24 C
Padang
Minggu, Januari 17, 2021
Beritasumbar.com

Kurikulum Muatan Lokal Kebencanaan Untuk Sumatera Barat
K

Kategori -

Oleh: Rizki Ikhwan, S.Hum *

[dropcap color=”#000000″ font=”0″]D[/dropcap]alam diskusi singkat antara Guru dan Murid disuatu sekolah; “Pak Guru, kemarin sore rumah saya bergoyang, lemari serta semua gelas di dapur berjatuhan dan pecah. Setelah itu ayah saya menyuruh saya untuk lari keluar rumah dan ikut Paman menuju arah perbukitan di batas kota”. Pak Guru menjawab; “Wah, iya Nak. Kemaren sore daerah kita ini dilanda gempa yang cukup dahsyat. Gempa itu adalah goncangan yang terjadi ketiga lempengan / lapis bumi Kita ini bergeser dan bersinggungan. Makanya untuk mencari aman, banyak orang yang keluar rumah ketika gempa terjadi”. Begitulah ilustrasi singkat antara Guru dan salah seorang muridnya yang baru kelas III SD disuatu sekolah. Pemandangan di atas tentunya bisa saja sewaktu-waktu terjadi dan kita temui dalam kondisi yang tidak terduga. Banyak hal yang diluar kemampuan manusia yang tidak mampu mereka antisipasi, terutama yang berhubungan dengan bencana.

Berbicara terkait bencana yang ada, terkhusus melirik kepada wilayah Sumatera Barat, rentetan peristiwa alam yang terjadi beberapa tahun terakhir tentunya bisa diambil pelajaran dan antisipasi, terutama yang berhubungan dengan pelaksanaan mitigasi dan kesiap-siagaan bencana. Salah satu bencana yang menimbulkan efek luar biasa dan pukulan telak yang diterima oleh masyarakat Sumatera Barat yaitu gempa bumi tanggal 30 September 2009 dengan kekuatan 7,9 SR. Gempa yang menimbulkan korban nyawa lebih kurang 1.200 orang ini (sumber: http://nasional.news.viva.co.id/27/10/2009), juga telah memporak-porandakan bangunan yang ada di kota Padang, kabupaten  Padang Pariaman, serta berbagai kota dan kabupaten lainnya yang ada di Sumatera Barat. Bencana siapa menduga dan bisa saja berulang, namun yang terpenting adalah bagaimana setiap elemen yang ada dimasyarakat mengatisipasi hal tersebut dan belajar dari pengalaman yang ada untuk menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi dengan sebuah persiapan yang matang, bukan malah dengan ketakutan ataupun trauma yang mendalam akan peristiwa dimasa lalu.

Kesiap-siagaan bencana tentunya harus menjangkau setiap elemen dan unsur lembaga yang ada disemua lapisan masyarakat, yang meliputi tempat dimana dan kapan bencana itu terjadi. Salah satunya yaitu lembaga pendidikan (red: sekolah) yang melakukan kegiatan dengan jumlah orang yang banyak terlibat didalamnya, seperti kepala sekolah, guru, dan murid. Pengetahuan kebencanaan diusia sekolah terutama sekolah rendah, seperti PAUD, TK dan SD dianggap sangat penting, karena usia sekolah tahap ini dinilai cukup rentan akan konsekuensi yang bakal diterima ketika bencana. Karena usia anak-anak sebelum remaja mempunyai respon dan pengetahuan yang masih rendah ketika terjadi bencana dibandingkan dengan tingkatan sekolah berikutnya (SLTP dan SLTA) yang dianggap mempunyai pengetahuan dan respon yang lebih.

Salah satu bentuk kesiap-siagaan bencana yang sudah pernah dilakukan oleh penyelenggara pendidikan yang ada dibeberapa sekolah di Sumatera Barat yaitu simulasi gempa dan tsunami yang diangkatkan oleh pemprov bekerjasama dengan pemda serta lembaga terkait dibeberapa kota dan kabupaten yang ada di Sumatera Barat. Kegiatan seperti ini dinilai sangat positif dan bermanfaat, terutama dalam mentransfer pengetahuan mitigasi bencana kepada para siswa disetiap sekolah. Namun, ketika simulasi ini hanya berupa event dan diangkatkan sewaktu-waktu ketika dibutuhkan, maka yang didapatkan oleh para siswa hanyalah pengetahuan sesaat yang barangkali ketika dibutuhkan pada kondisi sebenarnya bisa lupa dan tidak terlaksana dengan baik. Salah satu bentuk mitigasi yang terukur dengan baik yaitu menerapkan sebuah kurikulum pembelajaran, sebut saja kurikulum pendidikan “Muatan Lokal Kebencanaan” yang nantinya bisa diterapkan disemua sekolah yang ada di Sumatera Barat. Kenapa mesti diterapkan dengan sebuah kurikulum pendidikan?, hal ini tentunya menjadi pertanyaan dan fikiran bagi sebagian kalangan. Kurikulum Kebencanaa dianggap penting karena ketika kita merefleksi kembali sejarah bencana yang pernah terjadi di Sumatera Barat, sudah patutlah kiranya berbagai pihak mencoba menggagas sebuah terobosan yang nantinya ini tentu sangat bermanfaat ketika diterapkan didunia pendidikan dan menciptakan “Sekolah Aman” bagi siswa.

Berdasarkan PERKA BNPB No.4 tahun 2012, sekolah aman adalah; “Sekolah yang menerapkan standar sarana, prasarana, serta budaya yang mampu melindungi warga sekolah dan lingkungannya dari bahaya bencana”. Kurikulum muatan lokal tersebut merupakan sebuah implikasi atas PERKA diatas dan juga kesiapan sekolah ketika menghadapi suatu bencana yang tak terduga datangnya. Ibarat sebuah pepatah “sedia payung sebelum hujan”, maka kurikulum ini nantinya merupakan persiapan menyeluruh yang bisa dipakai disetiap sekolah.

Ketika bicara kurikulum, tentunya tidak akan lepas dari persoalan anggaran. Baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaanya. Bentuk materi ajar, modul serta buku-buku yang dibutuhkan, sampai pada pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan untuk para pengajar yang akan mentransfer ilmu itu sendiri. Hal ini tentu sulit terlaksana ketika ancaman bencana alam masih dianggap sebelah mata. Sementara kita mengetahui bahwa Indonesia berada di dua patahan lempeng raksasa dunia, dan salah satunya yang besar tersebut berada di sekitar pantai Barat pulau Sumatera tepatnya disekitar pesisir Barat provinsi Sumatera Barat yang mengarah ke Kepulauan Mentawai. Artinya, dengan posisi geografis seperti ini tentunya  bisa menimbulkan peluang terjadinya bencana alam, salah satunya yang cukup besar yaitu gempa bumi. Namun ketika kita berfikir jauh kedepan atas konsekuensi yang bakal diterima atas sebuh bencana alam, kita patut merencanakan sesuatu yang dinilai berharga, bukan sebatas berapa anggaran yang keluar, tetapi manfaat dari penerapan sebuah sistem atau kurikulum yang kita sebutkan di atas tadi. Setiap elemen bisa besinergi dalam menyusun sebuah kurikulum pendidikan kebencanaan ini, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, pemda, dan juga lembaga negara serta swasta yang mumpuni di bidang bencana tersebut. Terkhusus pada Sumatera Barat, Kurikulum Muatan Lokal Kebencanaan mesti menjadi harga mutlak berlatar atas kondisi alam yang ada didaerah ini. Jika diambil perbandingan dengan daerah lain, kabupaten Wakatobi di Sulawesi Tenggara sukses menggagas Kurikulum Muatan Lokal Kelautan untuk menjaga stabilitas dan ekosistem laut di daerahnya. Sumatera Barat dengan segala upaya yang dimiliki tentunya juga bisa melakukan hal serupa. Pemerintah setempat juga bisa belajar terkait Kurikulum Kebencanaan ini ke sekolah-sekolah yang ada di negara lain seperti halnya Jepang, yang mana Mereka sudah terlebih dahulu menerapkannya.

 

*  (Koordinator Program School of Master Teacher, Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa Sumatera Barat)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Menkes: Bantu para Tenaga Medis dengan Patuhi Protokol Kesehatan

Upaya keras pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid-19 di sisi hilir tidak akan lengkap bila tanpa dibarengi dengan upaya di sisi hulu atau pencegahan. Maka itu, kesadaran seluruh pihak untuk melakukan upaya proaktif mencegah penyebaran Covid-19 amat diharapkan.
- Advertisement -

Enam Penambang Emas Tertimbun Longsor Di Solok Selatan, Dua Meninggal

Padang Aro, beritasumbar.com - Akibat curah hujan yang tinggi sejak beberapa hari terakhir, sebanyak enam orang penambang emas asal Jawa Tengah tertimbun longsor di...

Diduga Takut Lihat Polisi Patroli, Sopir L 300 Tinggalkan Mobil Bermuatan Kayu

Diduga takut saat melihat anggota Polsek Lengayang melakukan patroli wilayah, mobil L 300 warna bermuatan kayu diduga hasil Ilegal Logging ditinggal sopir ditengah jalan, di simpang Lubuak Bagalung, Nagari Lakitan Induk, Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan.
- Advertisement -

Menkes: Bantu para Tenaga Medis dengan Patuhi Protokol Kesehatan

Upaya keras pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid-19 di sisi hilir tidak akan lengkap bila tanpa dibarengi dengan upaya di sisi hulu atau pencegahan. Maka itu, kesadaran seluruh pihak untuk melakukan upaya proaktif mencegah penyebaran Covid-19 amat diharapkan.

Payakumbuh Minta Guru Beri Contoh Pada Siswa Dalam Mematuhi Protokol Kesehatan

Payakumbuh, beritasumbar.com -Kepala Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh Bakhrizal memaparkan perihal pembelajaran tatap muka yang telah dilaksanakan, beberapa catatan atau evaluasi yang didapatkan oleh tim gugus...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Waspadai ! Perbudakan Intelektual dibalik Akreditasi Perguruan Tiggi

Perguruan Tinggi / Kampus adalah salah satu wadah pendidikan yang sangat berperan penting untuk kemajuan peradaban bangsa dengan mencetak para intelektual yang berkualitas. Melalui keilmuan yang dimilikinya mereka akan terjun kemasyarakat untuk menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi.

Menkes: Bantu para Tenaga Medis dengan Patuhi Protokol Kesehatan

Upaya keras pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid-19 di sisi hilir tidak akan lengkap bila tanpa dibarengi dengan upaya di sisi hulu atau pencegahan. Maka itu, kesadaran seluruh pihak untuk melakukan upaya proaktif mencegah penyebaran Covid-19 amat diharapkan.

Keuntungan Berbisnis Kotoran

Mungkin agak tekesan jorok istilah keuntungan berbisnis kotoran ini kita dengar. Tapi hal ini sangat membantu meningkatkan ekonomi para petani. Kotoran disini yang dimaksud adalah kotoran binatang ternak seperti sapi, kambing, kerbau atau lainnya yang banyak di pelihara masyarakat.

Universitas Bung Hatta Padang Tekan MoU dengan Yayasan Madani

Kamis 17 Desember 2020, bertempat di ruang Rektorat Universitas Bung Hatta Padang telah ditanda tangani kesepakatan atau MOU antara universitas Bung Hatta Padang dengan Yayasan Madani yang mempelopori gerakan Kembalikan Marwah Minangkabau.

Politik Dinasti dan Gerbang Meritokrasi

Bagi banyak individual, tata aturan kekerabatan tidaklah secara teoritis mengesampingkan aturan politik. Menurut definisi morgan terdahulu, kekerabatan megatur keadaan socitas dan yang kedua mengatur civitas. Atau menggunakan terminologi yang sering digunakan sekarang ini yang pertama merujuk pada struktur-struktur respositas dan kedua merujuk pada dikotomi yang jelas.

Simalakama Pandemi: Liburan atau Stay at Home?

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih - Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Corona sudah menjadi beban dunia sejak pertama kalinya China melaporkan adanya penyakit...

Budidaya Sri Rejeki, Pilihan Bisnis Santai Namun Menjanjikan Saat Pandemi

Oleh: Iga Permata Hany & Jelita Putri Adisti Mari mengenal salah satu jenis tumbuhan yang sedang marak dibudidayakan dikalangan ibu-ibu saat ini, siapa lagi kalau...

Indikasi Bunuh Diri Relawan Covid-19 China di Brasil, Ada apa dengan Pengujian Klinis Vaksin Covid-19?

Oleh : Ramadhila Sari - Penulis adalah Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Kasus infeksi Covid-19 meningkat di 80 negara sebagian orang di belahan bumi utara menghabiskan...

Pandemi Covid-19 Dapat Mengancam Penurunan Populasi Hiu?

Oleh: Nada Julista. S - Mahasiswa Biologi FMIPA Unand Selama pandemi Covid-19 ini, tentunya kita dihadapkan dengan pencarian solusi terkait masalah ini dengan berbagai upaya...

Urgensi Vaksin Covid-19

Oleh: Ayu Resti Andrea Suri - Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Baru-baru ini masyarakat telah digencarkan oleh banyaknya vaksin yang beredar untuk mengatasi Covid-19, akan tetapi...
- Advertisement -