spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Ketika Guru Dirayakan Namun Tidak Diperjuangkan: Sebuah Refleksi Hari Guru
K

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Jovey Nuggraha, S. Ag

Setiap tahun, Peringatan Hari Guru Nasional selalu hadir dengan kemeriahan yang nyaris seragam: upacara, unggahan media sosial, ucapan penuh apresiasi, serta rangkaian kegiatan yang seolah menegaskan bahwa guru adalah pilar peradaban. Namun di balik gelora seremonial itu, terdapat sebuah ironi yang tak pernah benar-benar selesai dibahas: guru dirayakan, tetapi belum sepenuhnya diperjuangkan. Narasi ini bukan dimaksudkan untuk melemahkan semangat penghargaan, melainkan untuk menempatkan penghormatan itu pada ruang yang lebih substantif, atau ruang yang di mana perayaan tidak hanya sekedar berhenti pada simbol, tetapi bergerak menjadi sebuah komitmen nyata.

Di tengah gelombang perubahan zaman, profesi guru berada pada titik kritis. Mereka dituntut menjadi pengajar, pendidik karakter, administrator, konselor, sekaligus katalisator peradaban digital. Namun, di saat yang sama juga, dapat dilihat berbagai ketimpangan struktural yang masih sangat membelenggu, seperti: kesejahteraan yang tidak merata, status kepegawaian yang kabur, beban administratif yang berlebihan, serta tantangan kurikulum yang terus bergulir tanpa pendampingan memadai. Maka cukup pantas rasanya jika kita bertanya, “apakah pujian yang diucapkan setiap tanggal 25 November sanggup menutupi realitas problematik yang sehari-hari mereka hadapi?”

Menghormati guru seharusnya tidak berhenti pada retorika kosong belaka, sebab profesi ini bukan hanya menghabiskan energi intelektual, tetapi juga menguras sisi emosional dan moral. Guru berhadapan dengan generasi yang harus dipersiapkan untuk dunia yang bahkan sulit diramalkan bentuknya. Mereka mendidik anak-anak di tengah lingkungan sosial yang semakin kompleks, di mana kerap kali ekspektasi publik jauh melampaui dukungan yang diberikan negara dan masyarakat. Di ruang kelas, guru bukan saja mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga harus menanamkan kesantunan, ketangguhan mental, dan moralitas, tiga hal yang justru sering hilang dari dinamika sosial modern.

Ironi terbesarnya adalah, bahwa dalam percakapan publik, guru selalu ditempatkan pada posisi terhormat. Mereka disebut pahlawan tanpa tanda jasa, pengukir masa depan bangsa, atau lentera yang tidak pernah padam. Namun di ranah kebijakan, suara mereka sering kali tidak cukup kuat untuk membentuk arah pendidikan nasional. Banyak di antara mereka yang berjalan sendirian, dengan minim fasilitas, tuntutan administratif yang menekan, serta peningkatan kompetensi yang tidak merata. Seremonial Hari Guru menjadi manis di permukaan, tetapi getir di kedalaman.

Dalam konteks ini, Peringatan Hari Guru seharusnya menjadi momen reflektif. Hari untuk meninjau kembali paradigma penghargaan kita: dari simbolis menuju struktural, dari ucapan menuju perlindungan, dari seremoni menuju reformasi. Guru tidak hanya membutuhkan tepuk tangan; mereka memerlukan kebijakan yang adil, kesejahteraan yang layak, dukungan profesional yang berkelanjutan, dan ruang kerja yang memanusiakan.

Dengan demikian, peringatan ini semestinya mengajak kita merenungkan makna penghormatan yang sesungguhnya. Memuliakan guru berarti memperjuangkan mereka: memperkuat sistem pendidikan, memperhatikan kesejahteraan mereka, serta memastikan bahwa setiap kebijakan pendidikan berpijak pada realitas yang mereka hadapi. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang merayakan guru, tetapi bangsa yang benar-benar berdiri di belakang mereka, dan menghargai secara tulus tentang apa yang telah mereka berikan untuk kelansungan kehidupan bangsa ini dimasa depan.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img