30 C
Padang
Jumat, April 12, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

LOMPATAN LOGIKA MEMBACA PETUNJUK
L

Kategori -
- Advertisement -

Padang,BeritaSumbar.com,-Dalam Al Qur’an Surat An Nahl Ayat 78, diterjemahkan sebagai sebagai berikut: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Petunjuk yang dimaksud dalam artikel ini adalah Al Qur’an sebagai petunjuk yang tertulis atau tersurat bagi semua manusia secara umum dan khususnya bagi setiap Muslim atau orang beragama Islam yang mempercayai dan meyakini kebenarannya. Petunjuk atau Al Huda adalah juga nama lain dari Al Qur’an. Selain itu, ada petunjuk yang tidak tertulis atau tersirat bagi manusia, yaitu tanda-tanda atau gejala-gejala dalam semua peristiwa di Alam Semesta.
Lompatan logika dalam membaca Al Qur’an Surat An Nahl Ayat 78 sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia yang Penulis maksud, dapat dipahami ketika memperhatikan dengan seksama ayat tersebut. Kata-kata kunci dalam ayat tersebut diantaranya adalah: pertama, “mengeluarkan kamu dari perut ibumu”, artinya ketika manusia dilahirkan ke dunia atau dihidupkan oleh Allah SWT ke muka bumi. Kedua, “dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun”, artinya manusia dilahirkan ke dunia atau dihidupkan ke bumi dengan polos tanpa pengetahuan sama sekali. Ketiga, “Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani”, artinya Allah SWT lah yang membuat manusia akhirnya mampu, dan “bersyukur”.
Pertanyaan-pertanyaan ketika Penulis membaca ayat tersebut adalah sebagai berikut: ketika manusia dilahirkan atau dihidupkan, disebut dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, sebagaimana disebut dipertengahan ayat tersebut. Namun mengapa pada akhir ayat ditutup dengan “agar kamu bersyukur”? Bukankah lawan dari “tidak mengetahui” adalah “mengetahui”? Bukankah lawan dari “bersyukur” adalah “tidak bersyukur”?.
Tentu saja pengetahuan kita ketika mencoba berlogika, maka akan memikirkan ayat itu berulang-ulang dan mungkin sambil bertanya apakah ada yang salah dengan ayat ini? Menurut Penulis, maka disitulah dibutuhkan kemampuan melakukan lompatan logika untuk memahami dari “tidak mengetahui” ke “bersyukur”. Karena selain “pendengaran” dan “penglihatan”, untuk mengatasi “keadaan tidak mengetahui sesuatupun” tersebut, Allah SWT memberikan “hati nurani” kepada manusia.
Lompatan logika yang kedua adalah kita harus memperhatikan bahwa bukan hanya alat fisik yang disebut-sebut dalam ayat tersebut seperti “telinga” dan “mata” atau “hati”. Namun yang tertulis dalam ayat tersebut adalah “pendengaran” dan “penglihatan” serta “hati nurani”. Hal-hal tersebut harus dipahami sebagai konsepsi-konsepsi yang harus dipahami secara filosofis.
Selanjutnya, dari ayat tersebut kita diajak untuk berpikir dengan lompatan logika bahwa ketika hidup  diawali dengan “tidak mengetahui”, maka diakhiri dengan tidak cukup hanya menjadi “mengetahui”, namun melampaui itu dengan “bersyukur”. Apakah “bersyukur” merupakan sebaik-baik pencapaian dalam kehidupan manusia? Untuk bisa “bersyukur”, ternyata membutuhkan lebih dari sekedar kemampuan menyerap segala sesuatu dengan indera pendengaran dan penglihatan, bahkan juga akal untuk menalar dan berpikir dengan logika. Lebih dari itu, dibutuhkan kemauan dan kemampuan untuk menggunakan perasaan dengan hati nurani.
Sekali lagi, petunjuk kehidupan manusia tidak hanya yang tersurat dalam Al Qur’an, namun juga yang tersirat di dalam keseluruhan alam semesta. Al Qur’an yang didalamnya terdapat 6666 ayat, 114 surat, dan 30 juz adalah abstraksi-abstraksi berbagai peristiwa dan kejadian yang sudah, sedang, dan akan dialami manusia. Di dalam Al Qur’an, terdapat ayat-ayat yang bersifat deskriptif, eksplanatif, dan preskriptif sekaligus. Sehingga memahami ayat-ayat Al Qur’an memang harus dibedakan dengan naskah-naskah murni yang ditulis manusia, bahkan apalagi hanya sekedar tulisan yang disebut karya ilmiah. Alam semesta juga menyediakan petunjuk yang jika dituliskan, maka tidak akan cukup semua lautan di bumi sebagai tintanya, semua pepohonan di bumi sebagai penanya, dan seluruh permukaan bumi sebagai lembaran kertasnya. Maha benar Allah yang lebih mengetahui dengan sebenar-benarnya.
Penulis: Virtuous Setyaka, S.IP., M.Si.
*Dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Andalas, Padang.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img