Padang Pariaman, beritasumbar.com,-Menyambut pesta Demokrasi yakni pemilu 2019, yang pada dasarnya sebagai ajang kedaulatan rakyat banyak dari peserta pemilu melakukan pelanggaran yang sudah ditetapkan Bawaslu yang ditetapkan dalam Perbawaslu No. 28 Tahun 2018 Pasal 24 dan Perbup No. 4 Tahun 2018 Pasal 4 ayat a poin 1. Pemasangan alat peraga kampanye harus tunduk pada ketentuan yang ada baik yang dikeluarkan komisi pemilihan umum (KPU) atau lainnya. Selain itu, tidak diperkenankan dipasang di tempat-tempat yang bisa mengganggu kepentingan umum, dan atau merusak estetika daerah dan merusak lingkungab/alam seperti memaku di batang pohon.

Hari ini kita melihat disepanjang jalan protokol Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman hampir semua alat peraga kampanye (APK)  peserta pemilu di batang pohon. Untuk alasan atau kepentingkan/kebutuhan pribadi/kelompok, beberapa oknum merusak lingkungan hidup (pohon) dengan memasang spanduk/baliho/poster di pohon-pohon, hal seperti ini membuat pohon rusak oleh paku-paku yang ditancapkan ke pohon sehingga pohon berlubang-lubang. Pohon juga mempunyai nafas dan hak hidup yang harus dihormati dan dijaga.

Suburnya pohon di pinggir jalan diperuntukan bagi kemaslahatan bersama, bahkan masyarakat bisa mengambil manfaatnya dengan menghirup udara segar yang mereka hasilkan. Dengan perilaku oknum yang memaku pohon untuk kepentingannya ini, Ketua Imapar STIKIP PGRI SUMBAR, Prayogi mengatakan tidak setuju serta menyatakan sebagai bentuk perilaku yang tidak bertanggung jawab, dan pembelajaran buruk dalam demokrasi dan kepemimpinan dinegeri ini.

Teutama jika dikaitkan dengan pasal 22 UU No.  32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang menyatakan bahwa setiap usaha yang berdampak penting terhadap lingkungan, melalui peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 11 tahun 2009 tentang persyaratan kompetensi dalam penyusunan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL).

“Kalau kita lihat Indonesia sekarang ini akan memasuki pesta rakyat dan banyak hal buruk yang dilakukan oknum peserta pemilu yang salah satu contohnya, merusak pohon dengan memaku APK dipohon pinggir jalan, untuk mencari simpati masyarakat supaya dirinya terpilih menjadi salah satu anggota legislatif,” kata Ketua Imapar, Prayogi pada acara Masa Orientasi Anggota (Maota) yang diadakan oleh Imapar STIKIP PGRI SUMBAR Minggu, (23 /12) di Pariaman.

Dalam acara tersebut menghasilkan, dan menyepakati beberapa tuntutan terhadap peserta pemilu, agar segera membuka spanduk yang dipasang di pohon-pohon dengan alasan berdampak buruk terhadap ekosistem alam, yakni merusak pohon-pohon yang ada. Pohon menangis, dengan ditancapkannya paku ke bagian-bagian pohon sehingga dapat merusak kesuburan pohon. Sebagai masyarakat berpendidikan, harus cerdas dengan lingkungan kita, seharusnya peserta pemilu lebih tahu dengan aturan-aturan main dalam kontestasi politik 2019.

Dan diharapkan, masyarakat harus cerdas dan paham akan oknum atau orang-orang yang melanggar aturan/etika/konstitusi dalam berkampanye. Bahkan masyarakat perlu khawatir bahwa jika orang-orang yang seperti ini yang nanti terpilih,  akan memberikan teladan yang buruk dan tidak peduli dengan lingkungan.

Sementara itu, Ketua KPU Padang Pariaman, Zulnaidi sangat mendukung kepedulian dan kritik Imapar terhadap perilaku oknum yang berkampanye dengan cara melanggar hukum, dan etika serta meminta seluruh pihak yg terkait peserta pemilu 2019 agar taat asas dan taat hukum. “Kita dari KPU sangat mendukung apa-apa yang dikemukakan oleh Imapar tentang memaku APK di batang pohon, karena merusak dan stop memaku pada pohon,” ujar Zulnaidi ketika acara Maota yang dilaksanakan oleh Imapar STIKIP PGRI SUMBAR. (rel/bus)

loading...