Limapuluh Kota, BeritaSumbar.com – Sejak awal Bulan Desember 2019 masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat sudah dihantui dengan bahaya bencana banjir. Pasalnya sejak beberapa tahun terakhir, banjir selalu menjadi kabar petakut bagi masyarakat, terutama mereka yang berdekatan dengan Batang Kapur yang membentang di Kapur IX dan Kecamatan Pangkalan.  Baru – baru ini, Kamis (12/12) bencana lain mulai muncul di tanah kapur IX, yaitu adanya temuan tanah terbelah, ditenggarai karena adanya aktivitas tambang dengan bahan peledak.

Dikabarkan dari berbagai akun media sosial, “pemukiman warga retak di Jorong Simpang Tigo Nagari Koto Alam Kecamatan Pangkalan Koto Baru Kabupaten Limapuluh Kota. Warga sekitar sangat cemas dengan kondisi ini. Mereka berharap ada tindak lanjut dari pemerintah menangani masalah di daerah ini. Apalagi cuaca musim hujan seperti sekarang. https://m.youtube.com/watch?v=3tDL7ErxH4o&feature=youtu.be .” Kabar itu kemudian menyebar ke beberapa grup WhatsAp.

Berbagai upaya telah dicoba masyarakat sejak tiga tahun belakangan, mulai dari melaporkan setiap kejadian kepada pemerintah nagari, hingga menemui anggota dewan di gedung DPRD Bukik Limau, Tanjung Pati. Namun bencana tiap tahun terus menghampiri, hingga kini pemerintah daerah yang dipimpin oleh Bupati Irfendi Arbi nampak belum bisa memberi solusi untuk mencegah banjir.

Bila sudah terjadi bencana, mereka hanya bisa memberikan sedikit bantuan. Padahal sebenarnya mereka (Pemerintah) bisa mengatasinya dengan kebijakan, karena menurut pengamat sosial Yudilfan Habib, “menurut Allah dalam Alqur’an, bencana juga disebabkan oleh ulah tangan manusia. Yang nyuruh maling kayu siapa? Yang menyuruh menggali galian c siapa, galian a siapa? Nan Manuka hutan Jo pitih sia ? Nan mambaok sarok plastik, streofoam, filter rokok sia? Kini masyarakat diminta untuk mencegah banjir. Negara dimana? Alam Jan di salahankan lah, “katanya di grup whatsAp.

Tak hanya minim solusi dari Pemerintah Daerah, masyarakat juga dihadapkan dengan kerugian ratusan Hektare lahan sawah, sebagai sumber mata pencarian masyarakat. Hal itu dikatan Haji Edwar Idrus di grup WhatsApp yang sama. “Bencana banjir telah merusak Ampang Gadang I Sialang dan saluran airnya tadi siang, tidak lagi bisa mengaliri sawah masyarakat Sialang Duriantiggi Kapur lX.” katanya.

Ia juga mengatakan irigasi Ampang Gadang I Sialang Kapur lX yang dibiayai dengan APBD Kabupaten Limapuluh Kota 2019 baru selesai pekerja’an sudah terkena bencana banjir dan diketahui memakan biaya 3,3 Milyar. Ditimpali Yudilfan Habib, “daya serap hutan kita minus, penyempitan sungai dan minim kanalisasi membuat bandar bandar pembagi. Malah bisa dialirkan ke sawah petani tentunya. Sebaiknya periksa hutan di hulu dan juga mencegah masyarakat membuat rumah di bantaran sungai. Juga giatkan kembali membangun rumah panggung sebagai hunian masyarakat yang lebih dekat kepada budaya dan aman,” tukuk tokoh peduli Luak Limopuluah itu.

Kini di tahun 2019 bencana sudah terjadi, saatnya masyarakat bangkit. Semoga tahun depan tidak adalagi bencana banjir dengan adanya pelajaran tahun – tahun belakang. Semoga pemerintah mampu membuat kebijakan untuk mengantisipasi bencana, termasuk melarang aktivitas tambang yang merugikan masyarakat. (frp)

 

loading...