Oleh : Bonar Surya Winata.S.sos
Ketua DPC KWRI Tanah Datar 2 Periode
Di era digital, memperoleh informasi untuk menyusun sebuah berita atau opini menjadi semakin mudah. Jurnalis, penulis, akademisi, hingga masyarakat umum kini dapat mengakses berbagai sumber informasi hanya dalam hitungan detik. Kehadiran kecerdasan buatan seperti ChatGPT turut mempercepat proses pencarian ide, penyusunan kerangka tulisan, hingga perumusan kalimat. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan besar: bagaimana memastikan informasi yang digunakan tetap akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam dunia jurnalistik, prinsip utama tetap sama, yaitu kebenaran harus diperoleh melalui verifikasi. Narasi yang berasal dari buku, jurnal ilmiah, dokumen resmi pemerintah, wawancara narasumber, media massa yang kredibel, hingga ChatGPT, semuanya hanyalah bahan awal yang harus diuji kembali sebelum dipublikasikan.
ChatGPT bukanlah narasumber yang memiliki pengetahuan langsung terhadap suatu peristiwa. Ia merupakan sistem kecerdasan buatan yang menyusun jawaban berdasarkan pola dari berbagai data yang dipelajari. Oleh karena itu, hasil yang diberikan ChatGPT tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam penulisan berita. Ia lebih tepat digunakan sebagai asisten untuk membantu menyusun ide, memperbaiki tata bahasa, atau memberikan gambaran umum mengenai suatu isu.
Jurnalisme yang sehat mengedepankan prinsip check and recheck. Wartawan tetap wajib melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait, memeriksa dokumen resmi, dan membandingkan informasi dari berbagai sumber. Mengutip narasi dari AI tanpa verifikasi berpotensi melahirkan informasi yang keliru, bias, atau bahkan menyesatkan publik.
Di sisi lain, menolak pemanfaatan AI juga bukan langkah yang bijak. Teknologi telah menjadi bagian dari perkembangan profesi jurnalistik. Yang dibutuhkan adalah literasi digital dan etika dalam penggunaannya. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak dapat menggantikan independensi, kepekaan, dan tanggung jawab seorang wartawan.
Karena itu, penulisan berita yang baik seharusnya menggabungkan berbagai sumber informasi yang kredibel. ChatGPT dapat menjadi salah satu alat bantu dalam proses tersebut, namun posisinya tetap sebagai pendukung, bukan sebagai penentu fakta. Kebenaran jurnalistik tetap lahir dari proses verifikasi yang cermat, bukan dari kecepatan teknologi semata.
Pada akhirnya, kualitas sebuah berita tidak ditentukan oleh seberapa canggih alat yang digunakan untuk menulisnya, melainkan oleh integritas penulis dalam menyajikan fakta secara akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Di tengah derasnya arus informasi, kredibilitas tetap menjadi modal utama yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun.
Beritasumbar.com
Menulis Berita di Era AI: Ketika Chat GPT Menjadi Alat, Bukan Penentu Kebenaran
Kategori -
Kolom & Opini
- Advertisement -
- Advertisement -