25 C
Padang
Rabu, Desember 7, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Merajut Toleransi Kebhinekaan Mahasiswa PMM UNAND Melalui Kunjungan Museum dan Tempat Ibadah
M

Kategori -
- Advertisement -

Padang,BeritaSumbar.com,- Indonesia adalah sebuah negara yang kaya raya. Berlimpah sumber daya alamnya, beragam suku bangsanya, serta luasnya wilayah daratan dan lautan di dalamnya. Tidak heran jika sejak dahulu, nusantara (Indonesia) sudah menjadi sorotan dunia baik hanya sekedar bersinggah untuk kepentingan dagang, atau bahkan menetap lama karena jatuh hati dengan kekayaan dan keindahan Indonesia.

Bersatu dalam semangat Bhineka Tunggal Ika, menjadikan para leluhur kita hidup dalam kerukunan dan keberagaman. Menciptakan sebuah peradaban yang mendahulukan kepentingan
umum, saling tolong menolong, bahu membahu, sehingga apapun keberagaman yang terkandung di dalamnya, masyarakat Indonesia sadar bahwa kita adalah satu nusa, satu bangsa, dan satu
bahasa.

Sumatera barat  merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terkenal dengan keanekaragaman agama dan budayanya . Oleh karena itu sebanyak 80 mahasiswa kelompok 1 yang mengikuti kegiatan program pertukaran mahasiswa merdeka (PMM) jilid 2 Universitas Andalas mengadakan study tour ke Museum Adityawarman, dan Kunjungan Rumah Ibadah pada 17 september 2022. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) di universitas Andalas 

Boby Febri Krisdianto, salah satu dosen pengampu Modul Nusantra di Universitas Andalas,  mengemukakan, “Dalam kegiatan ini kita mesti belajar kepada  tokoh seperti Tan Malaka  yang mengemukakan bahwa pendidikan dapat memperhalus perasaan. Menurut pendapat saya,
tingginya pendidikan seseorang dapat mempengaruhi tingkat budaya yang dimilikinya, termasuk dalam hal berempati dan melihat dari sudut pandang orang lain. Aspek ini sangat penting untuk
menciptakan keharmonisan dan keluwesan dalam pergaulan”. Ungkap dosen muda dari kelompok Tali tigo sapilin  atau di sebut (TA.TI.SA) bagian dari kelompok 1 modul nusantara.

Memulai kunjungan ke Museum Adityawarman, museum ini  adalah museum budaya Sumatera Barat yang terletak di Kota Padang dan memiliki julukan taman mini ala Sumatra Barat.  Nama dari museum ini berasal dari nama raja terkenal erajaan Dhamasraya (1347 M) yaitu Raja Adityawarman.

Dari luar museum,  Arsitektur Museum Adityawarman berbentuk rumah gadang. Namun pada bagian dalam, museum ini menampilkan pameran benda benda yang menjadi symbol inti kebudayaan Minangkabau. Kebudayaan Minangkabau berpusat pada  3 hal yaitu agama dan sistem kepercayaan, sistem mata pencaharian dan organisasi sosial dan sistem kekerabatan. Ketiga hal tersebut tergambar dalam baju, prasasti, makanan yang dipamerkan di ruang pameran museum yang terdiri dua lantai.

Di ruangan tersebut pengunjung dapat berdiskusi dengan pemandu wisata disana  sambil melihat banyak foto,benda-benda yang bersejarah, songket  dan makanan rendang yang telah mendunia. Mega , salah satu pemandu menjelakan bahwa salah satu ciri khas dari Minangkabau yaitu mengikuti garis keturunan ibu (matrilineal). “Bahkan Minangkabau terkenal  sebagai masyarakat matrilineal terbesar di dunia”papar mega dengan penuh antusias menjelaskan kepada mahasiswa PMM.

Selanjutnya,  kunjungan diteruskan ke tempat tempat ibadah di Kota Padang. Tempat pertama yang menjadi destinasi adalah Gereja Katedral Santa Theresia Padang. Gereja ini berdiri sejak tahun 1932. Di sana mahasiswa PMM belajar bagaimana pentingnya toleransi dan saling pengertian antar masyarakat. Saat didapuk memberi sambutan, Boby menekankan pentingnya memaknai kunjungan ke Gereja dalam semangat kebersamaan. “Indonesia berdiri karena kebinekaan dan persatuan antaridentitas dan mahasiswa PMM adalah generasi penerus dari pemimpin Indonesia kedepan”. Ujar Bobby dengan semangat.

Setelah dari gereja, mahasiswa PMM melanjutkan kunjungannya ke masjid gantiang dan sekaligus sholat Ashar di masjid tersebut. Setelah sholat,  mahasiswa dikumpulkan untuk mendengarkan secara seksama tentang sejarah Masjid Gantiang tersebut. Masjid ini merupakan masjid tertua di Kota Padang yg berlokasikan di Kampung Gantiang, Kecematan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat ,Indonesia. Masjid Raya Gantiang ini berdiri sejak tahun 1805 dan pendiri masjid gantiang ini adalah : Angku Gapuak, Angku Syech H. Umar, dan Angku Syech Kapalo Koto.

Masjid dan Surau di Ranah Minang memiliki fungsi selain tempat peribadatan, juga sebagai tempat sosial masyarakat. Disini pula Pendidikan dari tiga tokoh adat bermula yaitu Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai. Ninik Mamak memberikan pengajaran adat istiadat, sedangkan Alim Ulama membimbing pengajaran islam dan Cadiak Pandai mengenalkan kesenian dan keterampilan tradisional. Ketiga komponen tersebut dikenal dalam kebudayaan minang sebagai Tali Tigo Sapilin dan menjadi nama bagi salah satu kelompok 1.

Pada titik kunjungan kami berakhir di  Vihara Buddhawarman yang didirikan pada tahun 1989 dan kini telah menjadi Budhist Centre di Sumatera Barat. Rombongan mahasiswa PMM ini di sambut hangat oleh Romo Sudharma dan Banthe Badrabuddhi.  Romo Sudharma menjelakasn agama Budha masuk pertama kali ke tanah Sumatera Barat dengan jalur perdagangan dari pedagang  India dan China.  Sesi diskusi di dalam wihara penuh dengan tawa, mahasiswa terhibur dengan pembawaan Banthe yang komunikatif. Adapun pesan yang di sampaikan oleh Banthe Badrabuddhi ” orang yang merdeka adalah orang yang belajar, jadi janganlah berhenti untuk belajar “ ucap lantang Banthe memotivasi mahasiswa.

Komitmen merawat kebinekaan juga ditegaskan oleh Neneng Sholeha, salah satu mahasiswa PMM. “dinamika dari pada menghadap tuhan bukanlah persoalan tentang siapa tuhan –nya, melainkan tentang keyakinan terkait keagungan yang dimiliki sang pencipta “. tambahnya, menekan pentingnya kebhinekaan yang harus dipelihara setiap orang.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img