27 C
Padang
Selasa, Agustus 9, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Waspadai Penyakit Efusi Pleura Di Masyarakat
W

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Ns.Yuanita Ananda, S.Kep., M.Kep
Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Efusi pleura adalah suatu keadaan ketika rongga pleura dipenuhi oleh cairan (terjadi penumpukan cairan dalam rongga pleura). Kelainan pada pleura hampir selalu merupakan kelainan sekunder. Kelainan primer pada pleura hanya ada dua macam, yaitu: Infeksi kuman primer intrapleura dan Tumor primer pleura.

Patogenesis

Timbulnya efusi pleura dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi seperti adanya gangguan dalam reabsorbsi cairan pleura (misalnya karena adanya tumor), peningkatan produksi cairan pleura (misalnya akibat infeksi pada pleura). Sedangkan secara patologis, efusi pleura terjadi dikarenakan keadaan-keadaan seperti:

  1. Meningkatnya tekanan hidrostatik (misalnya akibat gagal jantung);
  2. Menurunnya tekanan osmotik koloid plasma ( misalnya hipoproteinemia);
  3. Meningkatnya permeabilitas kapiler (misalnya infeksi bakteri);
  4. Berkurangnya absorbsi limfatik.

Etiologi

Penyebab efusi pleura dilihat dari jenis cairan yang dihasilkannya adalah sebagai berikut.

  1. Transudat.
  2. Gagal jantung, sirosis heaptis dan asites, hipoproteinemia pada nefrotik sindrom, obstruksi vena kava superior, pascabedah abdomen, dialisis peritoneal, dan atelektasis.
  3. Eksudat
  4. Infeksi (pneumonia, TBC, virus, jamur, parasit, abses).
  5. Neoplasma (Ca. Paru, metastasis, limfoma, leukimia).
  6. Emboli/infark paru.
  7. Penyakit kolagen (SLE, reumatoid artritis).
  8. Penyakit gastrointestinal (pankreatitis, ruptur esofagsus, abses hati).
  9. Trauma (hemotorak, khilotorak).

Fisiologi Pleura

Pleura merupakan membran tipis yang terdiri atas dua lapisan yang berbeda, yaitu pleura viseralis dan pleura parietalis. Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hillus paru. Dalam beberapa hal terdapat perbedaan antara kedua pleura ini, yaitu sebagai berikut.

  1. Pleura viseralis

Bagian permukaan luarnya terdiri atas selapis sel mesotelial yang tipis (tebalnya tidak lebih dari 30 µm), di antara celah-celah  sel ini terdapat beberapa sel limfosit. Terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit di bawah sel mesotelial. Struktur lapisan tengah memiliki jaringan kolagen dan serat- serat elastik, sedangkan lapisan terbawah terdapat jaringan interstisial subpleura yang sangat banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari arteri pulmonalis dan brakialis serta kelenjar getah bening. Keseluruhan ajringan pleura viseralis ini menempel dengan kuat pada jaringan parenkim paru.

  • Pleura parietalis

Lapisan Pleura parietalis merupakan lapisan jaringan yang lebih tebal dan terdiri atas sel-sel mesotelial serta ajringan ikat ( jaringan kolagen dan serat-serat elastik). Dalam jaringan ikat ini terdapat pembuluh kapiler dari arteri interkostalis dan mammaria interna, kelenjar getah bening, banyak reseptor saraf sensorik yang peka terhadap rasa nyeri. Di tempat ini juga terdaapt perbedaan temperature. Sistem persarafan berasal dari nervus interkostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan dermatom dasa. Keseluruhan jaringan pleura parietalis ini menemel dengan mudah, tetapi juga mudah dilepaskan dari dinding dada di atasnya.

Cairan pleura di produksi oleh pleura parietalis dan di reabsorbsi oleh pleura viseralis. Cairan terbentuk dari filtrasi plasma melalui endotel kapiler dan di reabsorbsi oleh pembuluh limfe dan venula pleura.

Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga kosong antara kedua pleura tersebut, karena biasanya ditempat ini hanya terdapat sedikit (10-20 cc) cairan yang merupakan lapisan tipis serosa dan selalu bergerak secara teratur. Cairan yang sedikit ini merupakan pelumas antara kedua pleura, sehingga memudahkan kedua pleura tersebut bergeser satu sama lain. Dalam keadaan patologis rongga antara kedua pleura ini dapat terisi dengan beberapa liter cairan atau udara.

Diketahui bahwa cairan masuk ke dalam rongga melalui pleura parietalis dan selanjutnya keluar lagi dalam jumlah yang sama memalui membran pleura viseralis  memalui sistem limfatik dan vaskular. Pergerakan cairan dari pleura parietal ke pleura viseralis dapat terajdi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik dan  tekanan osmotik koloid plasma. Cairan terbanyak direabsorbsi oleh sistem limfatik dan hanya sebagian kecil yang direabsorbsi oleh sistem kapiler pulmonal.Hal yang memudahkan penyerapan cairan pada pleura viseralis adalah terdapatnya banyak mikrofili di sekitar sel-sel mesotelial.

Patofisiologi

Patofisiologi terajdinya efusi pleura bergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini terajdi karena perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan interstisial submesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura, Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura.

Pada umumnya, efusi karena penyakit pleura hampir mirip plasma (eksudat), sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan ultrafiltratplasma (transudat). Efusi yang berhubungan dengan pleuritis disebabkan oleh peningkatan permeabilitas pleura parieatlis sekunder (akibat samping) terhadap peradangan atau adanya neoplasma.

Klien dengan pleura normal pun dapat terjadi efusi pleura ketika terjadi payah/gagal jantung kongestif. Saat jantung tidak dapat memompakan darahnya secara maksimal ke seluruh tubuh maka akan terjadi peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler selanjutnya timbul hipertensi kapiler sistemik dan cairan yang berada dalam pembuluh darah pada area tersebut menjadi bocor dan masuk ke dalam pleura, ditambah dengan adanya penurunan reabsorbsi cairan tadi oleh kelenajr limfe di pleura mengakibatkan pengumpulan cairan yang abnormal/berlebihan. Hipoalbuminemia (misal pada klien nefrotik sindrom, malabsorbsi atau keadaan lain dengan asites dan edema anasarka) akan mengakibatkan terjadinya peningkatan pembentukan cairan pleura dan reabsorbsi yang berkurang. Hal tersebut dikarenakan adanya penurunan pada tekananan onkotik intravaskular yang mengakibatkan cairan akan lebih mudah masuk ke dalam rongga pleura.

Luas efusi pleura yang mengancam volume paru, sebagian akan bergantung pada kekakuan relatif paru dan dinding dada. Pada volume paru dalam batas pernapasan normal, dinding dan cenderung rekoil ke luar sementara paru-paru cenderung untuk rekoil ke dalam.

Pengobatan

  1. Mengonsumsi antibiotik: Antibiotik biasanya akan diresepkan oleh dokter apabila kondisi ini disebabkan oleh penyakit, seperti pneumonia dan empiema.
  2. Kemoterapi atau radioterapi: Jika penumpukan cairan pada pleura diakibatkan oleh penyakit, seperti kanker paru dan limfoma, dokter akan menjalankan prosedur kemoterapi dan radioterapi untuk mengurangi sel kanker.
  3. Obat diuretik: Pemberian obat diuretik biasanya dilakukan apabila pasien mengidap penyakit yang berhubungan dengan jantung, seperti gagal jantung kongestif.

Mengatasi efusi pleura secara langsung

  1. Pleurodesis: Cairan khusus akan disuntikkan ke area membran dan menyebabkan peradangan ringan. Hal ini membantu mencegah cairan yang menumpuk bertambah banyak. Zat kimia yang sering disuntikkan adalah tetracycline, sterile talc dan bleomycin. Pleurodesis paling sering digunakan pada perawatan efusi berulang yang disebabkan oleh kanker.
  2. Pemasangan drainase: Memasang drainase secara permanen adalah cara lain untuk membantu mengeluarkan cairan di pleura. Begitu cairan terbentuk, drainase dapat langsung mengeluarkannya dari rongga dada.
  3. Pemasangan shunt: Mirip dengan pemasangan drainase, prosedur ini bertujuan untuk mengeluarkan cairan dari dada ke rongga perut.
  4. Pleurektomi: Apabila seluruh prosedur di atas sudah dilakukan namun tidak menunjukkan keberhasilan, operasi pengangkatan pleura akan direkomendasikan.
- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img