29 C
Padang
Friday, October 30, 2020

Kurikulum Muatan Lokal Kebencanaan Untuk Sumatera Barat

Oleh: Rizki Ikhwan, S.Hum *

[dropcap color=”#000000″ font=”0″]D[/dropcap]alam diskusi singkat antara Guru dan Murid disuatu sekolah; “Pak Guru, kemarin sore rumah saya bergoyang, lemari serta semua gelas di dapur berjatuhan dan pecah. Setelah itu ayah saya menyuruh saya untuk lari keluar rumah dan ikut Paman menuju arah perbukitan di batas kota”. Pak Guru menjawab; “Wah, iya Nak. Kemaren sore daerah kita ini dilanda gempa yang cukup dahsyat. Gempa itu adalah goncangan yang terjadi ketiga lempengan / lapis bumi Kita ini bergeser dan bersinggungan. Makanya untuk mencari aman, banyak orang yang keluar rumah ketika gempa terjadi”. Begitulah ilustrasi singkat antara Guru dan salah seorang muridnya yang baru kelas III SD disuatu sekolah. Pemandangan di atas tentunya bisa saja sewaktu-waktu terjadi dan kita temui dalam kondisi yang tidak terduga. Banyak hal yang diluar kemampuan manusia yang tidak mampu mereka antisipasi, terutama yang berhubungan dengan bencana.

Berbicara terkait bencana yang ada, terkhusus melirik kepada wilayah Sumatera Barat, rentetan peristiwa alam yang terjadi beberapa tahun terakhir tentunya bisa diambil pelajaran dan antisipasi, terutama yang berhubungan dengan pelaksanaan mitigasi dan kesiap-siagaan bencana. Salah satu bencana yang menimbulkan efek luar biasa dan pukulan telak yang diterima oleh masyarakat Sumatera Barat yaitu gempa bumi tanggal 30 September 2009 dengan kekuatan 7,9 SR. Gempa yang menimbulkan korban nyawa lebih kurang 1.200 orang ini (sumber: http://nasional.news.viva.co.id/27/10/2009), juga telah memporak-porandakan bangunan yang ada di kota Padang, kabupaten  Padang Pariaman, serta berbagai kota dan kabupaten lainnya yang ada di Sumatera Barat. Bencana siapa menduga dan bisa saja berulang, namun yang terpenting adalah bagaimana setiap elemen yang ada dimasyarakat mengatisipasi hal tersebut dan belajar dari pengalaman yang ada untuk menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi dengan sebuah persiapan yang matang, bukan malah dengan ketakutan ataupun trauma yang mendalam akan peristiwa dimasa lalu.

Kesiap-siagaan bencana tentunya harus menjangkau setiap elemen dan unsur lembaga yang ada disemua lapisan masyarakat, yang meliputi tempat dimana dan kapan bencana itu terjadi. Salah satunya yaitu lembaga pendidikan (red: sekolah) yang melakukan kegiatan dengan jumlah orang yang banyak terlibat didalamnya, seperti kepala sekolah, guru, dan murid. Pengetahuan kebencanaan diusia sekolah terutama sekolah rendah, seperti PAUD, TK dan SD dianggap sangat penting, karena usia sekolah tahap ini dinilai cukup rentan akan konsekuensi yang bakal diterima ketika bencana. Karena usia anak-anak sebelum remaja mempunyai respon dan pengetahuan yang masih rendah ketika terjadi bencana dibandingkan dengan tingkatan sekolah berikutnya (SLTP dan SLTA) yang dianggap mempunyai pengetahuan dan respon yang lebih.

Salah satu bentuk kesiap-siagaan bencana yang sudah pernah dilakukan oleh penyelenggara pendidikan yang ada dibeberapa sekolah di Sumatera Barat yaitu simulasi gempa dan tsunami yang diangkatkan oleh pemprov bekerjasama dengan pemda serta lembaga terkait dibeberapa kota dan kabupaten yang ada di Sumatera Barat. Kegiatan seperti ini dinilai sangat positif dan bermanfaat, terutama dalam mentransfer pengetahuan mitigasi bencana kepada para siswa disetiap sekolah. Namun, ketika simulasi ini hanya berupa event dan diangkatkan sewaktu-waktu ketika dibutuhkan, maka yang didapatkan oleh para siswa hanyalah pengetahuan sesaat yang barangkali ketika dibutuhkan pada kondisi sebenarnya bisa lupa dan tidak terlaksana dengan baik. Salah satu bentuk mitigasi yang terukur dengan baik yaitu menerapkan sebuah kurikulum pembelajaran, sebut saja kurikulum pendidikan “Muatan Lokal Kebencanaan” yang nantinya bisa diterapkan disemua sekolah yang ada di Sumatera Barat. Kenapa mesti diterapkan dengan sebuah kurikulum pendidikan?, hal ini tentunya menjadi pertanyaan dan fikiran bagi sebagian kalangan. Kurikulum Kebencanaa dianggap penting karena ketika kita merefleksi kembali sejarah bencana yang pernah terjadi di Sumatera Barat, sudah patutlah kiranya berbagai pihak mencoba menggagas sebuah terobosan yang nantinya ini tentu sangat bermanfaat ketika diterapkan didunia pendidikan dan menciptakan “Sekolah Aman” bagi siswa.

Berdasarkan PERKA BNPB No.4 tahun 2012, sekolah aman adalah; “Sekolah yang menerapkan standar sarana, prasarana, serta budaya yang mampu melindungi warga sekolah dan lingkungannya dari bahaya bencana”. Kurikulum muatan lokal tersebut merupakan sebuah implikasi atas PERKA diatas dan juga kesiapan sekolah ketika menghadapi suatu bencana yang tak terduga datangnya. Ibarat sebuah pepatah “sedia payung sebelum hujan”, maka kurikulum ini nantinya merupakan persiapan menyeluruh yang bisa dipakai disetiap sekolah.

Ketika bicara kurikulum, tentunya tidak akan lepas dari persoalan anggaran. Baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaanya. Bentuk materi ajar, modul serta buku-buku yang dibutuhkan, sampai pada pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan untuk para pengajar yang akan mentransfer ilmu itu sendiri. Hal ini tentu sulit terlaksana ketika ancaman bencana alam masih dianggap sebelah mata. Sementara kita mengetahui bahwa Indonesia berada di dua patahan lempeng raksasa dunia, dan salah satunya yang besar tersebut berada di sekitar pantai Barat pulau Sumatera tepatnya disekitar pesisir Barat provinsi Sumatera Barat yang mengarah ke Kepulauan Mentawai. Artinya, dengan posisi geografis seperti ini tentunya  bisa menimbulkan peluang terjadinya bencana alam, salah satunya yang cukup besar yaitu gempa bumi. Namun ketika kita berfikir jauh kedepan atas konsekuensi yang bakal diterima atas sebuh bencana alam, kita patut merencanakan sesuatu yang dinilai berharga, bukan sebatas berapa anggaran yang keluar, tetapi manfaat dari penerapan sebuah sistem atau kurikulum yang kita sebutkan di atas tadi. Setiap elemen bisa besinergi dalam menyusun sebuah kurikulum pendidikan kebencanaan ini, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, pemda, dan juga lembaga negara serta swasta yang mumpuni di bidang bencana tersebut. Terkhusus pada Sumatera Barat, Kurikulum Muatan Lokal Kebencanaan mesti menjadi harga mutlak berlatar atas kondisi alam yang ada didaerah ini. Jika diambil perbandingan dengan daerah lain, kabupaten Wakatobi di Sulawesi Tenggara sukses menggagas Kurikulum Muatan Lokal Kelautan untuk menjaga stabilitas dan ekosistem laut di daerahnya. Sumatera Barat dengan segala upaya yang dimiliki tentunya juga bisa melakukan hal serupa. Pemerintah setempat juga bisa belajar terkait Kurikulum Kebencanaan ini ke sekolah-sekolah yang ada di negara lain seperti halnya Jepang, yang mana Mereka sudah terlebih dahulu menerapkannya.

 

*  (Koordinator Program School of Master Teacher, Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa Sumatera Barat)

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Forum Adat Seni Budaya Anak Nagari (FASBANA) Kota Pariaman adakan MUBES Petama

Pariaman, BeritaSumbar.com,- Afriade selaku Founder FASBANA, menjelaskan bahwa Fasbana ini dibentuk atas kekhawatiran sekelompok pemuda dan anak mudo sekarang ini, mulai jauh...

Dengan Semangat Gotong Royong, Warga Jorong Panti Pabalutan Rambatan Aktifkan Saluran Irigasi “Saisuak”

Tanah Datar, BeritaSumbar.com,- Puluhan warga jorong pabalutan dan jorong berjibaku dan saling bahu membahu gotong royong bersama memperbaiki jalur irigasi pertanian warga...

Club Sepak Bola LPPKI FC Ikut Ambil Bagian Dalam Turnamen U-14

Padang,- Club sepak bola LPPKI FC turut ambil bagian dalam kejuaraan sepak bola U-14 memperebutkan Piala SIWO PWI Sumatra Barat yang diselenggarakan...

Amrizal Munaf Pimpin Tim Pemenangan Darma Tani Batipuah

Tanah Datar,- Puluhan orang yang tergabung dalam barisan pemenangan darma tani berkumpul sambil santap siang dirumah makan pak martin kota padang panjang...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Terapi Hemodialis Bagi Penderita Gagal Ginjal

PENGABDIAN MASYARAKAT  DOSEN FAKULTAS KEPERAWATAN : MANAJEMEN KOMPLIKASI/ KELUHAN HEMODIALISIS DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN PASIEN YANG MENJALANI HEMODIALISIS

Lagi – Lagi Pasangan Mulyadi Dan Ali Mukhni Tidak Menghargai Ruang Publik

Oleh Reido Deskumar Seharusnya pasangan calon gubernur dan wakil gubernur bersyukur adanya ruang publik yang dihadirkan oleh media televisi,...

Mahyeldi Audy Dan Sumpah Pemuda

Oleh Reido Deskumar Peringatan sumpah pemuda tahun 2020 begitu berbeda dari biasanya. Peringatan sumpah pemuda kali ini bersamaan dengan...

Tidak Ada Gunanya Peringatan Sumpah Pemuda Jika Pemuda Tidak Diberikan Ruang Dan Kepercayaan Menjadi Pemimpin

Oleh Reido Deskumar Setiap tanggal 28 Oktober selalu diperingati sebagai hari sumpah pemuda. Salah satu momen bersejarah dari perjalan...
- Advertisement -