spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Kampung Cina Kuala Terengganu : Menyusuri Lorong Tua Di jalur Dagang Selat Malaka dan Padang
K

Kategori -
- Advertisement -

Lebih dari tiga abad lalu, pedagang dari Cina menjadikan pesisir Kuala Terengganu sebagai tempat persinggahan. Jejak mereka masih hidup di rumah toko, kuil, mural, dan kuliner Kampung Cina.

TERENGGANU, Beritasumbar.com – Lampion merah bergelantungan di atas kepala. Lorong di bawahnya hanya selebar beberapa langkah. Dinding-dinding tua di kiri-kanan menyimpan bekas waktu, sementara gambar penyu berderet di lantai seperti mengantar setiap orang yang melintas.

Di sinilah Kampung Cina Kuala Terengganu, Malaysia, yang dijelajahi Beritasumbar.com sebagai pengalaman wisata berjalan kaki, menyusuri lorong tua, dan perlahan menemukan sejarah yang masih hidup ditanah Melayu Madani ini.

Lorenz Law, tokoh masyarakat  Kampung Cina Terengganu menuturkan, Lebih dari tiga abad lalu, pedagang dari Cina menjadikan pesisir Kuala Terengganu sebagai tempat persinggahan. Sebagai bukti, jejak mereka masih hidup di rumah toko, kuil, mural, dan kuliner Kampung Cina.

Kuala Terengganu punya cara sendiri menyimpan masa lalu. Bukan di balik pintu museum, melainkan di antara rumah toko tua, lorong sempit, kedai kopi, mural berwarna-warni, dan aroma masakan yang keluar dari dapur-dapur sederhana.

Di pusat kota itu terdapat Kampung Cina, kawasan yang oleh wisatawan kerap disebut China Town. Permukiman tua ini membentang di jalan utama pusat kota, tak jauh dari muara Sungai Terengganu yang mengalir menuju Laut Cina Selatan.

Berjalan kaki di kawasan ini seperti membuka halaman lama sejarah perdagangan Asia Tenggara. Usianya lebih dari 300 tahun. Sejak abad ke-18 atau bahkan lebih awal, kawasan tersebut telah menjadi tempat persinggahan pedagang.

Hubungan dagang antara Cina dan Terengganu meninggalkan jejak yang kemudian tumbuh menjadi permukiman masyarakat Tionghoa.
Rumah toko tradisional menjadi salah satu penanda paling kuat.

Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur yang mendapat pengaruh negeri Cina masih berdiri di sepanjang kawasan. Sebagian memperlihatkan karakter peranakan percampuran unsur Tionghoa dan budaya lokal yang berkembang melalui hubungan dagang, perkawinan, serta kehidupan sehari-hari.

Di sela bangunan tua itu, Kampung Cina kini tampil sebagai kawasan wisata yang lebih berwarna. Lorong-lorongnya dihiasi mural. Salah satu yang menarik perhatian adalah Turtle Allay, lorong seni dengan lukisan penyu, satwa yang menjadi salah satu ikon Terengganu.

Hampir setiap sudut menyediakan latar foto dinding tua, pintu toko, lampion, mural, hingga gang-gang sempit yang menyambungkan satu bagian kawasan dengan bagian lainnya. Namun Kampung Cina bukan hanya soal latar foto.

Di sana terdapat kuil Ho Ann Kiong, yang dikenal sebagai salah satu simbol penting keberadaan masyarakat Tionghoa di Terengganu. Kuil tersebut diperkirakan dibangun sekitar 1801. Bangunan itu menjadi pengingat bahwa komunitas Tionghoa telah lama menjadi bagian dari perjalanan Kuala Terengganu.

Dari kawasan Kampung Cina, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Pasar Besar Payang. Pasar tradisional ini menjadi salah satu titik yang ramai dikunjungi wisatawan untuk mencari makanan lokal, cendera mata, kain, dan berbagai produk khas Terengganu.

Untuk urusan kuliner, kawasan sekitar Kampung Cina juga menawarkan sejumlah kedai dan restoran. Nama seperti Madam Bee’s Kitchen, Golden Dragon Restaurant, Ah Hung Kopitiam, dan Restoran CT menjadi pilihan bagi pelancong yang ingin menikmati suasana kuliner di kawasan tua tersebut.

Dari Pelabuhan ke Kampung Tua

Sejarah Kampung Cina sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari laut. Kuala Terengganu berada di jalur perdagangan yang menghubungkan Cina, Semenanjung Malaya, dan kepulauan Nusantara. Kapal-kapal membawa manusia sekaligus barang kain, rempah, hasil bumi, dan berbagai komoditas lainnya.

Sebagian pedagang datang untuk berdagang. Sebagian lainnya menetap. Dari aktivitas itulah kawasan-kawasan permukiman tumbuh di sekitar pelabuhan. Kampung Cina menjadi salah satu jejak yang masih dapat dilihat hingga hari ini.

Jejak Serupa di Melaka dan Kota Padang

Menariknya, cerita serupa dapat ditemukan di seberang Selat Malaka, dan di Kota Padang, Sumatera Barat.
Di Padang terdapat kawasan yang juga dikenal sebagai Kampung Cina atau Kampung Pondok. Permukiman Tionghoa di kota tersebut memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan sejak masa kolonial.

Kawasan itu berada di sekitar muara Batang Arau, salah satu kawasan pelabuhan penting dalam sejarah perdagangan Padang. Bangunan-bangunan lama di Kampung Cina Padang memang mengalami kerusakan akibat gempa 2009. Namun sebagian kawasan terus direstorasi dan dikembangkan sebagai bagian dari wisata sejarah Kota Tua Padang.

Di sana berdiri Klenteng See Hin Kiong, yang dibangun pada 1861 oleh pedagang Tionghoa dari klan Tjoan Tjioe dan Tjiang. Klenteng tersebut menjadi salah satu penanda penting keberadaan komunitas Tionghoa di Sumatera Barat.

Jika Ho Ann Kiong di KualaTerengganu berdiri sekitar awal abad ke-19, See Hin Kiong muncul beberapa puluh tahun kemudian. Keduanya menyimpan cerita yang berbeda, tetapi berada dalam satu bentang sejarah yang sama, perdagangan maritim Asia Tenggara.

Dua Chinatown, Satu Jalur Sejarah

Ada benang merah yang menarik antara Kampung Cina Kuala Terengganu dan Kampung Cina Padang. Keduanya berkembang di kota pelabuhan. Keduanya menjadi ruang pertemuan pedagang dari berbagai wilayah. Dan keduanya menyimpan jejak masyarakat Tionghoa yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Uniknya, para keturunan Tionghoa di Kota Padang terbiasa menggunakan Bahasa Minang , sementara di Terengganu dan Melaka biasanya menggunakan Bahasa Cina sendiri.

Pedagang dari Cina bagian selatan, terutama kelompok Hokkien dan Kanton, ikut memainkan peran dalam jaringan perdagangan yang menjangkau pelabuhan-pelabuhan di Asia Tenggara. Selat Malaka menjadi salah satu urat nadinya.

Dari jalur laut itu, barang dan manusia bergerak dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Rempah, kain, hasil bumi, dan komoditas perdagangan berpindah tangan. Bersamaan dengan itu, bahasa, makanan, kepercayaan, arsitektur, dan kebiasaan ikut berpindah. Di situlah budaya Peranakan menemukan ruang tumbuhnya.

Arsip Hidup Kebudayaan Baru

Kampung Cina Kuala Terengganu dan Kampung Cina Padang pada akhirnya bukan sekadar kawasan etnis. Keduanya merupakan arsip hidup tentang bagaimana perdagangan membentuk kota dan bagaimana perjumpaan manusia melahirkan kebudayaan baru.

Di Kuala Terengganu, jejak itu kini dipoles menjadi pengalaman wisata.
Pengunjung bisa berjalan dari satu lorong ke lorong lain, berhenti di depan mural, masuk ke kedai kopi, mengunjungi kuil tua, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pasar Besar Payang yang jaraknya tidak jauh.

Kampung Cina menjadi contoh bagaimana kawasan lama tidak harus ditinggalkan ketika kota bergerak menuju masa depan. Bangunan tua dapat tetap menjadi bagian dari kehidupan, sementara lorong-lorongnya memperoleh fungsi baru sebagai ruang budaya dan wisata.

Pemerintah negeri Terengganu pun pernah merencanakan penjenamaan semula kawasan tersebut menjadi “China Town” untuk menarik lebih banyak pelancong internasional. Nama boleh berubah. Wajah kawasan boleh dipercantik. Namun daya tarik utama Kampung Cina justru terletak pada sesuatu yang tidak mudah dibuat ulang sejarah.

Sore hari, ketika cahaya matahari mulai jatuh di antara bangunan-bangunan tua, Kampung Cina terasa seperti kota kecil di dalam Kuala Terengganu. Ada suara orang berbincang dari kedai. Ada wisatawan mengabadikan mural. Ada pintu-pintu rumah toko yang terbuka. Dan ada bangunan tua yang tetap berdiri, seolah mengingatkan bahwa kota ini pernah menjadi bagian dari jalur perdagangan yang menghubungkan dua sisi Selat Malaka.

Dari Kuala Terengganu hingga Padang, sejarah itu meninggalkan jejak.
Bukan dalam bentuk prasasti besar, melainkan pada lorong, rumah toko, kuil, makanan, dan kehidupan masyarakat yang terus berlangsung.
Itulah sebabnya berjalan kaki di China Town dan Pondok Kota Padang bukan semata-mata perjalanan wisata tapi menelusuri jejak sejarah.***

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img