Oleh: Azhari

Jambi, 23/10 – Lebih sebulan, kabut asap mengepung sebagian besar Pulau Sumatera dan Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau panjang (el-nino) yang melanda negeri ini.

Setiap hari, masyarakat seperti di Jambi terpaksa menghirup udara berkategori berbahaya dikarenakan udara bersih yang tersisa hanya sekitar lima persen lagi.

Puskesmas, klinik dan rumah-rumah sakit di daerah yang diselimuti kabut asap seperti di Kota Jambi pun dipadati warga terkena dampak pekatnya kabut asap untuk mendapatkan perawatan.

“Kami sudah sesak menghirup asap, ke depan jangan ada lagi kebakaran hutan dan lahan,” kata warga Desa Pandan Sejahtera Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Edi Suwarno.

Kasihan bayi dan anak-anak, serta warga lanjut usia, mereka kelompok yang rentan terkena penyakit dampak pekatnya kabut asap.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jambi menyebutkan sekitar 60.000 warga setempat terkena Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) dalam kurun waktu dua bulan atau selama musim kabut asap.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Andi Pada mengatakan peningkatan penderita ISPA terjadi pada akhir bulan Agustus hingga minggu ke tiga September 2015.

“Akhir Agustus penderita ISPA tercacat sebanyak 29.000 orang. Dan pada September hingga minggu ke tiga mengalami peningkatan, penderita ISPA tercacat sebanyak 31.000 orang. Jadi dari Agustus hingga September minggu ketiga penderita ISPA sebanyak 60.000 orang,” kata Andi Pada di Jambi.

Sebelumnya, penderita ISPA per bulan hanya berkisar 6-8 ribu orang namun mulai Agustus penderita ISPA mencapai sekitar 2.000 orang per minggu.

Tidak hanya penyakit ISPA, dampak kabut asap pada musim kemarau tahun ini juga menyebabkan peningkatan penderita diare. Di Kota Jambi, misalnya tercatat sebanyak 2.386 warga menderita diare.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jambi Ida Yuliati menyebutkan kasus penderita diare sebelumnya tercatat sebanyak 1.288 kasus dan terjadi peningkatan signifikan pada bulan ini.

Ida mengatakan pihaknya telah menginformasikan kepada seluruh kepala puskesmas agar siap melayani pasien yang terdampak kabut asap.

“Saya rasa tidak perlu mendirikan posko kesehatan, karena di puskesmas pasiennya tidak menumpuk atau bisa terlayani dengan baik,” katanya.

Selain diare, penderita Pneumonia juga mengalami peningkatan, yakni tercatat sebanyak 173 kasus dengan gejala umum penyakit tersebut meliputi batuk demam dan kesulitan bernapas.

Karenanya ia mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kondisi kesehatan dan kekebalan tubuh dengan banyak mengkonsumsi vitamin dan makanan yang mengandung air seperti buah segar.

“Pola hidup sehat dan keluar rumah menggunakan masker bisa meminimalisir terkena dampak kabut asap pada musim kemarau ini,” katanya menambahkan.

Pekatnya kabut asap selama 2,5 bulan itu mendorong aktivis lingkungan membentuk posko pengaduan masyarakat yang terkena dampak bencana tahunan tersebut.

Manajer Advokasi Walhi Jambi Rudiansyah menyebutkan rata-rata warga mengadu soal kesehatannya yang terganggu seperti terkena ISPA dan bahkan pedagang kaki lima juga mengadu karena pendapatannya menurun selama kabut asap ini.

“Selain itu ada juga pelajar yang mengadu soal sekolah dan aktivitas belajar dan mengajarnya terhenti selama dilanda kabut asap ini,” kata Rudiansyah.

Dia mengatakan posko yang didirikan sejak satu bulan yang lalu itu bertujuan memfasilitasi warga negara untuk menggugat atas kerugian yang ditimbulkan dari bencana asap.

Rudiansyah menyebutkan dalam pasal 28 H Undang-Undang Dasar disebutkan bahwa lingkungan hidup yang bersih dan sehat adalah hak azasi warga negara.

“Gugatan warga negara atas kerugian yang ditimbulkan dari kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh korporasi itu dilindungi dan diakui oleh undang-undang,” katanya menjelaskan.

Tidak hanya menurunnya kesehatan masyarakat, pekatnya kabut asap juga berimbas lumpuhnya operasional Bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi.

Pihak otoritas Bandara Sultan Thaha Jambi menyebutkan ratusan jadwal penerbangan pesawat komersial dari dan tujuan Jambi dibatalkan selama kabut asap pekat menyelimuti daerah itu.

Jadwal penerbangan yang dibatalkan tersebut di antaranya penerbangan dari berbagai daerah menuju Jambi dan juga sebaliknya.

Dalam situasi normal, terdapat 36 jadwal penerbangan setiap hari dari dan tujuan Jambi.

Kabut asap yang semakin hari terus pekat di Jambi akibat kebakaran hutan dan lahan itu ini telah berdampak keberbagai sektor kehidupan.

Sektor pendidikan juga tidak normal, aktivitas sekolah di Jambi tidak berjalan semestinya dikarenakan pekatnya kabut asap.

Luas Hutan Terbakar

Dansatgas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Provinsi Jambi Kol Inf Makmur mengatakan seluas 15.864 hektare hutan dan lahan terbakar di daerah itu.

“Hingga saat ini total yang sudah dipadamkan seluas 15.600 hektare, sementara yang masih terbakar sekitar 200 hektare lagi,” kata Dansatgas Kolonel (Inf) Makmur.

Luas kebakaran yang meliputi kawasan hutan dan areal penggunaan lain baik perkebunan dan hutan tanaman industri di sejumlah daerah itu Jambi.

Personil yang masih melakukan pemadaman diantaranya TNI, Brimob Polri dan manggala agni yang juga petugas BPBD dibantu masyarakat dan relawan, katanya.

Untuk mempercepat pemadaman, Pemerintah Pusat juga telah membuka pintu bantuan asing, diantaranya dari Malaysia dan Australia.

Meski bantuan asing ikut dilibatkan, namun kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Bahkan, kabut asap dalam beberapa hari terakhir tambah pekat.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Irmansyah Rahman mengatakan, penanganan kebakaran dan kabut asap di Jambi harus sesegera mungkin diambilalih oleh pemerintah pusat agar cepat teratasi.

“Penanganan masalah kebakaran dan asap kita ini harus diambilalih oleh pusat karena ini semakin mengkhawatirkan,” kata dia menjelaskan.

Dia menjelaskan jika ditangani pemerintah pusat sangat efektif dengan melakukan penyisiran titik api, mulai dari arah selatan dan dilanjutkan ke arah utara.

“Asap kita ‘kan tidak hanya dari kebakaran di wilayah kita sendiri, tapi juga dari Sumatera Selatan, parahnya asapnya langsung mengarah ke Jambi. Kita lihat di satelit, ‘hotspot’ di wilayah Sumsel itu nyaris selalu ada dan tidak pernah hilang,” katanya.

Dia mengatakan, titik api di Jambi pada Senin hanya satu titik, yakni di Kabupaten Kerinci dan sudah jarang ditemukan di wilayah Jambi.

“Hotspot di Jambi sendiri ‘kan sudah jarang ditemukan, yang jelas itu berkat usaha keras Satgas Karhutla kita di lapangan,” katanya.

Satgas di lapangan sedang melakukan pendinginan di lokasi kebakaran terutama di lahan gambut sebab jika dipermukaan api padam di bawah belum tentu ikut padam.

“Titik api ‘kan paling banyak di Sumatera Selatan, arah angin juga pada umumnya dari arah selatan dan tenggara. Untuk di Jambi kita sedang lakukan pendinginan di lokasi kebakaran,” katanya.

Sementara itu, kadar Indeks Standar pencemaran Udara di Kota Jambi, menurut Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Jambi masih tinggi, sehingga masih berpotensi membuat penderitaan warga setempat berlanjut sampai menunggu datangnya hujan secara terus menerus. (*)

loading...