SAWAHLUNTO, Beritasumbar.com — Di bengkel sederhana Kawasan Kandi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, abu pembakaran batu bara tidak lagi sekadar sisa limbah pembakaran yang menumpuk.
Di tangan Andi Irawan, abu itu bercampur semen dan pasir, lalu berubah menjadi batako, paving block, roster, hingga kanstin. Dari sana, pelan-pelan sebuah usaha tumbuh.
Empat tahun lalu, omzet Andi hanya sekitar Rp 2 juta per bulan. Produksi masih dilakukan secara manual. Kini, setelah mendapat pendampingan dan bantuan peralatan dari PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Ombilin, omzetnya rata-rata mencapai Rp 20 juta per bulan.
Andi pun mulai berani memikirkan sesuatu yang sebelumnya terasa jauh membangun merek usahanya sendiri, “Arsenio Batako” setelah beberapa tahun bersama BUMDes Karya Muda Mandiri Desa Salak.
“Awalnya saya mendapat bantuan program CSR dari PT PLN Indonesia Power UBP Ombilin berupa mesin pres batako, mixer untuk mengaduk semen dan pasir, serta jaringan listrik, saat itu bersama BUMdes Karya Muda Mandiri,” kata Andi saat ditemui Beritasumbar.com, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Bantuan mesin memang mempercepat produksi. Namun Andi tidak berhenti di sana. Ia mencoba merakit sendiri mesin pres untuk batako dan paving block. Berbekal pengalaman bekerja dan mengamati mesin yang digunakan sehari-hari, ia akhirnya berhasil membuat satu unit mesin yang siap digunakan.
Bagi Andi, mesin itu bukan sekadar alat produksi. Ia menjadi penanda bahwa usahanya mulai bergerak dari pekerjaan rumahan menuju usaha yang lebih serius.
Dari Ragu Menjadi Percaya Diri
Pada awalnya Andi tidak langsung percaya pada FABA (fly ash bottom ash) sebagai bahan campuran batako. Ia terbiasa menggunakan pasir sungai sebagai bahan utama.
Keraguan itu berubah setelah mendapat pendampingan dari PT PLN Indonesia Power UBP Ombilin. Andi kemudian mencoba menggunakan FABA dari PLTU Ombilin sebagai salah satu campuran. Hasilnya membuat dia yakin.
Menurut dia, batako dan paving block yang diproduksi menggunakan campuran tersebut memiliki kekuatan yang baik dan tidak mudah pecah. Produk itu kemudian mulai dikenal konsumen, termasuk untuk kebutuhan proyek swasta dan pemerintah.
“FABA PLTU ini luar biasa sebagai campuran pembuatan batako, paving block, dan roster. Tidak hanya kokoh dan tahan beban, tetapi juga tidak mudah pecah. Itu yang membuat konsumen puas,” ujarnya.
Untuk menghasilkan batako, Andi menggunakan campuran satu sak semen dengan sekitar tiga gerobak FABA dan delapan gerobak pasir sungai.
Dari komposisi itu, sekitar 210 batako dapat diproduksi. Batako tersebut dijual sekitar Rp3.000 per buah. Sementara paving block dipasarkan sekitar Rp4.000-Rp4.700 per buah, tergantung jenis dan warnanya. Adapun kanstin dijual sekitar Rp87 ribu per buah.
Harga itu membuat FABA bukan hanya menjadi cerita tentang pemanfaatan limbah, tetapi juga bagian dari rantai ekonomi baru yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil.
Pesanan Datang dari Berbagai Arah
Pasar produk Andi kini tidak lagi sebatas pelanggan di sekitar tempat tinggalnya.
Salah satu pesanan terbarunya datang dari PT PLN Indonesia Power UBP Ombilin. Andi diminta menyiapkan 10.200 paving block untuk Taman Silo.
Sebelumnya, ia telah memasok sekitar 11.000 paving block untuk taman yang sama.
Pesanan lain datang seiring pembangunan empat unit Koperasi Desa Merah Putih di Kumbayau, Batu Tanjung, Sijantang dan Salak.
Masing-masing koperasi membutuhkan sekitar 7.600 batako.
Bagi usaha yang bermula dengan omzet Rp 2 juta per bulan, angka pesanan tersebut tentu bukan perkara kecil.
Kini Andi mulai menghitung kapasitas produksi. Mesin baru hasil rancangannya membuat ia berencana merekrut tiga pekerja tambahan. Saat ini, usahanya mempekerjakan tiga orang, yakni Anto, istrinya Yeni, dan Aan. Mereka menerima upah sekitar Rp1 juta per minggu.
Menyulap Sisa Pembakaran Menjadi Nilai Ekonomi
Di balik berkembangnya usaha Andi terdapat perubahan cara pandang terhadap FABA. PT PLN Indonesia Power UBP Ombilin, sebagai bagian dari subholding PT PLN (Persero), mendorong pemanfaatan FABA agar memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Manager PT PLN Indonesia Power UBP Ombilin Andi Setiawan mengatakan pemanfaatan FABA semakin terbuka setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Menurut dia, FABA dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain material konstruksi.
“Silakan kirim surat kepada kami. Insyaallah kami siap merespons dengan cepat,” kata Andi Setiawan ketika ditanya peluang masyarakat atau pelaku usaha yang ingin memanfaatkan FABA dari UBP Ombilin.
Pendampingan seperti itu membuat Andi tidak hanya mendapatkan bahan baku. Ia juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha.
Ia kini berharap mendapat pelatihan lanjutan, terutama mengenai manajemen usaha dan pengembangan produk batu cetak.
Andi bahkan ingin belajar kepada pelaku usaha sejenis yang lebih maju, salah satunya UMKM batu cetak Indah Jaya di Jawa Timur.
“Saya berharap ada pelatihan pengembangan sumber daya, baik manajemen usaha maupun teknik pembuatan batu cetak yang lebih bervariasi,” katanya.
Ketika Listrik Mati, Produksi Ikut Terhenti
Jalan menuju Arsenio Batako belum sepenuhnya mulus. Andi masih menghadapi persoalan teknis di tempat produksinya. Tegangan listrik yang turun dan listrik yang kerap padam mengganggu proses produksi.
Persoalannya bukan sekadar mesin berhenti.
Ketika listrik mati, adonan semen, pasir dan FABA yang sedang diproses dapat mengeras dan akhirnya terbuang.
“Saya mohon pelayanan PLN bisa membantu keluhan ini. Kalau listrik mati, adonan bisa mengeras,” ujarnya.
Meski begitu, gangguan tersebut tidak membuat Andi berhenti. Ia justru sedang menyiapkan langkah berikutnya menambah tenaga kerja, mengoperasikan mesin hasil rancangannya sendiri dan membangun merek Arsenio Batako.
Dari Abu, Tumbuh Sebuah Harapan
Kisah Andi menunjukkan bahwa nilai sebuah bahan tidak selalu ditentukan oleh bagaimana bahan itu bermula.
FABA yang dahulu dipandang sebagai sisa pembakaran, di tangan pelaku usaha seperti Andi, dapat memperoleh kehidupan kedua sebagai bagian dari produk konstruksi.
Lebih dari itu, pemanfaatan FABA telah membuka ruang ekonomi bagi usaha kecil di sekitar PLTU Ombilin. Andi kini tidak lagi sekadar membuat batako.
Ia sedang membangun sebuah usaha.
Dari bengkel kecil di Kandi, ia mencoba membuktikan bahwa ketekunan, teknologi sederhana, dan keberanian mencoba bahan baru bisa mengubah sesuatu yang dianggap sisa menjadi sumber penghidupan.
Nama Arsenio Batako mungkin baru sebatas rencana.
Tetapi bagi Andi, merek itu adalah cara untuk menandai perjalanan dari produksi manual dengan omzet Rp 2 juta, menjadi usaha yang kini mampu membukukan sekitar Rp 20 juta sebulan. Dan semua itu bermula dari abu.***
Di tangan Andi Irawan, abu itu bercampur semen dan pasir, lalu berubah menjadi batako, paving block, roster, hingga kanstin. Dari sana, pelan-pelan sebuah usaha tumbuh.
Empat tahun lalu, omzet Andi hanya sekitar Rp 2 juta per bulan. Produksi masih dilakukan secara manual. Kini, setelah mendapat pendampingan dan bantuan peralatan dari PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Ombilin, omzetnya rata-rata mencapai Rp 20 juta per bulan.
Andi pun mulai berani memikirkan sesuatu yang sebelumnya terasa jauh membangun merek usahanya sendiri, “Arsenio Batako” setelah beberapa tahun bersama BUMDes Karya Muda Mandiri Desa Salak.
“Awalnya saya mendapat bantuan program CSR dari PT PLN Indonesia Power UBP Ombilin berupa mesin pres batako, mixer untuk mengaduk semen dan pasir, serta jaringan listrik, saat itu bersama BUMdes Karya Muda Mandiri,” kata Andi saat ditemui Beritasumbar.com, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Bantuan mesin memang mempercepat produksi. Namun Andi tidak berhenti di sana. Ia mencoba merakit sendiri mesin pres untuk batako dan paving block. Berbekal pengalaman bekerja dan mengamati mesin yang digunakan sehari-hari, ia akhirnya berhasil membuat satu unit mesin yang siap digunakan.
Bagi Andi, mesin itu bukan sekadar alat produksi. Ia menjadi penanda bahwa usahanya mulai bergerak dari pekerjaan rumahan menuju usaha yang lebih serius.
Dari Ragu Menjadi Percaya Diri
Pada awalnya Andi tidak langsung percaya pada FABA (fly ash bottom ash) sebagai bahan campuran batako. Ia terbiasa menggunakan pasir sungai sebagai bahan utama.
Keraguan itu berubah setelah mendapat pendampingan dari PT PLN Indonesia Power UBP Ombilin. Andi kemudian mencoba menggunakan FABA dari PLTU Ombilin sebagai salah satu campuran. Hasilnya membuat dia yakin.
Menurut dia, batako dan paving block yang diproduksi menggunakan campuran tersebut memiliki kekuatan yang baik dan tidak mudah pecah. Produk itu kemudian mulai dikenal konsumen, termasuk untuk kebutuhan proyek swasta dan pemerintah.
“FABA PLTU ini luar biasa sebagai campuran pembuatan batako, paving block, dan roster. Tidak hanya kokoh dan tahan beban, tetapi juga tidak mudah pecah. Itu yang membuat konsumen puas,” ujarnya.
Untuk menghasilkan batako, Andi menggunakan campuran satu sak semen dengan sekitar tiga gerobak FABA dan delapan gerobak pasir sungai.
Dari komposisi itu, sekitar 210 batako dapat diproduksi. Batako tersebut dijual sekitar Rp3.000 per buah. Sementara paving block dipasarkan sekitar Rp4.000-Rp4.700 per buah, tergantung jenis dan warnanya. Adapun kanstin dijual sekitar Rp87 ribu per buah.
Harga itu membuat FABA bukan hanya menjadi cerita tentang pemanfaatan limbah, tetapi juga bagian dari rantai ekonomi baru yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil.
Pesanan Datang dari Berbagai Arah
Pasar produk Andi kini tidak lagi sebatas pelanggan di sekitar tempat tinggalnya.
Salah satu pesanan terbarunya datang dari PT PLN Indonesia Power UBP Ombilin. Andi diminta menyiapkan 10.200 paving block untuk Taman Silo.
Sebelumnya, ia telah memasok sekitar 11.000 paving block untuk taman yang sama.
Pesanan lain datang seiring pembangunan empat unit Koperasi Desa Merah Putih di Kumbayau, Batu Tanjung, Sijantang dan Salak.
Masing-masing koperasi membutuhkan sekitar 7.600 batako.
Bagi usaha yang bermula dengan omzet Rp 2 juta per bulan, angka pesanan tersebut tentu bukan perkara kecil.
Kini Andi mulai menghitung kapasitas produksi. Mesin baru hasil rancangannya membuat ia berencana merekrut tiga pekerja tambahan. Saat ini, usahanya mempekerjakan tiga orang, yakni Anto, istrinya Yeni, dan Aan. Mereka menerima upah sekitar Rp1 juta per minggu.
Menyulap Sisa Pembakaran Menjadi Nilai Ekonomi
Di balik berkembangnya usaha Andi terdapat perubahan cara pandang terhadap FABA. PT PLN Indonesia Power UBP Ombilin, sebagai bagian dari subholding PT PLN (Persero), mendorong pemanfaatan FABA agar memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Manager PT PLN Indonesia Power UBP Ombilin Andi Setiawan mengatakan pemanfaatan FABA semakin terbuka setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Menurut dia, FABA dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain material konstruksi.
“Silakan kirim surat kepada kami. Insyaallah kami siap merespons dengan cepat,” kata Andi Setiawan ketika ditanya peluang masyarakat atau pelaku usaha yang ingin memanfaatkan FABA dari UBP Ombilin.
Pendampingan seperti itu membuat Andi tidak hanya mendapatkan bahan baku. Ia juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha.
Ia kini berharap mendapat pelatihan lanjutan, terutama mengenai manajemen usaha dan pengembangan produk batu cetak.
Andi bahkan ingin belajar kepada pelaku usaha sejenis yang lebih maju, salah satunya UMKM batu cetak Indah Jaya di Jawa Timur.
“Saya berharap ada pelatihan pengembangan sumber daya, baik manajemen usaha maupun teknik pembuatan batu cetak yang lebih bervariasi,” katanya.
Ketika Listrik Mati, Produksi Ikut Terhenti
Jalan menuju Arsenio Batako belum sepenuhnya mulus. Andi masih menghadapi persoalan teknis di tempat produksinya. Tegangan listrik yang turun dan listrik yang kerap padam mengganggu proses produksi.
Persoalannya bukan sekadar mesin berhenti.
Ketika listrik mati, adonan semen, pasir dan FABA yang sedang diproses dapat mengeras dan akhirnya terbuang.
“Saya mohon pelayanan PLN bisa membantu keluhan ini. Kalau listrik mati, adonan bisa mengeras,” ujarnya.
Meski begitu, gangguan tersebut tidak membuat Andi berhenti. Ia justru sedang menyiapkan langkah berikutnya menambah tenaga kerja, mengoperasikan mesin hasil rancangannya sendiri dan membangun merek Arsenio Batako.
Dari Abu, Tumbuh Sebuah Harapan
Kisah Andi menunjukkan bahwa nilai sebuah bahan tidak selalu ditentukan oleh bagaimana bahan itu bermula.
FABA yang dahulu dipandang sebagai sisa pembakaran, di tangan pelaku usaha seperti Andi, dapat memperoleh kehidupan kedua sebagai bagian dari produk konstruksi.
Lebih dari itu, pemanfaatan FABA telah membuka ruang ekonomi bagi usaha kecil di sekitar PLTU Ombilin. Andi kini tidak lagi sekadar membuat batako.
Ia sedang membangun sebuah usaha.
Dari bengkel kecil di Kandi, ia mencoba membuktikan bahwa ketekunan, teknologi sederhana, dan keberanian mencoba bahan baru bisa mengubah sesuatu yang dianggap sisa menjadi sumber penghidupan.
Nama Arsenio Batako mungkin baru sebatas rencana.
Tetapi bagi Andi, merek itu adalah cara untuk menandai perjalanan dari produksi manual dengan omzet Rp 2 juta, menjadi usaha yang kini mampu membukukan sekitar Rp 20 juta sebulan. Dan semua itu bermula dari abu.***
