Agam, BeritaSumbar.com – Tim penelitian SiNergi Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) yang diketuai oleh Prof. Dr. Rince Alfia Fadri, S.ST., M.Biomed., beserta tim Fidela Violalita, M.P., dan Henny Fitri Yanti, M.Sc., didampingi tim peneliti Coffee Education Research Institute (CERI), melakukan kunjungan lapangan ke Lasi Reborn di Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian mengenai berbagi pengembangan kopi spesialtiserta penerapan inovasi dalam rantai pasok kopi di Sumatera Barat.
Prof. Dr. Rince Alfia Fadri menyampaikan bahwa Lasi Reborn menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara generasi muda dan petani mampu menciptakan perubahan positif. Menurutnya, pengembangan kopi membutuhkan sinergi antara inovasi, pendampingan petani, dan penerapan teknologi agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Lahir dari Semangat Generasi Muda
Upaya mengembalikan kejayaan kopi arabika di Nagari Lasi telah dirintis sejak tahun 2013. Inisiatif tersebut dipelopori oleh Suardi Mahmud Bandaro Putiah, yang saat itu menjabat sebagai Wali Nagari Lasi, bersama Kelompok Selaras Alam. Gerakan ini mendapat dukungan dari Rumah Perubahan dan Pertamina melalui program penanaman kembali kopi arabika sebagai langkah awal membangkitkan kembali komoditas yang pernah menjadi identitas daerah tersebut.

Semangat tersebut kemudian dilanjutkan oleh generasi muda. Pada tahun 2019, sekelompok pemuda yang diketuai oleh Rinal Wahyudi untuk mendirikan Lasi Reborn sebagai wadah untuk mengembangkan kopi arabika dengan pendekatan yang lebih modern. Tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas produk, Lasi Reborn juga membangun kemitraan dengan petani melalui pendampingan budidaya, pengolahan pascapanen, hingga pemasaran. Kehadiran komunitas ini menjadi bagian penting dalam upaya mengembalikan kejayaan kopi arabika Nagari Lasi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
Menguatkan Peran Petani Lokal
Kopi Lasi Reborn bekerja sama dengan seluruh sektor mulai dari petani, pelaku usaha, kafe, hingga masyarakat sekitar. Saat ini Lasi Reborn membina sekitar 53 petani yang tergabung dalam dua kelompok tani. Pembibitan dikelola secara mandiri oleh kelompok, kemudian bibit didistribusikan kepada petani untuk ditanam hingga menghasilkan panen yang selanjutnya dipasarkan dengan harga yang mengikuti kondisi pasar. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas hasil panen.
Budidaya sebagai Kunci Mutu Kopi
Tim penelitian juga meninjau praktik budidaya yang diterapkan di lapangan. Mulai dari penyemaian bibit tanaman kopi, hingga proses pembibitan dilakukan sendri oleh Rinal dan rekanan-rekannya. Kemudian, perawatan tanaman dilakukan melalui pemangkasan cabang yang tidak produktif agar nutrisi lebih terfokus pada cabang utama tempat buah kopi tumbuh. Pemupukan dilakukan menggunakan pupuk kandang atau kompos sebagai upaya menjaga kesuburan tanah.

Lasi Reborn menempatkan kualitas sebagai fokus utama dalam setiap tahapan produksi. Hal itu dimulai dari proses pemanenan yang dilakukan secara selektif dengan hanya memetik buah kopi yang telah matang sempurna. Setelah dipanen, buah kopi segera diproses untuk menjaga mutu bahan baku sebelum memasuki tahapan fermentasi, pencucian, hingga pengeringan.
Pendekatan tersebut dilakukan untuk menghasilkan green bean yang memiliki kualitas lebih seragam sekaligus mempertahankan karakter cita rasa khas kopi arabika Lasi. Beberapa metode pengolahan, seperti washed process, honey process, hingga natural process, terus dikembangkan guna menghasilkan profil rasa yang beragam sesuai kebutuhan pasar.
Kelompok tani Lasi Reborn saat ini mengelola sekitar 14 hektar lahan dengan produksi rata-rata mencapai lebih dari 1,3 ton buah kopi basah setiap minggu. Selain itu, kelompok juga menerima pasokan sekitar kurang lebih 600–700 kg buah kopi dari kebun masyarakat seluas 5–6 hektar. Produksi tersebut dipasarkan tidak hanya di berbagai kota di Sumatera Barat seperti Bukittinggi, Padang, Pariaman, Payakumbuh, Solok, dan Pasaman, tetapi juga telah menjangkau Jakarta, Pekanbaru, Batam, Palembang, hingga Yogyakarta.
Inovasi untuk Menembus Pasar yang Lebih Luas
Tidak hanya berfokus pada budidaya, Lasi Reborn juga mulai memperkuat aspek hilirisasi melalui pengolahan kopi bernilai tambah. Green bean yang telah melalui proses sortasi kemudian dipasarkan kepada berbagai pelaku usaha kopi maupun diolah menjadi kopi sangrai dengan profil roasting yang disesuaikan untuk mempertahankan karakter aroma dan cita rasanya.
Lasi Reborn berani mengadopsi teknologi blockchain untuk meningkatkan transparansi rantai pasok kopi. Sistem pencatatan rantai pasok berbasis QR Code mulai diperkenalkan sebagai bagian dari pengembangan ketertelusuran produk, memungkinkan informasi asal-usul produk lebih mudah ditelusuri oleh para konsumen sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen. Upaya tersebut turut membuka peluang promosi di tingkat internasional, termasuk keikutsertaan dalam Amsterdam Coffee Festival 2025. Selain itu, keberadaan Kafe Kopi Lasi yang beroperasi sejak 2020 menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal proses budidaya dan pengolahan kopi secara lebih dekat.
Mengembangkan Kopi Berkelanjutan
Semangat keberlanjutan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan Lasi Reborn. Berbagai limbah hasil pengolahan kopi dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik maupun produk bernilai tambah lainnya, sehingga mampu mengurangi limbah sekaligus mendukung sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Bagi Tim Penelitian SiNergi Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) bersama Coffee Education Research Institute (CERI), praktik yang diterapkan di Lasi Reborn menunjukkan bahwa pengembangan kopi tidak hanya bergantung pada kualitas hasil panen, tetapi juga pada penguatan kelembagaan petani, inovasi teknologi, serta penerapan prinsip keberlanjutan. Kombinasi ketiga aspek tersebut menjadi modal penting dalam meningkatkan daya saing kopi arabika Indonesia di pasar nasional maupun internasional serta contoh nyata bahwa kopi dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif sekaligus memperkuat identitas daerah
