BeritaSumbar.com,-Produktivitas jagung hibrida Nakula Sadewa 29 atau yang sering disebut Nasa 29 lebih unggul dibandingkan dengan varietas komersial multinasional yang ditanam pada musim kemarau di Nganjuk, Jawa Timur (Jatim). Hal ini dibuktikan dari hasil demplot Nasa 29 pada lahan seluas 4 hektare (ha) yang dilakukan oleh CV Megatani sebagai mitra lisensi Balitbangtan, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama kelompok tani Gemah Ripa di Desa Joho, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jumat (6/9).

Selain Nasa 29, mereka juga menanam beberapa varietas multinasional yang terpopuler saat ini di kalangan petani jagung di Kabupaten Nganjuk. Produktivitas varietas Nasa 29 di lokasi tersebut sebesar 9,4 ton/ha sedangkan varietas jagung komersial multinasional lainnya pada lahan dan perlakuan yang sama hanya sebesar 8,0 – 8,3 ton/ha.

Meskipun varietas unggul hasil penelitian anak bangsa tersebut baru pertama kali ditanam di Kabupaten Nganjuk, namun hasilnya tergolong tinggi, karena provitas rata-rata jagung di Jatim hanya 5,1 ton/ha.

Produktivitas varietas tersebut belum optimal karena ditanam pada musim kemarau berkepanjangan sehingga mengalami kekurangan air. Berbeda halnya jika ditanam pada lingkungan optimal, hasil panennya bisa lebih tinggi, diatas 10 ton/ha, sebagaimana yang telah dicapai pada beberapa lokasi, baik di Jawa, maupun di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan Nusa Tenggara.

Disela-sela kegiatan panen raya, Kepala Puslitbangtan, Dr. Haris Syahbuddin yang mewakili Kepala Balitbangtan menjelaskan keunggulan varietas jagung hibrida Nasa 29 kepada tamu yang hadir mengikuti kegiatan panen raya, diantaranya Dirjen Tanaman Pangan bersama jajarannya, Bupati bersama pejabat pemkab Nganjuk, Dandim, Camat, para Kepala Desa, PPL dan petani. Haris mengemukakan bahwa varietas jagung Nasa 29 merupakan salah satu varietas unggul dari 35 varietas jagung unggul Balitbangtan.

Varietas ini sudah banyak diminati petani karena produktivitasnya tinggi, warna biji menarik yaitu oranye dan mengkilap, tongkolnya panjang dengan susunan biji yang rapat dan rendemennya tinggi. Jagung Nasa 29 juga mudah dipanen dan dirontokkan karena kelobotnya tipis dan jenggel keras yang menyebabkan biji mudah terlepas dari tongkol sehingga sangat cocok diprosesing dengan mesin, meskipun pada kondisi kering panen. Lebih lanjut Kepala Puslitbangtan menyampaikan bahwa pada lingkungan yang sesuai, terutama pada dataran menengah dan tinggi, potensi tongkol kembarnya juga semakin tinggi.

Bupati nganjuk memberikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran si Kembar Nakula Sadewa 29 di daerahnya karena terbukti mampu meningkatkan produktivitas jagung petani. Bupati berharap agar varietas ini dapat berkembang secara meluas di Kabupaten Nganjuk.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Dirjen Tanaman Pangan, Dr. Suwandi M.Sc., bahwa untuk meningkatkan produktivitas jagung nasional, penggunaan varietas unggul provitas tinggi merupakan faktor penentu. Salah satu diantaranya adalah Nasa 29, hasil karya pemulia Balitbangtan. Pada kesempatan itu, Suwandi memperkenalkan Kepala Balitsereal sekaligus Pemulia Utama Nasa 29 yang hadir pada acara panen raya tersebut.

Salah satu contoh yang dikemukakan oleh Dirjen Tanaman Pangan adalah biaya produksi per hektare pada tanaman jagung yang dipanen saat ini sebesar 15 juta/ha. Dengan menggunakan efisensi input, biayanya bisa ditekan menjadi Rp. 9 juta/ha. Usahatani jagung ini cukup menjanjikan, perputarannya bisa mencapai Rp 1 triliun.

Hitungannya adalah jika biaya produksi saat ini Rp 15 juta/ha dengan provitas 9 ton/hektar, biaya produksi sebesar Rp 1.600/kg, dan dengan harga jualnya Rp 3.800/kg, keuntungannya sebesar Rp 2.200/kg. Namun jika input dapat ditekan, keuntungan petani bisa sebesar Rp. 2.800/kg.

Lebih lanjut Ditjen Tanaman Pangan menyampaikan bahwa selain benih, pemanfaatan pupuk organik dan pestisida hayati/nabati dapat meningkatkan efisiensi Input. Balitbangtan sudah banyak menghasilkan teknologi pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati/hayati. Para petani bisa belajar Kepada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur.

Dengan efisiensi input, produksi menjadi lebih murah sehingga meskipun harga turun, petani masih tetap mendapatkan keuntungan.

Petani cukup antusias mengikuti acara panen raya tersebut yang terlihat dari banyaknya petani yg terlibat pada acara dialog dengan Dirjen Tanaman Pangan dan Bupati Nganjuk.

Pada sesi dialog, Dirjen Tanaman Pangan menegaskan kembali bahwa pemerintah tidak tinggal diam menghadapi kendala kemarau yang dihadapi petani saat ini. Beberapa program diluncurkan kementerian Pertanian untuk membantu petani, diantaranya bantuan operasional operator traktor dan bahan bakarnya, pompa air dan biaya operator dan bahan bakarnya, biaya pertemuan petani dan operasional PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dan Babinsa.

Namun demikian, pengelolaanya harus melalui pendekatan kawasan, minimal 100 ha/kawasan.

Setelah acara panen raya dan temu lapang, petani puas dengan hasil panen jagung hibrida Nasa 29. Beberapa petani setelah acara tersebut mengemukakan ketertarikannya menanan Nasa 29 dalam skala yang lebih luas. Mereka akan meminta varietas Nasa 29 sebagai pilihan pada Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) yang akan diajukan melalui kelompok tani pada musim tanam jagung berikutnya.

loading...