Pentingnya Menanamkan Rasa Cinta Alam Kepada Pendaki

Indonesia sebagai salah satu negara dengan wilayah hutan terluas, harusnya berbangga karena tak jarang disebut sebagai salah satu ‘paru-paru dunia’. Luas hutan kita hanya kalah dari Brasil yang memiliki wilayah hutan terluas di muka bumi. Data dari Departemen Kehutanan Republik Indonesia tahun 2006 menyebut, sekitar 120 juta hektar wilayah nusantara adalah hutan.

Jika melihat posisi Indonesia yang merupakan negara terbesar ke-enam di dunia, angka tersebut jelas sebuah kondisi yang sangat baik, karena hutan-hutan kita sejatinya dapat membantu dunia dalam menghadapi perubahan iklim. Sayang, seiring berjalannya waktu, wilayah hutan Indonesia perlahan mulai berkurang. Pohon-pohon kita saat ini dengan gampang ditebang dan dibakar. Gunung-gunung mulai tercemar oleh tumpukan sampah yang di sebabkan pendaki yang tidak bertanggung jawab.

Hampir setiap hari, bulan, maupun tahun berganti, tak jarang kita mendengar terjadinya kebakaran hutan, illegal logging, atau apapun bentuk kegiatan manusia yang merusak kawasan hutan Indonesia. Masalah yang sepertinya terus-menerus terjadi namun belum bisa dicegah, bahkan oleh pemerintah kita sekalipun. Ironis, namun itulah kenyataan yang terjadi saat ini.

Kali ini saya ingin membahas tentang pentinya kita menjaga kelestarian gunung dari berbagai pencemaran yang mengakibatkan kelestarian gunung berkurang. Gunung Marapi cukup sakral dan menempati posisi khusus dalam budaya orang Minang. Dalam buku klasik Tambo Minangkabau, asal usul orang Minang diyakini berasal dari gunung ini, lalu menyebar ke seantero perantauan di Sumatera Barat hingga daerah tetangga.

Persoalan sampah saat ini tidak hanya menjadi urusan masyarakat perkotaan, namun Kini juga telah merambah ke wilayah pegunungan dan hutan. Hal ini tidak lepas dari peran pendaki atau pengunjung yang masih membuang sampah sembarangan. Seharusnya sebelum melakukan pendakian atau kunjungan, pendaki harus memiliki kesadaran menjaga kebersihan lingkungan, gunung marapi Sumatera Barat yang menjadi salah satu tempat pendakian maupun wisata alam masih saja dikotori sampah plastik, lihat saja di tempat peristirahatan pertama di BKSDA, masih saja ada pendaki yang membuang sampah sembarangan, ini harus di perhatikan lagi oleh pendaki-pendaki yang masih peduli sebaiknya mengingatkan satu sama lain untuk tetap menjaga kelestarian gunung dari sampah-sampah seperti tisu, botol air mineral dan puntung rokok yang dibuang ke semak-semak.

Ini lebih pada perilaku para pendaki, karena sudah ada larangan peringatan agar tidak buang sampah sembarangan. Sebaiknya perlu di adakan kembali edukasi dan sosialisasi kepada pendaki maupun pencinta wisata alam oleh penjaga atau dinas lingkungan hidup setiap kali ada pendaki baru yang ingin mendaki demi mengurangi terjadinya pencemaran di gunung Marapi.

Selain peran penjaga atau dinas lingkungan hidup, komunitas pencinta alam juga harus ambil peran dan ikut serta dalam mengedukasi dan mesosialisasikan kepada setiap pendaki agar timbulnya rasa cinta terhadap lingkungan, oleh karenanya ruang lingkup aktivitas pencinta alam tidak hanya sebatas naik gunung belaka. Namun orang yang mengaku diri sebagai pencinta alam hendaklah mampu menunjukkan rasa cintanya kepada alam dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seperti seperti itu.

Tidak hanya itu, mereka seyogyanya peka terhadap isu-isu kontemporer mengenai lingkungan, pemanasan global, permasalahan sampah, pembakaran hutan, banjir, isu-isu agraria dan lain sebagainya.

Mengingat sampah yang berserakan hingga menggunung yang terdapat di gunung adalah sebuah bukti bahwa tidak selalu pendaki gunung merupakan orang-orang yang mencintai alam, namun banyak juga dari pendaki gunung adalah seorang penikmat alam namun buta akan kesadaran dalam menjaga alam yang ia nikmati. Dari hari ke hari pendaki gunung semakin banyak. Hal ini harus dibarengi dengan upaya pemberian edukasi secara intens kepada mereka tentang urgensi menjaga alam. Paling tidak outputnya adalah kegiatan pendakian mereka tidak merusak hutan di gunung. Akan sangat positif apabila selanjutnya semakin ada kesadaran tentang pentingnya aktivitas reboisasi, penghijauan di gunung dan lingkungan pada umumnya.

Pentingnya menjaga kelestarian gunung dan wisata alam wajib harus kita tanamkan sejak dini. Penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan dan pembuangan sampah sembarangan bukan merupakan masalah yang baru lagi, yang seharusnya dibenahi sesegera mungkin. Bagaimana tidak, masalah ini tidak luput dari peran penadaki, pengunjung dan pemerintah yang harus berdampingan menjaga lingkungan kita ini.
Lingkungan yang merupakan tempat tinggal semua makhluk hidup yang ada di muka bumi, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan harus kita jaga kelestariannya.

Lingkungan sangat penting bagi kelangsungan hidup bagi makhluk hidup. Karena apabila lingkungan tidak ada maka manusia, hewan, dan tumbuhan tidak dapat bertahan hidup. Oleh sebab itu kita sebagai manusia yang hidup dimuka bumi yang telah diberikan kekayaan alam yang melimpah, seharusnya kita bersyukur dengan cara menjaga dan melestarikan lingkungan ini. Mulai dari sekarang marilah kita membenahi kebiasaan kita demi kelestarian alam kita.

Oleh : Enggar Radhiyan (Ketua II Kesatuan Mahasiswa Ulakan Tapakis)

loading...