Amman – Jordania pada Ahad (3/5) menyatakan negara itu mengembangkan strategi guna memerangi aksi teror dan ekstremisme di berbagai tingkat, demikian laporan kantor berita resmi negeri tersebut, Petra.
Menteri Dalam Negeri Jordania Hussein Majali mengatakan dalam satu pertemuan dengan satu delegasi AS bahwa pemerintah saat ini melakukan koordinasi dengan semua pemegang saham guna melaksanakan strategis itu.
“Strategi tersebut berlandaskan atas memerangi ideologi ekstrem melalui dialog dan kesadaran. Diperlukan kerja sama dengan beberapa negara untuk memerangi kelompok pelaku teror dengan menggunakan bermacam cara,” kata Majali, sebagaimana dikutip Xinhua yang dilansir BeritaSumbar dari Antara di Jakarta, Senin siang.
Saat menekankan bahwa aksi teror tak memiliki sangkut-paut dengan Islam, menteri itu menyatakan penanganan tantangan politik dan ekonomi di wilayah tersebut memainkan peran penting dalam penghapusan aksi teror.
Menteri itu juga menyatakan semua lembaga keamanan di Jordania disiagakan untuk melindungi perbatasan dari ancaman, terutama penyelundupan senjata dan narkotika ke dalam Jordania.
Jordania, sekutu penting AS, adalah bagian dari koalisi internasional yang memerangi anggota ISIS, dan telah berikrar akan membantu menghapuskan aksi teror di wilayah tersebut.
Pada Februari, satu video disiarkan di Internet, yang memperlihatkan seorang pilot Jordania yang ditangkap dibakar hingga tewas oleh kelompok fanatik ISIS.
Pada Rabu (29/4) Perdana Menteri Kanada Stephen Harper, menjanjikan 122,8 juta dolar Kanada untuk membantu Jordania mengatasi ledakan pengungsi Suriah dan meningkatkan kemampuan kontra-terorismenya.
Kanada dan Jordania merupakan bagian dari misi militer pimpinan Amerika Serikat yang membidik kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah dengan serangan udara.
Jordania juga telah menampung 1,5 juta pengungsi yang melarikan diri dari pertempuran di Suriah, jumlah yang sama dengan 20-25 persen dari penduduknya.
“Saya terus mendesak Amerika dengan mengatakan bahwa itu seperti memiliki 65 juta warga Kanada melintasi perbatasan dalam dua tahun,” kata Raja Abdullah II –yang tengah berkunjung ke Kanada dalam acara makan siang kenegaraan di Ottawa.
Menurut PBB, konflik di Suriah telah mengakibatkan 7,6 juta orang mengungsi selama empat tahun terakhir dan menciptakan 3,9 juta pengungsi.
Pendanaan Kanada, yang totalnya mencapai 102,2 juta dolar AS, akan digunakan untuk membantu masyarakat Jordania mengatasi “tantangan sosial-ekonomi” yang mendorong sekelompok besar pengungsi serta meningkatkan kemampuan kontra-terorisme Jordania, dan meningkatkan keamanan perbatasan.
Upaya peningkatan keamanan akan mencakup penyediaan peralatan pemantau radiasi untuk mengurangi perdagangan bahan nuklir, meningkatkan pemeriksaan kendaraan di perbatasan, dan memberikan pelatihan dalam mendeteksi alat peledak.
Kanada juga akan mengirim peralatan, pelatihan dan peningkatan infrastruktur untuk meningkatkan kapasitas kontra-terorisme maritim Jordania dan membantu menciptakan perlindungan keuangan untuk mencegah kelompok IS mengakses sistem perbankan internasional. (Antara-Xinhua-OANA)