Walikota Riza Falepi ikut mendorong gerobak dalam acara goro massal di Kelurahan Kotopanjang Dalam | foto: beritasumbar

Sebuah refleksi Walikota Payakumbuh Riza Falepi atas kecintaannya pada warganya.

Ditulis oleh: Riza Falepi, ST, MT (Walikota Payakumbuh)

[dropcap color=”#000000″ font=”0″]A[/dropcap]pa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita saat ini, seyogyanya masyarakat sudah cukup lelah dengan apa yang diurus dengan aktifitas sehari-hari.

Terbersit sebuah pertanyaan, bagaimana kita yang memimpin Payakumbuh bisa dan dapat memahami kondisi kekinian, bukan sebaliknya memimpin dengan ‘memanfaatkan’ kondisi apalagi memanfaatkan gosip murahan yang sedang terjadi dengan pencitraan yg tidak substantif.

Sebagai seorang pemimpin, tantangan terberat hari ini justru datang dari tuntutan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, sambil menjaga spirit masyarakat seperti Adat Basandi Syara’ & Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK) yang merupakan jati diri kita.

Kita tidak mungkin bekerja sekedar mengangguk atau menggeleng. Mari sejenak kita melihat ke belakang, dahulu ekonomi dan pendidikan saat zaman Belanda sampai pada awal kemerdekaan Indonesia, Sumatera Barat termasuk terdepan, namun sekarang kita kalah oleh daerah lain yang terus menerus berbenah.

Kita harus maju dengan kultur budaya masyarakat industri dengan sifat-sifatnya yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik, egaliter, disiplin, efisien dan efektif, berbudaya dan sangat produktif.

Sejatinya Gross Domestic Product (GDP) per kapita rakyat Payakumbuh sekitar Rp 24 jt/tahun, berdasarkan data ini GDP Payakumbuh termasuk kurang dari rata-rata nasional yang sudah di atas USD 3.500,- per/tahun atau di atas Rp 40 jt/tahun.

Kalau kita masih bangun spirit hidup seperti adanya di Payakumbuh hari ini, jujur kami sangat pesimis. Kita harus memulai perubahan dengan kultur masyarakat industri yang baik yang ditandai dengan adanya sistem pendidikan yang baik, industri yang tumbuh yang memiliki daya saing cukup untuk masuk pasar global, mampu beradaptasi dengan tantangan hari ini, dan yang terakhir punya kesadaran untuk maju.

Untuk hal itu semua, perlu dua hal yang mesti dibenahi. Yaitu pendidikan dengan membangun masyarakat berkarakter industri yang baik dan yang kedua menetapkan segmen industri apa yang akan dibangun berdasarkan faktor endowment sehingga kita dapat fokus.

Tanpa fokus kita akan sulit bersaing di pasar global. Keresahan ini kami rasakan tapi tidak ada yang peduli. Banyak orang yang hanya bertanya untuk hal-hal yang remeh temeh dan tidak pernah menuntut tentang yang kami resahkan ini. Mulai dari perantau, tokoh Payakumbuh, pers, dunia usaha, dan banyak segmen lain.

Apakah kita senang jadi masyarakat tukang gosip tanpa produktivitas yang baik? Menyedihkan ketika mendapati dan melihat kondisi begini, dan inilah kegagalan masyarakat kita yang kita takutkan.

Harusnya kita bisa lebih berani menantang pulau jawa yang lebih maju, bahkan malaysia, singapura, Cina yang kenyataan hari ini lebih maju.

Kalau pertanyaan sekedar pelebaran jalan, tempat parkir, pasar dan lain-lain. Wako tetap memikirkan, tapi hal ini adalah porsi yang banyak eksekusinya di tingkat kepala dinas atau di bawah koordinasi sekda. Wako tentunya akan mengusahakan anggarannya.

Kita Payakumbuh tidak seperti Jakarta yang dipimpin Bapak Ahok, Bandung yang di nahkodai Bapak Ridwan Kamil, Surabaya yang dipimpin Bu Tri Rismarini yang memiliki anggaran yang sangat besar. Tugas Wako Payakumbuh lebih berat dari sekedar hanya menghabiskan anggaran dan lain sebagainya. ‘Mencari’ justru sangat perlu karna kita sadar APBD Payakumbuh kecil. Tapi lebih dari itu semua, membangun masyarakat industri yang kuat jauh lebih dibutuhkan untuk pertumbuhan Payakumbuh yang berkelanjutan, siapapun nahkoda Payakumbuh selanjutnya.

Kalau kita tidak lakukan hal ini, sama saja kita memelihara kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan di Payakumbuh. Mungkin 50 tahun kedepanpun Payakumbuh tidak akan berubah signifikan, dan apakah kita menjadi bagian dari orang-orang yang berkontribusi untuk itu?

Wallahu A’lam Bishawab..

 

 

Editor: Rifki Payobadar, ST

loading...