 2004) melegitimasi kebijakan rekotrat yang telah dinilai merusak nilai-nilai etis dan akademis di unversitas.

Belakangan Tan Gindo mendapatkan informasi resmi memang skenario yang dimainkan pihak rekotrat memang demikian adanya “jauh hari foto Tan Gindo dan beberapa tim inti FPDAB-UNP memang sudah terpajang di meja salah satu petinggi pembantu rektor terpilih untuk menjadi target dibully, ditekan, diadu domba, difitnah dan dipenjarakan jika diperlukan melalui berbagai praktik licik kekuasaan yang telah mereka kendalikan. Apalagi perjuangan FPDAB-UNP dari dalam penjara sempat melakukan “cap darah” agar perjuangan menegakkan kebenaran terus bisa dilajutkan dari dalam kampus (26 April 2004) sehingga menjadikan aksi tersebut semakin memanas.

Secara langsung memang aksi FDPAB-UNP tak ada hubungan dengan proses perkuliahan Tan Gindo dan rekan aktivis, begitu juga untuk kepentingan pribadinya. Hanya semata-mata terkait dengan semangat dan moralitas terhadap perubahan yang sedang diusung pada pasca Reformasi. Sebagai produk keluaran demonstran 1998 tentu kridibilitas Tan Gindo sangat dipertanyakan jika persoalan tersebut ditindak lanjuti. Apalagi selaku kader Pelajar Islam Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Islam; kebenaran harus selalu dijunjung tinggi sebagai pilihan utama. Itulah akhirnya yang menjadi dasar pijakan berfikir Tan Gindo kemudian berani maju digaris depan untuk mengorganisir massa yang akhirnya mencapai dua ribuan pendukung turut aksi didepan rektorat silam sekaligus harus menerima kenyataan yang ada.

Dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman yang telah dilatih oleh para senior, Tan Gindo dan tim FPDAB-UNP bergerak melakukan pengorganisasian issue mulai dari kajian-kajian khusus secara teori, empiris berdasarkan peraturan dan perundangan, aksi-aksi secara strategis dan taktis dari orang ke orang, aktivis ke akvitis, dari satu wadah Unit kegiatan kampus ke wadah lainnya hingga turun ke fakultas-jurusan di Univesitas Negeri Padang secara simultan. Pergerakan FPDAB-UNP begitu terlihat rapi dan apik sehingga sempat mendapat dukungan berbagai pihak bahkan sampai mengidentifikasi kekuatan sampai ketingkat Senat Perguruan Tinggi selaku pengambil kebijakan utama.

Pada mulanya dalam menata aksi tersebut tim inti Tan Gindo tak begitu banyak jumlahnya; hanya 5 orang aktivis saja dan akhirnya sampai berhasil mengumpulkan ribuan massa aksi, bukan saja dari kalangan mahasiswa tapi juga dari kalangan dosen dan senator juga turut bergabung. Tim inti dalam aksi bukan lagi dari kalangan aktivis WP2SosPol saja karena terbukti juga terdapat anggota yang menjadi kacung dan penjilat kekuasaan ketimbang ideologi kebenaran yang harusnya dijunjung tinggi. Begitulah kenyataan hidup, jangankan dengan orang lain, dalam satu keluarga sedarah saja sering terjadi perbedaan pandangan dan pendapat sehingga mau tak mau akhirnya mesti berhadapan dalam sebuah masalah. Ketika sebuah “tekad” sudah bulat direnungkan dan dipikirkan serta diputuskan Tan Gindo terus melangkah jauh bahkan ketika itu sempat mendapatkan restu sang Ayah Kardiman dipuncak peristiwa.

Masih terngiang di telinga Tan Gindo Ayah Kardiman berkata “jika sudah begitu pertimbanganmu silahkan maju berjuang, jika berhasil itu sebuah keberuntungan, ketika tidak maka akan menjadi ujian (tabujua lalu tabalintang patang)” ujar beliau sambil membacakan sebuah do`a bak sebuah mantra yang berkomat kamit sambil menghembuskan nafas keberanian kepada Tan Gindo sebagai anaknya. Meski belakangan diketahui di saat yang sama ternyata ayah Kardiman ternyata juga berhadapan dengan sebuah dilema keluarga dan anaknya “Nofri” sang adik Tan Gindo ditempat yang lain.

Berat sudah ternyata beban bathin sang ayah dan akhirnya cukup menguncang mental dan fisik beliau sehingga menjadi penyebab sakit serta menjemput ajal beliau tanggal 4 Mei 2004 sementara Tan Gindo masih tertahan di dalam sel tahanan Muara Kota Padang dan tak sempat mensholatkan jenzah sang ayah karena terdapat diskomunikasi dan sebuah kealpaan pihak sipir penjara. Hampir saja Lapas Muara Padang dikepung dan diobrak-abrik oleh para mahasiswa pendukung FPDAB-UNP karena persitiwa tersebut dan lagi-lagi menjadi berita paling viral dimedia massa.

Inilah pelajaran yang sangat berat Tan Gindo dalam hidupnya, padahal masih dalam status sebagai mahasiswa yang belum selesai menjadi sarjana ketika itu. Parahnya, ketika itu telah direncanakan tanggal 8 Maret 2004 akan berlangsung pernikahan dengan calon Istri dan kemudian batal akibat peristiwa itu terjadi. Bahkan sempat disaat itu sang calon Istri menyatakan “Siap untuk menikah di Penjara jika diperkenankan”. Disamping menjadi kesan yang sangat istimewa dalam hidup Tan Gindo terhadap calon istri, fonomena tersebut juga menjadi topik panas dan menguncang peristiwa diberbagai halaman depan beberapa media cetak di Sumatera Barat.

“Nasi sudah menjadi bubur dan tak perlu di sesali, semua pasti banyak hikmahnya” ujar Tan Gindo kembali membathin tampa perlu penyesalan karena keputusan sudah diambil dan mesti siap dengan segala resiko sebagaimana pesan sang Ayah yang penuh semangat juang. Dalam setiap doa dan kesempatan Tan Gindo selalu mengenang dan mendoakan sang Ayah semoga beliau selamat dalam kubur dan di akhirat kelak, “beliau adalah ayah yang hebat” ungkap bagi Tan Gindo membathin. “Semoga cucu-cucunya juga akan meneruskan idealisme sang Kakek dikemudian hari” begitu Tan Gindo selalu mengenang.

Dilema demi dilema semenjak hari naas tersebut kemudian beranak pinak dengan beragam bentuk persoalan dalam kehidupan Tan Gindo “bak makanan sehari-hari”. Hanya dalam waktu dalam sebulan; mulai dari diskusi kecil hingga menjadi lingkaran aksi, mulai dari aksi negosiasi secara diam-diam hingga terpaksa terang-terangan dilakukan melalui leflet, media cetak, secara formal dan informal dilakukan Tan Gindo bersam tim FPDAB-UNP hingga aksi demostrasi kecil-kecilkan sampai membesar seperti bola salju. Boleh dikatakan hampir tidak ada waktu Tan Gindo dan tim untuk berisirahat dalam memikirkan langkah demi langkah, kala itu Tan Gindo jadi susah tidur setiap harinya karena terpaksa harus bergadang dan bergerak 24 jam siang dan malam. Semua komponen dan instrument aksi tidak pernah menghadapi ruang kosong bahkan pihak yang digugatpun diajak berdiskusi tampa perlu curiga dan takut hingga pada akhirnya masuk dalam perangkap anarkisme.

Setelah diluar tahanan, persidangan demi persidangan mesti dilaksanakan oleh Tan Gindo bersama tim 20 sepanjang tahun 2004-2005, dari Pengadilan Tinggi Negeri hingga Pengadilan Tinggi Negara hingga dinyatakan terhukum dengan hukuman yang tak lebih dari 1 Tahun dan bersifat tahanan kota serta wajib lapor karena kasusnya dianggap delik biasa. Sementara perkuliahan Tan Gindo dan tim masih bisa berlanjut dan masih dapat menyeselesaikan perkuliahan pada pertengahan 2006 silam. Dalam massa persidangan akhirnya tanggal 8 September 2004 Tan Gindo dengan calon istri kemudian baru dapat kembali melanjutkan agenda pernikahan yang tertunda. Disaat yang sama Tan Gindo sudah kembali beraktivitas sebagai aktivis LSM P3SD Padang sebagai fasilitator lokal dalam Program Balai Mediasi Desa bersama P3SD-LP3ES Jakarta dan NZAID serta program JEMBATAN Pemilu – UNDP 2004

Selama dalam proses persidangan 20 aktivis mahasiswa mendapat support dari tim Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang dan banyak dukungan dari berbagai pihak sehingga mendapatkan berbagai pembelajaran proses dipersidangan serta berbagai pemahaman ilmu hukum secara langsung dan tidak langsung dari para pengacara. Sebuah ilmu dan pengalaman yang tidak akan dapat dirasakan mahasiswa lain selain mereka yang berkuliah di ilmu hukum, kelak proses ini pasti akan sangat berarti dan berguna dalam berbagai tindakan Tan Gindo dan teman-teman lainnya dalam berbagai gerakan. Bagi mereka yang tidak mengerti tentu hal ini akan menjadi penyesalan tersendiri namun tidak bagi Tan Gindo dan teman-teman seperjuangan, hal ini tentu menjadi hikmah yang berharga.

Jika kita perhatikan kondisi kekinian di negeri Indonesia saat ini, tentu akan menjadi fakta bahwa betapa sebuah kekuasaan, politik dan perebutan aset menjadi sebuah menjadi petaruhan dalam menjawab rasa keadilan masyarakat. Demi harta, tahta dan wanita mereka yang berkuasa rela mengorbankan nilai-nilai kebenaran dan moral, dalam meraihnya mereka berani menggunakan jalan licik atau menghalalkan segala cara. Padahal sepatutnya mereka yang sudah terdidik; bergelar profesor, doktoral, master dan sarjana seperti tidak malu-malu lagi berbuat diluar etika bahkan sudah berani menjual agama atau ayat-ayat Allah melebihi peristiwa diatas. Inilah dilema bagi para pemimpin atau siapa saja dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan; mereka akan dihadapkan oleh sebuah pilihan-pilihan yang tidak mudah serta jalan berduri, menanjak tinggi, menurun tajam dan curam. Tak sedikit mereka terjatuh dan menerima pil pahit kehidupan, tapi tidak sedikit juga bermuka badak dan menjual harga diri mereka untuk sebuah kebutuhan duniawi semata.

Pikiran Tan Gindo kembali pada persoalan pekerjaanya di Mempawah-Kalbar, persoalan-persoalan yang terjadi kembali seperti dilema. Setidaknya perlu 3 hari bagi Tan Gindo merenung apa dan mengapa yang sedang telah terjadi dalam keluarga, dikampung halaman dan dengan berbagai informasi serta kebijakan program saat ini. Beruntung dilema tersebut merasa belumlah seberat massa lalu Tan Gindo, sembari berucap “Insya Allah masalah yang ada akan dapat dilalui meski harus segera memutar kepala, apa dan bagaimana tindakan segera mesti dilakukan dimassa datang”, tampa harus melupakan berbagai urusan dan kepentingan.

Kajian demi kajian harus dituangkan dalam sebuah analisis dan pemikiran yang matang, identifikasi persoalan harus kembali dilakukan hingga menemukan akar persoalan. Sebuah kebijakan dan tindakan harus berlandaskan pada pada realitas dan kebenaran yang abadi bukan terpancing oleh sebuah emosi yang akan menyesatkan keputusan yang akan diambil. Ada kalanya kita harus menurunkan “tensi” pemikiran hingga tidak jauh dari harapan yang ingin dicapai.

Proses demi proses harus kembali menjadi ukuran keberhasilan karena untuk berbuat baik tidak cukup dengan niat baik tapi juga butuh proses yang benar dan tidak salah sasaran. Selanjutnya Jika sudah pada tahap keyakinan maka bergerakklah membangun kekuatan sendiri tampa harus melihat orang kebanyakan tapi teruslah berjuang hingga dapat meyakinkan berbagai orang lain agar harapan yang dibangun berbuah manis dan meraih dukungan banyak orang.

Sementara jauh dalam pemikiran Tan Gindo peristiwa dan peristiwa di jagat maya yang sama sekali tidak ada kaitan dengan aktivitas saat ini, juga turut menggores keprihatinan Tan Gindo terutama terkait issue Covid-19 yang tak kunjung usai, korupsi pejabat disaat pandemi, undang-undang omnibuslaw, issue terorisme yang kebablasan, presekusi ulama, pembubaran HTI, nasib Habibana Muhammad Rizeq dan nasib Laskar Front Pembela Islam yang ditembak secara keji serta berbagai kegelisahan lainnya menambah rasa bahwa semakin “ngaur-ngidul dan ngibul”-nya tokoh bangsa dan penguasa kita hari ini. Dalam keyakinan Tan Gindo “sejarah pasti akan selalu bergulir dan berulang, hingga pada batas waktunya semua akan kembali terjadi”, sembari merenungkan pesan nenek moyang di Minangkabau dalam mengarifi masalah kehidupan;

Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati. Tarandam randam indak basah, tarapuang apuang indak hanyuik. Anyuik labu dek manyauak, hilang kabau dek kubalo. Anguak anggak geleng amuah, unjuak nan tidak babarikan. Alua samo dituruik, limbago samo dituang. Alat baalua jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik iringkan bathin nan baliku. Alang tukang binaso kayu, alang cadiak binaso Adat, alang ari binaso tubuah. Habih tahun baganti musim sandi Adat jan dianjak. Adat biaso kito pakai, limbago nan samo dituang, nan elok samo dipakai nan buruak samo dibuang. Tibo di dado dikambangkan tibo diparuik samo dikampihkan, tabujua lalu tabalintang patah

(Sifat seseorang dalam bertindak harus selalu berhati-hati atas landasan kebenaran dan kebijaksanaan, Suatu persoalan yang tidak didudukan pada tempatnya akan berakibat fatal Karena mengutamakan suatu urusan yang kurang penting hingga yang prinsip tertinggal karenanya. Sifat seseorang yang tidak curang atau tidak jujur sesuai nurani dan tidak suka ketegasan dalam melakukan sesuatu akan menanggung resiko, dan ketika tidak mau dibawa kejalan yang benar menandakan mental seseorang atau sekolompok orang telah rusak, walaupun tahun silih berganti musim selalu beredar, pegangan hidup jangan dilepas, yang baik sama dipakai, yang buruk sama ditinggalkan, salah ya salah, benar ya benar dan pertahankan kebenaran yang diyakini mesti nyawapun harus dikorbankan, hidup untuk sebuah kemuliaan)

Bersambung ke bag. 12

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img