28 C
Padang
Sabtu, April 17, 2021
Beritasumbar.com

Membuka Mata Kehidupan di Rimba Gamaran
M

Kategori -

Siapa sangka keputusannya untuk memeriksa kebenaran kabar tentang air terjun di rimba Gamaran mengantarkannya kepada kondisi sekarang. Kini turis berdatangan dan masyarakat bisa meraih keuntungan dari kehadiran wisatawan. Pada 2012, Ritno Kurniawan yang baru lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama enam temannya ke Padang Pariaman, Sumatra Barat, menyurvei lokasi wisata religi seperti surau tua atau masjid IV Lingkung.

Kala itu ia tidak sengaja mendengar pembicaraan penduduk Lubuk Alung, tentang Air Terjun Nyarai, rimba Gamaran. Mereka pun memeriksa kabar tersebut. Air Terjun Nyarai yang berlokasi di kawasan hutan lindung Gamaran, Jorong Gamaran, Korong Salibutan, Kecamatan Lubuak Aluang, kata Ritno, masih alami dan sangat memesona. Air yang memercik tampak bercahaya kala terpapar sinar matahari. Air tersebut memenuhi lubuak (air tenang yang dalam), bak kolam renang yang dikelilingi batu granit.

Sontak ia mengabadikannya dan mengunggahnya ke media sosial Facebook . “Respons teman-teman di Facebook luar biasa,” ujar Ritno di Padang, April lalu. Sayangnya, masyarakat sekitar tidak terlalu menyadarinya. Mereka kebanyakan mengambil kayu di hutan.

Guna menuju Air Terjun Nyarai yang terletak di ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu perlu waktu 2-3 jam perjalanan dari posko terakhir kawasan hutang lindung Gamaran. Tidak semata air terjun, pengunjung juga dimanjakan dengan beberapa lubuak. Yakni Lubuak Nyungun, Lubuak Batu Pacah, Lubuak Sikayan Tabiang, dan Lubuak Lalang.

Sinis
Terpesona oleh keindahan alam di sana, Ritno langsung mempromosikannya ke masyarakat luas. Tidak hanya melalui media sosial, ia juga mengajak masyarakat sekitar untuk mengelola kawasan itu secara profesional dengan paket wisata alam.

Sayangnya, respons yang ia dapat dari masyarakat sekitar jauh dari harapan. Mereka memandang sinis Ritno yang dinilai bukan orang asli Gamaran. Kegiatan Ritno dianggap akan mengganggu ekonomi warga yang kebanyakan menggantungkan hidup dari kayu di hutan. Namun, Ritno pantang menyerah. Ia terusmenerus melakukan komunikasi dengan masyarakat, terutama para pemuda.

“Rata-rata masyarakat Gamaran pencari kayu. Awalnya susah dirangkul karena sumbu ekonominya di sana, meski alam akan rusak,” ujarnya. Secara perlahan paradigma masyarakat bergeser. Bila dulu para pemuda membawa jeriken bensin ke hutan dan merambah hutan, kini mereka menjadi pemandu wisata.

Ritno pun kini tidak sendiri. Ada Edi dan Ajo Adil yang membantunya mengelola wisata Air Terjun Nyarai. “Sebanyak 10 kayu biasanya ditebang setiap hari. Sekarang menjadi 1 dan kadang tidak ada,” cetus Ajo Indil. Kini 80% penebang kayu itu menjadi pengelola dan pemandu bagi para backpakers dan pecinta alam yang datang ke Air Terjun Nyarai.

Struktur organisasinya pun berbasis pertemanan. Namun, semuanya diberikan konsentrasi pekerjaan, seperti pemandu dan penjelas rimba kepada pengunjung hingga memberikan pelayanan yang prima. “Kita hanya menyediakan jasa, seperti porter, penangkap ikan, penunjuk arah, atau pemandu,” tuturnya.

Saat ini Ritno memiliki 8-10 pemandu. Tidak semata memandu, mereka juga juga menjadi fotografer serta pendamping yang mampu menjelaskan flora dan satwa yang ada di kawasan itu. Alih profesi itu menambah pemasukan warga setempat. Dampak lainnya ialah jarang sekali terdengar raungan gergaji listrik dan suara kampak di hutan.

Kini hanya ada suara jejak sepatu di antara pepohonan hutan tropis itu. Selain itu, hutan pun kini semakin menghijau dengan tambahan beberapa pohon mahoni, bayur, dan petai. Masyarakat pun bisa hidup berdampingan dengan alam secara harmonis.

Biaya
Melalui promosi yang mereka lakukan, kini jumlah pengunjung membeludak, khususnya anak muda. Rata-rata jumlah pengunjung di akhir pekan mencapai 1.000 orang. “Seminggu ada sekitar 2.000 pengunjung. Jumat tutup,” cerita Ritno. Untuk menikmati keindahan air terjun dan trekking , tarif yang dipatok hanya Rp20 ribu untuk dewasa, remaja Rp15 ribu, dan Rp10 ribu untuk anak-anak. Adapun untuk berkemah dikenai biaya Rp40 ribu per kepala.

Saat ini omzet pengelolaan Air Terjun Nyarai mencapai Rp20 juta per minggu. Jumlah itu di luar tambahan dari penjualan suvenir. Pendapatan digunakannya untuk melengkapi keperluan posko, seperti komputer, printer, rompi pemandu, dan radio. Setiap pemandu, kata Ritno, dibayar Rp50 ribu di kala sepi, Rp80 ribu saat ramai, dan bila memandu anak kecil diberi uang Rp40 ribu.

“Rata-rata pemandu bergaji Rp80 ribu. Adapun pengurus mendapat insentif tiap minggu 40% dari pendapatan bersih mingguan. Itu pun dibagi untuk 23 orang pengurus. Jadwal piket diatur,” ungkap Ritno. Meski begitu, Ritno mengaku awalnya jalur wisata dan trekking air terjun dilakukan sebagai pekerjaan sampingan. Kini ia ingin total mengelola usaha itu. Kini ia dan teman-temannya telah mempersiapkan rencana untuk 15 tahun ke depan sehingga tidak sekadar menciptakan harmoni alam, tetapi juga `dapur ‘ masyarakat tetap mengepul. (MI/Yose Hendra)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Ingin Dapat BPUM Rp1,2 Juta, Ayo Daftar Sebelum 21 April

Bukittinggi, beritasumbar.com -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi, membuat program Bantuan Bagi Pelaku Usaha Mikro (BPUM), untuk pelaku usaha yang terdampak covid-19 di kota itu. Pendaftaran...
- Advertisement -

Berusaha Kabur, DPO Narkoba Ini Tewas Ditembak Polisi

Limapuluh Kota,BeritaSumbar.com,- E Pria 32 tahun asal Simalanggang Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Limapuluh Kota tewas terkena timah panas Tim Satresnarkoba Polres Limapuluh Kota. Pria yang berstatus DPO (Daftar Pencarian Orang) tersebut berusaha meloloskan diri dari kepungan pihak berwajib pada Selasa 13/4 kemaren dengan meloncat dari lantai 2 rumahnya.

Untuk Pertama Kali, School Of Randang Digelar di Kota Payakumbuh

Payakumbuh ,BeritaSumbar.com,— Agar dapat mengenalkan dan melestarikan kearifan lokal masakan tradisional ranah Minang dalam memasak Randang, Dinas Tenaga Kerja dan Industri melalui UPTD Sentra Randang kota Payakumbuh laksanakan kegiatan School of Randang yang berlangsung di dapur utama sentra rendang IKM kota Payakumbuh, Senin (12/4/2021).
- Advertisement -

Etika Politik Koalisi PKS dan PAN Dalam Menentukan Wakil Walikota Padang

Kota Padang sudah resmi memiliki walikota. Sejak dilantiknya Hendri Septa pada tanggal 7 April 2021. Dimana sebelumnya Hendri Septa menjabat sebagai wakil walikota dan selanjutnya pelaksana tugas Walikota Padang. Posisi tersebut ditempatinya untuk mengisi kekosongan setelah Buya Mahyeldi Ansharullah dilantik sebagai Gubernur Sumbar.

Untuk Tingkatkan Pelayanan, RSUD Sijunjung Tampung Kritik Dan Saran Masyarakat

Sijunjung, beritasumbar.com - Pada usia yang relatif muda keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sijunjung memerlukan perbaikan dan peningkatan dari semua sisi,  guna memberikan...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

HWK Sumbar Tampil di Konser Minang Bersuara II bersama Seniman dari 5 Negara

PADANG (BeritaSumbar.com)– Eksplorasi seni dan budaya dapat menjadi salah satu cara mengatasi banyak permasalahan. Seni dan budaya juga bermanfaat untuk menyukseskan program Pemerintah dalam...

BPNB Sumbar Sosialisasikan Persiapan Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau

Nagari Koto Gadang Koto Anau yang berada di kaki Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pernah jadi daerah yang kaya dengan hasil cengkehnya. Kekayaan daerah tersebut membuat kolonial Belanda pernah berdiam di sana. Perkembangan kerajaan di Minangkabau hingga perjuangan bangsa sebelum dan awal kemerdekaan juga punya catatan tersendiri bagi daerah tersebut.

Kapur IX Dan Pesona Wisata Alamnya

Saat ini wisata alam baik dalam bentuk tracking, adventure atau olahraga alam sangat banyak digandrungi masyarakat. Spot spot wisata baru jadi sasaran saat ada waktu libur. Kabupaten Limapuluh Kota yang memiliki 13 kecamatan dengan 79 nagari sangat banyak memiliki lokasi untuk wisata alam tersebut. Seperti halnya Kecamatan Kapur IX.

Jalan Puncak Pato Lintau Berubah Menjadi Objek Wisata Dadakan

Tanah Datar, beritasumbar.com- Puluhan warga masyarakat sekitar Kecamatan Lintau Buo Utara dengan Kecamatan Sungayang ramai mendatangi Jalan Puncak Pato karena menjadi objek wisata dadakan...

Warga sekitar kumpulkan donasi untuk menangkan Kampung Sarugo di API Award

Limapuluh Kota, beritasumbar.com - Guna memenangkan perkampungan wisata Kampung Saribu Gonjong (Sarugo) di Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2020 sebagai Kampung Adat Terpopuler warga...

Solok Selatan Luncurkan Seragam Daerah Bagi ASN Dan Pelajar

Padang Aro, beritasumbar.com - Pemerintah Kabupaten Solok Selatan melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) meluncurkan motif baju seragam daerah untuk Aparatur Sipil Negara (ASN)...

Kadis Pariwisata Payakumbuh: Ekraf Dapat Menjadi Ajang Promosi Makanan Tradisional

Payakumbuh, BeritaSumbar.com - Kehadiran Pasar ekonomi kreatif (ekraf) di Kota Payakumbuh selain dapat menjadi ajang promosi wisata juga dapat menjadi ajang promosi untuk makanan...

Gamaik Kolaborasi Hoyak Pasar Ekraf 2020 Payakumbuh

Payakumbuh, BeritaSumbar.com - Grup Musik Gamaik Mandayu asal Kota Padang tampil dalam pasar ekonomi kreatif (Ekraf) 2020 di Agam Jua Art and Culture Cafe,...

Kontroversi Taman Nasional Komodo, Urgensi Antara Tempat Wisata atau Konservasi Komodo?

Oleh : Hafshah Mentari Zurisah ~ mahasiswi Program Studi S1 Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Siapa yang tidak tahu Taman Nasional Komodo? Taman Nasional Komodo merupakan...

DIKLATSAR Pecinta Alam Penting Bagi Pendaki Modern Maupun Pendaki Pemula

Oleh : SEPTIANI (Raff 400 Tst) ~ Mahasiswa Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Diklatsar Pecinta Alam, sebuah kata yang tak asing didengar. Sebuah prosesi yang...
- Advertisement -