Payakumbuh,BeritaSumbar.com,– Sebelum gencarnya upaya berbagai kalangan dalam menangkal informasi palsu/ hoax di media sosial, Islam adalah agama yang sudah terlebih dahulu mengajarkan umatnya untuk berhati-hati dalam menerima informasi. Konsep tabayyun (klarifikasi) ini diterangkan dalam Al-Quran Surat al-Hujurat [49] ayat 6.

“Agama kita menekankan betul pentingnya menjaga keabsahan satu informasi. Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang sampai kepada kita melalui kodifikasi dan otentifikasi yang sangat ketat. Sehingga kita mengenal ada hadis yang diwayatnya sahih, hasan, dan dha’if. Orang yang secara sengaja mengada-ada hadis Nabi SAW itu diancam langsung oleh Beliau SAW untuk menyediakan tempat duduknya di neraka,” papar Ketua MUI Kec Payakumbuh Selatan, Ustadz H Hannan Putra Lc MA dalam keterangan persnya kepada wartawan, Senin (25/5/2020).

Pernyataan beliau tersebut muncul seiring viralnya semacam seruan di Media Sosial yang mengatasnamakan MUI Pusat. Dalam seruan tersebut menghimbau MUI Provinsi, Kota, Kabupaten, dan masyarakat agar siaga karena akan diadakan Rapid Test Covid-19 terhadap Ulama di seluruh Indonesia. Tujuannya dari misi ini untuk menyuntikkan virus ke ulama-ulama tersebut sebagai misi kejahatan dari PKI.

“Kita mengantisipasi jika ada kemunculan PKI di wilayah NKRI sebagaimana amanah dari TAP MPRS No.15 Tahun 1966. Kita juga menyeru agar tetap menjaga para ulama kita dari hal-hal yang membahayakan. Tapi informasi yang hoax seperti ini tetap kita sebut hoax,” papar beliau.

“Mari kita cerdas dalam menanggapi satu informasi. Lihat konten suratnya. MUI setingkat Kota/ Kabupaten saja, jika mengeluarkan maklumat pasti memakai stempel resmi, bertanda tangan, dan punya nomor surat administratifnya. Apalagi ini surat yang konon katanya dari MUI Pusat. Naifnya, masyarakat percaya pula dengan yang seperti ini?” tambah beliau.

Beliau menyayangkan karena latahnya masyarakat dalam meyakini informasi, sehingga MUI Pusat pun terpaksa turut memberikan keterangan resmi sebagai bantahan hoax tersebut. Menurutnya, jika masyarakat bisa cerdas dalam menerima informasi, konsentrasi para ulama yang sedang membahas persoalan umat tak perlu sampai terusik. “Anda pengguna smartphone juga harus smart. Jangan sampai kelatahan di medsos menggiring masuk neraka,” pungkas beliau.(rel)

loading...