spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Catatan Jurnalis: Sepak Bola yang Hilang di Perbatasan
C

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Delmansyah

Namaku Delmansyah. Aku cuma wartawan biasa. Jangankan terbang ke Amerika Serikat untuk meliput Piala Dunia 2026, paspor saja aku belum punya. Modalku cuma laptop, kuota internet pas-pasan, dan laporan-laporan dari jurnalis independen yang tersebar di dunia maya. Tapi jujur, hatiku gelisah melihat apa yang terjadi di sana.

Katanya, sepak bola itu bahasa pemersatu yang tidak kenal warna kulit atau batas negara. Namun, dari layar kacaku, cerita itu terasa seperti kebohongan besar. Ada banyak ketidakadilan, dan rasanya aku harus menuliskan ini, meski cuma memantau dari jauh.

Pertama, soal suasana di stadion. Normalnya, pertandingan dijaga polisi biasa agar aman. Tapi dari video-video amatir yang beredar di internet, ada petugas imigrasi AS yang berpatroli mencari pendatang gelap di sekitar stadion. Ini menakutkan. Suporter kulit hitam, keturunan Arab, atau imigran terlihat was-was. Sejak kapan nonton bola rasanya seperti sedang antre razia KTP?

Kedua, soal mimpi yang dirampas. Kalian tahu Omar Artan? Dia wasit terbaik Afrika dari Somalia. Dia gagal memimpin pertandingan bukan karena tidak jago, tapi karena visanya ditolak AS di menit terakhir. FIFA diam saja. Bayangkan, kerja keras bertahun-tahun hancur hanya karena selembar kertas birokrasi.
Begitu juga dengan suporter. Banyak penggemar dari negara seperti Maroko yang sudah nabung mati-matian dan punya tiket resmi dari FIFA, visanya malah ditolak. Impian mereka berubah jadi rasa sakit hati.

Ketiga, nasib rekan-rekan wartawan dari negara seperti Iran atau Afrika. Kudengar mereka cuma diberi visa sekali masuk (single-entry). Padahal turnamen ini digelar di tiga negara (AS, Kanada, Meksiko). Bagaimana mereka bisa leluasa meliput kalau tidak bisa keluar-masuk perbatasan? Ini seperti sengaja memborgol kaki mereka.

Pada akhirnya, dari kamar kecilku ini aku sadar. Tuan rumah hanya peduli pada uang dan hiburan. Pemain bintang diberi karpet merah agar tiket dan siaran TV laku keras, tapi jurnalis kecil dan suporter biasa dihalangi tanpa ampun.
Menonton Piala Dunia ini membuatku sedih. Bukannya meruntuhkan tembok perbedaan, turnamen ini malah membangun tembok baru yang jauh lebih tinggi. Ternyata, paspormu, Rasmu, Agamamu jauh lebih penting daripada cintamu pada sepak bola.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img