dr. Hardisman, MHID, PhD

Padang,BeritaSumbar.com,-Salah satu ibadah yang utama dan sangat besar nilainya dalam Islam adalah shalat jama’ah. Dalam hadits disebutkan bahwa shalat berjama’ah di masjid memperoleh keutaman dua puluh lima higga dua puluh tujuh derajat dibandingkan shalat sendiri di rumah atau di tempat kerja. Besarnya keutamaan itu dapat diraih dengan ikhlas dan berjalaan ke masjid dalam keadaan suci.

Lebih lanjut dari keutamaan tersebut, hikmah shalat berjama’ah dapat diterapkan dalam kehidupan yang lebih luas,  salah satunya dapat dilihat dalam aspek kepemimpinan.

Shalat jamaa’ah dapat diambil hikmahnya tentang bagaimana mengangkat pemimpin, prosedur legal mengganti pemimpin sebelum waktunya berakhir, bagaimana sikap dan akhlak seorang pemimpin dalam memegang kekuasaannya, serta tata aturan berorganisasi dan bernegara dan taat pemimpin.

Pertama, mengangkat imam untuk shalat berjama’ah merupakan cerminan dalam mengangkat pemimpin organisasi, daerah, atau negara. Dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud disebutkan dengan rinci urutan kriteria orang yang pantas dijadikan imam (HR Muslim).

Seseorang yang dipilih menjadi imam adalah yang orang yang fasih bacaan Al-Qurannya dan bagus Ilmu Al-Quran-nya. Jika kefasihan bacaan dan ilmu Al-Qurannya sama maka diangkat yang paling paling tahu danfaham sunnah, jika kefahaman sunnah seimbang barulah pertimbangannya diangkat yang lebih tua diantara mereka. Lalu, jika dalam criteria tersebut sebanding, maka dililihlah yang paling dulu masuk Islam atau hijrah. Kriteria imam ini dapat menjadi cerminan dalam mengangkat pemimpin.

Imam harus bagusnya bacaan akan meningkatkan ketenangan dan kekhusukan makmum dan semua jama’ah dalam shalat. Aplikasi dalam mengangat pemimpin adalah, pemimpin seyogyanya dipilih adalah mereka yang cakap berbicara dan berkualitas isi pebicaraanya.

Begitu jugalah dalam mengangkat pemimpin organisasi, daerah atau bahkan negara. Pemimpin yang akan diangkat adalah simbol dan cerminan rakyatnya.  Pemimpin yang cakap dalam bicara dan berkualitas isi pembicaraanya, dalam pertemuan-pertemuan formal dengan daerah atau bangsa lain, maka akan mengangkat nama daerah yang dipimpinnya. Merekalah jugalah yang akan melakukan negosiasi dan diplomasi dengan fihak lain.  Seorang pemimpin yang mampu berbicara dengan berkualitas dan cakap dalam penyampaian, akan dapat menyampaikan pesan-pesan  yang dapat menguntungkan bagi daerah yang dipimpinnya.

Sebaliknya, jika seorang pemimpin tidak cakap berbicara, tentunya hasil negosiasi tidak dapat diharapkan akan menguntungkan bagi darah yang dipimpinnya. Bahkanbisa jadi karena ketidakcakapannya dalam berbicara dan bernegosiasi, daerah yang dipimpinnya bisa ridak dianggap atau tidak sepadan dalam bernegosiasi.

Kriteria imam yang kedua adalah orang yang lebih faham sunnah, yang berarti lebih berilmu tentang kontekstual dan dapat menjelaskan dengan baik. Seorang  pemimpin juga semestinya demikian. Ia tidak hanya cakap dalam bicara dan punya kemampuan pokok, tetapi juga semestinya mengerti kontekstual setiap aspek yang dibicarakannya.

Memang tidak ada pemimpin yang ahli dalam segalanya. Tidak mungkin juga mereka yang punya gelar sarjana dan pendidikan pada semua bidang ilmu. Namun, pemahaman aspek-aspek utama secara kontekstual adalah mutral diperlukan. Jika dalam hal shalat jama’ah, imam yang mengerti sunnah tau bagaimana ‘kafiat’ (tata cara) shalat yang benar dan aspek-aspek hukum fiqih dalam shalat, maka dalam hal kepemimpinan, seorang pemimpin juga mesti faham aspek pokok hukum, prosedur birokratif dan tata aturan kelembagaan.

Kiriteria imam shalat selanjutnya adalah yang lebih tua dan lebih dulu hijrah, atau penduduk setempat. Ini adalah cerminan usia, pengalaman, dan pemahaman daerah yang dipimpinnya. Kriteria ini  dipertimbangkan bila syarat   kecakapan dan ilmu sudah terpenuhi.

Bila kcakapan berbicara dan ilmu sudah layak, maka usia dan pengalaman perlu dipertimbangkan untuk mengangkat pemipin akan sangat menentukan kesuksesannya dalam memimin daerahnya.

Begitu juga dengan lebih lamanya dia menetap didaerah tersebut, maka semakin faham dia akan aspek sosial dan budaya setempat. Pemahaman ini juga akan membantu keberhasilan dalam memimpin. Sebaliknya, bila hanya memperyimbangkan mengangkat pemimpin hanya karena putra daerah, namun melupakan aspek kecakapan, ilmu, dan pengalaman, maka tidak akan berhasil dalam kepemimpinannya.

Kedua, shalat jamaah mempunyai hikmah dan mengajarkan kita bagaimana prosedur legal mengganti pemimpin sebelum waktunya berakhir. Imam yang ditunjuk dalam shalat jama’ah adalah untuk diikuti. Begitu juga halnya dengan pemimpin yang telah dipilih dan disepakati bersama.

Jika dalam shalat jama’ah, imam salah atau bahkan batal shalatnya maka ada tata aturan menegurnya, sehingga shalat semua makmum tetap sah dan tidak rusak. Misalnya, ketika imam yang salah bacaannya misalnya pada shalat yang bacaannya dikeraskan, atau lupa gerakan yang merupakan rukun shalat, maka makmum laki-laki bertasbih dengan sedikit keras atau bertepuk bagi makmum perempuan sebagai peringatan terhadap imam untuk memperbaikinya.

Tidak dibenarkan, bahkan membatalkan shalat yang bersangkutan, ketika imam tersalah lalu ada makmum berteriak “Anda salah”, atau apalagi mencela imam tersebut. Hal ini mengajarkan kita, bahwa dalam kepemimpinan organisasi, daerah atau Negara, mestilah menegur kesalahan pemimpin melalu tatacara dan prosedur yang sah, sehinga tidak menyebabkan kegaduhan.

Akan tetapi, yang ketiga shalat jama’ah juga mengajarkan imam mesti diganti saat itu juga tatkala imam batal shalatnya, misalnya tiba-tiba ia berbicara yang diluar bacaan shalat, atau tiba-tiba batal wuduknya. Imam diganti oleh makmum yang terdekat dangannya, melangkah ke depan mengambil posisi imam tanpa berbicara yang lain dan melanjutkan shalat.

Dalam hal kepemimpinan, mengganti imam ini mengajarkan kita bahwa tatkala ada kesalahan fatal pada pemimpin yang dapat merusak organisasi, daerah atau negara yang dipimpinnya maka ia mesti diganti. Selama pengantian imam, roda organisasi tetap terus berjalan, tanpa merusak tatanan organisasi yang telah terbentuk dan terbina selama ini.

Terkait dalam hal ini, tercermin juga dalam shalat jama’ah bahwa imam yang batal shalatnya punya nilai etika dan harga diri yang tinggi. Ia tidak bersikukuh mempertahankan posisinya sebagai imam, namun ia sadar, jika ia tetap menjadi imam akan dapat merusak jama’ah yang dipimpinnya.

Ini mengajarkan kita, bagaimana seorang pemimpin mempunyai rasa tanggungjawab dan sikap moral yang tinggi. Posisi sebagai pemimpin yang diembannya ia sadari adalah amanah dn untuk kemaslahatan masyarakat atau daerah yang dipimpinnya. Sehingga, jika ia bermasalah berat secara hukum atau cacat moral dalam memimpin, dengan sadar ia tidak layak lagi, dan senang hati digantikan dengan “Imam” yang lebih layak.

Oleh: Hardisman, PhD

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

 

 

loading...