Ditulis oleh: Shofwan Karim

Kata berjawab, gayung bersambut. Begitulah kira-kira korespondensi saya dengan Gubernur Irwan Prayitno (IP). Bagaikan menyambut komentar saya di Harian Singgalang Selasa lalu, maka dengan emailnya, Gubernur IP mengatakan begini :

“Yth. Pak Shofwan… pembangunan tersebut ada yang sudah selesai seperti fly over Bukittinggi (maksudnya yang melintas atas terminal dan Pasar Aur Kuning). Ada yang sedang dibangun hampir selesai seperti Sekolah Pelayaran (Pantai Tiram), Kereta Api Duku-BIM (rail bus sudah ada) dan Teluk Bayur.

Yang sedang dibangun seperti By Pass 4 jalur, highgrade highway Duku ke Sicincin, terowongan. Yang tahun ini dibangun (sedang tender) Stadion Utama, Asrama Haji, Islamic Centre, Pusat Kebudayaan Minangkabau. Sedang dilakukan feasibility study (studi kelayakan), seperti fly over Padang Luar, fly over Silaing. Komplek gubernuran sedang jalan, sebagian sudah dibangun.

Semua pembangunan tersebut perlu waktu untuk urusan tanah dan perencanaan yang sudah dimulai beberapa tahun lalu, baru sekarang diantaranya dibangun.

Sementara itu kami sudah selesaikan Kelok Sembilan yang lama terhenti pembangunannya. Tetap tuntaskan bangunan Balairung (2 tahun lalu selesai) di Jakarta, Masjid Raya (tahun lalu sudah dipakai ibadah shalat 5 waktu dan Jumatan), jalan Sicincin-Malalak (tahun ini selesai).

Tahun 2010 sebagai Gubernur hingga 2013, anggaran triliunan untuk korban gempa (198 ribu rumah dibantu), dan lainnya, bahkan beberapa kantor pemerintah masih dibangun karena gempa.

Mungkin Pak Shofwan kita perlu ketemu untuk berikan data dan info. Terima kasih banyak Pak Shofwan. Saya ketik email ini di tengah ratusan orang di GOR.”

Beberapa jam setelah itu datang lagi email baru. Pak IP melengkapi menjadi sekitar 14 (empat belas) proyek apa yang sedang, sudah dan akan dilakukannya. Termasuk yang spektakuler nanti adalah jembatan Ngarai Sianok.

Izinkan saya mengatakan, Gubernur IP sangat peka dengan kritik, tetapi tidak dalam arti meradang. Setahu saya Gubernur IP adalah pemimpin yang elegan bukan arogan. Kalau beliau arogan, pasti saya akan “dikata-katai” dalam sebuah tulisan untuk menjawab komentar saya di Singgalang itu. Apalagi beliau adalah, seperti saya katakan sebelumnya di samping mubaligh, ninik-mamak, datuk penghulu kaum, guru besar sebuah universitas dan penulis media-massa yang cukup aktif.

Untuk itu saya sangat menghargai dan dengan senang hati mengacungkan jempol kepada beliau. Cara-cara dia berkomunikasi yang sejuk dan persuasif kiranya dapat diteruskan.

Tentu saja saya tetap akan kritis kepada Gubernur IP dalam artian konstruktif. Kata konstruktif itu mungkin berlebihan. Tetapi untuk masa sekarang, budaya polemik dalam arti mengaduk dan mengadu pemikiran kurang laku.

Maka itu, meskipun rangkaian informasi tadi bersifat pribadi tetapi saya ingin membukanya di sini, supaya berimbang. Tentu saja saya tetap mengajukan beberapa pikiran kritis lain kepada pembaca dan khususnya beliau pada komentar-komentar berikutnya.

 

Harian Singgalang
loading...