31 C
Padang
Jumat, Januari 22, 2021
Beritasumbar.com

Waspada, Rumpon Asing Si Pembawa Masalah di Perairan Indonesia
W

Rumpon sendiri merupakan jenis alat bantu penangkapan ikan yang biasanya dipasang dibawah laut, baik di perairan dangkal maupun dalam. Pemerintahan Indonesia Harus Lebih Waspada!

Kategori -

Oleh : Dika Putri Sehati dan Shania Refka Fandesti ~ Mahasiswa Biologi, FMIPA, Universitas Andalas.

Laut Natuna merupakan salah satu wilayah laut di Indonesia yang berada di kawasan Provinsi Kepulauan Riau yang berhadapan langsung dengan laut lepas yaitu Laut Cina Selatan. Melihat besarnya potensi sumber daya di daerah Laut Natuna mengundang nelayan-nelayan asing untuk menangkap ikan di daerah Natuna. Hal ini tentu akan merugikan para nelayan lokal dalam bersaing untuk mendapatkan hasil ikan di wilayahnya sendiri. Berbagai cara dilakukan oleh para pencuri ikan asing untuk bisa mendapatkan banyak ikan diwilayah Indonesia, salah satunya ialah menggunakan rumpon. Baru-baru ini dilansir dari Mongabay bahwa terdapat 10 Rumpon asing yang ada di Laut Natuna milik negara Vietnam.

Rumpon sendiri merupakan jenis alat bantu penangkapan ikan yang biasanya dipasang dibawah laut, baik di perairan dangkal maupun dalam. Tujuan dari pemasangan rumpon adalah untuk menarik sekumpulan ikan yang ada atau berdiam di sekitar rumpon. Setelah ikan berkumpul di sekitar rumpon maka ikan-ikan akan ditangkap. Rumpon dalam artian lainnya merupakan karang buatan yang terbuat dari ban, dahan, dan ranting pohon dengan diberikan alat pemberat agar dapat berada di dalam perairan laut. Karang buatan dibuat sealami mungkin agar ikan dapat tertarik untuk mendiami rumpon tersebut. Rumpon yang sudah ditanam akan diberi tanda oleh pemiliknya sehingga memudahkan untuk mengidentifikasi jika sedang berada di atas perairan.

Keberadaan rumpon ini dinilai dapat merusak ekologi perairan dan mengancam keberadaan ikan-ikan. Penanaman rumpon di laut dapat menghambat ikan Tuna dan Pelagis besar untuk berenang ke arah pesisir. Sehingga nelayan tradisional tidak dapat lagi menangkap ikan tuna dan pelagis karena ikan tersebut telah berkumpul si sekitar rumpon. Rumpon di tengah laut dapat mempengaruhi jalur migrasi ikan dan mempercepat eksploitasi tuna sekaligus menggeser lokasi penangkapan makin jauh ke tengah laut. Ikan tuna berenang secara bergerombolan jika terperangkap di rumpon maka populasi ikan tuna dapat menurun.

Tidak hanya nelayan dari lokal saja yang menggunakan rumpon sebagai alat tangkap ikan. Nelayan asing juga menggunakan rumpon bahkan meletakkan di wilayah perairan Indonesia. Potensi laut yang ada di wilayah perairan Natuna memang sangat besar sekali sehingga mengundang pihak-pihak dari luar untuk melakukan penangkap hasil laut di Natuna. Nelayan asing dari negara Vietnam telah berani memasang rumpon di Laut Natuna ini terlihat dari tanda bendera milik negara Vietnam yang dipasang di atas rumpon. Dari UPTD Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan kota Batam mengatakan bahwa sudah ada 10 rumpon milik nelayan asing yang terpasang di Natuna Utara.

Hal ini tentu merugikan bagi nelayan lokal dan ini juga merupakan bentuk pelanggaran karena telah memasuki wilayah perairan Indonesia yang termasuk kedalam status pencurian karena dilakukan secara ilegal. Dengan adanya pemasangan rumpon dari nelayan asing tentu dapat menurunkan hasil tangkap dari nelayan lokal di Natuna karena berbagai ikan telah berkumpul di rumpon tersebut dan tidak lagi berenang ke arah pesisir. Tidak hanya itu, Perbatasan perairan Laut Sulawesi yang masuk dalam teritori Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia juga  menjadi salah satu lokasi perairan yang paling banyak ditemukan rumpon. Rumpon yang dipasang oleh nelayan asing secara ilegel selain menghambat jalur migrasi ikan juga menghambat alur pelayaran kapal perdagangan juga perikanan.

Penggunaan rumpon sendiri oleh nelayan lokal sudah menjadi hal yang biasa selagi rumpon-rumpon tersebut bisa ditata dan dikelola dengan baik serta mengambil potensi ikan secukupnya saja tanpa membabi buta. Salah satu permasalahan yang menjadi momok besar ialah penggunaan rumpon yang membabi buta dan itu dilakukan oleh nelayan asing. Jika hal ini terus dibiarkan, maka sumber daya ikan yang ada di perairan tersebut akan terus dieksploitasi secara ilegal dan lambat laun jumlah ikan yang berada di perairan tersebut akan berkurang jumlahnya. Tidak hanya nelayan lokal yang dirugikan, penangkapan ikan yang dilakukan secara besar besaran tanpa ampun mampu untuk mengurangi tingkat keanekaragamannya (biodiversity) ikan sendiri dan dipastikan spesies tertentu pasti akan menurun populasinya. Jika hal ini terus terjadi, dikhawatirkan keseimbangan ekosistem perairan akan terganggu.

Ekosistem di laut itu seharusnya dijaga karena ekosistem itu akan mempengaruhi segala bentuk kehidupan organisme yang ada didalamya. Dimana, semua organisme seperti ikan akan melakukan segala aktifitas kehidupannya di laut seperi makan, bereprodukdi, bertelur, memijah, dsb. Jika ekosistem laut tidak dijaga dan dikelola dengan baik maka semua potensi yang ada didalammnya akan hilang dan tidak dapat lagi kita gunakan dan rasakan sampai ke generasi berikutnya. Maka dari itu, kita semua harus lebih peduli terhadap ekosistem yang ada di laut.

Disamping itu, hal yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Indonesia sendiri yaitu dengan mempersempit ruang gerak bagi para pelaku penangkapan ikan secara illegal dan menindak tegas semua para nelayan asing yang berani memasuki wilayah perairan Indonesia secara illegal dan bahkan mencuri ikan-ikan yang berada di wilayah Indonesia.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghentikan aktivitas ilegal oleh kapal asing adalah dengan mengangkat secara paksa semua rumpon-rumpon yang ada di lokasi perairan tersebut. Sehingga dengan hal itu, diharapkan pencurian ikan bisa diminimalisir bahkan berhenti. Karena para pencuri ikan sangat bergantung pada rumpon sebagai alat bantu penangkapa ikan.

Selain pemerintah, masyarakat lokal pun juga turut andil dalam permasalahan ini. Dengan melihat dan melaporkan segala aktivitas aneh yang dilakukan oleh para nelayan asing setidaknya mampu untuk membantu pemerintah dalam meminimalisir segala bentuk eksploitasi yang berlebihan dengan menggunakan rumpon maupun alat bantu lainnya. Jika pemerintah telah tegas dengan kebijakan yang telah dibuat serta andilnya masyarakat dalam melaporkan segala tindak keanehan yang dilakukan oleh para nelayan pastinnya laut Indonesia akan tetap terjaga dan potensi yang ada didalamya pun masih  bisa dirasakan dan dinikmati oleh generasi kita selanjutnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Jemput Bola, Sijunjung Adakan Samsat Keliling

Mobil Samsat keliling mempermudah dan meningkatkan gairah masyarakat untuk membayar pajak kendaraan mereka, kata Kepala Samsat Sijunjung, Masri, diruang kerja, Kamis (21/1).
- Advertisement -

Asrama Putri Pesantren Cahaya Islam Payakumbuh Terbakar

Kebakaran hebat terjadi di Lingkungan Padang Kaduduak, Kelurahan Tigo Koto Diate, Kecamatan Payakumbuh Utara, Sabtu (16/1) dini hari. Gedung Asrama Putri Pondok Pesantren Cahaya Islam terbakar sekitar pukul 01.10 WIB.

Lima Kantor Hukum Ajukan Diri Mewakili KPU Lima Puluh Kota di Sidang MK

Tanjung Pati, beritasumbar.com - Menhhadapi sidang persengketaan hasil Pilkada 2020 di Mahkamah Kostitusi, lima kantor hukum mengajukan proposal untuk mewakil Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten...
- Advertisement -

Mobil Damp Truk Terbakar Usai Terjun Kejurang Di Kelok Sembilan

Kamis Malam Sekira jam 01.00 wib satu unit mobil jenis damp truk terjun masuk jurang. Menurut saksi mata dilokasi, Truk jenis Hino BA 9148 OU meluncur dari arah Pekanbaru menuju Payakumbuh.

Nagari Koto Tuo Wakili Sijunjung Lomba Kampung Tangguh Tingkat Sumbar

Nagari Koto Tuo Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Sijunjung dinilai Tim Kampung Tangguh Provinsi Sumatera Barat, Jumat (15/1). Nagari Koto Tuo mewakili kabupaten Sijunjung dalam penilaian Kampung Tangguh yang akan bersaing dengan nagari lain di Sumbar.
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Mimpi bertemu sang Ayah, “Sang Datuk” nya anak-anak; Ceracau soal Wanita hingga Virus Corona

Lama tak berjempa dengan beliau, seingat kami sejak kasus Aksi Panas 4 Maret 2004 bersama Forum Aksi Demokrasi Arus Bawah Univ. Negeri Padang yang berujung di tahannya 20 aktivis UNP oleh sang Rektor waktu itu, beliau mangkat pas seminggu sebelum usai kami dibebas tahankan tepatnya 4 Mei 2004; baru sekali beliau datang dalam mimpi panjang. Entah apa hikmahnya gerangan, hanya Allah SWT yang lebih tahu.

Darurat Gempa Majene! Segera Bantu Saudara Terdampak!

Dilansir laman resmi BNPB, Data per Jumat (15/1), pukul 06.00 WIB, BPBD Mamuju melaporkan korban meninggal dunia 3 orang dan luka-luka 24. Sebanyak 2.000 warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sedangkan kerugian material berupa kerusakan, antara lain Hotel Maleo dan Kantor Gubernur Sulbar mengalami rusak berat (RB). Jaringan listrik masih padam pascagempa.

Melahirkan Kepercayaan Masyarakat Untuk di Vaksinasi

Untuk lahirkan Kepercayaan Masyarakat Pada Vaksin Covid-19 pemerintah perlu lebih transparan soal vaksin Covid-19, terutama pada aspek keamanan dan biaya.

Waspadai ! Perbudakan Intelektual dibalik Akreditasi Perguruan Tiggi

Perguruan Tinggi / Kampus adalah salah satu wadah pendidikan yang sangat berperan penting untuk kemajuan peradaban bangsa dengan mencetak para intelektual yang berkualitas. Melalui keilmuan yang dimilikinya mereka akan terjun kemasyarakat untuk menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi.

Menkes: Bantu para Tenaga Medis dengan Patuhi Protokol Kesehatan

Upaya keras pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid-19 di sisi hilir tidak akan lengkap bila tanpa dibarengi dengan upaya di sisi hulu atau pencegahan. Maka itu, kesadaran seluruh pihak untuk melakukan upaya proaktif mencegah penyebaran Covid-19 amat diharapkan.

Keuntungan Berbisnis Kotoran

Mungkin agak tekesan jorok istilah keuntungan berbisnis kotoran ini kita dengar. Tapi hal ini sangat membantu meningkatkan ekonomi para petani. Kotoran disini yang dimaksud adalah kotoran binatang ternak seperti sapi, kambing, kerbau atau lainnya yang banyak di pelihara masyarakat.

Universitas Bung Hatta Padang Tekan MoU dengan Yayasan Madani

Kamis 17 Desember 2020, bertempat di ruang Rektorat Universitas Bung Hatta Padang telah ditanda tangani kesepakatan atau MOU antara universitas Bung Hatta Padang dengan Yayasan Madani yang mempelopori gerakan Kembalikan Marwah Minangkabau.

Politik Dinasti dan Gerbang Meritokrasi

Bagi banyak individual, tata aturan kekerabatan tidaklah secara teoritis mengesampingkan aturan politik. Menurut definisi morgan terdahulu, kekerabatan megatur keadaan socitas dan yang kedua mengatur civitas. Atau menggunakan terminologi yang sering digunakan sekarang ini yang pertama merujuk pada struktur-struktur respositas dan kedua merujuk pada dikotomi yang jelas.

Simalakama Pandemi: Liburan atau Stay at Home?

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih - Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Corona sudah menjadi beban dunia sejak pertama kalinya China melaporkan adanya penyakit...

Budidaya Sri Rejeki, Pilihan Bisnis Santai Namun Menjanjikan Saat Pandemi

Oleh: Iga Permata Hany & Jelita Putri Adisti Mari mengenal salah satu jenis tumbuhan yang sedang marak dibudidayakan dikalangan ibu-ibu saat ini, siapa lagi kalau...
- Advertisement -