SAWAHLUNTO, Beritasumbar.com — Penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027 di sejumlah sekolah menengah atas negeri di Kota Sawahlunto menunjukkan tren penurunan.
Berkurangnya jumlah lulusan SMP, persaingan dengan sekolah kejuruan dan madrasah aliyah, hingga sistem domisili dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) disebut menjadi faktor yang memengaruhi minimnya pendaftar.
Kepala SMAN 3 Sawahlunto Tri Widodo dua hari lalu mengatakan hingga saat ini sekolah yang dipimpinnya baru menerima 22 pendaftar. Angka itu jauh dari kapasitas yang tersedia.
Menurut Tri, penyebab utama rendahnya minat masuk ke SMAN 3 adalah berkurangnya jumlah lulusan SMP di Sawahlunto.
Kondisi tersebut diperparah oleh letak sekolah yang berdekatan dengan SMKN 2 Sawahlunto dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN), sehingga persaingan mendapatkan calon siswa semakin ketat.
“Faktor utama memang penurunan jumlah lulusan SMP. Selain itu, kami juga bersaing dengan SMK dan MAN,” kata Tri.
Ia menilai penerapan sistem domisili dalam SPMB di satu sisi membantu pemerataan siswa antarsekolah negeri. Namun di sisi lain, sekolah di bawah Kementerian Agama maupun SMK tidak menghadapi pembatasan yang sama sehingga, menurutnya, kompetisi menjadi tidak seimbang.
Tri juga melihat perubahan kondisi ekonomi membuat banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anak ke SMK karena dianggap lebih cepat memasuki dunia kerja. Akibatnya, jumlah siswa yang memilih SMA terus berkurang.
Jika kondisi itu tidak berubah, SMAN 3 diperkirakan hanya membuka satu rombongan belajar untuk kelas X tahun ini. Dampaknya tidak hanya pada jumlah siswa, tetapi juga terhadap beban kerja guru.
“Ada guru yang berpotensi tidak memenuhi syarat menerima tunjangan sertifikasi karena kekurangan jam mengajar,” ujarnya.
Ia menambahkan keterbatasan jumlah siswa juga akan memengaruhi aktivitas sekolah. Beberapa program, termasuk keikutsertaan dalam berbagai lomba di luar daerah, kemungkinan harus diseleksi lebih ketat karena keterbatasan sumber daya.
Tri berharap Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat bersama Kementerian Agama dapat menyusun kebijakan yang menciptakan persaingan penerimaan siswa baru yang lebih adil antara SMA dan madrasah aliyah.
Sementara itu, Kepala SMAN 2 Sawahlunto menyampaikan kondisi serupa juga terjadi di sekolahnya. Dari kuota 206 siswa, hingga tahap daftar ulang baru 168 siswa yang memastikan masuk.
Menurutnya, hasil pemantauan ke sejumlah SMP dan MTs di sekitar sekolah menunjukkan jumlah lulusan tahun ini memang lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, penurunan tersebut belum berdampak terhadap pembagian jam mengajar guru karena SMAN 2 tetap membuka lima rombongan belajar seperti tahun lalu.
Berbeda dengan SMA, SMKN 2 Sawahlunto justru masih mencatat jumlah pendaftar yang tinggi. Seperti dikatakan Kepala SMKN 2 Ponidi, hingga tahap kedua SPMB, sekolah itu telah menerima 573 pendaftar.
Ponidi menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi dipengaruhi anggapan bahwa lulusan SMK lebih siap memasuki dunia kerja karena dibekali keterampilan khusus, memiliki kerja sama dengan dunia industri, serta semakin banyak alumni yang terserap di dunia usaha dan dunia industri.
Meski demikian, SMKN 2 juga mengakui penurunan jumlah lulusan SMP tetap memengaruhi jumlah calon siswa dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut pihak sekolah, apabila suatu program keahlian hanya diisi sedikit siswa, kondisi itu memiliki dampak positif berupa perhatian guru yang lebih intensif kepada setiap siswa.
Namun di sisi lain, motivasi belajar, daya saing, interaksi sosial antar siswa, hingga efisiensi pembelajaran dan pemenuhan jam mengajar guru juga dapat terdampak.
Fenomena penurunan pendaftar di SMA negeri Sawahlunto menunjukkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar pilihan sekolah.
Menyusutnya jumlah lulusan SMP, perubahan preferensi masyarakat terhadap pendidikan vokasi, serta perbedaan regulasi penerimaan antar satuan pendidikan menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam menyusun kebijakan pemerataan peserta didik.***
Berkurangnya jumlah lulusan SMP, persaingan dengan sekolah kejuruan dan madrasah aliyah, hingga sistem domisili dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) disebut menjadi faktor yang memengaruhi minimnya pendaftar.
Kepala SMAN 3 Sawahlunto Tri Widodo dua hari lalu mengatakan hingga saat ini sekolah yang dipimpinnya baru menerima 22 pendaftar. Angka itu jauh dari kapasitas yang tersedia.
Menurut Tri, penyebab utama rendahnya minat masuk ke SMAN 3 adalah berkurangnya jumlah lulusan SMP di Sawahlunto.
Kondisi tersebut diperparah oleh letak sekolah yang berdekatan dengan SMKN 2 Sawahlunto dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN), sehingga persaingan mendapatkan calon siswa semakin ketat.
“Faktor utama memang penurunan jumlah lulusan SMP. Selain itu, kami juga bersaing dengan SMK dan MAN,” kata Tri.
Ia menilai penerapan sistem domisili dalam SPMB di satu sisi membantu pemerataan siswa antarsekolah negeri. Namun di sisi lain, sekolah di bawah Kementerian Agama maupun SMK tidak menghadapi pembatasan yang sama sehingga, menurutnya, kompetisi menjadi tidak seimbang.
Tri juga melihat perubahan kondisi ekonomi membuat banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anak ke SMK karena dianggap lebih cepat memasuki dunia kerja. Akibatnya, jumlah siswa yang memilih SMA terus berkurang.
Jika kondisi itu tidak berubah, SMAN 3 diperkirakan hanya membuka satu rombongan belajar untuk kelas X tahun ini. Dampaknya tidak hanya pada jumlah siswa, tetapi juga terhadap beban kerja guru.
“Ada guru yang berpotensi tidak memenuhi syarat menerima tunjangan sertifikasi karena kekurangan jam mengajar,” ujarnya.
Ia menambahkan keterbatasan jumlah siswa juga akan memengaruhi aktivitas sekolah. Beberapa program, termasuk keikutsertaan dalam berbagai lomba di luar daerah, kemungkinan harus diseleksi lebih ketat karena keterbatasan sumber daya.
Tri berharap Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat bersama Kementerian Agama dapat menyusun kebijakan yang menciptakan persaingan penerimaan siswa baru yang lebih adil antara SMA dan madrasah aliyah.
Sementara itu, Kepala SMAN 2 Sawahlunto menyampaikan kondisi serupa juga terjadi di sekolahnya. Dari kuota 206 siswa, hingga tahap daftar ulang baru 168 siswa yang memastikan masuk.
Menurutnya, hasil pemantauan ke sejumlah SMP dan MTs di sekitar sekolah menunjukkan jumlah lulusan tahun ini memang lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, penurunan tersebut belum berdampak terhadap pembagian jam mengajar guru karena SMAN 2 tetap membuka lima rombongan belajar seperti tahun lalu.
Berbeda dengan SMA, SMKN 2 Sawahlunto justru masih mencatat jumlah pendaftar yang tinggi. Seperti dikatakan Kepala SMKN 2 Ponidi, hingga tahap kedua SPMB, sekolah itu telah menerima 573 pendaftar.
Ponidi menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi dipengaruhi anggapan bahwa lulusan SMK lebih siap memasuki dunia kerja karena dibekali keterampilan khusus, memiliki kerja sama dengan dunia industri, serta semakin banyak alumni yang terserap di dunia usaha dan dunia industri.
Meski demikian, SMKN 2 juga mengakui penurunan jumlah lulusan SMP tetap memengaruhi jumlah calon siswa dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut pihak sekolah, apabila suatu program keahlian hanya diisi sedikit siswa, kondisi itu memiliki dampak positif berupa perhatian guru yang lebih intensif kepada setiap siswa.
Namun di sisi lain, motivasi belajar, daya saing, interaksi sosial antar siswa, hingga efisiensi pembelajaran dan pemenuhan jam mengajar guru juga dapat terdampak.
Fenomena penurunan pendaftar di SMA negeri Sawahlunto menunjukkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar pilihan sekolah.
Menyusutnya jumlah lulusan SMP, perubahan preferensi masyarakat terhadap pendidikan vokasi, serta perbedaan regulasi penerimaan antar satuan pendidikan menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam menyusun kebijakan pemerataan peserta didik.***