BeritaSumbar.com,-Rahmat dan nikmat Allah SWT yang diberikan kepada manusia sungguh amat luas (Al-Baqarah [2]:115, Al-Kautsar [108]:1), dan kalau setiap orang mau menyadari semua nikmat yang kita didapatkan dan dirasakan di dunia ini, maka akan diyakini bahwa semua itu tiada ternilai. Betapapun besarnya Rahmat dan nikmat Allah SWT itu, manusia mendapatkannya dengan gratis. Hari ini adalah Jum’at penghujung tahun, seyogyanyalah kita tafakur sejenak atas waktu yang telah dilalui, rezki dan rahmat-Nya yang diperoleh untuk menatap hari-hari dan tahun depan menjadi lebih baik.

Kita dapat melihat contoh-contoh  terdekat yang kita rasakan sepanjang waktu. Setiap saat kita menghirup udara yang mengandung oksigen untuk keperluan tubuh, tanpa ada meteran atau perlu dibayar dengan uang. Coba bandingkan jika kita bandingkan jika kita harus mendapatkan bantuan tambahan oksigen di Rumah Sakit, yang harus dibayar sekitar Rp.10.000,-  setiap menit. Maka kalaulah dihitung, maka dalam satu hari kita berhutang sekitar Rp.14.000.000,- baru untuk oksigen saja. Cahaya matahari yang kita dapatkan setiap hari pada siang hari untuk menerangi rumah, halaman dan tempat kerja dan kita gunakan untuk berbagai keperluan lainnya. Setiap hari kita dapatkan lebih kurang 12 jam tanpa henti, tanpa mati atau menjadi gelap tiba-tiba seperti layaknya listrik yang kita gunakan malam hari. Kalaulah mau dihitung, jika dibandingkan dengan harga rekening listrik yang kita bayar tiap bulan, energi cahaya dan panas yang kita dapatkan itu jauh lebih mahal dari itu.

Jika kita hitung harga nikmat setiap organ yang ada pada kita, maka kita akan takjub semuanya akan bernilai milyaran, trilyunan rupiah atau bahkan tak terhingga. Sebuah bola mata   misalnya, disana ada kornea, ada iris, ada lensa, ada otot-otot mata, ada retina sebagai sensor, ada persarafannya, ada pembuluh darah, kemudian diluarnya ada kelopak mata sebagai pelindungnya. Jika salah satu komponen pada bola mata tersebut sakit dan membutuhkan opersai atau penggantian, maka biaya organ, tindakan operasi, medis dan perawatan yang dibutuhkannya tidak kurang dari seratus juta rupiah. Maka untuk satu bola mata hingga dapat berfungsi dengan baik, tidaklah akan kurang dari satu milyar rupiah. Ini belum termasuk pusat sensor penglihatan di otak dan persarafan yang terkait dengan itu.

Begitu juga halnya, jika kita mau menyadari akan nikmat hidung, semua panca indra yang lainnya, angggota gerak tubuh, ginjal, jantung, dan semua organ tubuh lainnya, semuanya sungguh tak dapat dihitung nilainya. Sehingga berulangkali Allah SWT mengingatkan nikmat Tuhan manalagi yang didustakan manusia (Ar-Rahman [55]:1-78). Inilah yang dikatakan oleh Allah SWT, jika manusia ingin menghitung nikmat yang telah diberikan-Nya, sungguh manusia tidak akan sanggup menghitungnya (Ibrahim [14]:34, An-Nahl [16]:18).

Oleh karena itu, bersyukur atas segala nikmat yang banyak itu adalah sebuah keharusan (Al-Baqarah [2]:172), karena sebenarnya daya upaya manusia adalah teramat kecil untuk memperoleh segala nikmat dan rezki yang diperolehnya, dibandingkan dengan kekuasaan Allah yang memberikannya. Allah SWT sebenarnya yang berkuasa atas segala nikmat dan rezki yang diperoleh manusia, sebagaimana Firman-Nya yang tercantum dalam Al-Quran Surat Al-Waqi’ah [56]: 63-73, Al-Jatsiyah [45]:12, Ar-Ruum [30]:46, Al-Qashash [28]:73 dan An-Nahl [16]:14.  Bahkan bersyukur juga merupakan kebutuhan manusia itu sendiri. Sebagaimana yang dinyakatan oleh Allah dalam Al-Quran Surat Luqman [31]: 12, bahwa siapa saja yang bersyukur, sungguh dia bersyukur untuk dirinya sendiri.

Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari rasa, ucapan dan perbuatan yang mencerminkan bersyukur kehadirat-Nya (Al-Mu’minun [23]:78-80). Kehidupan dunia yang nampak mewah dan mengkilau sesaat telah memalingkan manusia dari bersyukur itu (At-Takatsur [102]:1-2).

Disaaat seseorang masih kuat dan jaya ia sering lupa ada kewajibannya untuk bersyukur terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Allah dalam Surat At-Takatsur [102], banyak diantara manusia, dikala ia masih kaya dan punya harta yang banyak, ia lupa untuk berhaji, menyantuni anak yatim dan memberi makan orang miskin. Namun dikala ia sudah mulai uzur, disaat penghasilan telah tiada, hidupnya juga telah seadanya baru muncul keinginan untuk beruat yang sedemikian itu. Ini sungguh ironi.

Begitu juga, banyak diantara manusia yang ketika masih punya jabatan dan kekuasaan, disaat punya kesempatan dan kemampuan untuk berbuat baik, dikala punya kekuatan untuk merubah lingkungan dan masyarakatnya menjadi sebuah sistim yang harmoni dan diridhai oleh Allah, ia tidak melakukannmya. Justru ia lalai dari tuntunan. Menggunakan semua kekuasaan dan jabatannya jauh dari nilai-nilai kebersyukuran dan tuntunan Allah SWT. Namun tatkala semua tidak lagi di tangan, kekuatan dan kemampuaan yang dimiliki telah hilang, ia ingin menunjukkan pengabdiannya kehadirat Allah SWT. Benarlah yang dikatakan-Nya, bahwa kehidupan dunia telah melalaikan seseorang, hingga ia baru sadar ketika sampai dipenghujung hayatnya, ketika semua daya, upaya, kekuatan, kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya telah hilang.

Dalam kehidupan dunia, kita manusia sering dijangkiti penyakit “Lupa, lalai dan lengah,” yang sebenarnya ditimbulkan melalui proses kesengajaan. Begitu juga dengan kelalian dan kelengahan dari mensyukuri atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Sering seseorang disaat ia berada di puncak kesuksesannya, ia lupa akan kekuasaan Allah yang menjadikannya ia sukses dan jaya, bahkan sering kali menerasa kesuksesan yang diraihnya adalah atas kekuatannya sendiri. Sebagaimana yang diterangkan oleh Allah yang dicantumkan dalam Al-Quran Surat Yaasin [36]:35 dan 73, bahwa banyak diantara manusia merasakan limpahan Rahmat Allah tapi mereka lalai dan lengah dari bersyukur. Sikap dan perbuatan inilah yang dimurkai oleh Allah. Sebagaimana juga yang tercantum dalam Al-Quran Surat Ibrahim [14]:7, yakni orang-orang yang bersyukur akan senantiasa diberikan Rahmat oleh Allah, sebaliknya orang-orang yang membangkang akan diberikan azab. Azab atau hukuman Allah ini bisa datang saat ia masih di dunia atau nanti dihari kemudian. Di dunia, bisa jadi semua Nikmat yang diberikan oleh Allah itu dicabut kembali oleh Allah dalam keadaan seketika, misalnya kerugian besar dalam usaha, kebakaran harta kekayaan, kehilangan jabatannya dan lain sebagainya.

Namun sebaliknya, ungkapan syukur yang diwujudkan dalam kehidupan sosial, misalnya pemurah terhadap orang miskin dan anak yatim, berbuat kebaikan dengan kekuatan jabatannya dan sebagainya, justru akan ditambah oleh Allah SWT. Kita bisa saksikan, orang-orang yang pemurah tiada pernah rugi dan bangkrut dengan kepemurahannya itu. Meskipun kita tidak bisa hitung pertambahan rezki yang dia dapat dengan kebersyukuran itu, kasat mata kita bisa saksikan orang yang pemurah dan tidak angkuh terhadap orang miskin dan anak yatim, menjadi luas dan lapang pergaulannya di masyarakat. Ia akan disenangi semua orang, orang-orang miskin tiada akan iri dan sakit hati kepadanya, tiada yang akan berniat untuk merusak harta kekayaan atau citra pribadinya.

Bahkan tentu banyak lagi yang tidak dapat kita saksikan dengan mata, sebagaiman Allah telah menjanjikan siapa saja yang menafkahkan rezkinya di jalan Allah, Allah pasti akan menggantinya (Saba’[34]:39). Bahkan harta yang dinafkahkan dijalan Allah sebagai perwujudan rasa syukur itu, pasti akan diberlipat gandakan, baik balasan pahalanya, keberkahan hartanya, ataupun Allah akan berikan lagi kepadanya rezki yang berlipat ganda. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah [2]:261, 265 dan 245.

 

Oleh: dr. Hardisman, MHID, PhD

(Dosen Fakultas Kedokteran Unand)