30 C
Padang
Kamis, Februari 2, 2023
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Eliminasi Virus Tanaman Melalui Termoterapi dan Kultur Meristem
E

- Advertisement -

Prof. Dr. Ir. Irfan Suliansyah, MS.
Fakultas Pertanian Universitas Andalas

Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan tanaman sumber karbohidrat terbesar keempat didunia setelah padi, jagung, dan gandum.  Berdasarkan kandungan asam amino esensialnya, kentang lebih bergizi dibandingkan ketiga komoditas tersebut.  Padi dan gandum kurang kandungan asam amino triptophan, sedangkan jagung kurang asam amino lisin. Kentang juga mengandung sedikitnya 12 vitamin esensial dan mengandung vitamin C amat tinggi dibanding tanam pangan lainnya. Kentang dapat digunakan untuk produksi pati kualitas tinggi, alkohol, glukosa, pektin, gula, produk protein berkualitas, tinggi, serta pakan ternak.

Secara umum produktivitas kentang di Indonesia masih rendah.  Berdasarkan data BPS pada tahun 2018 produktivitas kentang Indonesia adalah 18 ton per hektarnya (BPS, 2019).  Bandingkan dengan produktivitas kentang pada tahun 2017 di beberapa negara produsen kentang, seperti Perancis (41,3 ton/ha), Belanda (42,07 ton/ha), dan USA (50,3 ton/ha).  Ini berarti produktivitas kentang Indonesia masih belum mencapai separuh produktivitas kentang Eropa atau Amerika. 

Produktivitas kentang dapat ditingkatkan hingga mencapai 30-40 ton/ha melalui penggunaan varietas berproduksi tinggi serta melalui perbaikan teknologi produksi.   Penyebab rendahnya produksi kentang tersebut dapat disebabkan oleh rendahnya kualitas benih, ketersediaan varietas yang berproduksi tinggi, ketersediaan benih bersertifikat, fasilitas penyimpanan yang tidak memadai, serta tingginya biaya produksi. 

Produsen kentang pada umumnya masih mempergunakan benih kentang seadanya, dengan mutu yang tidak jelas bahkan sudah merupakan turunan yang tidak dapat dipantau lagi. Ketersediaan benih kentang bersertifikat nasional saat ini baru mencapai sekitar 15% dari kebutuhan total sekitar 128,6 ribu ton benih per tahun.  Produktivitas kentang juga terkendala oleh serangan hama dan penyakit serta. Organisme penyebab penyebabnya meliputi bakteri, jamur, virus, viroid, mikoplasma, dan nematoda.

Kentang pada umumnya diperbanyak dengan bagian vegetatifnya, yaitu melalui umbinya.  Karena bahan tanamnya berasal dari bagian vegetatif, maka kentang sangat rentan terhadap penyakit-penyakit sistemik yang disebabkan berbagai mikroorganisme, seperti bakteri dan virus.  Patogen penyebab penyakit tersebut akan masuk ke jaringan dan sel tanaman secara sistemik dan terakumulasi dalam umbi kentang.  Patogen akan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan secara gradual akan menurunkan produktivitas kentang (penyakit degeneratif). Akumulasi patogen pada umbi benih kentang tersebut dapat dikatakan sebagai penyebab utama rendahnya produktivitas kentang, khususnya di negara-negara berkembang.  Akumulasi berbagai penyakit tersebut semakin meningkat dari satu musim ke musim berikutnya.  Dengan demikian, semakin banyak penyakit yang terakumulasi di benih kentang, maka akan mengakibatkan produktivitas kentang juga akan semakin menurun.  Telah diidentifikasi ada sekitar 40 macam virus penyebab penyakit pada kentang.

Penyakit yang disebabkan oleh virus dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang amat banyak dan telah lama menjadi kendala produktivitas tanaman. Hasil penelitian sebelumnya melaporkan bahwa ada 40 spesies virus yang dapat menginfeksi tanaman kentang.  Berikut ini adalah beberapa virus yang banyak menyerang tanaman kentang, yaitu potato leafroll virus (PLRV), potato virus S (PVS), potato virus X dan potato virus Y (PVY).  Infeksi tunggal dapat menghilangkan hasil 40–60% karena PLRV, 10–20% karena PVS, 10–50% karena PVX dan 20–50% karena PVY.  Infeksi dengan dua virus mengakibatkan kehilangan hasil lebih besar lagi dibandingkan infeksi tunggal. 

Virus tanaman merupakan parasit intraseluler obligat yang hanya mampu berkoloni dalam sel hidup inangnya dan dapat ditransmisikan melalui perbanyakan vegetatif dari satu generasi ke generasi berikutnya dan bisa ditransmisikan melalui vektor serangga dari tanaman yang terinfeksi ke tanaman yang sehat. Meskipun penggunaan senyawa kimia mampu untuk mengontrol penyebaran virus, namun penggunaan bahan tanam yang bebas virus merupakan strategi yang lebih efisien mengontrol penyebaran virusnya.  Saat ini bahan tanam yang bebas virus sudah sangat luas digunakan untuk mengontrol penyebaran virus pada tanaman-tanaman yang bernilai ekonomi tinggi, seperti tanaman umbi-umbian, tanaman buah, dan tanaman hias herba.  Bahan tanam yang bebas virus diwajibkan jika akan mengimpor kultivar baru dari negara lain dan demikian juga jika ingin mempertukarkan materi pemuliaan tanaman antar negara atau antar daerah. Selain itu, pelestarian plasma nutfah tanaman juga menekankan penggunaan tanaman bebas virus.

Salah   satu alternatif yang dapat dikembangkan dalam   upaya pengadaan benih kentang bermutu adalah dengan teknologi  kultur jaringan (teknik in vitro).  Aplikasi teknologi kultur jaringan selain bertujuan untuk memperbanyak (multiplikasi) tanaman dengan cepat melalui teknik mikropropagasi, teknologi kultur jaringan dapat juga memfasilitasi perbaikan karakter/sifat tanaman menjadi lebih unggul, baik untuk tujuan meningkatkan produksi, maupun untuk meningkatkan resistensi tanaman terhadap berbagai penyakit yang disebabkan oleh faktor biotik dan/atau abiotik. Di samping itu, teknologi kultur jaringan juga dapat dimanfaatkan untuk tujuan pembebasan berbagai penyakit sistemik tanaman.  Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk membebaskan virus tanaman, antara lain kultur meristem, micrografting, chemotherapy, thermotherapy, dan shoot tip cryotherapy.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk membebaskan virus tanaman, antara lain kultur meristem, micrografting, chemotherapy, thermotherapy, dan shoot tip cryotherap.  Kultur meristem merupakan pendekatan pertama dalam kultur jaringan yang telah berhasil memperoleh stok kentang bebas virus.  Melalui teknologi kultur meristem, eksplan kentang, baik ujung tunas atau meristem, nodus, internodus, maupun daun dapat secara in vitro ditanam pada media basal tertentu, seperti media Murashige dan Skoog (MS) pada kondisi yang terkendali.   Bagi bahan yang sulit dieradikasi virusnya, digunakan kombinasi beberapa perlakuan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan thermotherapy dengan perlakuan lain menunjukkan hasil yang lebih efisien untuk eradikasi virus dibandingkan metode tunggal lainnya. 

Termoterapi yang diikuti dengan kultur meristem merupakan teknologi yang paling sering digunakan untuk eradikasi virus berbagai tanaman, termasuh tanaman herba dan tanaman berkayu.  Sebagai contoh, shoot tip cryotherapy gagal untuk mengeradikasi raspberry bushy dwarf virus (RBDV) dan apple stem grooving virus (ASGV).  Sedangkan kombinasi antara thermotherapy dengan shoot tip cryotherapy menghasilkan masing-masing 33% dan 100% bebas RBDV.  Kombinasi thermotherapy dengan shoot tip culture berhasil untuk mengeradikasi grapevine leafroll-associated virus 1 (GLRaV-1), yang merupakan virus yang mudah dieradikasi dan grapevine rupestris stem pitting-associated virus (GRSPaV), yang merupakan virus yang sulit di eradikasi dari tanaman anggur ‘Agiorgitiko’.  Selanjutnya melalui pengaturan zat pengatur tumbuh tertentu, seperti auksin dan sitokinin, maka eksplan yang sudah bebas virus tersebut dapat dimultiplikasi untuk dijadikan sebagai stok induk bagi penangkaran benih kentang. 

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img