25.5 C
Padang
Senin, Oktober 18, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Setahun Jokowi-JK, Kinerja Politik & Ekonomi Melorot
S

Kategori -
- Advertisement -

Jakarta – Setahun menjabat Presiden dan Wakil Presiden, banyak muncul versi: kritik, apresiasi maupun catatan atas kinerja nahkoda RI. Satu yang paling menonjol adalah soal ketegangan politik. Berseberangannya kubu KIH dan KMP, membuat praktek perpolitikan yang berimbas ke bidang lain terutama ekonomi, terganggu. Belakangan, yang terjadi di politik nasional tampak terkonsolidasi : mulai dekatnya hubungan dua kubu di satu sisi dan mulai kritisnya kubu partai penyokong pemerintah terhadap kinerja Jokowi-JK.

Di saat bersamaan, soliditas pendukung pemerintah juga sedang diuji dengan keterlibatan anggota parpol mereka : Rio Capella (Nasdem) dan Dewi Yasin Limpo (Hanura) dalam praktek korupsi yang berujung ditangkapnya mereka oleh KPK.

Sementara di bidang ekonomi, ada lokomotif yang berlari terlalu kencang di tubuh pemerintah. Gerbong kereta tertinggal jauh dan seringkali acak-acakan karena lokomotif terlalu liar bergerak. Lokomotif ini pengamat sebut dikendalikan oleh ‘masinis’ menteri BUMN Rini Soemarno. Hutang baru sebesar 40 Trilyunan Rupiah ke Cina yang mengiringi proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang jatuh ke tangan negeri Tiongkok adalah yang terbaru.

Di rakyat bawah, kondisi perekenomian yang sangat sulit menyebabkan publik sulit bergembira saat 365 hari pertama kepeimpinan Jokowi-JK. Meningkatnya pengangguran karena buruh dirumahkan, ekonomi lesu dan perusahaan lokal susah bersaing karena komponen bisnisnya harus impor sementara Rupiah masih melemah, bahkan sempat sangat lemah pada awal Oktober.

Yang mengerikan sebetulnya adalah dampak asap di banyak daerah. Kabut pembunuh yang tadinya hanya ada di Kalimantan, muncul di Sumatera. Dua pulau ini adalah penderita reguler asap tahunan, namun kali ini berlipat-lipat parahnya. Belakangan, asap ini mulai menerjang pulau Sulawesi dan Papua. Setelah sekian lama terjadi, tak ada penanganan serius dari pemerintah.

Meski di beberapa sektor tampak menggembirakan, misalnya di bidang perlindungan usaha lokal dengan pengetatan pajak impor untuk makanan dan minuman, secara keseluruhan tampak ketidakpuasan. Bursa saham yang melemah adalah tanda kekecewaan pelaku pasar global terhadap pemerintah. Demikian juga elemen seperti mahasiswa, buruh, petani yang meningkat kekecewaannya terhadap pemerintah. Semua indikator negatif itu, serentak dalam seminggu ini muncul di berbagai survei di media.

Kinerja ekonomi pemerintah saat ini juga membawa dampak sistemik yang mungkin luput dari pengamatan publik. Yaitu anjloknya kapitalisasi pasar untuk perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Saham Indonesia. Yang lebih menyedihkan, turunnya kapitalisasi BUMN turun lebih dari dua kali lipat dibanding perusahaan swasta, yakni minus 11.1% (BUMN, senilai Rp 146 Triliun) dibandingkan 4.8% (non-BUMN). Parahnya lagi, Indonesia kehilangan 11.1% (Rp 83 Triliun) kepemilikannya di BUMN karena dijual ke asing. Semua ini tak lepas dari kiprah Menteri BUMN Rini Soemarno. (red/rfk)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img